SUASANA romantis hutan bambu di Arasiyama, Kyoto, Jepang, punya kesan tersendiri di benak siapa pun yang berkunjung ke sana. Khususnya bagi mereka yang datang dengan pasangannya. Ada keyakinan, cinta pasangan yang melewati kawasan hutan tersebut bakal abadi alias langgeng.
Bagi yang masih pacaran atau bertunangan, kisah kasihmereka bakal akan berlanjut ke buhul pernikahan. Sementara untuk pasangan suami-istri, biduk rumah tangganya akan bertahan seumur hidup. Maka tak heran kalau lokasi tersebut selalu ramai dikunjungi wisatawan, terutama pada musim gugur atau semi.
Bambu yang tumbuh di kawasan tersebut berwarna hijau dan rata-rata berdiameter 10 sentimeter. Tanaman itu tumbuh subur dan pohonnya menjulang setinggi kurang lebih 30 meter, mirip bambu ''petung'' yang biasa dibuat menjadi kursi. Namun, bambu di Arasiyama tersebut tak membentuk rumpun. Tunas atau rebungnya juga tak terlihat.
Kawasan di tengah hutannya dijadikan jalan dengan pembatas berupa pagar yang terbuat dari ranting bambu. Walhasil suasana alami benar-benar terasa di sana. Apalagi bila suhu udaranya sedang dingin (sekitar 15 derajat Celsius), suasananya jadi benar-benar romantis.
Tak sulit untuk mengunjungi lokawisata Arasiyama. Ada kereta disel dengan kaca yang tembus pandang. Usai membeli tiket seharga 500 yen (sekitar Rp 40 ribu), pengunjung menunggu di stasiun kecil Kameoka untuk menuju tempat pemberhentian berikutnya, yakni Stasiun Arasiyama. Jarak Kameoka ke Arasiyama sekitar tujuh kilometer. Waktu tempuhnya 20 menit.
Selama berada di dalam kereta, penumpang bisa menikmati pemandangan alam sekitar karena jendela kereta sengaja dibuka. Bahkan di lokasi tertentu kereta berhenti untuk memberi kesempatan penumpang menikmati dan mengabadikan keindahan pemandangan dengan kamera atau peranti perekam lainnya.
Ya, dari kereta kita bisa melihat pelbagai macam tanaman, berwarna-warni, terutama di musim bunga atau musim gugur. Kita juga bisa menyaksikan orang-orang yang tengah menikmati wisata arung jeram di sungai yang ada di bawah jembatan untuk kereta.
Tiba di Stasiun Arasiyama, pengunjung meniti jalan bertangga menuju kawasan hutan bambu. Jalannya sempit, jadi mereka terpaksa berjalan dengan saling berdesakan. Namun di antara pengunjung, justru hal itu punya keasyikan tersendiri. Asyik bisa bersenggolan dengan sesama wisatawan. Golongan pelancong yang serupa itu umumnya kaum muda.
Wisatawan yang malas berjalan juga tak perlu repot-repot, apalagi harus berdesakan. Naik saja angkutan semacam becak berkapasitas dua orang yang ditarik manusia. Mirip riksaw di China. Ongkosnya lumayan mahal bagi ukuran Indonesia: 8.000 yen (sekitar Rp 640 ribu) per 30 menit. Selain tidak perlu bercapai-capai untuk mengelilingi objek wisata, penyewa juga tampak anggun saat berada di atas kendaraan tradisional itu. Ya, mirip seorang pembesar, dan umumnya menjadi pusat perhatian pengunjung lain.
Para penarik ''becak Jepang'' bukan hanya kaum lelaki yang berbadan kekar. Ada juga penarik wanita yang berperawakan kecil, tetapi mampu menarik becak di jalan naik-turun, meskipun penumpangnya dua orang. Oh, betapa kuatnya dia!
Usai menjelajah hutan bambu, pengunjung bisa menikmati masakan atau mencari suvenir khas Jepang di kawasan Toketkio sambil menikmati keindahan alam sekitar Sungai Katsura. Di tepi sungai itu banyak ditemui burung dara atau belibis. Beberapa pengunjung terlihat dikerumuni hewan bersayap tersebut. Maklum, mereka memang sengaja membawakan makanan khusus untuk burung-burung itu. (Sri Mulyadi)
Jumat, November 16, 2007
Mengabadikan Cinta di Hutan Bambu Arasiyama
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
16.10
0
komentar
Label: PARIWISATA
Kuil Emas dan Pancuran Bertuah di Kyoto
BAYANGKAN saja rumah Anda terbuat dari emas. Yakinlah, siapa pun pasti bakal tertarik melihatnya. Mereka bakal memandanginya lekat-lekat dan puja-puji kekaguman bakal meluncur dari mulut mereka. Sangat mungkin pula orang bakal mereka-reka berapa nilai atau harga rumah itu, bertanya-tanya siapa yang terlibat dalam pembuatan, dan bagaimana mengamankannya. Itu keniscayaan. Sebab, sejak manusia mengenal peradaban, logam mulia tersebut sudah punya arti tersendiri.
Maka lumrah saja kekaguman serupa itu meruah untuk Kuil atau Paviliun Kinkakuji di Kyoto, Jepang. Maklum, sebagian besar bangunan tersebut terbuat dari emas. Lihat saja, selain bangunan paling bawah dan bagian atapnya yang terbikin dari kayu, dua lantainya dibuat dari lempengan emas. Pun di bagian atapnya yang kayu, ada fenghuang emas dalam rupa burung phoenix.
Kenapa tak semua bagian bangunannya dibikin saja dari emas? Tentu saja arsitek atau penggagas bangunannya punya konsep filosofis arsitektural tersendiri. Pada bagian yang terbuat dari emas, yakni di lantai dua dan tiga, fungsinya memang untuk bersemadi. Adapun lantai satu yang tak secuil pun berlapis emas mengandung makna sebagai representasi alam dunia.
Kuil tersebut dibangun pada tahun 1397. Tujuan pembangunannya adalah sebagai tempat peristirahatan Shogun Ashikaga Yoshimitsu. Dinamika zaman ikut mengisi keberadaannya. Misalnya, ia pernah terbakar beberapa kali, khususnya pada masa Perang Onin. Setelah direhabilitasi, ia juga pernah terbakar lagi pada tahun 1950. Tepatnya sewaktu bangunan itu ditempati seorang biksu yang sakit jiwa. Selanjutnya kuil dibangun kembali dengan menggunakan daun atau lempengan emas.
