Jumat, November 02, 2007

Sensasi Ikan Bluntak Osaka

ANDA ingin mencoba merasakan masakan ikan buntal atau sering juga disebut ikan bluntak? Datanglah ke restoran Zuboraya, Do Ton Buri, Osaka, Jepang. Tapi jangan kaget, harga per paket masakan tersebut 10.500 Yen atau sekitar Rp 840.000. Itu saja tiap paket ikan bluntaknya (di Jepang disebut ikan fugu), cuma sekitar dua ons. Lainnya berupa cumi, udang, tofu atau tahu khas Jepang yang lembek. Kemudian sayur, semangkuk nasi, buah, es krim.


Rasa ikan itu memang lezat, gurih agak manis, tak kalah dibanding salmon, cumi, udang bago, kakap, atau lainnya. Sampai-sampai di Jepang muncul ungkapan: Mereka yang memakan sup fugu adalah bodoh. Tetapi mereka yang tidak memakan sup fugu juga bodoh." Ungkapan itu memang bisa dimengerti. Di satu sisi ikan itu memang lezat, tetapi sekaligus sangat berbahaya. Jika cara membersihkan tidak benar, bisa berujung maut.
Racun yang terkandung di perut ikan fugu jauh lebih mematikan dibanding sianida, bahkan mampu membunuh antara 24 hingga 30 orang manusia sekaligus. Hal ini diakibatkan di dalam badan ikan buntal, terutama di bahagian hati dan empedu, mengandungi sejenis toksin tetrodoxin. Racun ini berasal dari makanannya. Makanan ikan fugu ini adalah mikroorganisme tertentu yang menyebabkan bagian dalam tubuh ikan ini mengandung racun.

Dipotong Menyilang .

Wartawan Suara Merdeka, Sri Mulyadi yang mengikuti test drive Daihatsu di Shiga Technical Center, Osaka, 23-28 Oktober lalu melaporkan, di kawasan Do Ton Buri ada beberapa rumah makan yang menyajikan menu ikan fugu. Sebagian memajang menu lengkap di etalase, dan ada juga yang meletakkan aquarium berisi ikan fugu di depan restoran. Sedang memasaknya, digoreng, dibakar atau direbus, tergantung konsumen. Di tiap meja disediakan kompor gas lengkap peralatan memasaknya.
Shigonobu Oyama, pemilik Zuboraya, mengatakan ikan tersebut berasal dari nelayan di sekitar pulau Honshu. Sebelum disajikan ikan dipotong menyilang, seluruh isi perut dibuang. Kemudian kulit dikelupas, terutama bagian kepala. ‘’Ikan jenis ini memang beracun, tetapi jika cara membersihkannya benar, aman dikonsumsi. Rasanya lezat dan khas,’’ ungkapnya.
Kaosao Ichiro, seorang pelayan rumah makan mengungkapkan, di perairan laut Jepang ada sekitar 40 jenis fugu, namun yang bisa dikonsumsi hanya jenis torafugu robripes.
Menyediakan hidangan fugu tidak mudah. Hanya orang yang benar-benar terlatih dan berlisensi yang diperbolehkan. Sebelumnya mereka dilatih mengenai cara menangkap, memotong, membersihkan dan memasak, kemudian diharuskan memakan hasil masakannya. ‘’Faktor kesulitan menyajikan hidangan inilah yang menyebabkan ikan fugu menjadi salah satu menu termahal di Jepang.’’
Bagian kepala fugu disajikan dalam bentuk fillet atau diiris tipis. Bagian badan cuma dagingnya yang diambil. Siripnya disendirikan, dan biasanya digoreng dan dihidangkan dalam sake panas. Masakan ini dinamakan fugu hire-zake. ‘’Kelezatan menu ikan fugu terletak pada rasa dan teksturnya. Jika direbus dagingnya menjadi kenyal.’’
Masa panen ikan ini biasanya bersamaan dengan musim semi. Pada masa itu fugu memasuki musim kawin dan bertelur. Pertengah musim semi mulai beranak. Di antara pemilik rumah makan ada yang melakukan pembesaran sendiri anak fugu di karamba dengan makanan ikan segar. Ada juga yang membeli dari pasar dalam kondisi hidup, kemudian dipelihara di akuarium.
Di Indonesia ikan bluntak jenis itu juga banyak ditemukan, tetapi umumnya belum dijadikan menu untuk dikonsumsi. Di Semarang masuk kelompok ikan hias yang dipelihara di akuarium air laut, karena bentuknya lucu dan jika dipegang perut akan menggelembung menyerupai bola. Biasanya ikan ini didatangkan dari Banyuwangi atau Bali. Sedangkan di Karimunjawa, dipelihara di karamba, juga sebagai ikan hias. Bahkan yang di Karimunjawa per ekor beratnya bisa dua atau tiga kilogram.
Di pasar ikan tradisional Tambaklorok, Semarang, ada juga yang menjual salah satu jenis ikan buntal. Kebanyakan orang menyebut bluntak pisang, bukan fugu. Ikan ini aman dikonsumsi asal memotongnya benar, yakni menyilang. Dari kepala hingga belakang dubur dibuang. ‘’Kalau selama ini banyak orang meninggal setelah makan ikan bluntak, karena tak tahu cara memotongnya,’’ ungkap seorang bakul ikan di Tambaklorok. Yang membedakan cara mengonsumsi ikan bluntak pisang dengan fugu adalah cara pemotongan. Kalau fugu menyilang di bagian perut, sedang bluntak pisang yang terbuang setengah badan lebih.

