Selasa, Februari 12, 2008

Bermain Subsidi

Oleh Sri Mulyadi

BULAN Desember 2007 pemerintah melalui Direktur Niaga dan Pemasaran Pertamina, Achmad Faisal, menyampaikan mulai awal 2008 pasokan premium bersubsidi di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), Batam, Bali, akan dikurangi 40 persen.
Semua SPBU di jalan protokol, perumahan elite, tol, hanya diperbolehkan menjual premium oktan 90, pertamax (oktan 92), dan pertamax plus (oktan 95). Sedang premium oktan 88 (bersubsidi), dijual di luar daerah tersebut. Angkutan umum pun nantinya cuma dijatah premium bersubsidi 10 liter/hari.
Hingga minggu pertama Februari 2008, rencana tersebut belum dilaksanakan. Namun usai rapat koordinasi yang dipimpin Wapres Jusuf Kalla di Jakarta, Selasa (5/2), pemerintah kembali melontarkan rencana pembatasan penggunaan BBM bersubsidi. Namun realisasinya bukan melalui pengurangan pasokan, tetapi kali ini pembatasan pembelian melalui kartu pintar (smart card) yang ditempel di kendaraan


Meskipun langkah itu dimaksudkan untuk mengurangi subsidi BBM, kemudian dialihkan untuk menstabilisasi harga bahan pokok yang cenderung naik, tetap saja membingungkan dan mengundang pertanyaan masyarakat. Kecuali detil teknisnya belum ada, kenapa belum genap tiga bulan pemerintah telah mengubah suatu rencana besar. Pengurangan pasokan di Jabodetabek belum direalisasi, sudah muncul program pembatasan pembelian.
Demikian juga dengan kebijakan sewaktu harga minyak goreng naik akibat harga crude palm oil (CPO) di pasar dunia juga meningkat, pertengahan Mei 2007. Waktu itu sampai muncul ancaman apabila harga tak dapat ditekan di bawah Rp 6.500/kg sampai akhir Mei 2007, pemerintah akan menaikkan pajak ekspor kelapa sawit dan produk turunannya. Namun kenyataannya, hingga kini harga tetap saja di kisaran Rp 10.000/liter.
***
Main-mainkah para petinggi negeri berpenduduk di atas 250 juta ini? Jawabnya tentu tidak. Mungkin yang lebih mendekati kebenaran, baru mencari formula yang tepat. Namun repotnya, walaupun baru rencana, informasi tersebut sudah beredar luas di masyarakat. Muaranya, rakyat yang buta tentang ''dunia persubsidian'' menjadi gelisah. Bagi kelompok ini tahunya jika harga BBM naik atau dibatasi, dampaknya harga kebutuhan hidup pasti ikut melambung.
Komentar di masyarakat pun bermunculan. Ada yang menduga pemerintah panik tatkala menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok seperti beras, terigu, kedelai, minyak goreng, dsb. Sebagian lagi berpendapat, tindakan pembatasan itu hanya bentuk lain mengurangi subsidi yang akan menyebabkan harga BBM naik. Mengingat jika hasil tambang tersebut harganya langsung dinaikkan, pasti terjadi gejolak, dan ujung-ujungnya secara politis merugikan pejabat tinggi yang tengah berkuasa. Kredibilitas pemerintah juga langsung anjlok.
Kebijakan pemerintah yang mengalihkan subsidi untuk stabilisasi harga kebutuhan pokok, memang bisa dimengerti karena langsung berhubungan dengan kebutuhan primer, perut. Sementara jika ada sebagian masyarakat yang menilai penguasa seolah kehilangan akal, juga dapat dimengerti, karena realisasinya terkesan ragu dan sifatnya tidak permanen.
Bisa jadi yang pintar cuma kartunya, sedang rakyat dan pejabat tidak, sebab kebijakan smart card (kartu pintar), setelah diimplementasikan dapat memunculkan persoalan baru. Misalnya menimbulkan antrean panjang di pom bensin atau agen minyak tanah, terjadi permainan, menimbulkan ketidakadilan, dan sebagainya. Yang pasti, barang yang harganya disubsidi pemerintah, jumlahnya akan tambah banyak. Otomatis pula, jika subsidi dicabut akan menuai persoalan, layaknya subsidi BBM.
Subsidi memang bukan barang haram yang harus dihindari dalam sistem keuangan negara. Tetapi seharusnya juga tak terlalu membebani APBN, tepat sasaran, tidak terkesan dipaksakan, direkayasa, serta tidak memunculkan persoalan di kemudian hari. Kecuali itu, tak menjadikan masyarakat menjadi ''manja subsidi.''
Hanya saja, jika ada persoalan (misalnya kenaikan harga bahan pokok) bisa diselesaikan tanpa lewat jalur subsidi, tentu pasti lebih baik. Misalnya pengenaan pajak BBM kendaraan di atas 1800 cc atau terhadap pemilik yang punya mobil lebih dari satu. Konversi ke gas untuk angkutan umum. Atau seperti pendapat Ketua Umum Komite Bangkit Indonesia (KBI) Rizal Ramli, yakni merenegosiasi utang-utang luar negeri, kemudian hasilnya untuk menambah biaya subsidi BBM.
Bisa juga lewat pembenahan tata niaga impor. Pertamina langsung membeli kepada produsen di Timur Tengah, tidak usah melalui broker. Bisa juga pembelian tidak harus ke Timur Tengah, melainkan ke produsen dalam negeri. Dengan cara itu bisa mengurangi biaya asuransi dan transportasi BBM yang jumlahnya diperkirakan lebih dari 20 persen dari nilai yang harus ditanggung konsumen.

***

Seandainya untuk menstabilkan harga bahan pokok, BBM terpaksa naik Rp 500 - Rp 1000/liter pun, mungkin masyarakat juga masih bisa memahami. Dengan catatan semua dilakukan secara transparan, termasuk tata niaga, kalkulasi produksi per satuan ukuran, pembagian hasil pengeboran minyak antara pemerintah dengan investor asing, distribusi, serta didahului sosialisasi yang memadai. Sementara pemerintah berkomitmen dan kosisten mengurangi ketergantungan impor bahan-bahan kebutuhan pokok.
Pekerjaan itu memang tidak mudah, terutama berkaitan mengurangi ketergantungan impor pangan lewat peningkatan produksi pertanian. Kecuali butuh waktu, jaminan, konsistensi, juga perlu perencanaan matang. Hal ini mengingat petani saat ini nampaknya banyak yang tak lagi bergairah menaikkan produksi padi atau kedelai. Biaya yang dibutuhkan dirasa tak seimbang dengan hasil yang diperoleh. Ongkos tenaga kerja, harga pupuk, bibit, dan lainnya, tak sebanding dengan harga jual pada saat panen.
Lahan pertanian yang ada pun cenderung terus menyusut, beralih peruntukan menjadi perumahan. Petani yang punya lahan dekat permukiman pilih mengeringkan sawahnya untuk kaveling, kemudian dijual dengan harga lebih tinggi dibanding nilai sawah.
Dibilang sulit memang begitulah adanya. Namun jika solusi setiap persoalan sifatnya sementara, tanpa melalui survai dan kajian yang mendalam, tentu hanya akan memunculkan permasalah baru di kemudian hari. Padahal menurut Filsuf AS Elbert Hubbart, dunia bergerak begitu cepat sekarang. Saat seseorang berkata sesuatu tak bisa dilakukan, sesungguhnya dia sudah diinterupsi orang yang telah dapat melakukannya.

Sri Mulyadi, wartawan Suara Merdeka di Semarang



[+] Baca Selengkapnya

Selasa, Februari 05, 2008

''Nggege Mangsa''

Oleh Sri Mulyadi
DALAM rentang waktu 4 Januari - 28 Januari 2008, seolah Bangsa ini punya ''gawe besar''. Perhatian semua orang tertuju ke sosok Presiden ke-2 RI, HM Soeharto. Saat masuk Rumah Sakit Pertamina Pusat 4 Januari, perhatian semua media juga tersedot ke sana. Pun ketika Sang Jenderal Besar menghadap Sang Pencipta, 27 Januari pukul 13.10.

Waktu dimakamkan, 28 Januari, jutaan pasang mata menatap ke kompleks makam Giri Bangun, Kabupaten Karanganyar, tempat peristirahatan terakhir penguasa orde baru (orba) tersebut. Baik secara langsung maupun lewat layar kaca.

Seusai disemayamkan, tokoh yang punya hobi memancing itu magnetnya juga masih mampu menyedot perhatian elite di negeri ini. ''Gawe besar'' pun kembali menyedot energi. Para simpatisan getol ''menekan'' agar almarhum secepatnya dianugerahi gelar pahlawan. Mantan anak buah, kroni, atau mereka yang merasa diuntungkan saat almarhum berkuasa, seolah berlomba tampil di barisan terdepan. Mereka mengganggap pemberian gelar itu hukumnya wajib.


Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla malah lebih gigih lagi. Golkar pantang mundur dalam memperjuangkan agar mantan Presiden Soeharto mendapat gelar pahlawan. Partai berlambang beringin itu tak peduli terhadap kontroversi yang berkembang di masyarakat. Demikian pula elite politik lain, banyak yang punya semangat serupa.
***
Warga masyarakat pun, tak sedikit yang terbawa arus percaturan. Wacana di alam maya atau internet, juga bermunculan dengan bermacam nada. Misalnya: ''Beliau layak menerima, buktinya sekarang hidup lebih susah, berbeda dari zaman Pak Harto''.

Ada juga yang mengemukakan: ''Kalau yang ditanya Ismail Saleh, Moerdiono, Try Soetrisno, atau Jusuf Kalla, dengan tegas akan menjawab Jenderal Besar itu adalah pahlawan. Alasannya, konglomerasi adalah dampak logis, penembakan misterius dapat dimaklumi, DOM Aceh dan Papua sifatnya situasional. Keputusan yang sama pasti diambil oleh siapa pun presiden saat itu.''
''Tapi jika yang Anda tanya orang-orang teraniaya karena stempel eks Tapol, tidak bersih lingkungan, korban tanjung priuk, dan anggota Petisi 50, jawabnya pasti bertolak belakang. Rakyat di jalanan yang terpaksa hidup tanpa sarapan, harapan dan masa depan, namun harus ikut menanggung dampak krisis 1997 dan utang sewaktu zaman orde baru, jawabnya juga akan senada.''

Dalam persoalan itu, memang sangat mungkin terjadi perbedaan persepsi, karena usia kepemimpinan almarhum 32 tahun. Pada rentang waktu itu pasti ada yang mengalami situasi tiga era. Yakni era orde lama, orde baru, dan era reformasi. Khusus generasi era orba ke reformasi, tentu sangat merasakan gejolak yang terjadi. Dari kondisi yang ''serba mudah'' menjadi ''serba susah''. Umumnya, generasi ini tak mau tahu asal-usul kenapa era reformasi sarat kondisi serba susah.

Dengan asumsi itu, juga sangat wajar jika wacana pemberian gelar mengundang perhatian banyak orang. Pro-kontra bermunculan. Ada juga yang menganggap wacana tersebut terlalu dini, sebab kriterianya belum ditetapkan.

Ada yang berpendapat, asal kata pahlawan diambil dari kata pahala. Bentukan dari pa(ha)lawan, yang berarti orang yang berpahala karena berbuat baik. Berdasar referensi itu, dapat diasumsikan pahlawan adalah orang yang telah melakukan perbuatan baik.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani.

Sementara menurut Peraturan Presiden No 33 Tahun 1964, untuk disebut pahlawan harus memenuhi kriteria tertentu, antara lain yang bersangkutan telah wafat dan bekas seorang pejuang. Sedang Presiden SBY punya rumusan, pahlawan adalah orang (biasa) yang tidak egois dan berbuat sesuatu yang luar biasa. Dua, tindakan atau perbuatan (pengorbanan) untuk orang lain. Tiga, penghormatan sebagai imbalan atas pengorbanannya.
***
Dari kriteria itu, Pak Harto masuk yang mana? Bukankah bila penganugerahan dilakukan dalam waktu dekat berarti ''nggege mangsa'' alias waktunya belum tepat? Jawabnya tentu berlandaskan kondisi yang sejatinya. Namun bisa juga tergantung ''sutradara'' yang mengusulkan. Skenario ''othak-athik-gathuk'' di negeri ini bisa saja disulap menjadi kebenaran universal dan seolah wajar. Sewaktu upacara pemakaman pihak keluarga tidak menyebut ''apabila semasa hidup almarhum ada hubungan utang-piutang harap menghubungi keluarga'' juga dianggap wajar, meskipun mungkin oleh sebagian orang dianggap tak biasa.

Bagi rakyat sendiri, mungkin juga tak begitu peduli. Namun yang pasti, kejujuran sejarah adalah merupakan suatu keharusan. Pemberian gelar pahlawan tentu terasa tak proporsional manakala cuma ditentukan oleh jasa menurut kacamata penguasa, bukan didasarkan nilai-nilai ideal yang berlaku dalam masyarakat.

Persoalan pemberian gelar memang penting, apalagi menyangkut tokoh besar, berpengaruh, dan banyak jasa seperti Pak Harto. Namun, layakkah dalam kondisi masyarakat bawah yang serba memprihatinkan akibat kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok, rakyat diajak larut dalam skenario elite yang muaranya mudah ditebak, yakni politik.
Terkecuali, pewacanaan gelar tersebut memang diskenario untuk kepentingan lain. Misalnya, biar rakyat terhibur dengan ''lelucon'' mereka, semacam ‘’perseteruan’’ SBY-Mega tentang tari poco-poco dan undur-undur. Mega mengritik pemerintahan SBY-JK lari di tempat, sementara kubu Partai Demokrat ganti menganggap pemerintahan di zaman Mega malah mundur.

Bisa juga terselip agenda lain, entah pemanasan menjelang Pemilu 2009 atau agenda lain. Toch di negeri ini sulit memprediksi apa yang sebenarnya terjadi di bawah permukaan.