Keunikan bangunan itu terlihat pada setiap lantainya yang dibuat dalam gaya arsitektural berbeda. Meski begitu, secara keseluruhan gayanya mencerminkan bangunan masa Muromachi (1333-1573). Lokasi bangunannya pun begitu eksotis. Ia terletak di tengah kolam buatan bernama Kyokochi di pebukitan Kitayama, sebelah utara Kyoto.
Tentu saja, Kuil Kinkakuji menjadi magnet kepenasaran siapa pun hingga sekarang. Catat saja, setiap tahunnya empat juta orang dari segala penjuru dunia, terutama di musim gugur dan semi, berkunjung ke sana. Padahal, untuk bisa mengaguminya, wisatawan tak bisa mendekat. Mereka hanya bisa melihat dari kejauhan. Jarak untuk melihat yang paling dekat sekitar 100 meter. Walhasil, karena tak bisa mendekat dan bersentuhan langsung, para pengunjung cuma bisa mengabadikan dengan kamera atau handycam.
Kenyataan itu tak pelak sering memunculkan perdebatan kecil atau sejenis keragu-raguan. Benarkah kuil itu terbuat dari emas? Yang percaya bahwa bangunan itu memang dari emas punya alasan yang cukup logis. Katanya, karena Jepang merupakan salah satu negara terkaya di dunia, maka mendirikan bangunan dari emas tentu bukan persoalan besar. Tapi yang sangsi pun punya dalih tersendiri. Kata mereka, bangunan terbuat dari kayu dan hanya dilapisi serbuk emas atau cat berwarna keemasan.
Tanpa harus turut suntuk memperdebatkannya, yang tak bisa didebat lagi adalah bahwa objek wisata kuil emas tersebut sangat sayang dilewatkan apabila kita mengunjungi Kyoto. Bangunan itu tampak indah berkilau di tengah kolam yang dipenuhi ikan emas seberat empat atau lima kilogram per ekornya yang hidup bareng bersama ikan-ikan koi. Di tepi kolam selalu terlihat beberapa burung bangau yang tengah menunggu mangsa berupa ikan-ikan kecil. Jalan yang mengelilingi kompleks pun sangat bersih. Pada kanan kirinya berjajar tanaman hias khas Jepang. Pun lihat juga keelokan bunga padma atau teratai di tengah kolam. Konon bunga itu sebagai perlambang kehidupan, sementara telaganya menjadi simbol dunia, dan warna emas di kuil itu menyimpan makna sebagai arahan meraih berkat surgawi.
''Kalau Anda datang pada musim semi, panoramanya begitu memesona. Bunga warna-warni itu begitu serasi berpadu dengan keelokan kuil emas,'' ungkap salah seorang penjaga.
***
PERLU diketahui, Kota Kyoto yang dibangun pada tahun 794 itu adalah bekas ibukota Jepang. Jaraknya sekitar 50 kilometer dari Tokyo. Luas wilayahya sekitar 610 kilometer persegi dengan penduduk kurang lebih 1,5 juta jiwa. Ia merupakan kota yang molek. Setiap sudutnya memperlihatkan harmoni sebuah kota yang didominasi keteduhan dengan pemandangan pepohonan hijau, pegunungan, dan kuil-kuil berusia ratusan tahun yang terawat dan indah.
Pegunungan rendah Tamba mengitari kota tersebut dari utara, timur, dan
barat. Dua puncak gunung, Hieizan dan Atagoyama, mendominasi kawasan
pada bagian barat laut dan timur laut kota ini. Itu masih dilengkapi dengan Sungai Kamogawa dan Katsuragawa yang melintasi wilayah pusat dan barat Kyoto.
Untuk menuju Kyoto, wisatawan dari Tokyo bisa naik pesawat atau kereta cepat (shinkanzen) menuju Osaka. Jarak Tokyo-Osaka sekitar 500 kilometer, hampir sama Semarang-Jakarta. Dengan shinkanzen bertarif 13 ribu yen (sekitar Rp 1.040.000), waktu tempuhnya cuma 2,5 jam. Adapun dari Osaka ke Kyoto yang jaraknya sekitar 50 kilometer, kita bisa menggunakan bus umum.
Kuil lain yang juga punya keunikan tersendiri adalah Kiyomizudera yang terbuat dari kayu, dan konon tanpa paku. Di kuil itu tersimpan patung Dewi Kwan Im, dan hanya dikeluarkan setiap 36 tahun sekali. Di luar ruangan penyimpan patung terdapat genta dari kuningan lengkap dengan pemukulnya. Pada umumnya, usai berdoa pengunjung langsung memukul genta, sehingga gaungnya terdengar sambung-menyambung menjadi semacam ilustrasi kekhusukan doa di kuil yang berada di atas ngarai curam tersebut.
Di kompleks tersebut juga terdapat tiga pancuran yang airnya dipercaya punya ''pengaruh'' atau ''tuah'' bagi orang yang meminumnya. Masing-masing pun punya makna sendiri. Air di pancuran pertama konon ''bertuah'' untuk mereka yang mencari kebahagiaan, sementara pancuran kedua untuk kesehatan, dan yang ketiga untuk mereka yang menginginkan panjang usia.
Dan rupanya banyak sekali orang yang memercayainya. Akhir bulan lalu, ketika bersama rombongan ''Daihatsu Journalist Test Drive'' datang ke sana, saya menyaksikan begitu banyak pengunjung pada masing-masing pancuran. Puluhan orang itu secara teratur antre mengambil air dengan gayung dan meminum airnya.
''Saya percaya saja air ini memang bertuah. Saya yakin banyak juga yang memercayainya. Lihat, itu banyak sekali orang yang antre untuk meminum air dari pancuran,'' ungkap Tan Lie Siong, seorang turis asal Hong Kong dalam bahasa Inggris sambil menunjuk kerumunan orang di dekat pancuran.
