Kamis, Juli 05, 2007

SMS = Situasi Makin Seram

Oleh Sri Mulyadi
''SATU dari lima tempat yang telah kami aktifkan bom akan meledak pukul 13.00 WIB alias tiga jam lagi kedutaan AS, Polda Metro Jaya, kantor Freeport, kantor Badan Intelijen Negara (BIN), dan Gedung BI.'' Itulah bunyi salah satu ancaman lewat short message service (SMS), yang dikirim 8 Maret lalu ke 1717.

Ancaman serupa, akhir-akhir ini memang makin sering terjadi. Selama Februari 2007, sedikitnya ada tiga ancaman. Sasarannya, Singapore International School (SIS) Medan, Bank Indonesia di Jakarta, SMA Al Azhar 3 Bandarlampung.
Selama Maret, hingga tanggal 13, sedikitnya terjadi enam kali ancaman serupa. Sasarannya, PT Freeport Indonesia, Kantor Kedutaan Inggris, Mal Artha Gading, Monas, Kedubes AS, dan Pasar Sentral Gorontalo.

Dampaknya sudah bisa diduga, menakuti semua orang yang berada di bangunan tersebut. Polisi segera menyisir lokasi. Hasilnya? Seperti juga kejadian sebelumnya, ancaman tak terbukti.


Persoalannya tentu bukan terbukti atau tidaknya ancaman itu. Namun menyangkut dampak dari aksi tersebut. Orang asing pasti bertanya, sebegitu gawatkah kondisi Indonesia? Kenyataannya memang tak seseram yang dibayangkan mereka. Namun yang pasti ancaman lewat SMS tersebut memunculkan kesan situasi makin suram (SMS).

Ditambah lagi belakangan ini musibah dan bencana mendera tiada henti. Bahkan dalam musibah terbakarnya pesawat Garuda di Bandara Adisucipto, Yogyakarta, juga muncul sinyalemen ada sabotase. Kejadian penyalahgunaan senjata api oleh aparat penegak hukum juga marak, terakhir (14 Maret 2007), Wakapolwil Semarang AKBP Lilik Purwanto tewas ditembak anak buahnya, Briptu Hance. Seolah makin lengkaplah kesuraman situasi negeri ini.
***
Siapakah yang sedemikian konyol, sampai berani bermain mengenai citra dan kondisi negara? Jawabnya mungkin polisi, penjabat, warga masyarakat, wakil rakyat, atau siapa pun. Yang jelas, mereka tak menyadari dampak atas tindakannya, sehingga ngomong soal teror lewat SMS dan sabotase begitu gampang tanpa kontrol.

Atau mungkin mereka tak menyadari bahwa di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini, apa pun kejadian (dalam hitungan menit), telah menyebar ke segala penjuru dunia lewat media ''dot com''. Potret suatu negeri begitu mudah digambarkan melalui media on line yang telah menghubungkan puluhan juta komputer di dunia.

Dampak lebih lanjut dari terbentuknya citra negatif tentang negeri ini, tentu berkait menurunnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan calon investor.
Meskipun tidak ada satu pun negara yang menjamin bahwa wisman akan aman ketika tinggal di negaranya, namun tersebarnya informasi yang seram-seram tentang wilayah yang akan dikunjungi, pasti menjadi pertimbangan utama. Wisman dan investor butuh suatu keyakinan bahwa negara yang akan dikunjungi serta mengembangkan usaha, sungguh-sungguh dapat menjaga keamanan.
Orang mungkin bisa berdalih yang pentingnya ''barang dagangannya''. Kalau objeknya memang bagus, konsumen akan datang sendirinya. Namun untuk Indonesia apakah yang punya daya tarik tinggi untuk dijual?
Keindahan alam? Mungkin bagi kebanyakan orang akan menjawab iya. Tapi perlu disadari bahwa jawaban itu cuma cocok bagi orang yang jarang melakukan perjalanan wisata ke mancanegara. Sebab tak sedikit negara yang punya keindahan alam melebihi Indonesia. Wisata budaya pun demikian pula. Roma, Yunani, Mesir, objek wisata budayanya juga sangat menarik.
***
Asisten Deputi Promosi Luar Negeri Depbudpar, Syamsul Lussa juga mengakui dunia pariwisata Indonesia saat ini masih bergelut dengan citra dan persepsi yang tidak menguntungkan. Hal ini berkait seringnya Indonesia disebut sebagai negara kurang aman. Stabilitas keamanannya kurang terjamin, dan dipersepsikan tidak nyaman.
Kalau kemudian ancaman bom lewat SMS terus digulirkan, pasti akan meluluhlantakkan ekuitas merek (brand equity) Indonesia. Branding negeri ini akan makin buram. Kunjungan Presiden dan Wapres ke luar negeri dengan menghabiskan uang rakyat ribuan dolar AS, bisa jadi juga takkan mampu membangkitkan investor dan dan wisman untuk masuk ke negeri ini.

Segala program yang dicanangkan Menbudpar, Jero Wacik, untuk meraih 10 juta wisatawan mancanegara pada tahun 2009 pun, tak mustahil cuma berbuah kekecewaan. Padahal sektor wisata cukup dominan sebagai penyedia kesempatan kerja, yakni 10 persen dengan jumlah tenaga kerja langsung 7,3 juta orang dan tidak langsung 5 juta orang.

Akankah dunia investasi dan pariwisata dibiarkan buram gara-gara situasi makin suram (SMS) akibat maraknya teror bom lewat short message service (SMS)? Akankah kondisi keamanan dan kenyamanan yang tak kondusif dibiarkan begitu saja menghiasi wajah Ibu Pertiwi, dan tersebar ke seluruh dunia lewat era www? Jawabnya tentu tergantung kemauan baik pemerintah plus perangkatnya. Rakyat pasti mendukung apa pun langkah pemerintah, selama ditujukan bagi kebaikan bersama.

[+] Baca Selengkapnya