Oleh Sri Mulyadi
"SEORANG pesimis melihat kesulitan di setiap kesempatan; seorang optimistis melihat kesempatan dalam setiap kesulitan." Itu pendapat Winston Churchil, mantan Perdana Menteri Inggris. Di negeri ini, sekarang juga tengah mengalami musim "pesimis". Berjuta orang seakan kehilangan akal untuk menemukan cara apa yang harus dilakukan untuk menghadapi kondisi yang ada.
Mereka pesimistis bukan lantaran tak mau melihat serta memanfaatkan kesempatan di tengah kesulitan yang muncul. Namun nampaknya lebih cenderung akibat peluang yang ada memang benar-benar tak mampu terjangkau. Masalah yang satu belum teratasi, persoalan lain muncul. Begitu seterusnya, ibarat petinju yang bertarung di ronde sepuluh pada posisi ketinggalan angka.
Mengejar perolehan nilai mustahil, memaksakan kemenangan KO stamina belum tentu mendukung. Cuma faktor keberuntungan, jam terbang, dan mental, yang masih bisa diharapkan. Salah perhitungan, justru lawan makin menguasai pertandingan.
Demikian juga dengan kondisi di negeri ini. Ketika harga bahan bakar minyak (BBM) dunia akhir-akhir ini mendekati angka 100 dolar per barel. Pemerintah maupun masyarakat terkesan panik.
Pemerintah mulai melontarkan wacana mengenai pengaturan suplai ke masyarakat. Menneg Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas Paskah Suzetta dan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, sudah ancang-ancang akan membatasi penggunaan BBM bersubsidi, terutama bensin dan minyak tanah.
Penguasa tak punya banyak pilihan, kecuali menaikkan harga, mengurangi pasokan BBM bersubsidi ke masyarakat, atau kombinasi keduanya.
Alternatif menaikkan harga BBM, nampaknya mustahil dilakukan pemerintahaan SBY-JK. Kenaikan harga pada Maret dan Oktober 2005 saja, dampaknya sampai sekarang belum teratasi. Luka yang ditimbulkan akibat kenaikan sebelumnya, belum juga sembuh.
Kondisi sosial-ekonomi di kalangan kaum marginal makin terpuruk. Mereka "dihajar" inflasi yang mendekati angka dua digit. Ujung-ujungnya, jumlah orang miskin membengkak. Pada awal 2005 sekitar 16 persen, tahun 2006 telah mendekati 18 persen (sekitar 40 juta jiwa).
Apalagi menghadapi Pemilu 2009, jelas sangat riskan bagi SBY-JK. Saat ini saja, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, baik berkaitan pengentasan kemiskinan, mengurangi pengangguran, maupun memberantas korupsi, menurun tajam.
Seandainya terpaksa mengurangi suplai BBM bersubsidi, tentu realisasinya tak semudah membalik telapak tangan, terutama teknis di tingkat konsumen langsung.
Tanpa perencanaan yang njelimet dan matang, bisa jadi justru berbuah keributan. Masyarakat pasti akan menyerbu BBM bersubsidi. Jika yang ini dibatasi, pasti akan berebut. Belum lagi kalau terjadi permainan, mengingat soal main-memainkan di negeri ini sudah dianggap lazim.
***
Sektor riil yang diharapkan mampu mengurangi pengangguran dan menurunkan angka kemiskinan, pertumbuhannya belum banyak bisa diharapkan. Sementara daftar barang impor makin bertambah. Terakhir tabung elpiji pun harus impor. Dengan pertimbangan lebih mempercepat proses peralihan penggunaan minyak tanah ke gas di sektor rumah tangga, sehingga bisa menghemat subsidi.
Pemerintah pusat, provinsi, kota, kabupaten, maupun wakil rakyat, telah banyak studi banding dan berkunjung ke luar negeri berbekal uang rakyat. Nota kesepakatan dengan calon investor asing telah banyak yang ditandatangani. Sayangnya, nota kesepakatan tersebut banyak yang tak berujung realisasi.
"Kesepakatan oke, tertarik investasi di Indonesia iya, tapi soal realisasi ya nantilah, itung-itung dulu sambil membandingkan penawaran dari negara lain, mana yang lebih menguntungkan." Mungkin begitulah jalan pikiran para bakal calon investor, toch tak ada sanksi yang mengikat.
Sebagai wacana, apa yang disampaikan Paskah Suzetta atau Purnomo Yusgiantoro, sah-sah saja. Bahkan, sebagai tindakan antisipasi memang sudah seharusnya.
Hanya saja, meskipun baru sebatas wacana, bukan tidak mungkin sudah mengganggu konsentrasi, karena setiap terjadi perubahan kebijaksanaan di sektor BBM, pasti rakyat kecil makin menderita. Kebijakan pengalihan penggunaan minyak tanah ke gas pun, kaum marginal juga yang paling terkena getahnya.