Untuk soal yang satu itu, mungkin tak perlu jauh-jauh pergi ke Kyoto. Di sini pun banyak tempat yang airnya dipercaya ''bertuah''. Tapi kalau sudah sampai di Kyoto dan berkesempatan ke Kuil Kiyomizudera, ya silakan coba mereguk air pancuran itu. Siapa tahu memang berkhasiat, paling tidak memuaskan rasa haus (kalau kebetulan haus), dan tentu saja rasa kepenasaran Anda. (Sri Mulyadi)
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
14.53
0
komentar
Label: PARIWISATA
Jumat, November 02, 2007
Sensasi Ikan Bluntak Osaka
ANDA ingin mencoba merasakan masakan ikan buntal atau sering juga disebut ikan bluntak? Datanglah ke restoran Zuboraya, Do Ton Buri, Osaka, Jepang. Tapi jangan kaget, harga per paket masakan tersebut 10.500 Yen atau sekitar Rp 840.000. Itu saja tiap paket ikan bluntaknya (di Jepang disebut ikan fugu), cuma sekitar dua ons. Lainnya berupa cumi, udang, tofu atau tahu khas Jepang yang lembek. Kemudian sayur, semangkuk nasi, buah, es krim.
Rasa ikan itu memang lezat, gurih agak manis, tak kalah dibanding salmon, cumi, udang bago, kakap, atau lainnya. Sampai-sampai di Jepang muncul ungkapan: Mereka yang memakan sup fugu adalah bodoh. Tetapi mereka yang tidak memakan sup fugu juga bodoh." Ungkapan itu memang bisa dimengerti. Di satu sisi ikan itu memang lezat, tetapi sekaligus sangat berbahaya. Jika cara membersihkan tidak benar, bisa berujung maut.
Racun yang terkandung di perut ikan fugu jauh lebih mematikan dibanding sianida, bahkan mampu membunuh antara 24 hingga 30 orang manusia sekaligus. Hal ini diakibatkan di dalam badan ikan buntal, terutama di bahagian hati dan empedu, mengandungi sejenis toksin tetrodoxin. Racun ini berasal dari makanannya. Makanan ikan fugu ini adalah mikroorganisme tertentu yang menyebabkan bagian dalam tubuh ikan ini mengandung racun.
Dipotong Menyilang .
Wartawan Suara Merdeka, Sri Mulyadi yang mengikuti test drive Daihatsu di Shiga Technical Center, Osaka, 23-28 Oktober lalu melaporkan, di kawasan Do Ton Buri ada beberapa rumah makan yang menyajikan menu ikan fugu. Sebagian memajang menu lengkap di etalase, dan ada juga yang meletakkan aquarium berisi ikan fugu di depan restoran. Sedang memasaknya, digoreng, dibakar atau direbus, tergantung konsumen. Di tiap meja disediakan kompor gas lengkap peralatan memasaknya.
Shigonobu Oyama, pemilik Zuboraya, mengatakan ikan tersebut berasal dari nelayan di sekitar pulau Honshu. Sebelum disajikan ikan dipotong menyilang, seluruh isi perut dibuang. Kemudian kulit dikelupas, terutama bagian kepala. ‘’Ikan jenis ini memang beracun, tetapi jika cara membersihkannya benar, aman dikonsumsi. Rasanya lezat dan khas,’’ ungkapnya.
Kaosao Ichiro, seorang pelayan rumah makan mengungkapkan, di perairan laut Jepang ada sekitar 40 jenis fugu, namun yang bisa dikonsumsi hanya jenis torafugu robripes.
Menyediakan hidangan fugu tidak mudah. Hanya orang yang benar-benar terlatih dan berlisensi yang diperbolehkan. Sebelumnya mereka dilatih mengenai cara menangkap, memotong, membersihkan dan memasak, kemudian diharuskan memakan hasil masakannya. ‘’Faktor kesulitan menyajikan hidangan inilah yang menyebabkan ikan fugu menjadi salah satu menu termahal di Jepang.’’
Bagian kepala fugu disajikan dalam bentuk fillet atau diiris tipis. Bagian badan cuma dagingnya yang diambil. Siripnya disendirikan, dan biasanya digoreng dan dihidangkan dalam sake panas. Masakan ini dinamakan fugu hire-zake. ‘’Kelezatan menu ikan fugu terletak pada rasa dan teksturnya. Jika direbus dagingnya menjadi kenyal.’’
Masa panen ikan ini biasanya bersamaan dengan musim semi. Pada masa itu fugu memasuki musim kawin dan bertelur. Pertengah musim semi mulai beranak. Di antara pemilik rumah makan ada yang melakukan pembesaran sendiri anak fugu di karamba dengan makanan ikan segar. Ada juga yang membeli dari pasar dalam kondisi hidup, kemudian dipelihara di akuarium.
Di Indonesia ikan bluntak jenis itu juga banyak ditemukan, tetapi umumnya belum dijadikan menu untuk dikonsumsi. Di Semarang masuk kelompok ikan hias yang dipelihara di akuarium air laut, karena bentuknya lucu dan jika dipegang perut akan menggelembung menyerupai bola. Biasanya ikan ini didatangkan dari Banyuwangi atau Bali. Sedangkan di Karimunjawa, dipelihara di karamba, juga sebagai ikan hias. Bahkan yang di Karimunjawa per ekor beratnya bisa dua atau tiga kilogram.
Di pasar ikan tradisional Tambaklorok, Semarang, ada juga yang menjual salah satu jenis ikan buntal. Kebanyakan orang menyebut bluntak pisang, bukan fugu. Ikan ini aman dikonsumsi asal memotongnya benar, yakni menyilang. Dari kepala hingga belakang dubur dibuang. ‘’Kalau selama ini banyak orang meninggal setelah makan ikan bluntak, karena tak tahu cara memotongnya,’’ ungkap seorang bakul ikan di Tambaklorok. Yang membedakan cara mengonsumsi ikan bluntak pisang dengan fugu adalah cara pemotongan. Kalau fugu menyilang di bagian perut, sedang bluntak pisang yang terbuang setengah badan lebih.
Ta Ko Yaki
Di kawasan Don Ton Buri, juga banyak ditemui ta ko yaki, makanan khas Osaka. Terbuat dari tepung, jahe merah, cumi (jenis sotong/cumi bertulang), daun bawang panjang, kobis, telur. Setelah diaduk merata dibentuk bulat-bulat, kemudian dipanggang. Harga per enam biji 320 yen atau sekitar Rp 25.600 (per yen sekitar Rp 80), 8 biji 420 yen, dan 12 biji 620 yen. ‘’Rasanya lumayan, agak cocok dengan masakan Indonesia,’’ ungkap beberapa wartawan yang ikut rombongan test drive Daihatsu.