(Sri Mulyadi, wartawan Suara Merdeka di Semarang)


[+] Baca Selengkapnya

Sabtu, Januari 19, 2008

Reaktif

Oleh Sri Mulyadi

LAUT yang tenang tidak pernah melahirkan pelaut yang tangguh. Sementara di tengah laut yang bergelombang tingggi, jika kapal tidak dikendalikan oleh nakhoda handal dengan peralatan canggih, bisa berakibat kehilangan arah dalam mencapai tujuan. Ujung-ujungnya para penumpang mabuk, kehabisan energi, putus asa, dan kehilangan kepercayaan terhadap sang nakhoda dan awak kapal.
Kalimat tersebut memang sekedar rekaan, tetapi nampaknya tak jauh berbeda dari kondisi akhir-akhir ini. Para pemegang kekuasaan dan pengemban amanat rakyat seakan kerepotan dalam mewujudkan cita-cita para pendiri negara. Yakni terciptanya suatu negara kuat, pemerintahan yang bersih dan berwibawa, dan rakyat sejahtera.


Kenyataan yang ada masih jauh dari harapan. Persoalan demi persoalan muncul tanpa solusi yang berpihak kepada rakyat lapis bawah. Misalnya soal kenaikan harga minyak goreng, gas, pembatasan BBM bersubsidi, konversi gas ke minyak tanah, dsb. Terakhir melambungnya harga kedelai hingga seratus persen, yang ujung-ujungnya mengakibatkan ratusan ribu perajin tahu dan tempe kalang kabut.
Pemerintah sebagai nakhoda negeri ini memang telah bertindak, namun kebijakan yang ditempuh terkesan reaktif dan belum menyelesaikan akar masalah. Misalnya soal kenaikan harga kedelai, pemerintah mengatasi lewat penurunan bea masuk impor kedelai dari 10 persen menjadi 0 persen. Kemudian berencana meningkatkan impor (tak hanya dari Amerika Serikat), serta meningkatkan produksi dalam negeri yang saat ini baru sekitar 650 ton/tahun dari kebutuhan riil dua juta ton.

***
Sebagai langkah reaktif, boleh dibilang sudah maksimal. Tetapi sebagai bentuk solusi, nampaknya belum akan membuahkan hasil seperti diharapan kaum marginal. Penghapusan bea masuk, tentu sangat kecil pengaruhnya terhadap penurunan harga. Hal ini karena faktor penyebab kenaikan harga lebih cenderung ketersediaan barang di tingkat internasional. Peminat kedelai AS tidak cuma Indonesia, tetapi banyak negara. Bahkan China yang selama ini mengekpor, kini malah ikut impor dari AS.
Demikian juga rencana menaikkan produksi dalam negeri, tentu bukan pekerjaan gampang. Kecuali faktor penurunan luas lahan akibat terdesak pengembangan perumahan, petani sendiri kurang berminat menanam kedelai. Mereka memilih jagung, karena keuntungannya lebih menjanjikan. Faktor risiko terserang hama juga lebih kecil. Bahkan di tingkat internasional juga demikian. Jagung lebih prospektif, terutama berkaitan peralihan pemanfaatan BBM ke biofoel. Jagung sekarang ini menjadi salah satu bahan utama biofuel, sehingga perhatian petani di negara mana pun tertuju ke sana.
Yang lebih merepotkan lagi, dampak kenaikan harga kedelai yang menjadi sekitar Rp 7.800/kg (naik 200 persen dibanding Januari 2007), memicu kenaikan barang lain yang menggunakan bahan kedelai. Pakan ternak pun ikut naik, sebab harga bungkil kedelai juga naik. Pukulan selanjutnya, harga ternak dan turunannya, mau tidak mau pasti menyesuaikan.
Akibat lebih luas lagi, ketersediaan protein hewani maupun nabati akan menurun. Padahal di sisi lain, keberadaan perajin tempe dan pabrik tahu, cukup potensial menampung tenaga kerja. Menurut Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Thomas Darmawan, jika industri berbasis kedelai bangkrut, 3,2 juta tenaga kerja terancam menganggur. Itu baru di lingkup industri, belum termasuk yang di luar seperti pengecer di pasar, perajin keripik tempe, penjual gorengan, dan lainnya.

***
Akankah persoalan itu dibiarkan berlarut? Jawabnya tentu tergantung kemauan baik nakhoda negeri ini (pemerintah). Yang pasti, selama ketersediaan dan kestabilan harga kedelai belum kembali wajar, masyarakat yang selama ini bergantung pada komoditas itu akan tetap gelisah. Mereka akan menuntut agar pemerintah menemukan jalan ke luar yang lebih instan tetapi sesegera mungkin menyelesaikan persoalan.
Jika penghapusan bea masuk impor kedelai belum menolong keadaan, tentu perlu alternatif lain. Misalnya berburu barang sejenis di luar pemasok yang sudah ada, mencari kedelai berkelas di bawahnya, mempelajari kembali tata niaga, dan sebagainya.
Dengan perangkat yang ada, misalnya Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 115/MPP/Kep/2/1998, 27 Februari 1998, yang mengatur penyediaan barang kebutuhan pokok seperti beras, kedelai, jagung, gula, dan minyak goreng, pemerintah bisa berbuat lebih demi melindungi rakyat.
Lebih mengedepankan proaktif dibanding reaktif atau menyalahkan pihak lain. Bahkan implementasinya tak cukup sekedar berinisiatif, tetapi bertanggung jawab atas kebijakan masa lalu, sekarang, dan memprediksi situasi masa depan. Dengan demikian jika terjadi gejolak harga di tingkat internasional, tak terkesan ‘’kebakaran jenggot’’. Sebab sebagai konsekuensi ikut larut di pasar global, kondisi di negara lain pasti berdampak ke dalam negeri. Apalagi tingkat ketergantungan akan barang-barang impor, kian hari makin tinggi.
Ibarat cuaca, muculnya badai siklon di Australia, akan memengaruhi gelombang laut di Indonesia. Persoalan lain seperti politik dan ekonomi juga begitu, akan langsung berimbas ke negara lain. Dengan demikian perubahan yang terjadi dan kecenderungannya ke arah mana, perlu dianalisis sekaligus menentukan tindakan antisipatifnya. Jika nakhoda dan awak ‘’kapal’’ negeri ini teledor, lagi-lagi rakyat kecil yang akan menanggung dampak paling berat.

(Sri Mulyadi, wartawan Suara Merdeka di Semarang)

[+] Baca Selengkapnya

Selasa, Januari 08, 2008

Malu

Oleh Sri Mulyadi
SETELAH mengalami musibah, seringkali kita akan menemui kebangkitan hidup. Ini pendapat Chuck Palahniuk, novelis dan jurnalis Amerika Serikat. Paling tidak hal itu sudah dibuktikan oleh rakyat Jepang. Setelah Agustus 1945 Kota Hiroshima dan Nagasaki luluh-lantak dihamtam bom atom oleh Sekutu, secara perlahan masyarakatnya mampu bangkit.
Kini Jepang menjadi negara maju, dan dijuluki macan Asia sejajar dengan Korea Selatan dan China. Resep yang dikembangkan, musibah tak direnungi berlama-lama, tetapi dijadikan cambuk untuk bekerja keras menciptakan kondisi lebih baik. Sampai-sampai kini telah banyak yang terkena ''penyakit'' maniak kerja. Bekerja tak lagi sekedar penting, tetapi utama, layaknya hobi.
Riza Zulkia yang pernah tinggal di Jepang selama 10 tahun memberikan perbandingan, satu pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Pulang kerja cepat dianggap tindakan memalukan, seperti halnya melanggar aturan atau norma yang sudah menjadi kesepakatan umum. Kunci sukses lain adalah hemat, inovatif, pantang menyerah, gemar baca, kerjasama kelompok, mandiri, dan menjaga tradisi seperti mempertahankan usaha pertanian, dan sebagainya.
Bagaimana dengan masyarakat kita setelah mengalami berbagai musibah dan bencana? Kondisinya beragam. Secara fisik di beberapa daerah para korban mulai bangkit. Misalnya di Klaten dan Yogyakarta, rumah-rumah yang sebelum gempa nampak tua, kini berubah menjadi bangunan baru dan kokoh.
Sebaliknya, tak sedikit yang masih larut dalam kesedihan. Belum tahu harus berbuat apa, sebab tempat dan modal usaha ikut lenyap tertelan bencana. Ribuan orang tetap hidup di pengungsian, baik di rumah saudara, permukiman sementara atau tenda-tenda darurat. Khusus di Aceh kini masih ada 4.000 KK yang mengungsi, meskipun bencana tsunami terjadi tiga tahun lalu.



***
Dilihat dari sisi potensi, sebenarnya Indonesia tak kalah dibanding Jepang. Bahkan soal kekayaan alam lebih melimpah. Di perut Ibu Pertiwi terkandung minyak, emas, marmer, granit, dan sejenisnya. Di permukaan tanah persediaan kayu hutan, rotan, kelapa sawit, karet, juga melimpah. Tanahnya juga subur, apa pun yang ditanam tumbuh.
Sebagian besar resep yang membuat Jepang sukses, sebenarnya kita juga punya dan telah dijalankan. Misalnya bekerja keras, para bakul di pasar tradisional banyak yang jam 24.00 sudah berangkat dari rumah untuk menjajajakan dagangannya. Demikian juga nelayan, pukul 03.00 sudah melaut hingga sore. Kalau pun ada yang kerjanya tak maksimal, mungkin memang volume pekerjaan tak sebanding dengan jumlah tenaga. Bisa juga akibat beban pekerjaan tak sesuai upah yang diterima. Selebihnya, memang tak ada yang harus dikerjakan.
Loyalitas juga demikian. Selama ada kesesuaian dengan kelompok atau komunitas, mereka akan tetap loyal. Hidup hemat pun sejak puluhan tahun lalu telah diajarkan. Sampai ada peribahasa: Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya. Begitu pula mengenai pantang menyerah, ada pepatah: Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Waktu merebut kemerdekaan pun juga telah terbuktikan. Walau hanya bersenjata bambu runcing, para pejuang berani menghadapi musuh yang punya senjata api.
Kerja sama kelompok malah telah menjadi budaya. Realisasinya tercermin dalam bentuk gotong royong, koperasi, kerja sama antarinstansi, dsb. Di sektor swasta pernah dikembangkan hubungan usaha inti-plasma. Muncul juga semboyan: Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Ada pula ''manunggaling kawula gusti'' yang secara sederhana bisa dimaknai bersatunya pejabat pemerintah dengan rakyat.
Demikian pula kemandirian, sejak zaman orde lama (Orla) oleh Presiden RI 1 Soekarno telah disuntikkan semangat berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Kaitannya menjaga tradisi, khususnya sektor pertanian, telah terbutikan. Tahun 1984-1993 Indonesia mampu swasembada beras, bahkan menjadi eksportir. Di bidang kelautan, hingga kini masih menjadi gantungan hidup puluhan juta warga di Negeri ini.
Faktor budaya baca pun telah lama dirintis melalui pondok baca, perpustakaan keliling, dsb. Sedang mengenai budaya malu, sejak lama juga telah tertanam di masyarakat. Di kalangan orang Jawa khususnya ada semboyan: ''Timbang wirang aluwung mati''. Daripada menanggung malu lebih baik mati.

***
Lantas mengapa tetap tertinggal dari Jepang? Jawaban yang agak mendekati kebenaran mungkin konsistensi, pemaknaan, dan keperpihakan dalam mengimplementasikan resep. Kalau di negerinya Oshin semua resep dijaga dan diamalkan demi kemakmuran rakyat, sementara di sini ''bibit'' yang sudah ada tak dipelihara secara baik. Individualisme, keluargaisme, kelompokisme, cenderung lebih dominan dibanding keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Misalnya soal budaya malu. Orang Jepang akan merasa malu jika melanggar peraturan, norma, atau gagal menjalankan tugas. Mereka merasa wajib mengundurkan diri jika melanggar rambu tersebut. Budaya antre terjaga baik hingga kini, karena menyerobot hak orang lain, menerabas, atau mementingkan diri sendiri, merupakan suatu tindakan yang memalukan dan tak sesuai norma.
Sementara di sini, pelaku cenderung berusaha keras mencari dalih pembenar. Tak ada cerita menteri mengundurkan diri karena gagal menjalankan tugas. Ia akan berlindung di balik logika terbalik, yakni melontarkan wacana bahwa mengundurkan diri justru tindakan pengecut atau lari dari tanggung jawab. Begitu juga dengan pejabat lain, termasuk wakil rakyat. Mereka tak malu meskipun mengkhianati amanah rakyat.
Koruptor pun demikian, tak perlu merasa malu, sebab kehormatan bisa dibeli dengan uang hasil korupsi. Bukan hal yang mustahil jika ada koruptor mampu menyulap dirinya menjadi dermawan atau dewa penolong dengan modal uang jarahan. Bahkan dipuja bak pahlawan.
Akankah setelah musibah dan bencana mendera akam muncul kebangkitan, seperti pendapat Chuck Palahniuk? Sepenuhnya tentu tergantung kemauan penghuni Negeri ini. Terutama para pemimpin, karena budaya paternalistik di sini masih sangat kental. Yang pasti Jepang bisa, meski alamnya tak sekaya Indonesia.

Sri Mulyadi, wartawan Suara Merdeka di Semarang

[+] Baca Selengkapnya

Selasa, Januari 01, 2008

Cluster Victoria, Rumah Minimalis Modern di Tengah Kota



INVESTASI di bidang properti di Indonesia pada umumnya dan Semarang khususnya, dari tahun ke tahun, tak pernah ada ruginya. Mengingat sektor ini cukup menjanjikan dengan pertumbuhan investasi mencapai 8 persen/tahun. Sementara tingkat risiko rendah. Apalagi jika didukung pendanaan dan penetapan waktu yang tepat dan lokasi strategis. ’’Masa-masa akhir krisis ekonomi dan menjelang kebangkitan seperti sekarang ini, merupakan waktu tepat berinvestasi di bidang properti,’’ ungkap Buyamin, Direktur CV Family Inti Sejati, pengembang terkemuka di Semarang.