Bagi Winston Churcil, memang tidak selayaknya sikap pesimistis dikedepankan, karena takkan membantu melihat kesempatan dalam kesulitan yang dihadapi. Demikian juga halnya kiat aktor yang kini menjabat Gubernur Kalifornia, Arnold Schwarzenegger.
Menurut Arnold, kekuatan bukan berasal dari kemenangan. Perjuangan Anda lah yang melahirkan kekuatan. Ketika Anda menghadapi kesulitan dan tak menyerah, itulah kekuatan. Kiat itu memang tak beda dari peran di film yang dibintanginya seperti Comando, Terminator, Predator. Dengan modal kegigihan, keyakinan, keterampilan, ketenangan, mampu mengatasi segala kesulitan dan rintangan di hadapannya.
Akankah di negeri ini juga bakal muncul tokoh semacam Churcil dan Arnold. Tokoh yang tak lelah, jera, patah semangat, didera kesulitan? Atau tokoh pengemban amanah rakyat yang ikhlas berjuang demi kaum miskin serta pengangguran dengan mengesampingkan kepentingan pribadi dan kelompok? Yang pasti, makin banyak penganut faham pesimistis, kesulitan tak akan kunjung terselesaikan.
Jumat, November 16, 2007
Sulit
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
21.39
0
komentar
Label: Tulisan Kolom
Mengabadikan Cinta di Hutan Bambu Arasiyama
SUASANA romantis hutan bambu di Arasiyama, Kyoto, Jepang, punya kesan tersendiri di benak siapa pun yang berkunjung ke sana. Khususnya bagi mereka yang datang dengan pasangannya. Ada keyakinan, cinta pasangan yang melewati kawasan hutan tersebut bakal abadi alias langgeng.
Bagi yang masih pacaran atau bertunangan, kisah kasihmereka bakal akan berlanjut ke buhul pernikahan. Sementara untuk pasangan suami-istri, biduk rumah tangganya akan bertahan seumur hidup. Maka tak heran kalau lokasi tersebut selalu ramai dikunjungi wisatawan, terutama pada musim gugur atau semi.
Bambu yang tumbuh di kawasan tersebut berwarna hijau dan rata-rata berdiameter 10 sentimeter. Tanaman itu tumbuh subur dan pohonnya menjulang setinggi kurang lebih 30 meter, mirip bambu ''petung'' yang biasa dibuat menjadi kursi. Namun, bambu di Arasiyama tersebut tak membentuk rumpun. Tunas atau rebungnya juga tak terlihat.
Kawasan di tengah hutannya dijadikan jalan dengan pembatas berupa pagar yang terbuat dari ranting bambu. Walhasil suasana alami benar-benar terasa di sana. Apalagi bila suhu udaranya sedang dingin (sekitar 15 derajat Celsius), suasananya jadi benar-benar romantis.
Tak sulit untuk mengunjungi lokawisata Arasiyama. Ada kereta disel dengan kaca yang tembus pandang. Usai membeli tiket seharga 500 yen (sekitar Rp 40 ribu), pengunjung menunggu di stasiun kecil Kameoka untuk menuju tempat pemberhentian berikutnya, yakni Stasiun Arasiyama. Jarak Kameoka ke Arasiyama sekitar tujuh kilometer. Waktu tempuhnya 20 menit.
Selama berada di dalam kereta, penumpang bisa menikmati pemandangan alam sekitar karena jendela kereta sengaja dibuka. Bahkan di lokasi tertentu kereta berhenti untuk memberi kesempatan penumpang menikmati dan mengabadikan keindahan pemandangan dengan kamera atau peranti perekam lainnya.
Ya, dari kereta kita bisa melihat pelbagai macam tanaman, berwarna-warni, terutama di musim bunga atau musim gugur. Kita juga bisa menyaksikan orang-orang yang tengah menikmati wisata arung jeram di sungai yang ada di bawah jembatan untuk kereta.
Tiba di Stasiun Arasiyama, pengunjung meniti jalan bertangga menuju kawasan hutan bambu. Jalannya sempit, jadi mereka terpaksa berjalan dengan saling berdesakan. Namun di antara pengunjung, justru hal itu punya keasyikan tersendiri. Asyik bisa bersenggolan dengan sesama wisatawan. Golongan pelancong yang serupa itu umumnya kaum muda.
Wisatawan yang malas berjalan juga tak perlu repot-repot, apalagi harus berdesakan. Naik saja angkutan semacam becak berkapasitas dua orang yang ditarik manusia. Mirip riksaw di China. Ongkosnya lumayan mahal bagi ukuran Indonesia: 8.000 yen (sekitar Rp 640 ribu) per 30 menit. Selain tidak perlu bercapai-capai untuk mengelilingi objek wisata, penyewa juga tampak anggun saat berada di atas kendaraan tradisional itu. Ya, mirip seorang pembesar, dan umumnya menjadi pusat perhatian pengunjung lain.