Kecuali ta ko yaki, makanan khas yang bisa dinikmati di Osaka adalah yakiniku. Bahan berupa ikan, udang, cumi, kepiting, daging sapi, ayam, dan lainnya, disantap setelah sebelumnya dimasak sendiri di hot plate yang ada di setiap meja. Khusus daging sapi, konsumen bisa memilih yang istimewa. Sebelum dipotong, menurut informasi, sapi sering dipijit dan diberi minum bir, sehingga dagingnya lembut.
Gang-gang di kawasan Don Ton Buri, tak pernah sepi dari pengunjung pejalan kaki, dan pengendara sepeda. Kendaraan bermotor tak boleh lewat. Objek yang bisa dinikmati tak hanya rumah makan dengan berbagai menu. Di kawasan ini juga ada yang menjual anjing jenis kecil,kucing, humter. Pengunjungnya juga ramai, dan kebanyakan para wanita. Hewan-hewan itu diletakkan di kotak kaca. Untuk anjing dan kucing ada yang ditawarkan hingga Rp 10 juta – Rp 15 juta/ekor.
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
21.28
0
komentar
Label: PARIWISATA
Minggu, Juli 25, 2004
Pesona Karimunjawa (3), Disediakan Pesawat untuk Jemput
Tamu Pengunjung yang menginginkan tempat menginap lain, di samping menumpang di rumah warga atau penginapan tengah laut, di Karimunjawa juga ada "Kura-kura Hotel". Bangunan tersebut milik Pemprov Jateng, namun saat ini dikontrak oleh biro wisata Kura-kura Resort. Di tempat itu disediakan tujuh buah kamar dan tiga bungalo. Setiap bungalo terdiri atas dua kamar sehingga keseluruhan bisa menampung 36 orang. Juga disediakan tempat tidur ekstra. Kamar yang berfasilitas AC saat ini tarifnya Rp 133.100 dan yang berkipas angin Rp 87.400. Makan empat kali Rp 96.000/ orang (perhitungan tarif menggunakan standar dolar AS). "Untuk makan paketnya dihitung empat kali karena biasanya tamu datang Sabtu siang dan pulang Minggu siang," ungkap Abdul, karyawan hotel tersebut.
Wisatawan asing yang ke Karimunjawa pada umumnya menggunakan jasa Kura-kura Resort. Biro wisata "berkelas" dan merupakan satu-satunya di Karimunjawa itu fasilitasnya lebih lengkap. Wisatawan biasanya dijemput dengan pesawat terbang jenis Cessna 172 M yang berkapasitas tiga penumpang dan Cessna 402 B untuk penumpang minimal enam orang. Mereka langsung dijemput di Bandara Adisumarmo Solo dan Adisucipto Yogyakarta pada pukul 08.00. Adapun yang turun atau berangkat dari Semarang dijemput pada pukul 08.30. Perjalanan dari Solo atau Yogyakarta ke Karimunjawa dengan Cessna 127 M ditempuh dua jam, jika menggunakan Cessna 402 B cukup satu jam. Dari Semarang sekitar 45 menit dan 35 menit. Dari Lapangan Terbang Dewandaru Karimunjawa wisatawan diantar dengan kapal motor ke Pulau Menyawakan (ada juga yang menyebut Mencawakan). Penerbangan dari Solo, Yogya, atau Semarang, bergantung pada permintaan. Kalau musim liburan seperti pada 9 - 11 Juli lalu, wisatawan yang datang ke Karimunjawa mencapai 32 orang. Pada bulan Juni 55 orang, dan pada hari-hari nonliburan 40-50 pengunjung per bulan. Kebanyakan dari Korea, yaitu pasangan yang berbulan madu," ungkap Helmi, karyawati Kura-kura Resort di kantor pusatnya di Jepara. Wisatawan yang menggunakan kapal motor cepat Kartini I atau kapal Muria dijemput di Karimunjawa dan ke Pulau Menyawakan menggunakan perahu motor kayu. Di Pulau Menyawakan tersedia lima bungalo VIP dan 10 deluxe yang semuanya bisa menampung 30 pengunjung. Untuk paket dua hari satu malam, yang tidak menggunakan pesawat tarifnya 77 dolar AS atau sekitar Rp 693.000, dan yang dijemput pesawat 137 dolar (Rp 1.233.000). Bila ditambah paket diving atau menyelam, nonpesawat Rp 187 dolar (Rp 1.683.000) dan yang dijemput pesawat 247 dolar atau kurang lebih Rp 2.223.000. Wisatawan yang pernah ke Karimunjawa pada umumnya mengagumi kehidupan bawah laut yang alami banget. Selain itu, suasananya tenang. Di Pulau Menyawakan tidak ada telepon kabel ataupun HP. Komunikasi hanya bisa dilakukan dengan HT," kata Helmi. Nita, juga karyawati Kura-kura Resort menambahkan, pihaknya juga melayani kursus diving atau menyelam. Saat ini seorang instruktur dan dua asistennya berasal dari Swedia. Biaya kursus untuk kategori bersertifikat (4 hari 3 malam) biayanya 320 dolar atau sekitar Rp 2.880.000. Untuk tingkat pemula (2 hari 1 malam) 75 dolar atau kurang lebih Rp 975.000. Materi kursus untuk pemula selain teori, tayangan video, juga praktik di kolam renang dan perairan laut. Lokasi yang dipilih biasanya sekitar Pulau Cemara Besar yang kedalaman airnya sekitar 12 meter. Bagi pengunjung yang tidak hobi menyelam disediakan fasilitas kolam renang air suling. Untuk yang hobi memancing, sekitar 200 meter dari pantai Pulau Menyawakan merupakan lokasi yang ideal, kedalaman airnya sekitar 15-20 meter. Ikan yang terpancing biasanya bermacam jenis kerapu (termasuk kerapu merah) dan badong. Banyak juga jenis ikan hias seperti triger dan capung kepodang, beratnya rata-rata 0,5 kilogram. Wisatawan nonpaket biro wisata bisa menyewa peralatan menyelam lewat Muchlis, petugas wisma wisata atau Ismarjoko, pengusaha penginapan di tengah laut. Untuk snorkel sewanya sekitar Rp 30 ribu/paket, pukul 08.00 - 12.00. Peralatan lengkap, termasuk tabung oksigen, sewanya Rp 250.000 - Rp 300.000. Jika memerlukan