Lokasi strategis yang dimaksud adalah akses ke tengah kota tidak jauh, dekat area bisnis dan sumber pertumbuhan kawasan. Lokasi pengembangan relatif baru dan memiliki fasilitas modern. Kemudahan akses ke tengah kota juga sangat menentukan keberhasilan investasi. Semakin banyak alternatif sarana jalan yang dimiliki, semakin menjanjikan. ’’Lokasi sangat menentukan pertumbuhan investasi properti, sehingga para calon konsumen harus pandai mencermati.’’
Berpijak dari pertimbangan itu, CV Family Inti Sejati dalam membangun perumahan senantiasa berpijak pada tuntutan konsumen. Salah satu di antaranya adalah membangun perumahan cluster Sunrise, yang lokasi hanya beberapa puluh meter dari kompleks rumah makan tradisional Pondok Daun.
Rumah dengan desain minimalis moderen seharga Rp 300 jutaan itu sasaran konsumennya adalah keluarga muda, mereka yang mobilisasi tinggi, dan anak-anaknya membutuhkan perhatian khusus. ’’Keluarga muda biasanya mempunyai anak kecil yang membutuhkan kondisi lingkungan aman dan akses mudah untuk mengantar atau menjemput anak ke sekolah, sehingga cluster Sunrise sangat tepat bagi mereka,’’ ungkap Buyamin.
Kecuali berada di tengah kota, cluster tersebut letaknya di tengah kawasan yang sudah terbentuk dengan fasilitas yang saling mendukung. Lokasinya dekat sekolah TK hingga perguruan tinggi, dan kompleks resto internasional moderen Royal Family Food Square. Bangunan ini digunakan untuk minimarket, kafe, karaoke keluarga, toko buah/kelontong, salon, butik, optik, dan toko yang menjajakan kebutuhan sehari-hari.
’’Di kawasan itu sudah ada TK, SD, SMP, SMA Tritunggal dan SD, SMP, SMA Terang Bangsa, yang kualitas pendidikannya bisa dibanggakan. Ada juga Ciputra intepreneur school atau lembaga pendidikan kewirausahaan, dan ini merupakan satu-satunya di Jateng. Tidak jauh dari lokasi perumahan terdapat kawasan lokasi pembangunan kampus Universitas Pelita Harapan, serta Rumah Sakit Glenn Eagle milik Lippo Group. Dengan demikian prospek ke depan jelas sangat menjanjikan.’’
Tidak jauh dari cluster Sunrise juga terdapat tempat ibadah, taman flora dan fauna yang akhir Mei 2009 akan diresmikan serta sport club Royal Doom yang menyediakan fasilitas kolam renang, squash, fitness, kolam renang air panas, senam, pingpong, biliar, arena bermain anak-anak. Untuk menuju pantai Marina jaraknya juga cuma beberapa ratus meter.

Siap Pakai
Di cluster Sun Rise secara keseluruhan dibangun 800 unit rumah dan hingga kini sudah terjual sekitar 81 persen. ’’Kelebihan lain yang membuat konsumen tertarik adalah bangunan rumah di cluster Sunrise siap pakai. Begitu terjadi transaksi konsumen langsung bisa menempati, tidak usah menunggu. Konstruksi bangunan disesuaikan dengan kondisi tanah, dan kualitas secara keseluruhan bisa diandalkan. Lingkungan sekitar juga sudah ramai, terutama di kompleks rumah makan tradisional Pondok Daun. Siang hingga malam tetap ramai pengunjung. Sistem keamanan yang satu pintu juga menenteramkan penghuni, karena tidak sembarang orang bisa masuk ke kompleks perumahan tanpa melalui petugas Satpam.’’
Luas bangunan rumah 55 meter persegi hingga 65 meter persegi, dengan luas tanah 99 meter persegi hingga 168 meter persegi. Meskipun satu lantai, tetapi didesain model dua lantai, sehingga terlihat indah dan anggun.
Oleh pengembang, cluster Sunrise dirancang sebagai ’’rumah tumbuh’’. Artinya, bagi penghuni yang ingin mengembangkan bangunan rumah, tanahnya masih cukup memadai. ’’Untuk rumah mewah dan megah sekalipun cukup. Yang pasti nyaman, aman, lokasi strategis. Namun calon pembeli lebih baik membuktikan dulu dengan melihat langsung ke lokasi, sehingga lebih yakin,’’ ungkap Buyamin.

Bebas Banjir

Kawasan tersebut juga bebas banjir, minimal sampai 20 tahun ke depan. Hal ini dengan perhitungan karena jalan lingkungan dan bangunan berada di lokasi yang telah ditinggikan tiga meter lebih tinggi dibanding jalan arteri RE Martadinata (Yos Sudarso). Didukung kedalaman dan lebar saluran air yang ada cukup memadai.
Di kanan kiri jalan seputar perumahan di cluster Sunrise sekarang ini telah ditanami pohon mangga hasil okulasi, yang kini tingginya sudah sekitar satu meter lebih. Dengan demikian, di samping kondisi lingkungan bersih juga asri. Ke depan lokasi itu nantinya tidak cuma sejuk, tetapi penghuni bisa menikmati buah tanaman yang ada.
’’Perhitungan secara ekonomi tentu lebih baik memilih perumahan di lokasi yang prospeknya bagus meskipun lebih mahal sedikit, daripada di lokasi yang tidak bagus dengan harga jauh lebih murah. Kami menyadari bahwa konsumen akan berprinsip jauh lebih baik mendapatkan rumah yang peningkatan harga tiap tahun tinggi, dibanding membeli rumah dengan harga murah tapi peningkatan nilainya tiap tahun minim, bahkan cenderung turun. Misalnya di lokasi yang potensi tanah longsornya tinggi atau rawan tergenang air. Di cluster Sunrise tak akan terjadi antarpenghuni saling berlomba meninggikan rumah untuk menghindari banjir,’’ ungkap Buyamin.Kelebihan lain cluster Sunrise, lokasi yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari Jl Marina Raya itu, bisa diakses dari segala penjuru, sehingga pengguna tidak akan terjebak kemacetan arus lalu lintas. Dari arah pusat kota atau luar kota dari arah timur, barat, atau selatan, semua lancar. Akses ke Bandara, stasiun, atau fasilitas umum lain, kecuali lancar jaraknya juga dekat. Disamping itu, berada di tengah kota mandiri yang kawasannya sudah tertata secara terpadu.
Bagi yang berminat bisa menghubungi Lisa (Hp: 08164254221), Redi (Hp: 085865838902), Budi (Hp: 081325688958).

Kiat Mimilih Tempat Tinggal di Perumahan
1. Pembelian rumah diperhitungkan tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai investasi.
2. Lokasi, lokasi, dan lokasi. Artinya, lokasi bebas banjir dan tidak rawan longsor.Mudah diakses dari segala penjuru, dan dekat pusat kota atau pusat kegiatan perekonomian,
3. Lingkungan sekitar perumahan sudah terbentuk atau tertata secara terpadu.
4. Memprediksi 3 – 5 tahun ke depan kawasan tersebut akan menjadi seperti apa.
5. Memilih bank atau sumber pendanaan yang bisa dipercaya.


Diamond Cipta Niaga
Cluster Pergudangan Modern Multi Guna

KOTA Semarang saat ini sangat membutuhkan sarana gudang. Hal ini berkaitan perkembangan industri membaik, dan lalu lintas barang yang keluar-masuk ke wilayah Jawa Tengah lewat Semarang, baik melalui Pelabuhan Tanjung Emas maupun stasiun kereta, terus meningkat. Sementara gudang-gudang lama, terutama yang berada dekat pelabuhan, sebagian besar tidak bisa digunakan akibat tergenang banjir dan rob.
Sehubungan itu, CV Family Inti Sejati yang telah sukses mewujudkan cluster perumahan seperti Royal Family Resident, Royal Family Regency, cluster perumahan minimalis modern, kompleks rumah makan tradisional Pondok Daun, dan lainnya, membangun cluster pergudangan, Diamond Cipta Niaga. Lokasinya di jalan arteri RE Martadinata (Yos Sudarso) atau sekitar satu kilometer dari Pelabuhan Tanjung Emas. Cluster multi guna ini merupakan cluster yang khusus dirancang untuk menampung kegiatan bisnis dan dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas usaha/bisnis, seperti gudang, showroom, industri ringan maupun kantor.
Langkah membangun cluster pergudangan itu dengan asumsi bahwa dalam kegiatan bisnis, sarana pergudangan sangat vital. Namun kebutuhan sarana lain berupa kantor, shoroom, atau tempat produksi, juga tidak dapat diabaikan. Padahal jika dibangun di tempat terpisah, pasti butuh investasi yang tidak kecil. Sehingga untuk menjawab persoalan itu kami menyediakan properti berupa sarana pergudangan multi guna.
''Istilahnya seperti kata pepatah, sekali dayung lima atau empat pulau terlampaui. Cluster pergudangan juga seperti itu, investasi gudang tetapi kebutuhan akan kantor, ruang pamer, tempat produksi, bisa terpenuhi,'' ungkap Buyamin, Direktur CV Family Inti Sejati, kepada Suara Merdeka, kemarin.

Lokasi Strategis

Cluster pergudangan eksklusif pertama di Semarang itu berarsitektur minimalis modern, menempati lahan seluas 3,5 hektare. Saat ini bangunan yang sudah siap pakai 15 buah dari 63 unit yang direncanakan. Tiap lokasi luas tanahnya 300 hingga 500-an meter persegi, dengan luas bangunan 300 - 400 meter persegi. ''Meskipun istilahnya minimalis, tetapi truk kontiner atau trailer bisa masuk ke area cluster. Jalan di dalam cluster cukup lebar dan memadai.''
Detailnya, masing-masing tipe memiliki luas bangunan dan tanah berbeda. Tipe Emerald luas bangunan 378 meter persegi dan luas tanah 504 meter persegi. Tipe Ruby luas bangunan 231,5 meter persegi dan tanah 300 meter persegi, sedang tipe Sapphire luas bangunan 303,5 meter persegi dengan luas tanah 348 meter persegi. Beragam pilihan tersebut dimaksudkan agar penghuni dapat mengembangkan sendiri sesuai kebutuhan ruang masing-masing usaha.
Diamond Cipta Niaga berada di lokasi yang strategis, yaitu dekat dengan Pelabuhan Tanjung Emas, Bandara Achmad Yani, Stasiun Kereta Api Tawang/Poncol, dan Terminal Bus Terboyo. ''Lokasi yang strategis sangat memberikan kontribusi lebih untuk kemajuan bisnis/usaha, terutama dalam hal distribusi/transportasi barang-barang.''
Cluster Multi Guna itu juga tidak jauh dari pusat bisnis Semarang seperti Jurnatan, kawasan Lingkungan Industri Kecil (LIK) Bugangan di Jl Kaligawe, Pekojan, pusat grosir Johar dan sekitarnya. Akses dari lokasi langsung jalan arteri RE Martadinata (Yos Sudarso) yang menghubungkan Jakarta-Surabaya. Sistem keamanan satu pintu diterapkan berlapis, selama 24 jam, sehingga soal keamanan benar-benar terjamin. Kecuali itu, dalam rentang waktu 15 - 20 tahun ke depan dijamin bebas banjir maupun genangan rob, sebab lokasi lebih tinggi dua meter dibanding jalan arteri.
''Sebagai pengembang di Semarang kami berkomitmen ikut mengembangkan dunia usaha di sini, karena Kota Semarang merupakan salah satu kota perdagangan besar yang terletak di pesisir utara Pulau Jawa yang selalu dilewati jalur distribusi barang/niaga dari Jakarta ke Surabaya. Di sisi lain, kami juga harus duduk pada posisi kosumen, sehingga tahu apa yang mereka harapkan. Termasuk memperhitungkan prospek kawasan ke depan. Jangan sampai investasi konsumen tidak menguntungkan. Jika konsumen rugi, kredibilitas kami juga terkena imbasnya.''
Bagi yang berminat bisa menghubungi Lisa (Hp: 08164254221), Redi (Hp: 085865838902), Budi (Hp: 081325688958).


[+] Baca Selengkapnya

Royal Family Food Square

BULAN Juni 2009, Jawa Tengah akan memiliki kawasan khusus restoran modern. Bila di Surabaya ada G Walk, Jakarta punya Kelapa Gading, dan Bandung memiliki Paris Van Jawa atau Paskal, Semarang mempunyai Royal Food Square. Bangunan sebanyak 24 buah dari rencana 60 bangunan yang berada di tengah kompleks perumahan elite yang dibangung CV Family Inti Sejati tersebut, kini sudah memasuki tahap penyelesaian akhir.