Para penarik ''becak Jepang'' bukan hanya kaum lelaki yang berbadan kekar. Ada juga penarik wanita yang berperawakan kecil, tetapi mampu menarik becak di jalan naik-turun, meskipun penumpangnya dua orang. Oh, betapa kuatnya dia!
Usai menjelajah hutan bambu, pengunjung bisa menikmati masakan atau mencari suvenir khas Jepang di kawasan Toketkio sambil menikmati keindahan alam sekitar Sungai Katsura. Di tepi sungai itu banyak ditemui burung dara atau belibis. Beberapa pengunjung terlihat dikerumuni hewan bersayap tersebut. Maklum, mereka memang sengaja membawakan makanan khusus untuk burung-burung itu. (Sri Mulyadi)
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
16.10
0
komentar
Label: PARIWISATA
Kuil Emas dan Pancuran Bertuah di Kyoto
BAYANGKAN saja rumah Anda terbuat dari emas. Yakinlah, siapa pun pasti bakal tertarik melihatnya. Mereka bakal memandanginya lekat-lekat dan puja-puji kekaguman bakal meluncur dari mulut mereka. Sangat mungkin pula orang bakal mereka-reka berapa nilai atau harga rumah itu, bertanya-tanya siapa yang terlibat dalam pembuatan, dan bagaimana mengamankannya. Itu keniscayaan. Sebab, sejak manusia mengenal peradaban, logam mulia tersebut sudah punya arti tersendiri.
Maka lumrah saja kekaguman serupa itu meruah untuk Kuil atau Paviliun Kinkakuji di Kyoto, Jepang. Maklum, sebagian besar bangunan tersebut terbuat dari emas. Lihat saja, selain bangunan paling bawah dan bagian atapnya yang terbikin dari kayu, dua lantainya dibuat dari lempengan emas. Pun di bagian atapnya yang kayu, ada fenghuang emas dalam rupa burung phoenix.
Kenapa tak semua bagian bangunannya dibikin saja dari emas? Tentu saja arsitek atau penggagas bangunannya punya konsep filosofis arsitektural tersendiri. Pada bagian yang terbuat dari emas, yakni di lantai dua dan tiga, fungsinya memang untuk bersemadi. Adapun lantai satu yang tak secuil pun berlapis emas mengandung makna sebagai representasi alam dunia.
Kuil tersebut dibangun pada tahun 1397. Tujuan pembangunannya adalah sebagai tempat peristirahatan Shogun Ashikaga Yoshimitsu. Dinamika zaman ikut mengisi keberadaannya. Misalnya, ia pernah terbakar beberapa kali, khususnya pada masa Perang Onin. Setelah direhabilitasi, ia juga pernah terbakar lagi pada tahun 1950. Tepatnya sewaktu bangunan itu ditempati seorang biksu yang sakit jiwa. Selanjutnya kuil dibangun kembali dengan menggunakan daun atau lempengan emas.
Keunikan bangunan itu terlihat pada setiap lantainya yang dibuat dalam gaya arsitektural berbeda. Meski begitu, secara keseluruhan gayanya mencerminkan bangunan masa Muromachi (1333-1573). Lokasi bangunannya pun begitu eksotis. Ia terletak di tengah kolam buatan bernama Kyokochi di pebukitan Kitayama, sebelah utara Kyoto.
Tentu saja, Kuil Kinkakuji menjadi magnet kepenasaran siapa pun hingga sekarang. Catat saja, setiap tahunnya empat juta orang dari segala penjuru dunia, terutama di musim gugur dan semi, berkunjung ke sana. Padahal, untuk bisa mengaguminya, wisatawan tak bisa mendekat. Mereka hanya bisa melihat dari kejauhan. Jarak untuk melihat yang paling dekat sekitar 100 meter. Walhasil, karena tak bisa mendekat dan bersentuhan langsung, para pengunjung cuma bisa mengabadikan dengan kamera atau handycam.
Kenyataan itu tak pelak sering memunculkan perdebatan kecil atau sejenis keragu-raguan. Benarkah kuil itu terbuat dari emas? Yang percaya bahwa bangunan itu memang dari emas punya alasan yang cukup logis. Katanya, karena Jepang merupakan salah satu negara terkaya di dunia, maka mendirikan bangunan dari emas tentu bukan persoalan besar. Tapi yang sangsi pun punya dalih tersendiri. Kata mereka, bangunan terbuat dari kayu dan hanya dilapisi serbuk emas atau cat berwarna keemasan.