jasa pembimbing, tarifnya sekitar Rp 150.000/paket. Tiap tabung oksigen bisa untuk penyelaman selama satu jam. Sewa peralatan menyelam memang agak mahal karena harga peralatan juga tinggi, sekitar Rp 15 juta per set. Pengisian oksigen dapat pula dilakukan di Karimunjawa, biayanya Rp 40.000 per tabung," ungkap Muchlis. Di samping homestay, menyelam, memancing, menikmati keindahan terumbu karang dan ke perkampungan Bugis (jaraknya sekitar 25 km dari dermaga ASDP Karimunjawa), pengunjung yang datang tak sedikit pula yang melakukan ziarah ke makam Syeh Amir Khasan atau lebih dikenal dengan sebutan Sunan Nyamplungan. Tokoh yang dimakamkan di lereng perbukitan Karimunjawa tersebut adalah anak dari Sunan Muria. "Peziarah datang dari berbagai daerah dengan maksud bermacam-macam pula. Orang yang permintaannya terkabul biasanya datang kembali untuk mengadakan selamatan," ungkap Harinto, Kasi Pemerintahan dan Trantib Kecamatan Jepara. Karimunjawa juga dihuni beberapa hewan langka, di antaranya elang, ular kobra, rusa, dan penyu. Khusus untuk menyelamatkan penyu, dibentuk Kelompok Pelestari Penyu Karimunjawa yang diketuai Ismarjoko Budi Santosa. Tugas kelompok itu di samping memberikan penyuluhan tentang arti penting penyelamatan penyu, juga melakukan pembesaran anak penyu. Jika ditemukan lokasi bertelurnya penyu, tempat tersebut diberi tanda dan pagar keliling sehingga pada saat telur penyu menetas 60 hari kemudian, anakannya tidak langsung ke laut lepas. Anakan penyu tersebut diambil untuk dimasukkan ke kolam pembesaran. "Kalau telur dibiarkan tanpa perlindungan risiko kematian sangat besar. Pada saat menetas anakan penyu banyak yang dimakan predator seperti biawak, kepiting, dan burung," ungkap Ismarjoko. Jenis penyu yang hidup di perairan Karimunjawa adalah penyu sisik dan hijau. Rata-rata beratnya 11-15 kg/ekor, namun ada juga yang mencapai berat 30 kg. Nelayan setempat saat ini kesadarannya sudah cukup tinggi dalam upaya penyelamatan. Kalau kebetulan ada yang tersangkut jaring, oleh nelayan yang bersangkutan penyu itu diserahkan kepada Kelompok Pelestari Penyu dan sebagai bentuk penghargaan, kelompok itu memberikan kaus kenang-kenangan. Untuk anakan penyu yang diperhitungkan sudah kuat bertahan hidup di perairan lepas, dilakukan acara pelepasan sekaligus dijadikan objek untuk menarik wisatawan ke Karimunjawa. Saat ini di kolam pembesaran terdapat sekitar 200 ekor anakan penyu. Selama di kolam tersebut penyu-penyu itu diberi makanan berupa pelet atau cacahan daging ikan. Berdasar pengamatan, kehidupan bawah laut di Kepulauan Karimunjawa (meliputi 27 pulau), sudah cukup kuat untuk menarik perhatian wisatawan Nusantara (wisnu) dan wisatawan mancanegara (wisman). Sarana dan fasilitas yang tersedia juga sudah memadai, bahkan lebih. Buktinya, tamu bisa langsung dijemput pesawat karena di Karimunjawa sudah ada lapangan terbang. Untuk menikmati keindahan kehidupan bawah laut di Pulau Sipadan yang sudah mendunia, fasilitas yang tersedia tidak selengkap dan semudah di Karimunjawa. Untuk pergi ke pulau yang dulu disengketakan antara Indonesia-Malaysia (akhirnya dimenangkan Malaysia) itu, dari Kualalumpur harus naik pesawat ke Kinabalu dan pindah pesawat lagi ke Tawau. Dari Tawau harus melalui perjalanan darat sekitar 3 jam untuk menuju Pantai Semporna. Dari Semporna ke Sipadan naik perahu motor sekitar satu jam. Di Pulau Sipadan yang luasnya hampir sama dengan Pulau Menyawakan (Karimunjawa) itu cuma terdapat bungalo-bungalo yang sederhana. Adapun untuk ke Karimunjawa, dari Jakarta atau bandara lain di Indonesia maupun luar negeri, pengunjung bisa langsung ke Bandara Solo, Yogyakarta, atau Semarang. Dari Bandara tersebut wisatawan langsung dijemput pesawat untuk diantar ke lokasi. Pengunjung juga bisa naik kapal motor cepat dari Semarang atau Jepara. Dari Semarang butuh waktu 3,5 jam dan dari Jepara 2,5 jam. Sarana penginapan yang tersedia juga sudah memadai dan bervariasi. Ada penginapan di tengah laut, numpang di rumah warga, wisma wisata, atau hotel. Masyarakat setempat pun ramah terhadap siapa saja yang berkunjung. Daerahnya juga sangat aman, bahkan nyaris tidak pernah ada gangguan/keributan.
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
13.18
0
komentar
Label: PARIWISATA
Sabtu, Juli 24, 2004
Pesona Karimunjawa (2)Homestay sambil Menikmati Ikan Bakar

PENGUNJUNG yang merasa tidak nyaman tidur di kamar tengah laut, bisa homestay atau numpang tidur di rumah penduduk Karimunjawa, sambil menikmati ikan bakar. Tetapi meskipun istilahnya numpang tidur dan kamar yang disediakan menjadi satu dengan pemilik rumah, tamu tetap harus membayar.
Di Ibu Kota Kecamatan Karimunjawa terdapat 16 rumah yang dijadikan homestay dan dapat menampung 150 orang lebih. Tarif tiap kamar rata-rata Rp 35.000 - Rp 40.000/malam. Jika dengan makan, menjadi Rp 12.500/orang sekali makan. Menunya bisa pesan kepada pemilik rumah.
Misalnya di rumah Bu Sri, sebelah kanan Kantor Telkom, menu yang ditawarkan layaknya di restoran. Yakni ikan bakar/goreng, cumi-cumi, ayam saos tiram, kopi susu, es rumput laut, jus kelapa muda, bahkan ada rujak.