Masing-masing bangunan dua lantai itu seluas 120 meter persegi, dengan luas tanah 4,5 m x 25 m meter. Sisa tanah di belakang bangunan utama seluas 4,5 x 7 meter bisa dimanfaatkan untuk dapur, taman, atau fasilitas pendukung lain. ''Bagian depan dilengkapi tenda payung beserta tempat duduk, sehingga pengunjung merasa nyaman dan santai. Lokasi parkir sangat memadai, bisa menampung 200 sampai 300 mobil,'' ungkap Buyamin, Direktur CV Family Inti Sejati, pengembang kawasan tersebut kepada Suara Merdeka, kemarin.
Dikatakan, bangunan yang bergaya minimalis modern dan dikhususkan untuk restoran internasional, minimarket, kafe, karaoke keluarga, toko buah/kelontong, salon, butik, optik, dan toko yang menjajakan kebutuhan sehari-hari itu, kini 60 persennya sudah terjual. ''Meskipun kondisi perekonomian secara global belum menggembirakan, tetapi investasi di bidang properti dengan peruntukan khusus di lokasi yang strategis ternyata peminatnya cukup banyak,'' tambahnya.
Hal tersebut nampaknya sangat wajar, mengingat di Semarang khususnya, belum ada pengembang yang menyediakan fasilitas eksklusif seperti itu. Didukung fasilitas air bersih PDAM, jaringan listrik memadai, serta keamanan terjamin. Lokasinya dekat pusat kota, berada di tengah perumahan elite dan ekslusif seperti Royal Family Resident, Sun Rise, Victoria, dan sebagainya.
Kompleks restoran modern itu letaknya berdampingan dengan rumah makan tradisional Pondok Daun. Di sekitarnya terdapat Royal Doom yang menyediakan fasilitas kolam renang, squash, fitness, kolam renang air panas, senam, pingpong, biliar, arena bermain anak-anak. Juga tidak jauh dari Pantai Marina, dan dekat vihara serta Gereja JKI yang merupakan bangunan sarana ibadah terbesar di Jateng.
Royal Food Square juga tidak jauh dari sekolah internasional Terang Bangsa, SD/SMP Tri Tunggal, SMP/SMA Krista Mitra, dan kawasan lokasi pembangunan kampus Universitas Pelita Harapan, serta Rumah Sakit Glenn Eagle milik Lippo Group. ''Prospek ke depan jelas sangat menjanjikan. Orang sekarang cenderung mencari rumah makan yang sekaligus juga menyajikan suasana yang nyaman. Soal rasa dan variasi menu memang iya, tetapi kenyamanan suasana tidak kalah pentingnya. Buktinya sekarang ini kompleks rumah makan Pondok Daun yang letaknya bersebelahan, tiap hari selalu dipenuhi pengunjung. Bahkan, hingga malam hari pembelinya tetap ramai.''
Bebas Banjir
Suasana di sekitar lokasi Royal Food Square memang sangat nyaman dan tenang. Siang hari tidak terasa panas karena hembusan angin laut cukup menyejukkan. Malam hari terasa sangat tenang, apalagi bila tidak hujan, suasana begitu melarutkan sehingga pengunjung kerasan. Apalagi masalah keamanan benar-benar terjamin.
Tidak jauh dari lokasi itu telah dibangun perumahan tipe menengah seharga Rp 300 jutaan. Di kanan kiri seputar perumahan itu telah ditanami pohon mangga hasil okulasi, yang kini tingginya sudah sekitar satu meter lebih. Dengan demikian, di samping kondisi lingkungan bersih juga asri. Ke depan lokasi itu nantinya tidak cuma sejuk, tetapi penghuni bisa menikmati buah mangga.
Pembangunan di kawasan terpadu atau kota satelit/mandiri yang dikelola CV Family Inti Sejati, dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan, serta saling mendukung. Yang membedakan dengan pengembang lain, CV Family Inti Sejati tidak akan meninggalkan kawasan yang telah dibangun. Lokasi kantor berada di satu kawasan, yaitu kompleks Royal Family Resident A No 1 Jl Marina Raya - Puri Anjasmoro, Semarang. Kecuali itu, ada bangunan tertentu yang sifatnya disewakan atau kerja sama. Dengan demikian, fasilitas umum yang tersedia akan tetap terpelihara dengan baik, termasuk sarana jalan.
Kawasan tersebut juga bebas banjir. Hal ini dengan perhitungan karena jalan lingkungan dan bangunan berada di lokasi yang telah ditinggikan (tiga meter lebih tinggi dibanding jalan arteri Yos Sudarso. Kedalaman dan lebar saluran air yang ada cukup memadai.
Royal Family Food Square merupakan konsep resto baru dan modern di Semarang yang berlokasi di Jalan Marina Raya, kompleks Royal Family Regency, Puri Anjasmoro, Semarang. ''Sebelum membangun sudah kami perhitungkan secara cermat, sehingga penghuni benar-benar aman dan nyaman, termasuk mengamankan dari ancaman banjir. Tidak mungkin kami mengecewakan penghuni. Kalau sampai terjadi, justru kami yang rugi sendiri, dan mempertaruhkan citra. dan '' ungkap Buyamin. Bagi peminat dapat menghubungi Patric Hp 08886555532 atau Lisa telp 08164254221.(si)


Mei 2009, Taman Flora dan Fauna Diresmikan


KEINGINAN para hobies flora dan faunan di Semarang khususnya untuk memiliki tempat untuk berkumpul dan berbagi pengetahuan serta pengalaman, dalam waktu dekat akan terwujud. Mei 2009 nanti CV Family Inti Sejati akan meresmikan taman flora dan fauna, sekaligus exhibition hall atau gedung pertujukan/pameran. Sarana itu juga bisa dimanfaatkan oleh para hobies flora dan fauna untuk berkumpul.
Menurut Buyamin, Direktur CV Family Inti Sejati, di lokasi seluas kurang lebih 8.000 meter persegi itu dibangun 50 stan atau kapling, masing-masing berukuran 6 x 3 meter. Tanaman yang ditampilkan/dijual mulai bunga berbagai jenis hingga tanaman hortikultura. Sedangkan jenis hewan antara lain burung, kucing, reptil, anjing, kelinci, dan sebagainya. Termasuk pula segala jenis ikan air tawar maupun laut, beserta perlengkapan/peralatannya.
''Di Semarang khususnya belum ada pengembang kawasan perumahan atau developer yang menyediakan sarana seperti itu, padahal warga penggemar tanaman, ikan, dan binatang piaraan jumlahnya sangat banyak. Untuk itu kami optimistis sarana yang kami sediakan akan banyak diminati, sekaligus sebagai sarana wisata,'' ungkapnya.
Bagi peminat tidak perlu mengeluarkan uang, sebab tempat dikelola dengan sistem kerja sama atau bagi hasil yang saling menguntungkan. ''Kalau dijual harganya pasti sangat tinggi, sehingga butuh modal cukup besar. Untuk itu demi meringankan beban calon pengguna kami tempuh dengan model kerja sama.''
Bagi dokter hewan yang berkeinginan membuka praktek di tempat itu juga dilayani. Sementara masyarakat yang membutuhkan tenaga ahli taman sekaligus tanamannya, para penghuni siap pula melayani. ''Segala asesoris yang berkaitan dengan tanaman dan binatang juga tersedia,'' tambahnya.
Exhibition Hall
Yang lebih menarik, pengembang membangun exhibition hall atau tempat pameran atau arena pertunjukan. Nantinya secara bergilir pemilik stan bisa memanfaatkan gedung tersebut, baik untuk pameran tanaman, ikan, maupun binatang. Dapat pula dimanfaatkan untuk kontes anjing, kucing, bahkan lomba burung.
Seperti halnya Royal Food Square, bisnis flora dan fauna ke depan juga sangat cerah. Lokasi taman flora dan fauna, berdampingan dengan kompleks rumah makan tradisional Pondok Daun dan cuma beberapa puluh meter dari Royal Food Square. Dengan demikian, pengunjung rumah makan internasional maupun tradisional, langsung bisa singgah ke taman flora dan fauna.
’’Kawasan yang kami bangun memang sengaja dipadukan untuk saling mendukung. Begitu memasuki kawasan masyarakat bisa menikmati wisata kuliner internasional, tradisional, taman flora dan fauna, ke pantai Marina, objek lain yang masing-masing punya daya tarik tersendiri,’’ ungkap Buyamin.
Warga masyarakat yang ingin bekerja sama mengisi taman flora dan fauna, bisa menghungi Patric Hp 08886555532.(si)

Perkantoran Mewah Robin
Mampu Mengangkat Citra yang Menempati

BEGITU memasuki salah satu bangunan perkantoran moderen, Royal Office Building (Robin), sentuhan klasik desain maupun interior begitu kental dan menyejukkan hati. Apalagi setelah menikmati view di sekitarnya, kondisi nyaman dan aman, begitu terasa.
Royal Office Building adalah perkantoran modern . Gaya arsitektur dan desainnya mengadopsi bangunan-bangunan terkenal di dunia, yaitu Jin Mao di China, Gate Rowes Waharf Amerika Serikat, National Museum di Australia, Big Ben Inggris, National Bank, Miniatur Chrysler dan Pan Am, Amerika Serikat.
Kedelapan bangunan megah, mewah, klasik, sekaligus eksklusif itu terpadu secara serasi, sehingga nampak sangat menonjol dibanding bangunan lain di sekitarnya. Desain dan interior di masing-masing ruangan berbeda, namun terpadu secara serasi, sehingga kesan mewah terasa dominan.
Mengingat lokasinya di pusat kota, tepatnya di Jalan Madukoro Raya 8A, Puri Anjasmoro, Semarang, bangunan tersebut juga nampak menonjol dan paling megah di antara bangunan lain. 
Bangunan gedung perkantoran yang ditangani CV Family Inti Sejati itu, berlantai tiga dan empat. Dari lantai tiga atau empat pemandangan di sekitar, seperti PRPP dan suasana laut di Pantai Marina atau Tanjung Emas, nampak jelas dan memesona.

Mengangkat Citra

Buyamin, Direktur CV Family Inti Sejahtera mengemukakan, pembangunan kompleks perkantoran  megah dan modern tersebut antara lain dimaksudkan untuk membantu mengangkat citra Kota Semarang, sehingga tidak terkesan tertinggal dibanding kota besar lain seperti Surabaya, Medan, Bandung.
‘’Di Jawa Tengah dan Semarang khususnya, banyak perusahaan besar dan berhasil, sehingga sudah saatnya Semarang memiliki gedung perkantoran ekslusif dan mewah. Sebab secara langsung, kondisi kantor yang ditempati mampu mengangkat citra perusahaan yang menempati. Kepercayaan stake holder pun juga meningkat,’’ ungkapnya.   
Lokasi Stategis       
Masing-masing lantai seluas 270 meter persegi, dan terbagi menjadi beberapa ruangan. Material bangunan yang digunakan di tiap lantai sebagian besar kombinasi keramik, marmer, dan gipsum. ’’Tiap unit dilengkapi lift, sehingga kesan modern juga menonjol,’’ tambah Buyamin, Direktur CV Family Inti Sejati.
Bangunan tersebut bisa dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, kantor perbankan, lembaga pendidikan, lembaga keuangan, bahkan showroom. 
Kelebihan lain, lokasinya bisa diakses dari segala penjuru, sehingga pengguna tidak akan terjebak kemacetan arus lalu lintas. Juga dilengkapi akses jalan khusus menuju Bandara Ahmad Yani. ‘’Hal ini menunjukkan bahwa kami benar-benar siap mengantisipasi denyut kehidupan bisnis baru berlingkup internasional yang segera hadir,’’ tambahnya.
Warga masyarakat yang ingin bekerja sama mendukung taman flora dan fauna bisa menghubungi Lisa, Telp 08164254221 dan Jesi Telp 02470778188. (si)

[+] Baca Selengkapnya

Selasa, Desember 11, 2007

Goyangan BBM

Oleh Sri Mulyadi
LAGI-LAGI, masyarakat di negeri ini dihantui persoalan Bahan Bakar Minyak (BBM). Luka lama akibat kenaikan drastis di tahun 2005 yang rata-rata 126 persen belum juga sembuh, kini telah mulai digoyang lagi. Kemasan kali ini memang bukan kenaikan harga, tetapi pasokan BBM bersubsidi dikurangi. Namun yang paling merasakan dampak negatifnya setali tiga uang alias sama, yakni rakyat di lapis bawah.
Pertamina mulai awal 2008 sudah memberlakukan kebijakan tersebut di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), Batam, Bali, sebelum nantinya ke seluruh Indonesia. Semua SPBU di jalan protokol, perumahan elite, tol, hanya diperbolehkan menjual premium oktan 90, pertamax (oktan 92), dan pertamax plus (oktan 95). Sedang premium oktan 88 (bersubsidi), dijual di luar daerah tersebut. Itu saja jumlahnya dibatasi.


Menurut Direktur Niaga dan Pemasaran Pertamina, Achmad Faisal, pasokan premium bersubsidi di daerah itu dikurangi 40 persen. Angkutan umum pun nantinya cuma dijatah premium bersubsidi 10 liter/hari. Ini untuk memastikan angkutan umum tak menjual kembali premiumnya. Sementara Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengatakan, pembatasan di Jabodetabek itu bisa menghemat subsidi Rp 6 triliun.
Argumen yang dikedepankan dua pejabat tersebut sekilas memang nampak logis. Pertama, pembatasan diterapkan di wilayah konsentrasi mobil-mobil mewah. Kedua, bisa menghemat subsidi Rp 6 triliun. Logika sederhananya, yang menanggung beban akibat pembatasan BBM bersubsidi adalah orang kaya (pemilik mobil mewah), sementara penghematan subsidi Rp 6 triliun dapat digunakan membantu orang miskin.


***
Hanya saja, korelasi antara kebijakan soal BBM dengan realitas sosial kadang tak sesederhana itu. Rentetan dampak dan faktor sebab-akibatnya cukup panjang. Misalnya soal pembatasan pembelian BBM bersubsidi angkutan umum. Sebagai langkah mencegah penyimpangan memang bisa saja diterapkan. Tetapi jika dilihat dari kacamata keberpihakan, bisa jadi sebaliknya.
Pemerintah, melalui aparat terkait, tentu tahu persis kondisi pengusaha angkutan. Apakah keuntungannya telah sesuai dengan modal dan biaya operasional yang dikeluarkan. Jika sudah, ya selayaknya mereka ikut terkena beban. Namun kalau sebaliknya, sebaiknya justru subsidi ditingkatkan. Hal ini dengan tujuan agar pengusaha mampu meningkatkan pelayanan dengan menyediakan kendaraan yang nyaman. Harapan selanjutnya, masyarakat yang semula menggunakan mobil pribadi mau beralih ke angkutan umum. Dengan demikian penggunaan BBM berkurang, dan kemacetan di kota-kota besar teratasi
Bila dalam kondisi pas-pasan tetap dibebani menanggung subsidi tinggi, bisa diibaratkan ''suduk gunting tatu loro'' (tusukan gunting akan menimbulkan dua luka). Artinya, kelangsungan usaha akan terganggu. Ujung-ujungnya, tarif angkutan akan disesuaikan. Rangkaian selanjutnya, kaum marginal yang menanggung beban, sebab pos biaya transportasi juga akan naik. Apalagi, seperti biasanya, kalau biaya angkutan naik harga-harga yang lain juga mengikuti.
Kecuali itu, menghilangkan premium oktan 88 di jalan protokol, tol, perumahan elite, belum tentu identik bahwa orang kaya mau mengurangi kekayaannya. Meskipun pemiliknya orang kaya (entah konglomerat atau pejabat), tetap saja akan memperhitungkan biaya operasional kendaraannya.

Bila akibat penggantian premium, entah menjadi beroktan 92 atau pertamax, biaya operasional bertambah, secara logika umum dia pasti akan berusaha mencari tambahan penghasilan untuk menutup. Jika demikian yang terjadi, mungkin cuma jalan Tuhan yang bisa membantu. Mudah-mudahan mereka tidak mencari tambahan penghasilan dengan objek rakyat kecil.