Tanpa harus turut suntuk memperdebatkannya, yang tak bisa didebat lagi adalah bahwa objek wisata kuil emas tersebut sangat sayang dilewatkan apabila kita mengunjungi Kyoto. Bangunan itu tampak indah berkilau di tengah kolam yang dipenuhi ikan emas seberat empat atau lima kilogram per ekornya yang hidup bareng bersama ikan-ikan koi. Di tepi kolam selalu terlihat beberapa burung bangau yang tengah menunggu mangsa berupa ikan-ikan kecil. Jalan yang mengelilingi kompleks pun sangat bersih. Pada kanan kirinya berjajar tanaman hias khas Jepang. Pun lihat juga keelokan bunga padma atau teratai di tengah kolam. Konon bunga itu sebagai perlambang kehidupan, sementara telaganya menjadi simbol dunia, dan warna emas di kuil itu menyimpan makna sebagai arahan meraih berkat surgawi.
''Kalau Anda datang pada musim semi, panoramanya begitu memesona. Bunga warna-warni itu begitu serasi berpadu dengan keelokan kuil emas,'' ungkap salah seorang penjaga.
***
PERLU diketahui, Kota Kyoto yang dibangun pada tahun 794 itu adalah bekas ibukota Jepang. Jaraknya sekitar 50 kilometer dari Tokyo. Luas wilayahya sekitar 610 kilometer persegi dengan penduduk kurang lebih 1,5 juta jiwa. Ia merupakan kota yang molek. Setiap sudutnya memperlihatkan harmoni sebuah kota yang didominasi keteduhan dengan pemandangan pepohonan hijau, pegunungan, dan kuil-kuil berusia ratusan tahun yang terawat dan indah.
Pegunungan rendah Tamba mengitari kota tersebut dari utara, timur, dan
barat. Dua puncak gunung, Hieizan dan Atagoyama, mendominasi kawasan
pada bagian barat laut dan timur laut kota ini. Itu masih dilengkapi dengan Sungai Kamogawa dan Katsuragawa yang melintasi wilayah pusat dan barat Kyoto.
Untuk menuju Kyoto, wisatawan dari Tokyo bisa naik pesawat atau kereta cepat (shinkanzen) menuju Osaka. Jarak Tokyo-Osaka sekitar 500 kilometer, hampir sama Semarang-Jakarta. Dengan shinkanzen bertarif 13 ribu yen (sekitar Rp 1.040.000), waktu tempuhnya cuma 2,5 jam. Adapun dari Osaka ke Kyoto yang jaraknya sekitar 50 kilometer, kita bisa menggunakan bus umum.
Kuil lain yang juga punya keunikan tersendiri adalah Kiyomizudera yang terbuat dari kayu, dan konon tanpa paku. Di kuil itu tersimpan patung Dewi Kwan Im, dan hanya dikeluarkan setiap 36 tahun sekali. Di luar ruangan penyimpan patung terdapat genta dari kuningan lengkap dengan pemukulnya. Pada umumnya, usai berdoa pengunjung langsung memukul genta, sehingga gaungnya terdengar sambung-menyambung menjadi semacam ilustrasi kekhusukan doa di kuil yang berada di atas ngarai curam tersebut.
Di kompleks tersebut juga terdapat tiga pancuran yang airnya dipercaya punya ''pengaruh'' atau ''tuah'' bagi orang yang meminumnya. Masing-masing pun punya makna sendiri. Air di pancuran pertama konon ''bertuah'' untuk mereka yang mencari kebahagiaan, sementara pancuran kedua untuk kesehatan, dan yang ketiga untuk mereka yang menginginkan panjang usia.
Dan rupanya banyak sekali orang yang memercayainya. Akhir bulan lalu, ketika bersama rombongan ''Daihatsu Journalist Test Drive'' datang ke sana, saya menyaksikan begitu banyak pengunjung pada masing-masing pancuran. Puluhan orang itu secara teratur antre mengambil air dengan gayung dan meminum airnya.
''Saya percaya saja air ini memang bertuah. Saya yakin banyak juga yang memercayainya. Lihat, itu banyak sekali orang yang antre untuk meminum air dari pancuran,'' ungkap Tan Lie Siong, seorang turis asal Hong Kong dalam bahasa Inggris sambil menunjuk kerumunan orang di dekat pancuran.
Untuk soal yang satu itu, mungkin tak perlu jauh-jauh pergi ke Kyoto. Di sini pun banyak tempat yang airnya dipercaya ''bertuah''. Tapi kalau sudah sampai di Kyoto dan berkesempatan ke Kuil Kiyomizudera, ya silakan coba mereguk air pancuran itu. Siapa tahu memang berkhasiat, paling tidak memuaskan rasa haus (kalau kebetulan haus), dan tentu saja rasa kepenasaran Anda. (Sri Mulyadi)
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
14.53
0
komentar
Label: PARIWISATA