Juga disediakan halaman khusus yang diteduhi pohon mangga dan diberi ''lincak'' bambu untuk tempat duduk. Dilengkapi pula peralatan untuk membakar ikan, sehingga sangat cocok bagi rombongan yang ingin ramai-ramai membakar ikan sambil menikmati udara bebas Karimunjawa.
Suasana numpang tidur di rumah penduduk itu memang tidak sesantai atau sebebas di penginapan umum,karena kita menyatu dengan keluarga pemilik rumah.
Namun, pada umumnya keluarga pemilik rumah sudah membiasakan diri bergaul dengan berbagai pengunjung, sehingga suasananya serasa menginap di rumah saudara. Tamu yang ingin memasak sendiri, juga bisa. Bahkan, ada ''petugas'' yang menemani ngobrol atau sebagai pemandu para tamu.
Letak rumah untuk homestay memang strategis, di ibu kota kecamatan. Dekat pasar, toko-toko kelontong, kantor telepon, dan kantor kecamatan. Toko cendera mata juga ada. Toko ini pada umumnya menjual kaus atau barang-barang dari kayu stigi atau dewandaru (kayu khas Karimunjawa). Sarana telepon memang vital, karena di Karimunjawa tak ada sinyal, sehingga handphone (HP) tak berfungsi.
Dari rumah homestay ke dermaga rakyat, juga tidak jauh, hanya beberapa ratus meter. Di dermaga ini berjajar perahu motor yang berukuran kecil (4-6 penumpang) dan perahu besar (di atas 10 penumpang), sehingga memudahkan pengunjung yang ingin berpesiar laut.
Ada dua dermaga di Karimunjawa, yakni dermaga rakyat dan ASDP (angkutan sungai, danau, dan penyeberangan). Pengunjung yang menggunakan kapal motor cepat Kartini I atau Kapal Muria, turun di dermaga ASDP. Untuk menuju ke penginapan atau tujuan lain, bisa menggunakan angkutan umum, mobil, atau becak. Ongkos naik becak sekitar Rp 5.000, sedangkan mobil Rp 25.000/angkatan atau sekali jalan. Tersedia 14 becak dan 10 mobil.
Wisma Wisata
Di Kecamatan Karimunjawa yang membawahkan tiga kelurahan (Karimunjawa, Kemujan, dan Parang) tersebut, juga tersedia losmen dan wisma wisata yang dikelola Dinas Pariwisata Kabupaten Jepara. Di wisma ini tersedia enam kamar, dengan masing-masing dua tempat tidur. Empat kamar berfasilitas kipas angin, dengan tarif Rp 50.000/ kamar semalam. Dua kamar ber-AC Rp 90.000/kamar. Ongkos sekali makan Rp 12.500/orang.
''Kami juga menyediakan kapal motor berlantai tembus pandang, untuk menyaksikan terumbu karang. Setelah para pengunjung melihat keindahan terumbu karang, kami drop ke Pulau Menjangan Kecil untuk menikmati keindahan laut. Misalnya berenang di pantai, memancing, berjemur, menyelam, atau sekadar santai di pulau sambil menikmati kelapa muda. Biayanya per orang Rp 30.000, waktunya dari pukul 08.00 hingga 12.00,'' ungkap Muchlis, salah seorang petugas di wisma wisata.
Kampung Bugis
Kecamatan Karimunjawa dihuni beberapa etnis. Yakni etnis Jawa, Madura, Bugis (Sulawesi Selatan), Buton (Sumatera Selatan), dan Bajau dari Sulawesi Utara. Khusus perkampungan Bugis di Dusun Batulawang, Kelurahan Kumujan, mendapat banyak perhatian wisatawan. Jumlah mereka 300-400 orang, dan pekerjaan utama sebagai nelayan. Sebagian ada yang bertani kelapa, mete, dan cengkih. ''Di antara mereka ada juga yang kawin dengan penduduk asli,'' ungkap Ismarjoko, salah seorang pengusaha penginapan di Karimunjawa.
Pada umumnya para nelayan pendatang tersebut mempunyai ketangguhan di laut. Meskipun ombak besar, mereka tidak kesulitan menjual hasil tangkapannya ke Jepara. Biasanya mereka tidak menjual ikan di tempat pelelangan ikan (TPI), tetapi langsung ke pengepul.
Mereka juga dikenal andal menyelam, sehingga sangat cocok dengan kondisi perairan laut Karimunjawa. Sewaktu perburuan ikan lemak (mirip gurami atau ikan kakatua) masih marak karena nilai jualnya tinggi (Rp 100.000 - Rp 200.000/ kilogram), mereka mendominasi hasil tangkapan. Namun perburuan itu sekarang jarang, karena dilarang pemerintah. Cara penangkapan yang menggunakan bahan kimia seperti sianida (apotas), dapat merusak terumbu karang dan mengakibatkan ikan jenis lain mati.
Untuk menangkap ikan lemak, nelayan harus menyelam di bebatuan karang. Ikan yang terperangkap di bebatuan karang disemprot dengan bahan kimia. Setelah teler/keracunan, ikan ditangkap untuk dimasukkan ke tempat karantina yang airnya tidak tercemar. Setelah sehat kembali, barulah ikan laku dijual dengan harga tinggi. Jika mati, nilai jualnya tidak berbeda dari jenis ikan lainnya. Ikan lemak ini memang khusus untuk konsumsi ekspor.
Perburuan ikan hias dan tumbuhan laut seperti jamur mangkok untuk keperluan akuarium air laut, kini juga dilarang. Perburuan ini juga dianggap merusak lingkungan. Kalaupun sekarang di Jepara masih banyak jamur mangkok dan ikan hias seperti clownfish/ikan badut, itu karena memang ada beberapa nelayan yang nekat. Petugas dari perlindungan alam dan aparat kepolisian tidak bisa berbuat apa-apa, karena di Kecamatan Karimunjawa terdapat 27 pulau dengan luas perairan 104.592 hektare. Sehingga mungkin saja perburuan ikan hias atau tanaman laut di pantai pulau yang jauh dari Karimunjawa, dan langsung dijual ke penampung di Jepara. Bisa juga dikarantina di pantai salah satu pulau, dan setelah terkumpul baru dikirim ke pembeli.
Hambatan para pengusaha dalam mengembangkan penginapan di Karimunjawa, jelas Ismarjoko, adalah modal. Bunga pinjaman bank yang rata-rata tiga persen per bulan, cukup memberatkan. Karena itu, dia berharap pemerintah ikut membantu memecahkan dengan memberikan subsidi atau kredit lunak berbunga rendah.