***
Persoalan hasil tambang itu, di Negeri ini memang kompleks dan banyak menguras energi pengambil keputusan maupun masyarakat. Jika subsidi tak dikurangi, negara harus menanggung puluhan triliun rupiah. Tetapi kalau dilakukan pengurangan, otomatis biaya hidup warganya akan naik, sebab semua kebutuhan sehari-hari yang produksinya terkait BBM, pasti akan menyesuaikan.
Siapa yang salah? Jawabnya tentu tergantung cara pandang siapa yang ditanya. Namun yang pasti, setiap terjadi perubahan kebijaksanaan, selalu memunculkan gejolak. Hal ini karena setiap kebijakan pasti selalu berdampak negatif bagi rakyat.
Setiap saat warga Negeri ini seperti dihadapkan pada persoalan misteri seperti tayangan dunia lain. Pirsawan dibuat takut oleh penyampai narasi, sementara di layar kaca yang terlihat cuma suasana seram di tempat ''wingit'', namun si penghuni alam lain atau biasa disebut hantu, tidak nampak.
Bagi kebanyakan orang, ''dunia'' BBM pun juga penuh misteri. Berapa jumlah minyak di perut Ibu Pertiwi yang diambil Caltex, ExxonMobil, dan perusahaan-perusahaan lain, hanya beberapa orang yang tahu. Perhitungan mengenai subsidi premium oktan 88 sebesar Rp 2.000, dan oktan 90 sebanyak Rp 500 - Rp 1.000, juga cuma orang tertentu yang mengerti. Apalagi yang menyangkut soal ''kebocoran'' atau penyelundupan, masyarakat cuma tahu bahwa hal itu menyeramkan.
Akankah pembatasan premium bersubsidi kali ini juga akan menakuti dan membingungkan rakyat? Jawabnya tentu tergantung pemerintah. Jika argumen yang mendasari bisa meyakinkan, tentu masyarakat bisa menerima, paling tidak memahami, sekalipun terasa pahit. Sebaliknya, apabila arogansi kekuasaan lebih menonjol, bisa jadi malah menuai keapatisan, demo, ketidakpercayaan terhadap pengambil keputusan, dan hal lain yang kontraproduktif.

Sri Mulyadi, wartawan Suara Merdeka di Semarang

[+] Baca Selengkapnya

Rabu, Desember 05, 2007

‘’Bangun Tidur’’

Oleh Sri Mulyadi

‘’PERUBAHAN adalah kata lain untuk berkembang atau mau belajar. Dan, kita semua mampu melakukannya jika berkehendak,’’ kata filsuf Prof Charles Handy. Tapi kalau perubahan tersebut hanya sebatas ungkapan retorik dalam kampanye pemilihan umum, tentu dampaknya justru berbalik.
Hasilnya bukannya berkembang, tapi malah makin terpuruk. Juga bukan suatu proses belajar dari pengalaman masa lalu demi memperbaiki keadaan, namun justru mengulang dan mengulang kesalahan. Ujung-ujungnya, yang muncul situasi stagnan, bahkan cenderung mundur, karena negara lain mampu belajar untuk berkembang.
Ujud nyata dari kondisi makin terjerembab tersebut tak cuma terlihat di sektor riil dunia usaha, jumlah penganggur dan orang miskin, tetapi juga di sektor lingkungan hidup. Selama November 2007 ini, terjadi angin puting beliung di semua daerah. Khusus di wilayah sepanjang pantai, muncul ‘’pemerataan’’ banjir akibat rob atau air pasang laut. Di Jakarta malah dibarengi tanggul pantai jebol, sehingga ribuan warga di kawasan pantai utara harus mengungsi karena permukiman mereka tergenang.
Kejadian itu memang terkait faktor alam. Hanya saja, jika dirunut lebih cermat dan pikiran jernih, penyebabnya adalah ulah manusia. Mulai dari global warming (pemanasan global), penurunan permukaan tanah, pembabatan hutan termasuk bakau, sampai ke pembuangan sampah.


Pemanasan global tak sekedar akibat produksi gas buang yang berlebihan, tetapi juga dampak penebangan hutan seenaknya. Istilah lain pembalakan liar, meskipun yang terjadi pencurian kayu hutan besar-besaran dengan pengawalan pihak berwenang.
Dengan fakta itu, ya tak mengheran jika ada yang tertangkap, ketika proses di meja hijau bebas, dan pelaku menghilang. Baru kemudian di tingkat elite (Jakarta), untuk sementara seolah kebakaran jenggot. Selebihnya, ya biasa-biasa saja. Contoh terakhir terjadi di Sumatera Utara. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), wakil rakyat, penegak hukum, dan sebagainya, juga ikut ribut.
***
Dunia yang makin panas berdampak pula pada volume cairan es di kutup bertambah, dan mengalir ke laut. Kian tahun permukaan laut naik, dan akhir-akhir ini rata-rata per tahun mencapai 10 mililiter.
Penurunan permukaan tanah, awalnya juga ulah manusia. Hampir di semua penjuru dan wilayah kota, dari kawasan pantai hingga perbukitan, dipenuhi perumahan. Hal itu tak hanya menutup pori-pori tanah sehingga menghilangkan daerah resapan, tetapi biasanya disertai penyedotan air tanah untuk kebutuhan rumah tangga.
Industri pun demikian, menyedot air tanah tiap hari tanpa henti. Ujung-ujungnya menyebabkan permukaan tanah turun. Di sisi lain, hutan bakau yang berfungsi menghadang masuknya air laut ke daratan, juga dibabat habis. Dengan demikian, memang sudah selazimnya jika terjadi air pasang langsung menggenangi daratan, termasuk permukiman.
Bila bersamaan puncak air pasang (pada bulan purnama), hujan, angin kencang, dan jebolnya tanggul pantai (seperti di Jakarta), luapan rob telah berubah menjadi bencana. Tanpa dibarengi hujan dan angin pun, akhir-akhir ini di pantai uatara Jawa, rob telah menggenangi sebagian jalan dan permukiman.
Usaha represif memang sudah dilakukan. Misalnya membangun tanggul di pantai, menggalakkan penghijauan pantai dengan bakau, gerakan penanaman sejuta pohon di berbagai wilayah, reboisasi, penertiban pembalakan liar, dan sebagainya. Namun yang sering terlihat, langkah tersebut belum konsisten. Artinya, penghuni negeri ini masih banyak yang punya sifat seperti anak kecil, ‘’demenyar’’ (demene yen anyar-disukai kalau masih baru).
Soal gerakan penghijaun semua elemen masyarakat mendukung. Repotnya, mereka cuma semangat waktu menanam. Padahal, bibit apa pun jika cuma ditanam tanpa dipelihara, bisa jadi cuma menjadi makanan hewan, mati kekurangan air atau sebab yang lain. Demikian juga bangunan, tanpa pemeliharaan memadai, umurnya juga tak akan panjang.
Hampir semua calon kepala daerah yang wilayahnya tergenang rob, sewaktu kampanye juga ‘’menjual dagangan’’ berupa penyelesaian sekitar persoalan itu.
Kita itu kurang apa? Begitulah pertanyaan bernada menonjolkan usahanya, yang sering terdengar dari para pejabat di daearah langganan rob.
Hanya saja, nampaknya mereka lupa bahwa itu semua tindakan represif, belum diikuti tindakan preventif secara maksimal seperti pembatasan pengambilan air tanah, pengerukan/normalisasi saluran, larangan menebang pohon sembarangan. Peraturan daerah tentang penyediaan areal resapan di setiap rumah, pengaturan reklamasi secara ketat, pengelolaan sampah secara benar, dan sebagainya.
***
Muara dari semua itu, persoalan tetap saja menimbulkan masalah. Yang bermunculan justru lulusan strata satu, strata dua, bahkan doktor-doktor baru yang objek penelitiannya tentang banjir dan rob. Sementara warga yang bermukim di wilayah pantai, tetap saja lebih sering hidup di atas air kotor.
Pemerintah memang telah merintis membangun rumah panggung di daerah rob, misalnya di Kecamatan Wedung, Demak. Hal ini karena biaya membuat bendung di sepanjang pantai utara Jawa, jelas sangat mahal. Tetapi tentu saja itu sifatnya sementara, di samping bukan merupakan penyelesaian yang tuntas. Sebab meskipun orangnya tak kebanjiran, namun sarana jalan tetap terendam, sehingga perekonomian rakyat setempat tetap terganggu. Kecuali itu, kalau robnya makin tahun tambah tinggi, rumah model itu akhirnya takkan memadai lagi.
Apakah kita akan pasrah atau berkehendak mengatasi seperti kata filsuf Prof Charles Handy? Jawabanya tentu tergantung penghuni Negeri Ini, utamanya yang punya kuasa.
Selama mereka komitmen, konsisten dan konsekuen, persoalan pasti bisa diatasi. Yang pasti, menurut Pujangga Prancis Paul Valery (1985-1041), jalan awal terbaik untuk mewujudkan segalan impian adalah bangun dan bangkit dari tidur. Namun tentu yaang dimaksud bukan tidur dalam pengertian istirahat, tetapi terlena.

[+] Baca Selengkapnya

Jumat, November 23, 2007

Jual Diri

Oleh Sri Mulyadi

HARI ini Sarimi (33 tahun) dan keluarga makan nasi aking. Harga beras mereka rasakan mahal. Sementara suaminya Saroni (35 tahun) tak lagi bekerja. Selama ini nasi aking hanya dimakan bebek. Saroni tak sendirian, walau semua tak makan nasi aking. 49% penduduk Indonesia dalam kondisi miskin (data Bank Dunia 2006).
Kalimat tersebut merupakan iklan di sebuah media cetak nasional. Di bawah kalimat tersebut tertulis: Saya, Wiranto, mengajak Anda bergabung dalam gerakan moral. Bersatu sejahterakan rakyat. Ciptakan 10 juta lapangan kerja. Tingkatkan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas. Tumbuhkan ekonomi melalui pemerintahan yang kuat dan tegas.
Siapa pun yang membaca tentu bebas mencerna dan menginterprestasikan kalimat tersebut. Komentar di internet pun bermunculan. Ada yang mengatakan, mengiklankan diri sendiri sekarang ini bukan hal yang tabu. Apalagi hajatan Pilpres 2009 tak lama lagi. Memperkenalkan diri pada publik dan menciptakan citra adalah hal yang mutlak dilakukan.


Ada juga yang komentar: Terlalu banyak calon bingung milihnya, mana yang gak bakalan buat terlalu makan ati. Aku juga bingung karena terlalu banyak pilihan (tapi nggak ada yang layak pilih). Kayanya ... aku golput aja deh ..., tapi liat aja entar ... siapa tahu Tuhan tiba2 kasih kita calon alternatif buat bangsa ini.
***


Wiranto memang tak sendirian. Dalam Pilkada di Kalbar 15 November lalu, empat kandidat juga ‘’menjual’’ isu kemiskinan. Di daerah lain pun, fenomena menjual diri dengan sasaran konsumen orang miskin, juga terjadi. Terutama berkaitan maraknya pemilihan kepala daerah, dan menjelang pemilihan presiden di tahun 2009.

Tokoh (baik yang mengaku maupun memang ditokohkan) di tingkat kota/kabupaten, provinsi, maupun pusat, berlomba unjuk muka menjual diri. Mereka berpacu saling menonjolkan diri. Menebar citra dan anggapan bahwa dirinyalah yang serba ter. Termampu, tercocok, terbaik, terlayak, dan ter-ter yang lain yang berkonotasi positif. Istilah lainnya rumangsa bisa (merasa bisa).

Segala cara ditempuh. Mulai menebar janji sampai mengobral uang. Etis dan tidak etis bukan dianggap masalah. Yang penting jualannya laku, feedback atau respon dari konsumen, dalam hal ini rakyat, positif untuk dirinya. Jika ada sebagian orang yang mencemooh, juga dianggap angin lalu. Baginya yang terpenting pada akhirnya dia ‘’dibeli’’.

Pada saat menjual diri dalam kaitan meraih simpati, dagangan yang akhir-akhir ini juga layak dijual adalah kemiskinan. Hampir semua calon kepala daerah maupun kepala negara, hari-harinya diisi kegiatan mengobjekkan orang miskin.

Kemiskinan bukannya disikapi sebagai persoalan bersolusi tebar bukti dan tindakan nyata, tetapi masih diwacanakan disertai obral janji. Jika terpilih saya akan…. kalau mendapat kepercayaan saya akan…., seandainya saya dipercaya mengemban amanat maka….., dan kata-kata lain yang berujung akan. Sementara jumlah orang miskin sendiri tak kunjung berkurang.

Lebih celaka lagi, di tingkat elite justru sibuk berkutat mempermasalahkan jumlah dan metoda penghitungan. Tahun 2006 jumlahnya 37 persen atau 49 persen, dasar yang dipakai untuk menentukan apa. Dibanding tahun sebelumnya naik apa turun, dan seterusnya.

Ujung-ujungnya terjadi debat kusir, mereka lupa bahwa angka punya makna. Lewat akurasi data, akan ditemukan terapi yang semestinya. Sebaliknya, jika terjadi rekayasa, muaranya kemiskinan tak sekedar dijadikan barang ‘’dagangan’’, namun menjurus dibuat ‘’objekan’’ penguasa.

Kejadian di Negeri ini kadang memang unik. Termasuk soal korelasi antara menjual diri dengan kemiskinan. Umumnya orang yang menjual diri adalah wanita miskin (baik harta maupun pemahaman terhadap ajaran agama) atau mereka yang terpojok persoalan ekonomi.

Hanya saja, logika tersebut kini justru berbalik. Saat ini bertebaran orang kaya yang menjual diri agar dibeli oleh kaum miskin, dan menjual kemiskinan untuk meningkatkan kekayaan dan harga diri. Bahkan ada yang tega merancang suatu kondisi dan angka kemiskinan untuk tujuan politik dan kepentingan pribadi serta kelompok.
Akankah emosi rakyat kecil tersentuh oleh jualan mereka dan akhirnya ikhlas memberikan hak suara? Jawabnya tentu rakyat sendiri yang tahu. Namun biasanya, pada saat orang terbawa emosi, kiat teliti sebelum membeli, terabaikan.

