Sabtu, September 15, 2007

Kleptomaniak Uang Rakyat

Oleh: Sri Mulyadi

ALKISAH: Di salah satu situs internet seorang pria, sebut saja namanya Badrun, mengaku bersalah karena selama menjadi manajer menengah di sebuah perusahaan kebablasan kleptomaniak. Dia telah banyak membantu transaksi licik yang merugikan negara lewat pembukuan ganda, penggelapan pajak, mark up proyek, rekayasa tender, penyeludupan, pembabatan hutan, ekspor fiktif, dll.
Mulanya dia merasa biasa saja, sekedar pemuasan ego, pemenuhan ekonomi keluarga, dan pengakuan lingkungan kerja. Kemudian kebablasan jadi kleptomaniak. Pencurian menjadi hal rutin. Tiada hari tanpa menipu, tiada hari tanpa niat mencuri uang negara. Semakin besar risikonya, semakin menarik dan mengasyikkan.

Uedan nggak? Uang negara yang sumbernya dari rakyat dijadikan objek menyalurkan hobi. Seperti panjat tebing saja, naik gunung, menyelam, dsb. Makin tinggi risiko tambah mengasyikkan. Atau mungkin para pelaku itu sudah menyadari bahwa sekarang ini telah masuk era jaman edan. ''Yen ora melu ngedan ora keduman. Mumpung ada kesempatan, kalau tidak sekarang kapan lagi''. Mungkin begitulah yang ada di benaknya.
Lagi pula, di negeri yang katanya bukan penganut sekulerisme ini, soal curi-mencuri uang negara yang identik dengan uang rakyat, nampaknya memang belum merupakan sesuatu yang memalukan, apalagi dianggap sebagai aib. Buktinya di semua lini masih saja ditemukan adanya praktik seperti itu. Yang terlibat mulai prajurit hingga jenderal, dari pegawai rendahan sampai pejabat tinggi Negara, gubernur, wali kota, bupati, dsb.
Modus operandinya juga macam-macam. Mulai dari rekayasa tender, model penunjukan langsung, mark up, dsb. Bahkan soal impor beras, yang tujuannya membantu orang miskin pun, ditengarai ada permainan.

***
Beberapa waktu lalu Wakil Ketua Fraksi PBR DPR, Ade Daud Nasution dalam jumpa pers di Gedung DPR menduga, kontrak impor beras 500 ribu ton antara Perum Bulog dengan Vietnam Southerm Food Corporations (Vinafood II), merugikan negara Rp 140 miliar. Harga Vinafood ternyata lebih mahal dibanding tawaran Pakistan dan Cina.
Harga Vinafood 308 dolar AS/ton, tapi Cina dan Pakistan menawarkan 208 dolar AS/ton. Padahal beras yang masuk Indonesia juga termasuk dari Thailand dan India. ''Berarti Vinafood menjadi broker, alias calo. Karena dia juga membeli beras dari Thailand dan India untuk memenuhi kontrak impor ke Indonesia,'' ungkap Ade.
Orang awam cuma bisa bilang: Nggak tahulah mana yang benar, itu urusan yang di level atas sana. Yang pasti cerita seperti itu bukan barang baru, dan nggak ada matinya, kayak bunyi iklan.
Pernyataan filosuf Aristoteles bahwa ciri khas manusia adalah sebagai animal rationale (hewan yang berakal budi) atau dikuasai oleh kekuatan rasionya dan bukan oleh nafsu atau naluri, tentu sulit dimengerti untuk memotret kondisi ''permoralan'' di kalangan elite negeri ini. Banyak di antara mereka yang merasa dirinya miskin, bukan karena tidak sanggup mencukupi kebutuhan hidupnya, melainkan karena ia membandingkan dirinya dengan orang lain yang lebih kaya.
Rasio bukan dipersepsikan sebagai sarana untuk memihak kepada rakyat miskin, kaum marginal, dan mereka yang teraniaya, tetapi diputarbalikkan demi memenuhi tuntutan nafsunya. Keuntungan sangat besar dalam sebuah transaksi, dianggap suatu yang rasional, meskipun munculnya lewat jalan kolusi, mark up, dan cara lain yang tidak fair.

***
Jika asumsi itu benar, Aristoteles pasti bertanya: Lantas apa bedanya para pelaku tersebut dengan hewan?
Uang memang penting. Banyak orang punya prinsip: Kalau tidak punya uang kamu bisa apa? Uang memang telah menjadi bagian penting bagi hidup manusia. Banyak orang rela mengorbankan hal-hal yang terpenting dan berharga di dalam hidup untuk mendapatkannya.
Bahkan bagi yang ektrem ada yang menggambarkan bahwa orang yang tak punya uang ‘’luwih aji godhong jati aking’’, lebih berharga daun jati kering. Daun jati kering bisa dijadikan pengganti kayu bakar atau dibuat kompos.
Pertanyaan berikutnya, apakah orang yang uangnya banyak tetapi dari hasil mencuri uang negara atau korupsi, tetap lebih berharga dibanding daun jati kering? Jawaban yang muncul pasti berbeda-beda, tergantung kemana dia ''berkiblat''. Yang pasti, tindakan tebang pilih atau lemahnya sanksi terhadap kleptomaniak uang negara, akan sangat mengganggu penyelesaian persoalan bangsa ini.

Lantas bagaimana tindakan si Badrun setelah dia mengakui perbuatannya? ''Setelah melihat betapa kronisnya negeri ini, kepuasan pun berbalik menjadi guilty feeling. Seandainya dulu saya tidak terpengaruh oleh target-target materi skala mikro, sehingga mengorbankan secara makro, tentu keadaan tidak seburuk ini. Jika rasa bersalah ini muncul lebih awal, mungkin keadaan tidak jadi begini. Dan seandainya ada ribuan orang berbuat sama, mungkin keadaan bisa terhindar dari keterpurukan ini,'' ungkapnya. Siapa menyusul?

[+] Baca Selengkapnya