''Di sini semua bahan bangunan serba mahal, karena harus didatangkan dari Jepara. Misalnya semen per sak (50 kg) yang di Jepara seharga Rp 29 ribu, di Karimunjawa Rp 37 ribu. Upah tenaga kerja juga tinggi antara Rp 30 ribu-Rp 45 ribu per hari. Untuk pengadaan sebuah kamar dan isinya di penginapan tengah laut, kami membutuhkan dana sekitar Rp 8 juta,'' ungkapnya.
3,5 Jam
Pengunjung dari Semarang yang ingin ke Karimunjawa, bisa menggunakan Kapal Motor Cepat Kartini I. Berangkat hari Sabtu dari Pelabuhan Tanjung Emas pukul 09.00, dengan harga tiket kelas eksekutif Rp 75 ribu dan bisnis Rp 65 ribu, belum termasuk tiket masuk pelabuhan. Yang membedakan kelas tersebut, untuk bisnis di dek I (dek bawah) tanpa jendela dan eksekutif di dek II (dek atas) ada jendela. Namun kedua dek penumpang tersebut sama-sama ber-AC. Sedang buritan digunakan untuk barang.
Jarak Semarang-Karimunjawa yang sekitar 110 kilometer ditempuh dalam waktu 3,5 jam, berangkat jam 09.00 dan tiba pukul 13.30. Pada musim angin timur seperti sekarang ini gelombang tidak begitu besar, sehingga kapal seharga Rp 15 miliar lebih dan berbobot 150 ton dengan kapasitas penumpang 168 orang tersebut, bisa melaju dengan tenang. Kapal tersebut dibeli secara patungan antara Pemprov Jateng dan Pemkab Jepara. Modal Pemprov Rp 14 miliar lebih dan Pemkab sekitar Rp 1 miliar.
Saat ini jadwal pelayaran Semarang-Karimunjawa seminggu sekali, yaitu hari Sabtu. Sedang Karimunjawa-Semarang hari Minggu pukul 14.00 dan tiba di Pelabubuhan Tanjung Emas jam 15.30. Sedang untuk Jepara-Karimunjawa berangkat hari Minggu jam 09.00 dan Senin pukul 10.00. Sedang Karimunjawa-Jepara, Sabtu jam 14.00 dan Selasa pukul 09.00. Jarak Jepara-Karimunjawa yang sekitar 90 kilometer ditempuh dalam waktu 2,5 jam.
Untuk Kapal Muria yang berkapasitas sekitar 300 penumpang hanya menempuh rute Jepara-Karimunjawa PP. Dari Jepara hari Rabu dan Sabtu pukul 09.00, sedang Karimunjawa-Jepara hari Senin dan Kamis pukul 09.00. Harga tiketnya untuk kelas ekonomi Rp 17 ribu dan VIP Rp 26.500, dengan waktu pelayaran enam jam. (Sri Mulyadi-Bersambung-78t)
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
13.10
0
komentar
Label: PARIWISATA
Jumat, Juli 23, 2004
Pesona Karimunjawa (1) Memancing Ikan dari Kamar Penginapan

MEMANCING: Seorang anak perempuan pengunjung penginapan tengah asyik memancing ikan dari teras kamar tidur.(10) - SM/Sri Mulyadi
Sejak Kapal Kartini 1 diluncurkan awal Maret 2004 lalu, kunjungan wisata ke Karimunjawa terus meningkat terutama pada hari Sabtu dan Minggu. Perjalanan Semarang-Karimunjawa yang berjarak sekitar 110 km hanya memerlukan waktu 3,5 jam. Pada umumnya wisatawan yang berkunjung karena terpesona kondisi bawah laut masih alami. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka Sri Mulyadi tentang kondisi Karimunjawa akhir-akhir ini dalam beberapa tulisan.
MEMANCING ikan laut dari kamar tidur kedengarannya memang belum lazim. Namun di Pulau Karimunjawa, Kabupaten Jepara, hal itu bisa dilakukan, dan kini dikembangkan menjadi pesona baru untuk menarik wisatawan ke pulau yang memiliki luas daratan 4 ribu ha dengan penduduk 8.642 jiwa tersebut.
Bahkan, memancing sambil tiduran di kasur sekalipun dapat dilakukan, karena kamar penginapan memang sengaja dibangun di atas perairan lepas, perbatasan antara perairan dangkal dan dalam.
Di depan kamar kedalamannya 3-4 meter, sedangkan sekitar empat meter dari kamar tidur kedalaman air mencapai 20 meter. Keindahan terumbu karang dan beraneka ikan hias juga terlihat jelas dari teras kamar karena airnya sangat jernih.
Konstruksinya dibikin semacam bagang (kerangka bambu yang ditancapkan di perairan laut berukuran sekitar 20m x 20m dan di tengahnya diberi jaring untuk menangkap ikan). Tiang pancang terbuat dari kayu besi (ulin) dan lantainya juga kayu. Sebagian bangunan berada di atas batu karang sehingga lebih kokoh dan tidak mengkhawatirkan sekalipun diterjang ombak.
Penginapan itu memang sengaja dibangun di lokasi yang aman. Bila musim angin timur, terlindung Pulau Karimunjawa. Namun pada musim angin barat atau sering disebut musim paceklik bagi nelayan karena ombak laut besar, lokasi itu terlindungi gugusan karang. Jadi meskipun ombak di tengah laut besar, sampai di lokasi penginapan sudah kecil dan tidak mengganggu.
Adapun bila angin datang dari arah selatan, sudah terhalang Pulau Menjangan.
Di Karimunjawa penginapan seperti itu ada dua tempat. Keduanya berada di dekat Pulau Menjangan Besar. Dari dermaga pusat kota Kecamatan Karimunjawa, untuk menuju ke lokasi menggunakan perahu motor cuma butuh waktu sekitar 5 menit. Dua tempat tersebut juga dilengkapi kolam ikan.
Tanggul kolam dari batu karang itu diberi pengaman jaring sehingga kedalamannya sesuai dengan air pasang-surut. Namun karena airnya jernih, semua isi kolam terlihat jelas. Penginapan yang dikelola Ismarjoko Budi Santosa itu kolamnya diisi berbagai macam ikan hias dan kura-kura. Di penginapan milik Ismarjoko (biasa dipanggil Joko) inilah pengunjung bisa memancing dari dalam atau teras kamar tidur karena kedalaman air di depan kamar hanya 4 meter dan ikannya banyak.