[+] Baca Selengkapnya

Jumat, November 16, 2007

Sulit

 Oleh Sri Mulyadi

"SEORANG pesimis melihat kesulitan di setiap kesempatan; seorang optimistis melihat kesempatan dalam setiap kesulitan." Itu pendapat Winston Churchil, mantan Perdana Menteri Inggris. Di negeri ini, sekarang juga tengah mengalami musim "pesimis". Berjuta orang seakan kehilangan akal untuk menemukan cara apa yang harus dilakukan untuk menghadapi kondisi yang ada.
Mereka pesimistis bukan lantaran tak mau melihat serta memanfaatkan kesempatan di tengah kesulitan yang muncul. Namun nampaknya lebih cenderung akibat peluang yang ada memang benar-benar tak mampu terjangkau. Masalah yang satu belum teratasi, persoalan lain muncul. Begitu seterusnya, ibarat petinju yang bertarung di ronde sepuluh pada posisi ketinggalan angka.
Mengejar perolehan nilai mustahil, memaksakan kemenangan KO stamina belum tentu mendukung. Cuma faktor keberuntungan, jam terbang, dan mental, yang masih bisa diharapkan. Salah perhitungan, justru lawan makin menguasai pertandingan.


Demikian juga dengan kondisi di negeri ini. Ketika harga bahan bakar minyak (BBM) dunia akhir-akhir ini mendekati angka 100 dolar per barel. Pemerintah maupun masyarakat terkesan panik.
Pemerintah mulai melontarkan wacana mengenai pengaturan suplai ke masyarakat. Menneg Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas Paskah Suzetta dan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, sudah ancang-ancang akan membatasi penggunaan BBM bersubsidi, terutama bensin dan minyak tanah.
Penguasa tak punya banyak pilihan, kecuali menaikkan harga, mengurangi pasokan BBM bersubsidi ke masyarakat, atau kombinasi keduanya.
Alternatif menaikkan harga BBM, nampaknya mustahil dilakukan pemerintahaan SBY-JK. Kenaikan harga pada Maret dan Oktober 2005 saja, dampaknya sampai sekarang belum teratasi. Luka yang ditimbulkan akibat kenaikan sebelumnya, belum juga sembuh.
Kondisi sosial-ekonomi di kalangan kaum marginal makin terpuruk. Mereka "dihajar" inflasi yang mendekati angka dua digit. Ujung-ujungnya, jumlah orang miskin membengkak. Pada awal 2005 sekitar 16 persen, tahun 2006 telah mendekati 18 persen (sekitar 40 juta jiwa).
Apalagi menghadapi Pemilu 2009, jelas sangat riskan bagi SBY-JK. Saat ini saja, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, baik berkaitan pengentasan kemiskinan, mengurangi pengangguran, maupun memberantas korupsi, menurun tajam.
Seandainya terpaksa mengurangi suplai BBM bersubsidi, tentu realisasinya tak semudah membalik telapak tangan, terutama teknis di tingkat konsumen langsung.
Tanpa perencanaan yang njelimet dan matang, bisa jadi justru berbuah keributan. Masyarakat pasti akan menyerbu BBM bersubsidi. Jika yang ini dibatasi, pasti akan berebut. Belum lagi kalau terjadi permainan, mengingat soal main-memainkan di negeri ini sudah dianggap lazim.
***
Sektor riil yang diharapkan mampu mengurangi pengangguran dan menurunkan angka kemiskinan, pertumbuhannya belum banyak bisa diharapkan. Sementara daftar barang impor makin bertambah. Terakhir tabung elpiji pun harus impor. Dengan pertimbangan lebih mempercepat proses peralihan penggunaan minyak tanah ke gas di sektor rumah tangga, sehingga bisa menghemat subsidi.
Pemerintah pusat, provinsi, kota, kabupaten, maupun wakil rakyat, telah banyak studi banding dan berkunjung ke luar negeri berbekal uang rakyat. Nota kesepakatan dengan calon investor asing telah banyak yang ditandatangani. Sayangnya, nota kesepakatan tersebut banyak yang tak berujung realisasi.
"Kesepakatan oke, tertarik investasi di Indonesia iya, tapi soal realisasi ya nantilah, itung-itung dulu sambil membandingkan penawaran dari negara lain, mana yang lebih menguntungkan." Mungkin begitulah jalan pikiran para bakal calon investor, toch tak ada sanksi yang mengikat.
Sebagai wacana, apa yang disampaikan Paskah Suzetta atau Purnomo Yusgiantoro, sah-sah saja. Bahkan, sebagai tindakan antisipasi memang sudah seharusnya.
Hanya saja, meskipun baru sebatas wacana, bukan tidak mungkin sudah mengganggu konsentrasi, karena setiap terjadi perubahan kebijaksanaan di sektor BBM, pasti rakyat kecil makin menderita. Kebijakan pengalihan penggunaan minyak tanah ke gas pun, kaum marginal juga yang paling terkena getahnya.
Bagi Winston Churcil, memang tidak selayaknya sikap pesimistis dikedepankan, karena takkan membantu melihat kesempatan dalam kesulitan yang dihadapi. Demikian juga halnya kiat aktor yang kini menjabat Gubernur Kalifornia, Arnold Schwarzenegger.
Menurut Arnold, kekuatan bukan berasal dari kemenangan. Perjuangan Anda lah yang melahirkan kekuatan. Ketika Anda menghadapi kesulitan dan tak menyerah, itulah kekuatan. Kiat itu memang tak beda dari peran di film yang dibintanginya seperti Comando, Terminator, Predator. Dengan modal kegigihan, keyakinan, keterampilan, ketenangan, mampu mengatasi segala kesulitan dan rintangan di hadapannya.
Akankah di negeri ini juga bakal muncul tokoh semacam Churcil dan Arnold. Tokoh yang tak lelah, jera, patah semangat, didera kesulitan? Atau tokoh pengemban amanah rakyat yang ikhlas berjuang demi kaum miskin serta pengangguran dengan mengesampingkan kepentingan pribadi dan kelompok? Yang pasti, makin banyak penganut faham pesimistis, kesulitan tak akan kunjung terselesaikan.

[+] Baca Selengkapnya

Mengabadikan Cinta di Hutan Bambu Arasiyama

SUASANA romantis hutan bambu di Arasiyama, Kyoto, Jepang, punya kesan tersendiri di benak siapa pun yang berkunjung ke sana. Khususnya bagi mereka yang datang dengan pasangannya. Ada keyakinan, cinta pasangan yang melewati kawasan hutan tersebut bakal abadi alias langgeng.
Bagi yang masih pacaran atau bertunangan, kisah kasihmereka bakal akan berlanjut ke buhul pernikahan. Sementara untuk pasangan suami-istri, biduk rumah tangganya akan bertahan seumur hidup. Maka tak heran kalau lokasi tersebut selalu ramai dikunjungi wisatawan, terutama pada musim gugur atau semi.


Bambu yang tumbuh di kawasan tersebut berwarna hijau dan rata-rata berdiameter 10 sentimeter. Tanaman itu tumbuh subur dan pohonnya menjulang setinggi kurang lebih 30 meter, mirip bambu ''petung'' yang biasa dibuat menjadi kursi. Namun, bambu di Arasiyama tersebut tak membentuk rumpun. Tunas atau rebungnya juga tak terlihat.
Kawasan di tengah hutannya dijadikan jalan dengan pembatas berupa pagar yang terbuat dari ranting bambu. Walhasil suasana alami benar-benar terasa di sana. Apalagi bila suhu udaranya sedang dingin (sekitar 15 derajat Celsius), suasananya jadi benar-benar romantis.
Tak sulit untuk mengunjungi lokawisata Arasiyama. Ada kereta disel dengan kaca yang tembus pandang. Usai membeli tiket seharga 500 yen (sekitar Rp 40 ribu), pengunjung menunggu di stasiun kecil Kameoka untuk menuju tempat pemberhentian berikutnya, yakni Stasiun Arasiyama. Jarak Kameoka ke Arasiyama sekitar tujuh kilometer. Waktu tempuhnya 20 menit.
Selama berada di dalam kereta, penumpang bisa menikmati pemandangan alam sekitar karena jendela kereta sengaja dibuka. Bahkan di lokasi tertentu kereta berhenti untuk memberi kesempatan penumpang menikmati dan mengabadikan keindahan pemandangan dengan kamera atau peranti perekam lainnya.
Ya, dari kereta kita bisa melihat pelbagai macam tanaman, berwarna-warni, terutama di musim bunga atau musim gugur. Kita juga bisa menyaksikan orang-orang yang tengah menikmati wisata arung jeram di sungai yang ada di bawah jembatan untuk kereta.
Tiba di Stasiun Arasiyama, pengunjung meniti jalan bertangga menuju kawasan hutan bambu. Jalannya sempit, jadi mereka terpaksa berjalan dengan saling berdesakan. Namun di antara pengunjung, justru hal itu punya keasyikan tersendiri. Asyik bisa bersenggolan dengan sesama wisatawan. Golongan pelancong yang serupa itu umumnya kaum muda.
Wisatawan yang malas berjalan juga tak perlu repot-repot, apalagi harus berdesakan. Naik saja angkutan semacam becak berkapasitas dua orang yang ditarik manusia. Mirip riksaw di China. Ongkosnya lumayan mahal bagi ukuran Indonesia: 8.000 yen (sekitar Rp 640 ribu) per 30 menit. Selain tidak perlu bercapai-capai untuk mengelilingi objek wisata, penyewa juga tampak anggun saat berada di atas kendaraan tradisional itu. Ya, mirip seorang pembesar, dan umumnya menjadi pusat perhatian pengunjung lain.
Para penarik ''becak Jepang'' bukan hanya kaum lelaki yang berbadan kekar. Ada juga penarik wanita yang berperawakan kecil, tetapi mampu menarik becak di jalan naik-turun, meskipun penumpangnya dua orang. Oh, betapa kuatnya dia!
Usai menjelajah hutan bambu, pengunjung bisa menikmati masakan atau mencari suvenir khas Jepang di kawasan Toketkio sambil menikmati keindahan alam sekitar Sungai Katsura. Di tepi sungai itu banyak ditemui burung dara atau belibis. Beberapa pengunjung terlihat dikerumuni hewan bersayap tersebut. Maklum, mereka memang sengaja membawakan makanan khusus untuk burung-burung itu. (Sri Mulyadi)

[+] Baca Selengkapnya

Kuil Emas dan Pancuran Bertuah di Kyoto

BAYANGKAN saja rumah Anda terbuat dari emas. Yakinlah, siapa pun pasti bakal tertarik melihatnya. Mereka bakal memandanginya lekat-lekat dan puja-puji kekaguman bakal meluncur dari mulut mereka. Sangat mungkin pula orang bakal mereka-reka berapa nilai atau harga rumah itu, bertanya-tanya siapa yang terlibat dalam pembuatan, dan bagaimana mengamankannya. Itu keniscayaan. Sebab, sejak manusia mengenal peradaban, logam mulia tersebut sudah punya arti tersendiri.
Maka lumrah saja kekaguman serupa itu meruah untuk Kuil atau Paviliun Kinkakuji di Kyoto, Jepang. Maklum, sebagian besar bangunan tersebut terbuat dari emas. Lihat saja, selain bangunan paling bawah dan bagian atapnya yang terbikin dari kayu, dua lantainya dibuat dari lempengan emas. Pun di bagian atapnya yang kayu, ada fenghuang emas dalam rupa burung phoenix.