Ta Ko Yaki

Di kawasan Don Ton Buri, juga banyak ditemui ta ko yaki, makanan khas Osaka. Terbuat dari tepung, jahe merah, cumi (jenis sotong/cumi bertulang), daun bawang panjang, kobis, telur. Setelah diaduk merata dibentuk bulat-bulat, kemudian dipanggang. Harga per enam biji 320 yen atau sekitar Rp 25.600 (per yen sekitar Rp 80), 8 biji 420 yen, dan 12 biji 620 yen. ‘’Rasanya lumayan, agak cocok dengan masakan Indonesia,’’ ungkap beberapa wartawan yang ikut rombongan test drive Daihatsu.
Kecuali ta ko yaki, makanan khas yang bisa dinikmati di Osaka adalah yakiniku. Bahan berupa ikan, udang, cumi, kepiting, daging sapi, ayam, dan lainnya, disantap setelah sebelumnya dimasak sendiri di hot plate yang ada di setiap meja. Khusus daging sapi, konsumen bisa memilih yang istimewa. Sebelum dipotong, menurut informasi, sapi sering dipijit dan diberi minum bir, sehingga dagingnya lembut.
Gang-gang di kawasan Don Ton Buri, tak pernah sepi dari pengunjung pejalan kaki, dan pengendara sepeda. Kendaraan bermotor tak boleh lewat. Objek yang bisa dinikmati tak hanya rumah makan dengan berbagai menu. Di kawasan ini juga ada yang menjual anjing jenis kecil,kucing, humter. Pengunjungnya juga ramai, dan kebanyakan para wanita. Hewan-hewan itu diletakkan di kotak kaca. Untuk anjing dan kucing ada yang ditawarkan hingga Rp 10 juta – Rp 15 juta/ekor.

[+] Baca Selengkapnya

Uji Nyali di Sirkuit Daihatsu

MELEPAS seseorang untuk mengendarai mobil dengan kecepatan 100 kilometer per jam atau lebih di arena uji coba (semacam sirkuit balap), jelas berisiko tinggi. Lebih-lebih bila orang tersebut belum pernah mengendarai mobil yang akan dia coba, dan jalur yang dilalui juga belum dia kenal.
Tapi seperti itulah yang dilakukan Perusahaan Daihatsu, beberapa waktu lalu di Shiga Technical Center, Osaka. Sebanyak 29 wartawan dari berbagai daerah di Indonesia diundang untuk melalukan test drive.