Kamar yang tersedia delapan buah, masing-masing untuk dua orang. Tiga buah dengan kamar mandi di dalam dengan tarif Rp 50.000/malam, dan lima buah lainnya kamar mandinya menjadi satu dengan tarif Rp 40.000/malam. Untuk sekali makan Rp 12.500 per orang dengan menu ikan laut, juga disediakan minuman ringan dan air panas untuk bikin kopi atau teh. Televisi atau radio juga ada, namun untuk komunikasi telepon harus ke wartel. Handphone (hp) tidak bisa digunakan karena tak ada sinyal.
Adapun di penginapan lain yang menurut informasi dikelola oleh Cuming dari Semarang, tersedia tujuh kamar dengan tarif dan fasilitas yang sama. Di kolam ikannya selain ada kura-kura, pengunjung bisa menyaksikan beberapa ikan hiu (di antaranya sepanjang kurang lebih satu meter), ikan kerapu yang beratnya sekitar 30 kg, dan ikan bluntak/buntel seberat dua kilogram lebih. Namun tempatnya lebih dekat daratan, sehingga kurang ideal untuk memancing.
Terumbu Karang
Dengan tersedianya penginapan seperti itu, bisa dibilang Karimunjawa merupakan ''surga'' bagi pecinta lautan. Bagi yang berhobi memancing jelas dijamin tak kecewa karena perairan di sekitar kepulauan yang ada di Karimunjawa dipenuhi terumbu karang, termasuk di sekitar penginapan.
Di sekitar penginapan yang kedalaman airnya 3-4 meter, ikan yang berukuran besar jumlahnya memang tak banyak. Namun pada malam hari banyak juga cumi-cumi. Sebab, faktor penerangan di penginapan itu hanya menggunakan listrik dari diesel. Pada malam hari biasanya ikan dan cumi-cumi akan mendekati tempat yang diterangi lampu, baik listrik maupun petromaks.
Jika mau agak ke tengah, terutama yang berkedalaman di atas 10 meter, ikan yang terpancing berukuran agak besar, beratnya antara 0,5 kg - 3 kg. ''Namanya juga memancing, kadang faktor keberuntungan yang berperan. Pernah juga ada tamu yang memancing di sekitar penginapan mendapat ikan jenis kakatua seberat sebelas kilogram. Namun di perairan dangkal pada umumnya ya cuma dapat ikan kecil,'' ungkap Ismarjoko.
Untuk menuju ke ''daerah ikan'' banyak tersedia kapal motor. Yang berukuran sedang kapasitasnya 4 atau 6 penumpang, sedangkan yang berukuran besar bisa 10 orang lebih. Namun tarifnya untuk ukuran Jawa Tengah tergolong agak mahal. Perahu motor sedang sekitar Rp 100.000 - Rp 150.000 per paket (4-5 jam), sedangkan yang besar Rp 200.000 per paket. Namun soal tarif itu masih bisa dikompromikan, bergantung pada sepi atau ramainya pengunjung yang memanfaatkan perahu. Untuk paket satu hari, pagi sampai sore, perahu besar bisa ditawar sampai Rp 300.000.
Sebagai perbandingan, sewa perahu berukuran besar di Pantai Kartini Jepara berkisar Rp 125.000 - Rp 150.000 per hari, biasanya berangkat pukul 05.00 dan kembali pada pukul 15.00 (10 jam). Di Semarang, dengan ukuran perahu dan waktu yang sama, tarifnya sekitar Rp 200.000 per hari.
Tentang peralatan pancing, toko-toko di ibu kota kecamatan (dekat dermaga) itu banyak yang menyediakan. Tetapi walesan (tangkai pancing) yang tersedia pada umumnya sangat sederhana karena warga setempat sudah terbiasa memancing tanpa walesan. Cukup menggunakan gulungan senar, pancing, dan bandul timbal. Umpannya menggunakan cumi atau ikan kecil yang dipotong-potong. Semua itu bisa dibeli dari beberapa penampung ikan, termasuk Joko (panggilan akrab Ismarjoko).
Umpan berupa udanga mati atau hidup termasuk langka, sebab di Karimunjawa jarang ada tambak udang. Sebab di samping kadar garam air lautnya terlalu tinggi, tanahnya juga berpasir sehingga tak cocok untuk tambak udang atau bandeng. Pembudidayaan udang atau bandeng memang cuma cocok dilakukan di tambak yang berair payau dan berlumpur.
Berkait dengan kondisi itu, untuk memancing ikan permukaan seperti jenis jolong memang sulit, kecuali disiasati dengan menggunakan umpan ikan kecil hidup. Adapun untuk ikan jenis tengiri atau barakuda, umpan menggunakan ikan sintetis dengan ditarik perahu/dikalar.
Pemancing dari luar daerah, biasanya membawa udang hidup (baik udang tenger maupun udang putih) dari Semarang atau Jepara dengan dimasukkan boks khusus, foam, dan ember dengan diberi airator (gelembung udara untuk menyuplai oksigen). Bisa juga dimasukkan plastik berisi air payau dan dimasuki oksigen.
27 Pulau
Di Kecamatan Karimunjawa terdapat 27 pulau, yakni Pulau Karimunjawa, Kemujan, Menjangan Besar, Menjangan Kecil, Cemara Besar, Cemara Kecil, Gleyang, Burung. Pulau Bengkoang, Parang, Nyamuk, Kembar, Katang, Krakal Besar, Krakal Kecil, Sintok, Mrican, Pulau Tengah, Pulau Pinggir, Cilik, Gundul, Seruni, Tambangan, Genting, Cendekian, Kumbang, dan Pulau Mencawakan (ada yang menyebut Menyawakan).
Di antara pulau-pulau itu, yang berpenghuni baru Pulau Karimunjawa, Kemujan, Menjangan, Parang, Nyamuk, Tambangan, Genting, dan Mencawakan. Antara Pulau Karimunjawa dan Kemujan, kini sudah terhubungkan dengan jembatan. Khusus Pulau Gundul, selama ini biasa digunakan untuk sasaran tembak dalam latihan militer. (Bersambung)
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
14.01
0
komentar
Label: PARIWISATA