Kenapa tak semua bagian bangunannya dibikin saja dari emas? Tentu saja arsitek atau penggagas bangunannya punya konsep filosofis arsitektural tersendiri. Pada bagian yang terbuat dari emas, yakni di lantai dua dan tiga, fungsinya memang untuk bersemadi. Adapun lantai satu yang tak secuil pun berlapis emas mengandung makna sebagai representasi alam dunia.
Kuil tersebut dibangun pada tahun 1397. Tujuan pembangunannya adalah sebagai tempat peristirahatan Shogun Ashikaga Yoshimitsu. Dinamika zaman ikut mengisi keberadaannya. Misalnya, ia pernah terbakar beberapa kali, khususnya pada masa Perang Onin. Setelah direhabilitasi, ia juga pernah terbakar lagi pada tahun 1950. Tepatnya sewaktu bangunan itu ditempati seorang biksu yang sakit jiwa. Selanjutnya kuil dibangun kembali dengan menggunakan daun atau lempengan emas.
Keunikan bangunan itu terlihat pada setiap lantainya yang dibuat dalam gaya arsitektural berbeda. Meski begitu, secara keseluruhan gayanya mencerminkan bangunan masa Muromachi (1333-1573). Lokasi bangunannya pun begitu eksotis. Ia terletak di tengah kolam buatan bernama Kyokochi di pebukitan Kitayama, sebelah utara Kyoto.
Tentu saja, Kuil Kinkakuji menjadi magnet kepenasaran siapa pun hingga sekarang. Catat saja, setiap tahunnya empat juta orang dari segala penjuru dunia, terutama di musim gugur dan semi, berkunjung ke sana. Padahal, untuk bisa mengaguminya, wisatawan tak bisa mendekat. Mereka hanya bisa melihat dari kejauhan. Jarak untuk melihat yang paling dekat sekitar 100 meter. Walhasil, karena tak bisa mendekat dan bersentuhan langsung, para pengunjung cuma bisa mengabadikan dengan kamera atau handycam.
Kenyataan itu tak pelak sering memunculkan perdebatan kecil atau sejenis keragu-raguan. Benarkah kuil itu terbuat dari emas? Yang percaya bahwa bangunan itu memang dari emas punya alasan yang cukup logis. Katanya, karena Jepang merupakan salah satu negara terkaya di dunia, maka mendirikan bangunan dari emas tentu bukan persoalan besar. Tapi yang sangsi pun punya dalih tersendiri. Kata mereka, bangunan terbuat dari kayu dan hanya dilapisi serbuk emas atau cat berwarna keemasan.
Tanpa harus turut suntuk memperdebatkannya, yang tak bisa didebat lagi adalah bahwa objek wisata kuil emas tersebut sangat sayang dilewatkan apabila kita mengunjungi Kyoto. Bangunan itu tampak indah berkilau di tengah kolam yang dipenuhi ikan emas seberat empat atau lima kilogram per ekornya yang hidup bareng bersama ikan-ikan koi. Di tepi kolam selalu terlihat beberapa burung bangau yang tengah menunggu mangsa berupa ikan-ikan kecil. Jalan yang mengelilingi kompleks pun sangat bersih. Pada kanan kirinya berjajar tanaman hias khas Jepang. Pun lihat juga keelokan bunga padma atau teratai di tengah kolam. Konon bunga itu sebagai perlambang kehidupan, sementara telaganya menjadi simbol dunia, dan warna emas di kuil itu menyimpan makna sebagai arahan meraih berkat surgawi.
''Kalau Anda datang pada musim semi, panoramanya begitu memesona. Bunga warna-warni itu begitu serasi berpadu dengan keelokan kuil emas,'' ungkap salah seorang penjaga.
***
PERLU diketahui, Kota Kyoto yang dibangun pada tahun 794 itu adalah bekas ibukota Jepang. Jaraknya sekitar 50 kilometer dari Tokyo. Luas wilayahya sekitar 610 kilometer persegi dengan penduduk kurang lebih 1,5 juta jiwa. Ia merupakan kota yang molek. Setiap sudutnya memperlihatkan harmoni sebuah kota yang didominasi keteduhan dengan pemandangan pepohonan hijau, pegunungan, dan kuil-kuil berusia ratusan tahun yang terawat dan indah.
Pegunungan rendah Tamba mengitari kota tersebut dari utara, timur, dan
barat. Dua puncak gunung, Hieizan dan Atagoyama, mendominasi kawasan
pada bagian barat laut dan timur laut kota ini. Itu masih dilengkapi dengan Sungai Kamogawa dan Katsuragawa yang melintasi wilayah pusat dan barat Kyoto.
Untuk menuju Kyoto, wisatawan dari Tokyo bisa naik pesawat atau kereta cepat (shinkanzen) menuju Osaka. Jarak Tokyo-Osaka sekitar 500 kilometer, hampir sama Semarang-Jakarta. Dengan shinkanzen bertarif 13 ribu yen (sekitar Rp 1.040.000), waktu tempuhnya cuma 2,5 jam. Adapun dari Osaka ke Kyoto yang jaraknya sekitar 50 kilometer, kita bisa menggunakan bus umum.
Kuil lain yang juga punya keunikan tersendiri adalah Kiyomizudera yang terbuat dari kayu, dan konon tanpa paku. Di kuil itu tersimpan patung Dewi Kwan Im, dan hanya dikeluarkan setiap 36 tahun sekali. Di luar ruangan penyimpan patung terdapat genta dari kuningan lengkap dengan pemukulnya. Pada umumnya, usai berdoa pengunjung langsung memukul genta, sehingga gaungnya terdengar sambung-menyambung menjadi semacam ilustrasi kekhusukan doa di kuil yang berada di atas ngarai curam tersebut.
Di kompleks tersebut juga terdapat tiga pancuran yang airnya dipercaya punya ''pengaruh'' atau ''tuah'' bagi orang yang meminumnya. Masing-masing pun punya makna sendiri. Air di pancuran pertama konon ''bertuah'' untuk mereka yang mencari kebahagiaan, sementara pancuran kedua untuk kesehatan, dan yang ketiga untuk mereka yang menginginkan panjang usia.
Dan rupanya banyak sekali orang yang memercayainya. Akhir bulan lalu, ketika bersama rombongan ''Daihatsu Journalist Test Drive'' datang ke sana, saya menyaksikan begitu banyak pengunjung pada masing-masing pancuran. Puluhan orang itu secara teratur antre mengambil air dengan gayung dan meminum airnya.
''Saya percaya saja air ini memang bertuah. Saya yakin banyak juga yang memercayainya. Lihat, itu banyak sekali orang yang antre untuk meminum air dari pancuran,'' ungkap Tan Lie Siong, seorang turis asal Hong Kong dalam bahasa Inggris sambil menunjuk kerumunan orang di dekat pancuran.
Untuk soal yang satu itu, mungkin tak perlu jauh-jauh pergi ke Kyoto. Di sini pun banyak tempat yang airnya dipercaya ''bertuah''. Tapi kalau sudah sampai di Kyoto dan berkesempatan ke Kuil Kiyomizudera, ya silakan coba mereguk air pancuran itu. Siapa tahu memang berkhasiat, paling tidak memuaskan rasa haus (kalau kebetulan haus), dan tentu saja rasa kepenasaran Anda. (Sri Mulyadi)

[+] Baca Selengkapnya

Jumat, November 02, 2007

Sensasi Ikan Bluntak Osaka

ANDA ingin mencoba merasakan masakan ikan buntal atau sering juga disebut ikan bluntak? Datanglah ke restoran Zuboraya, Do Ton Buri, Osaka, Jepang. Tapi jangan kaget, harga per paket masakan tersebut 10.500 Yen atau sekitar Rp 840.000. Itu saja tiap paket ikan bluntaknya (di Jepang disebut ikan fugu), cuma sekitar dua ons. Lainnya berupa cumi, udang, tofu atau tahu khas Jepang yang lembek. Kemudian sayur, semangkuk nasi, buah, es krim.


Rasa ikan itu memang lezat, gurih agak manis, tak kalah dibanding salmon, cumi, udang bago, kakap, atau lainnya. Sampai-sampai di Jepang muncul ungkapan: Mereka yang memakan sup fugu adalah bodoh. Tetapi mereka yang tidak memakan sup fugu juga bodoh." Ungkapan itu memang bisa dimengerti. Di satu sisi ikan itu memang lezat, tetapi sekaligus sangat berbahaya. Jika cara membersihkan tidak benar, bisa berujung maut.
Racun yang terkandung di perut ikan fugu jauh lebih mematikan dibanding sianida, bahkan mampu membunuh antara 24 hingga 30 orang manusia sekaligus. Hal ini diakibatkan di dalam badan ikan buntal, terutama di bahagian hati dan empedu, mengandungi sejenis toksin tetrodoxin. Racun ini berasal dari makanannya. Makanan ikan fugu ini adalah mikroorganisme tertentu yang menyebabkan bagian dalam tubuh ikan ini mengandung racun.

Dipotong Menyilang .

Wartawan Suara Merdeka, Sri Mulyadi yang mengikuti test drive Daihatsu di Shiga Technical Center, Osaka, 23-28 Oktober lalu melaporkan, di kawasan Do Ton Buri ada beberapa rumah makan yang menyajikan menu ikan fugu. Sebagian memajang menu lengkap di etalase, dan ada juga yang meletakkan aquarium berisi ikan fugu di depan restoran. Sedang memasaknya, digoreng, dibakar atau direbus, tergantung konsumen. Di tiap meja disediakan kompor gas lengkap peralatan memasaknya.
Shigonobu Oyama, pemilik Zuboraya, mengatakan ikan tersebut berasal dari nelayan di sekitar pulau Honshu. Sebelum disajikan ikan dipotong menyilang, seluruh isi perut dibuang. Kemudian kulit dikelupas, terutama bagian kepala. ‘’Ikan jenis ini memang beracun, tetapi jika cara membersihkannya benar, aman dikonsumsi. Rasanya lezat dan khas,’’ ungkapnya.
Kaosao Ichiro, seorang pelayan rumah makan mengungkapkan, di perairan laut Jepang ada sekitar 40 jenis fugu, namun yang bisa dikonsumsi hanya jenis torafugu robripes.
Menyediakan hidangan fugu tidak mudah. Hanya orang yang benar-benar terlatih dan berlisensi yang diperbolehkan. Sebelumnya mereka dilatih mengenai cara menangkap, memotong, membersihkan dan memasak, kemudian diharuskan memakan hasil masakannya. ‘’Faktor kesulitan menyajikan hidangan inilah yang menyebabkan ikan fugu menjadi salah satu menu termahal di Jepang.’’
Bagian kepala fugu disajikan dalam bentuk fillet atau diiris tipis. Bagian badan cuma dagingnya yang diambil. Siripnya disendirikan, dan biasanya digoreng dan dihidangkan dalam sake panas. Masakan ini dinamakan fugu hire-zake. ‘’Kelezatan menu ikan fugu terletak pada rasa dan teksturnya. Jika direbus dagingnya menjadi kenyal.’’
Masa panen ikan ini biasanya bersamaan dengan musim semi. Pada masa itu fugu memasuki musim kawin dan bertelur. Pertengah musim semi mulai beranak. Di antara pemilik rumah makan ada yang melakukan pembesaran sendiri anak fugu di karamba dengan makanan ikan segar. Ada juga yang membeli dari pasar dalam kondisi hidup, kemudian dipelihara di akuarium.
Di Indonesia ikan bluntak jenis itu juga banyak ditemukan, tetapi umumnya belum dijadikan menu untuk dikonsumsi. Di Semarang masuk kelompok ikan hias yang dipelihara di akuarium air laut, karena bentuknya lucu dan jika dipegang perut akan menggelembung menyerupai bola. Biasanya ikan ini didatangkan dari Banyuwangi atau Bali. Sedangkan di Karimunjawa, dipelihara di karamba, juga sebagai ikan hias. Bahkan yang di Karimunjawa per ekor beratnya bisa dua atau tiga kilogram.
Di pasar ikan tradisional Tambaklorok, Semarang, ada juga yang menjual salah satu jenis ikan buntal. Kebanyakan orang menyebut bluntak pisang, bukan fugu. Ikan ini aman dikonsumsi asal memotongnya benar, yakni menyilang. Dari kepala hingga belakang dubur dibuang. ‘’Kalau selama ini banyak orang meninggal setelah makan ikan bluntak, karena tak tahu cara memotongnya,’’ ungkap seorang bakul ikan di Tambaklorok. Yang membedakan cara mengonsumsi ikan bluntak pisang dengan fugu adalah cara pemotongan. Kalau fugu menyilang di bagian perut, sedang bluntak pisang yang terbuang setengah badan lebih.

Ta Ko Yaki

Di kawasan Don Ton Buri, juga banyak ditemui ta ko yaki, makanan khas Osaka. Terbuat dari tepung, jahe merah, cumi (jenis sotong/cumi bertulang), daun bawang panjang, kobis, telur. Setelah diaduk merata dibentuk bulat-bulat, kemudian dipanggang. Harga per enam biji 320 yen atau sekitar Rp 25.600 (per yen sekitar Rp 80), 8 biji 420 yen, dan 12 biji 620 yen. ‘’Rasanya lumayan, agak cocok dengan masakan Indonesia,’’ ungkap beberapa wartawan yang ikut rombongan test drive Daihatsu.
Kecuali ta ko yaki, makanan khas yang bisa dinikmati di Osaka adalah yakiniku. Bahan berupa ikan, udang, cumi, kepiting, daging sapi, ayam, dan lainnya, disantap setelah sebelumnya dimasak sendiri di hot plate yang ada di setiap meja. Khusus daging sapi, konsumen bisa memilih yang istimewa. Sebelum dipotong, menurut informasi, sapi sering dipijit dan diberi minum bir, sehingga dagingnya lembut.
Gang-gang di kawasan Don Ton Buri, tak pernah sepi dari pengunjung pejalan kaki, dan pengendara sepeda. Kendaraan bermotor tak boleh lewat. Objek yang bisa dinikmati tak hanya rumah makan dengan berbagai menu. Di kawasan ini juga ada yang menjual anjing jenis kecil,kucing, humter. Pengunjungnya juga ramai, dan kebanyakan para wanita. Hewan-hewan itu diletakkan di kotak kaca. Untuk anjing dan kucing ada yang ditawarkan hingga Rp 10 juta – Rp 15 juta/ekor.

[+] Baca Selengkapnya

Uji Nyali di Sirkuit Daihatsu

MELEPAS seseorang untuk mengendarai mobil dengan kecepatan 100 kilometer per jam atau lebih di arena uji coba (semacam sirkuit balap), jelas berisiko tinggi. Lebih-lebih bila orang tersebut belum pernah mengendarai mobil yang akan dia coba, dan jalur yang dilalui juga belum dia kenal.
Tapi seperti itulah yang dilakukan Perusahaan Daihatsu, beberapa waktu lalu di Shiga Technical Center, Osaka. Sebanyak 29 wartawan dari berbagai daerah di Indonesia diundang untuk melalukan test drive.

Jenis mobil yang digunakan adalah pikap dan minibus, yang akan diluncurkan di Indonesia November 2007 ini. Perlu ditambahkan, meski belum diluncurkan, pemesan yang tercatat di atas 1.300 orang
Untuk pikap, uji coba dilakukan di jalur lurus yang diberi rintangan rambu seperti layaknya ujian SIM. Jalurnya dibikin berbelok tak beraturan, dengan tujuan menguji kelincahan mobil. Pada kesempatan itu peserta diminta mencoba tiga mobil pikap. Yakni, Daihatsu 1.300 cc, 1.500 cc, dan mobil pembanding.
Sedangkan yang minibus, sebelum mencoba mengendarai mobil terbaru itu peserta diajak mengelilingi arena menggunakan bus. Awalnya berkecepatan 40- 50 Km/jam di jalur paling kiri. Kemudian di jalur dua kecepatannya berubah menjadi 80-100 Km/jam. Setelah itu masing-masing peserta dilepas mengendarai mobil sendiri didampingi seorang teman sesama peserta.
Arena uji coba terdiri atas empat lajur sepanjang 2,8 Km. Kemiringan jalannya 45 derajat, dan khusus jalur lurus satu kilometer. Bagian paling kiri dibikin tidak rata seperti jalan rusak. Ada beberapa bagian dibikin menonjol atau dibuat rambu polisi tidur berjajar. Hal itu dimaksudkan untuk mengetahui kondisi mobil saat lewat jalan jelek dan bergelombang.
Pada lajur dua yang kemiringan jalannya 15 derajat, kondisi jalan halus, namun di jalur lurus sebagian dibuat cekung dan berair. Kenapa berair? Itu untuk mengetes kendaraan pada saat melewati genangan. Di jalur tersebut, pada saat kendaraan melaju dengan kecepatan 80-100 km/jam kemiringan jalan tidak terasa.
Selama kemudi tidak digerakkan, mobil akan melaju seperti di jalur lurus, meskipun kondisi jalan sebenarnya berbelok. Demikian juga di jalur tiga dan empat. Ketika mobil dipacu dengan kecepatan 150 km/jam, kemiringan 45 derajat tak terasa, seolah mobil melaju di jalan lurus.
Hanya saja, jika kemudi digerakkan ke kanan atau kiri, bisa berakibat fatal, menabrak pembatas jalan yang terbuat dari besi. Pada test drive ketika itu ada peserta yang nekat memacu kendaraan hingga berkecepatan 145 km/jam dan masuk ke jalur empat.
Bagi yang suka tantangan di jalan, itu memang mengasyikkan. Apalagi dengan mobil baru yang belum ada di pasaran, bisa mencoba mengendarai di beberapa kondisi jalan dengan kecepatan yang bervariasi, mulai 10 km/jam hingga di atas 150 km/jam. Yang kadang tak disadari, peserta terlalu asyik sehingga memacu kendaraan secepat mungkin, mengabaikan perintah instruktur.
Usai menguji kendaraan, peserta dipertemukan dengan para petinggi di Daihatsu Motor. Mereka antara lain Manager Engineering Sinichi Namba, General Manager Test Yukihiro Yamasaki, Direktur Marketing PT Astra Daihatsu Motor Suparno Djasmin, dan Vice President Director Sudirman MR.
Pada pertemuan itu terpapar bahwa bahan bakar minibus terbaru tersebut cukup irit. Catat saja, untuk yang 1.300 cc bahan bakarnya hanya 11,14 kilometer/liter. Adapun untuk 1.500 cc tiap liternya mampu menempuh jarak 11,11 kilometer. Sedangkan untuk pikap, per liter di atas 12 kilometer.
''Semua komponen diperbarui, dan jelas berbeda dibanding generasi sebelumnya, kecuali roda,'' ungkap Suparno.(Sri Mulyadi)

