Kamis, Februari 21, 2008

Kasih

Oleh Sri Mulyadi
SECARA serentak personel kepolisian, khususnya di Jawa Tengah, hari Kamis (14/2/08), berwajah ceria. Mereka menebar senyum simpatik ke setiap pengendara di jalan raya sambil membagi bunga. Sementara yang di kantor pelayanan ada yang membagi hadiah. Tujuannya sama, sebagai bentuk terjalinnya ikatan kasih antara pengayom dengan masyarakat, di hari valentine atau valentine’s day.
Suasana terasa sejuk. Wajah kurang bersahabat dan muka suntrut ‘’hilang dari peredaran’’. Sementara tugas penertiban bagi pengendara/pengemudi yang melakukan pelanggaran, tetap berjalan. Yang berbeda dari biasanya, si pelanggar cuma diberi peringatan dan pengarahan, tanpa sanksi denda di tempat atau melalui sidang pengadilan.
Mungkin kondisi seperti itu cuma berlangsung sehari, setiap tanggal 14 Februari. Namun paling tidak polisi sudah bisa membuktikan bahwa merayakan valentine’s day tidak harus dengan pesta pora, mabuk-mabukan, apalagi sampai menjurus ke pesta seks di kalangan muda.
Polisi telah ‘’membuka mata’’ bahwa hari kasih sayang bukanlah virus yang perlu ditakuti, sehingga harus didemo apalagi diharamkan. Jika dimaknai sebagaimana mestinya, terutama dalam kaitan kasih antarsesama, teman, orang tua, kekasih, suami-istri, ternyata bisa menyejukkan suasana. Bahkan, bila kasih dapat ditanamkan kepada setiap individu kemudian diamalkan, segala gejolak yang terjadi di Negeri ini akan sirna. Paling tidak berkurang secara drastis.


Berbekal pemahaman kasih secara benar, orang akan menjadi sabar, ada tenggang rasa, tahan uji terhadap situasi yang kurang mengenakkan.
Dalam kasih terkandung dorongan rela menolong, simpatik, dan memahami orang lain. Berlaku adil dan hanya ingin mengusahakan kebaikan bagi orang lain dalam bentuk tindakan nyata.
Pantang berlaku sombong, angkuh, tinggi hati. Tidak egois atau menuntut bagi diri sendiri, apalagi terpancing untuk menjadi marah dan mendendam. Segala sesuatu dilakukan secara wajar, sederhana, tulus, setia, jujur, dan melihat kebaikan dari semua orang.
Apakah nilai kasih di Negeri ini telah terkikis, sehingga banyak muncul tindak kekerasan, korupsi, egois, gila hormat, serakah, dan sebagainya? Jawabnya memang iya. Sebab pada dasarnya rakyat Indonesia dikenal sebagai warga yang santun, pemaaf, tidak mudah marah, memupuk semangat gotong royong, tidak egois, memanusiakan manusia dan menjunjung tinggi tenggang rasa.
Namun dalam kenyataan sehari-hari saat ini, sering kita jumpai munculnya tindak kekerasan/anarkhis, unjuk rasa, main hakim sendiri, memainkan hukum, korupsi, kolusi, egois, memaksakan kehendak, kemarahan massa, dan tindak tercela lain.
Secara langsung, terutama di kalangan masyarakat menengah ke bawah, mungkin dipicu oleh munculnya situasi ketidakadilan dan kekecewaan/kekesalan terpendam berkepanjangan. Mereka kecewa terhadap kondisi yang dirasakan, dilihat, dan diketahui sehari-hari.
Hukum bisa dipermainkan, pengemplang uang rakyat triliunan rupiah masih bebas, pejabat dan wakil rakyat kebanyakan cuma jual omong. Politik menjadi ‘’panglima’’. Segala persoalan selalu dikaitkan persoalan politik.
Bahkan ada yang secara terang-terangkan menyakiti hati rakyat. Misalnya ulah para wakil rakyat di Senayan. Dalam sidang paripurna DPR, beberapa hari lalu, dengan agenda mendengarkan jawaban pemerintah terkait interpelasi BLBI, muncul suasana yang menggelikan sekaligus menjengkelkan.
Di antara anggota Dewan yang terhormat itu langsung berebut interupsi begitu sidang dibuka. Sebagian lagi ada yang membaca koran, telepon, sms, atau ngobrol sendiri. Bahkan ada yang nyeletuk menyanyi dengan syair: ‘’Dunia ini panggung sandiwara. Ceritanya mudah berakhir.’’

***
Kenyataan-kenyataan seperti itu menjadikan rakyat kesal berkepanjangan, karena merasa cuma dijadikan alat. Persoalan yang disampaikan ke lembaga formal, sering kandas dan hasilnya tak seperti yang diharapkan, sehingga sering terdorong menempuh jalan pintas. Apalagi selama ini masyarakat juga sering disuguhi adegan kekerasan yang dilakukan aparat maupun elite politik. Satpol PP main gusur, aparat TNI-Polri bentrok, guru main pukul terhadap murid, kalah pilkada ngamuk, dan sebagainya.
Semua itu nyata dan mungkin ke depan bisa saja berlanjut, selama tidak ada kemauan dari semua pihak untuk mengakhiri. Dan akan lebih celaka lagi apabila para pelaku merasa tindakannya itu sudah benar, wajar, dan seiring dinamika yang terjadi di masyarakat, meskipun jelas menyimpang jauh dari jati diri Bangsa ini.
Maka, apa yang dilakukan personel Polri sepintas terasa kontras. Di tengah pro-kontra soal perayaan hari kasih sayang, mereka ‘’tetap jalan’’ dengan tindakan nyata yang punya makna sangat dalam, menebar kasih lewat bunga dan hadiah.
Tindakan anggota Satlantas Rembang yang membagikan ratusan bungkus nasi dan pelayanan kesehatan Polres Pati kepada para pengemudi yang terjebak macet di wilayahnya, juga cermin kepedulian mereka terhadap mereka yang membutuhkan kasih. Demikian pula seruan Kapolda Jateng Irjen Drs H Dodi Sumantyawan yang meminta bawahannya agar senantiasa memanusiakan tersangka ketika sedang disidik. Polisi boleh keras, tapi jangan arogan apalagi kasar.
Kasih memang bisa menjadi kunci penyelesaian masalah. Bila dapat diamalkan oleh semua lapisan masyarakat, perlahan tapi pasti persoalan akan terselesaikan. Jurang pemisah si kaya dan si miskin, juga tak makin dalam. Dan tentu lebih efektif jika cita-cita mengimplementasi kasih dalam tindakan nyata, berawal dari para tokoh panutan atau lapisan elite. Yang pasti, menurut pakar motivasi dan penulis buku self-help, Dr Denis Waitley, cita-cita tak pernah dapat diraih selama tak didifinisikan, dipelajari, dan tak pernah serius berkeyakinan bahwa cita-citanya itu dapat dicapai.

Sri Mulyadi, wartawan Suara Merdeka di Semarang

[+] Baca Selengkapnya