Jenis mobil yang digunakan adalah pikap dan minibus, yang akan diluncurkan di Indonesia November 2007 ini. Perlu ditambahkan, meski belum diluncurkan, pemesan yang tercatat di atas 1.300 orang
Untuk pikap, uji coba dilakukan di jalur lurus yang diberi rintangan rambu seperti layaknya ujian SIM. Jalurnya dibikin berbelok tak beraturan, dengan tujuan menguji kelincahan mobil. Pada kesempatan itu peserta diminta mencoba tiga mobil pikap. Yakni, Daihatsu 1.300 cc, 1.500 cc, dan mobil pembanding.
Sedangkan yang minibus, sebelum mencoba mengendarai mobil terbaru itu peserta diajak mengelilingi arena menggunakan bus. Awalnya berkecepatan 40- 50 Km/jam di jalur paling kiri. Kemudian di jalur dua kecepatannya berubah menjadi 80-100 Km/jam. Setelah itu masing-masing peserta dilepas mengendarai mobil sendiri didampingi seorang teman sesama peserta.
Arena uji coba terdiri atas empat lajur sepanjang 2,8 Km. Kemiringan jalannya 45 derajat, dan khusus jalur lurus satu kilometer. Bagian paling kiri dibikin tidak rata seperti jalan rusak. Ada beberapa bagian dibikin menonjol atau dibuat rambu polisi tidur berjajar. Hal itu dimaksudkan untuk mengetahui kondisi mobil saat lewat jalan jelek dan bergelombang.
Pada lajur dua yang kemiringan jalannya 15 derajat, kondisi jalan halus, namun di jalur lurus sebagian dibuat cekung dan berair. Kenapa berair? Itu untuk mengetes kendaraan pada saat melewati genangan. Di jalur tersebut, pada saat kendaraan melaju dengan kecepatan 80-100 km/jam kemiringan jalan tidak terasa.
Selama kemudi tidak digerakkan, mobil akan melaju seperti di jalur lurus, meskipun kondisi jalan sebenarnya berbelok. Demikian juga di jalur tiga dan empat. Ketika mobil dipacu dengan kecepatan 150 km/jam, kemiringan 45 derajat tak terasa, seolah mobil melaju di jalan lurus.
Hanya saja, jika kemudi digerakkan ke kanan atau kiri, bisa berakibat fatal, menabrak pembatas jalan yang terbuat dari besi. Pada test drive ketika itu ada peserta yang nekat memacu kendaraan hingga berkecepatan 145 km/jam dan masuk ke jalur empat.
Bagi yang suka tantangan di jalan, itu memang mengasyikkan. Apalagi dengan mobil baru yang belum ada di pasaran, bisa mencoba mengendarai di beberapa kondisi jalan dengan kecepatan yang bervariasi, mulai 10 km/jam hingga di atas 150 km/jam. Yang kadang tak disadari, peserta terlalu asyik sehingga memacu kendaraan secepat mungkin, mengabaikan perintah instruktur.
Usai menguji kendaraan, peserta dipertemukan dengan para petinggi di Daihatsu Motor. Mereka antara lain Manager Engineering Sinichi Namba, General Manager Test Yukihiro Yamasaki, Direktur Marketing PT Astra Daihatsu Motor Suparno Djasmin, dan Vice President Director Sudirman MR.
Pada pertemuan itu terpapar bahwa bahan bakar minibus terbaru tersebut cukup irit. Catat saja, untuk yang 1.300 cc bahan bakarnya hanya 11,14 kilometer/liter. Adapun untuk 1.500 cc tiap liternya mampu menempuh jarak 11,11 kilometer. Sedangkan untuk pikap, per liter di atas 12 kilometer.
''Semua komponen diperbarui, dan jelas berbeda dibanding generasi sebelumnya, kecuali roda,'' ungkap Suparno.(Sri Mulyadi)

[+] Baca Selengkapnya