[+] Baca Selengkapnya

Selasa, Oktober 23, 2007

Praktis, Ekonomis, Tragis

Oleh Sri Mulyadi

Tantangan seringkali mengasyikkan dan membikin hidup terasa lebih hidup. Tapi kadang bisa berujung maut. Seperti halnya mudik menggunakan motor. Di satu sisi, praktis, tak terikat waktu, ekonomis, mengasyikkan (terutama yang ramai-ramai). Sampai di daerah tujuan pun, bisa digunakan sebagai angkutan ke rumah para kerabat.
Namun di sisi lain berisiko tinggi. Misalnya kehujanan, kepanasan, ban kempes, mesin rusak, dan sakit di perjalanan. Bahkan rentan terjadi kecelakaan. Bisa diakibatkan serempetan sesama motor, tabrakan dengan kendaraan lain, slip, dan sebagainya. Yang pasti, karena pengendara motor perlindungannya minim, seringkali kecelakaan berdampak tragis.



Seperti terjadi pada Lebaran Tahun 2007 ini. Di Jawa Tengah saja, dalam kurun waktu 11 hari (H-7 hingga H+4), terjadi 285 kasus kecelakaan dengan korban 60 orang tewas. Ironisnya, 70 persen di antara korban adalah pengendara motor.
Repotnya, jumlah pemudik menggunakan motor tiap tahun naik. Faktor yang mendorong tak hanya praktis, tetapi ekonomis. Untuk Semarang-Jakarta PP, biaya beli bensin sekitar Rp 100 ribu - Rp 150 ribu. Satu motor bisa dinaiki sekeluarga terdiri atas, ayah, ibu, dan dua anak. Jika naik bus sekali jalan Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu.
Untuk mempunyai motor baru, di Jakarta atau kota besar lain, cukup bermodal KTP dan uang muka Rp 500 ribu - Rp 1 juta. Selanjutnya angsuran per bulan Rp 350 ribu - Rp 400 ribu. Kalau misalnya mau nakal, 3 bulan gak bayar angsuran, paling risiko motor ditarik dealer. "Kalau ditarik ya anggap saja kita pinjam tiga bulan dengan sewa Rp 500 ribu. Misalnya dioper kredit ke teman, juga banyak yang mau," ungkap Djoko Darmono (36), salah seorang pemudik asal Pamulang, Jakarta.
***
Alasan mereka memang sederhana dan sangat mudah dipahami. Di tanah kelahirannya mereka juga bisa "mejeng" dengan motor baru. Keluarga atau tetangga tentu tak akan tanya status motor, dari beli atau kredit. Orang tua juga ikut bangga, karena anaknya di rantau sudah mampu beli motor.
Benarkah alasan mereka mudik pakai motor cuma itu? Berbagai komentar bermunculan. Soedaryanto, Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan Anggota Komisi V DPR Aswar Anas berpendapat, fenomena makin maraknya mudik pakai motor menunjukkan tidak maksimalnya pemerintah menyediakan transportasi publik.
Jika ada angkutan nyaman dan aman, hal itu tentu tak terjadi. Bus dan kereta api biasanya penuh sesak, dan harga tiket pesawat tak terjangkau. Belum lagi karena alasan masalah kemacetan lalu lintas hingga berjam-jam, penumpukan penumpang di terminal atau stasiun KA, harga tiket yang melambung tinggi, calo, dan copet.
Argumen itu bisa benar juga. Namun persoalan yang utama tentu bukan soal praktis, ekonomis, dan ketidakmampuan pemerintah. Masalah yang tak dapat ditawar adalah mudik dan balik menggunakan motor sangat berbahaya. Maunya praktis, ekonomis, dan romantis, bisa berujung tragis. Jumlah orang meninggal akibat mudik pakai motor, tiap tahun bertambah.
Dalam menyikapi masalah ini, tentu tak mungkin kita saling menyalahkan. Aparat keamanan sudah maksimal menjalankan tugas, sampai rela tak ikut merayakan Idul Fitri bersama keluarga. Penanggung jawab infrastruktur juga demikian, pembenahan sarana jalan telah diperbaiki jauh hari sebelum Lebaran. Angkutan umum sudah dikerahkan secara maksimal, meskipun kondisinya belum seperti yang diharapkan Soedaryanto maupun Aswar Anas. Namun toh angka kecelakaan tetap tinggi.
Persoalan teknis seperti kondisi motor, nampaknya juga bukan penyebab. Umumnya kendaraan yang digunakan masih dalam kondisi baru. Yang sulit diprediksi dan diantisipasi serta ditanggulangi mungkin justru persoalan fisik dan psikis. Imbauan untuk istirahat di saat kondisi lelah sudah bermunculan dari berbagai pihak.
Tempat istirahat dari yang sekedar berkipas angin hingga ber-ac telah tersedia di sepanjang jalur mudik dan balik. Namun karena jarak yang ditempuh mencapai 500 kilometer lebih sekali jalan, sebugar apapun kondisi seseorang pasti kelelahan. Untuk mengembalikan, tak cukup dalam waktu singkat. Sehingga ketika melanjutkan perjalanan, sebenarnya kebugaran belum kembali betul. Kondisi ini otomatis mengurangi konsentrasi, dan dalam kondisi jalan yang padat, kecelakaan sangat mungkin terjadi.
Secara psikis juga demikian. Ketika mudik ada dorongan kuat untuk secepatnya sampai lokasi yang dituju. Mereka ingin segera bertemu dengan orang tua atau sanak keluarga. Otomatis dia terdorong mempercepat laju kendaraan. Apalagi kalau rekan yang berangkatnya bersamaan telah lebih dulu tiba di daerah tujuan, pasti yang bersangkutan tambah "kemrungsung". Padahal pada kondisi psikis seperti itu, orang cenderung kurang waspada. Ujung-ujungnya, kecelakaan tak terhindarkan. Ketika balik ke kota, kondisi fisik dan psikis pun, nampaknya juga dominan menjadi pemicu.
Mudik pakai motor memang sah-sah saja, dan tentu sulit dilarang. Namun yang perlu direnungkan adalah tindakan itu berisiko tinggi. Tak hanya bagi pengendara, tetapi juga terhadap pengguna jalan yang lain. Pengawalan dari polisi ternyata juga belum menjamin terjadinya penurunan angka kecelakaan.
Akankah Lebaran tahun depan diperbolehkan atau dilarang? Persoalan tentu tak sesederhana itu. Masing-masing punya konsekuensi. Kalau diperbolehkan tindakan preventifnya apa, dan jika dilarang solusinya bagaimana.
Tantangan kadang membikin hidup terasa lebih hidup. Tetapi jika itu bisa mendatangkan maut dan bisa dihindari, mengapa tetap tertantang melakukan. Untung rugi dalam suatu keputusan pasti ada. Hanya saja bila keuntungan yang diperoleh tak sepadan dengan risiko, kenapa harus ditempuh.
--- Sri Mulyadi, wartawan Suara Merdeka di Semarang

[+] Baca Selengkapnya

Jumat, Oktober 12, 2007

Mudik

Oleh Sri Mulyadi

Lebaran telah di ambang pintu. Hiruk-pikuk mudik sudah mulai terasa H-10. Penghuni Ibu Kota khususnya, seakan berpacu ke luar dari sarang, menuju tanah kelahiran masing-masing. Baik menggunakan kereta, pesawat, bus, kapal, mobil pribadi, maupun sepeda motor.
Di sisi lain, kalangan pengusaha termasuk perbankan dan organisasi politik, seakan berlomba memperebutkan simpati mereka, terutama yang menggunakan kendaraan umum nonpesawat. Tawaran menarik bermunculan.
Ada yang menawarkan tiket mudik dan balik gratis, dihibur artis-artis Ibu Kota, doorprize, dan sebagainya. Tujuan mereka sama, menyenangkan pemudik, terutama ''wong cilik''. Tawaran pun kini lebih spesifik, ditujukan bagi pedagang mie, kuli bangunan, pedagang asongan, dan kelompok lainnya.
Pertanyaan yang mungkin menggelitik, pertanda apakah kejadian ini? Di satu sisi memunculkan fenomena pengusaha dermawan di negeri ini makin banyak. Tokoh politik dan wakil rakyat tak sekadar menyampaikan aspirasi, tetapi langsung turun tangan ikut menyelesaikan masalah dengan mengeluarkan biaya pribadi. Politikus tak cuma obral janji, namun obral bukti.


Bisa diartikan pula bahwa tujuan politikus dan pengusaha sama, membikin senang kaum marginal. Mereka merasa selama ini telah banyak dibantu oleh rakyat kecil, dan musim Lebaran merupakan waktu tepat untuk balas membantu.
Dari sudut pandang pengusaha, pemudik adalah konsumen potensial, sehingga wajar jika setahun sekali memperoleh fasilitas mudik gratis. Bagi yang belum menjadi konsumen, paling tidak mulai mengenal merk dan produk.
Dengan demikian, pada masa mendatang bisa dijadikan sasaran target pasar, dan diharapkan masuk barisan sebagai konsumen. Paling tidak simpati mereka ke merk atau pengusaha produk tertentu, bisa lebih menyebar ke para kerabat dan tetangga.
Dapat pula diartikan sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan, dan diharapkan menciptakan citra yang sangat positif. Biaya dianggap sebagai investasi jangka panjang yang bisa menciptakan iklim sosial politik kondusif.
Organisasi politik pun ada juga yang menjadikan sebagai lahan menjual citra serta "target pasar'' dalam pemilihan umum (pemilu). Jumlah pemudik yang jutaan orang, diskenario mampu mendongkrak perolehan suara bagi partai yang bersangkutan.

***

YANG dilakukan pelaku usaha maupun partai politik tersebut memang sah-sah saja, dan dinilai banyak membantu kaum marginal. Seandainya di balik tindakan tersebut mengandung unsur bisnis berupa promosi citra, merk, maupun produk, juga wajar-wajar saja. Ujung-ujungnya, seiring berbagai kemudahan itu, jumlah pemudik terus meningkat
Persoalan yang mungkin muncul adalah orang yang terlibat dalam hiruk-pikuk mudik umumnya berasal dari desa. Atau mudik diartikan sebagai kembali ke udik, pulang desa, atau pulang ke tanah kelahiran. Dengan demikian mudik hanya bersifat searah, dari kota ke desa.
Sebagai konsekuensinya, adat, pola dan gaya hidup kota, ikut terbawa ke desa. Sebagai contoh, pembantu rumah tangga pun ketika mudik punya tren tersendiri. Jika dua tahun lalu pulang kampung menenteng hand phone, tahun ini cenderung ke penampilan fisik, rambut dicat warna-warni.
Tak cuma pembantu, majikan pun tak sedikit yang terlibat memasyarakatkan salah satu pola hidup kota, konsumtif. Demi jaim (jaga image) sebagai orang dari kota, mereka dengan enteng melepas puluhan bahkan ratusan ribu rupiah untuk sekadar beli barang sekunder bahkan tersier.
Celakanya, banyak orang desa terpengaruh, bahkan terobsesi. Mereka menganggap hidup masa kini seharusnya memang demikian. Jika tidak, berarti ketinggalan zaman. Tetap jadi orang udik yang ''ndesa''. Dampak selanjutnya, kota-kota besar makin disesaki kaum urban. Nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, keselarasan, yang umumnya berhabitat di desa kian terkikis.

***
Namun jika direnungkan lebih mendalam, tradisi mudik juga tak sedikit dampak positifnya. Acara silaturahmi, sungkem ke orang tua, saudara, saling memaafkan, merupakan tindakan yang dianjurkan agama. Di samping itu, mereka juga kembali menikmati siraman nilai-nilai desa untuk menyegarkan kegersangan yang dialami di kota. Hanya, siraman nilai itu kadang tak bertahan lama. Selang beberapa saat usai Lebaran, mereka kembali ke pola dan gaya hidup kotanya.
Serba repot ya? Memang demikianlah kenyataannya. Makin banyak yang memfasilitasi, jumlah pemudik tambah membeludak. Risikonya, banyak orang desa terkontaminasi kehidupan warga kota. Seiring dengan itu, urbanisasi terus melonjak, yang ujung-ujungnya menambah persoalan di kota. Sebaliknya kalau mereka tak difasilitasi, nilai positif yang terkandung dalam mudik lama kelamaan bisa luntur. Lembaga pemerintah, pengusaha, partai politik, dianggap tak peka terhadap tuntutan rakyat kecil.
Mencari titik temu yang ideal nampaknya memang tak mudah. Tapi pendapat Sineas dan Penulis Italia, Luciano de Crescenzo yang berbunyi: "Kita, tiap-tiap kita adalah malaikat dengan satu sayap, dan kita hanya mampu terbang jika saling memberikan pelukan" bisa dijadikan salah satu renungan. Hal itu bisa juga dimaknai, tradisi mudik tetap dilestarikan, tetapi pemudik punya kesadaran untuk tidak ''merangsang'' orang desa meniru gaya dan pola hidup kota yang berujung urbanisasi.

[+] Baca Selengkapnya