Sabtu, Juli 24, 2004

Pesona Karimunjawa (2)Homestay sambil Menikmati Ikan Bakar


PENGUNJUNG yang merasa tidak nyaman tidur di kamar tengah laut, bisa homestay atau numpang tidur di rumah penduduk Karimunjawa, sambil menikmati ikan bakar. Tetapi meskipun istilahnya numpang tidur dan kamar yang disediakan menjadi satu dengan pemilik rumah, tamu tetap harus membayar.
Di Ibu Kota Kecamatan Karimunjawa terdapat 16 rumah yang dijadikan homestay dan dapat menampung 150 orang lebih. Tarif tiap kamar rata-rata Rp 35.000 - Rp 40.000/malam. Jika dengan makan, menjadi Rp 12.500/orang sekali makan. Menunya bisa pesan kepada pemilik rumah.


Misalnya di rumah Bu Sri, sebelah kanan Kantor Telkom, menu yang ditawarkan layaknya di restoran. Yakni ikan bakar/goreng, cumi-cumi, ayam saos tiram, kopi susu, es rumput laut, jus kelapa muda, bahkan ada rujak.
Juga disediakan halaman khusus yang diteduhi pohon mangga dan diberi ''lincak'' bambu untuk tempat duduk. Dilengkapi pula peralatan untuk membakar ikan, sehingga sangat cocok bagi rombongan yang ingin ramai-ramai membakar ikan sambil menikmati udara bebas Karimunjawa.
Suasana numpang tidur di rumah penduduk itu memang tidak sesantai atau sebebas di penginapan umum,karena kita menyatu dengan keluarga pemilik rumah.
Namun, pada umumnya keluarga pemilik rumah sudah membiasakan diri bergaul dengan berbagai pengunjung, sehingga suasananya serasa menginap di rumah saudara. Tamu yang ingin memasak sendiri, juga bisa. Bahkan, ada ''petugas'' yang menemani ngobrol atau sebagai pemandu para tamu.
Letak rumah untuk homestay memang strategis, di ibu kota kecamatan. Dekat pasar, toko-toko kelontong, kantor telepon, dan kantor kecamatan. Toko cendera mata juga ada. Toko ini pada umumnya menjual kaus atau barang-barang dari kayu stigi atau dewandaru (kayu khas Karimunjawa). Sarana telepon memang vital, karena di Karimunjawa tak ada sinyal, sehingga handphone (HP) tak berfungsi.
Dari rumah homestay ke dermaga rakyat, juga tidak jauh, hanya beberapa ratus meter. Di dermaga ini berjajar perahu motor yang berukuran kecil (4-6 penumpang) dan perahu besar (di atas 10 penumpang), sehingga memudahkan pengunjung yang ingin berpesiar laut.
Ada dua dermaga di Karimunjawa, yakni dermaga rakyat dan ASDP (angkutan sungai, danau, dan penyeberangan). Pengunjung yang menggunakan kapal motor cepat Kartini I atau Kapal Muria, turun di dermaga ASDP. Untuk menuju ke penginapan atau tujuan lain, bisa menggunakan angkutan umum, mobil, atau becak. Ongkos naik becak sekitar Rp 5.000, sedangkan mobil Rp 25.000/angkatan atau sekali jalan. Tersedia 14 becak dan 10 mobil.
Wisma Wisata
Di Kecamatan Karimunjawa yang membawahkan tiga kelurahan (Karimunjawa, Kemujan, dan Parang) tersebut, juga tersedia losmen dan wisma wisata yang dikelola Dinas Pariwisata Kabupaten Jepara. Di wisma ini tersedia enam kamar, dengan masing-masing dua tempat tidur. Empat kamar berfasilitas kipas angin, dengan tarif Rp 50.000/ kamar semalam. Dua kamar ber-AC Rp 90.000/kamar. Ongkos sekali makan Rp 12.500/orang.
''Kami juga menyediakan kapal motor berlantai tembus pandang, untuk menyaksikan terumbu karang. Setelah para pengunjung melihat keindahan terumbu karang, kami drop ke Pulau Menjangan Kecil untuk menikmati keindahan laut. Misalnya berenang di pantai, memancing, berjemur, menyelam, atau sekadar santai di pulau sambil menikmati kelapa muda. Biayanya per orang Rp 30.000, waktunya dari pukul 08.00 hingga 12.00,'' ungkap Muchlis, salah seorang petugas di wisma wisata.
Kampung Bugis
Kecamatan Karimunjawa dihuni beberapa etnis. Yakni etnis Jawa, Madura, Bugis (Sulawesi Selatan), Buton (Sumatera Selatan), dan Bajau dari Sulawesi Utara. Khusus perkampungan Bugis di Dusun Batulawang, Kelurahan Kumujan, mendapat banyak perhatian wisatawan. Jumlah mereka 300-400 orang, dan pekerjaan utama sebagai nelayan. Sebagian ada yang bertani kelapa, mete, dan cengkih. ''Di antara mereka ada juga yang kawin dengan penduduk asli,'' ungkap Ismarjoko, salah seorang pengusaha penginapan di Karimunjawa.
Pada umumnya para nelayan pendatang tersebut mempunyai ketangguhan di laut. Meskipun ombak besar, mereka tidak kesulitan menjual hasil tangkapannya ke Jepara. Biasanya mereka tidak menjual ikan di tempat pelelangan ikan (TPI), tetapi langsung ke pengepul.
Mereka juga dikenal andal menyelam, sehingga sangat cocok dengan kondisi perairan laut Karimunjawa. Sewaktu perburuan ikan lemak (mirip gurami atau ikan kakatua) masih marak karena nilai jualnya tinggi (Rp 100.000 - Rp 200.000/ kilogram), mereka mendominasi hasil tangkapan. Namun perburuan itu sekarang jarang, karena dilarang pemerintah. Cara penangkapan yang menggunakan bahan kimia seperti sianida (apotas), dapat merusak terumbu karang dan mengakibatkan ikan jenis lain mati.
Untuk menangkap ikan lemak, nelayan harus menyelam di bebatuan karang. Ikan yang terperangkap di bebatuan karang disemprot dengan bahan kimia. Setelah teler/keracunan, ikan ditangkap untuk dimasukkan ke tempat karantina yang airnya tidak tercemar. Setelah sehat kembali, barulah ikan laku dijual dengan harga tinggi. Jika mati, nilai jualnya tidak berbeda dari jenis ikan lainnya. Ikan lemak ini memang khusus untuk konsumsi ekspor.
Perburuan ikan hias dan tumbuhan laut seperti jamur mangkok untuk keperluan akuarium air laut, kini juga dilarang. Perburuan ini juga dianggap merusak lingkungan. Kalaupun sekarang di Jepara masih banyak jamur mangkok dan ikan hias seperti clownfish/ikan badut, itu karena memang ada beberapa nelayan yang nekat. Petugas dari perlindungan alam dan aparat kepolisian tidak bisa berbuat apa-apa, karena di Kecamatan Karimunjawa terdapat 27 pulau dengan luas perairan 104.592 hektare. Sehingga mungkin saja perburuan ikan hias atau tanaman laut di pantai pulau yang jauh dari Karimunjawa, dan langsung dijual ke penampung di Jepara. Bisa juga dikarantina di pantai salah satu pulau, dan setelah terkumpul baru dikirim ke pembeli.
Hambatan para pengusaha dalam mengembangkan penginapan di Karimunjawa, jelas Ismarjoko, adalah modal. Bunga pinjaman bank yang rata-rata tiga persen per bulan, cukup memberatkan. Karena itu, dia berharap pemerintah ikut membantu memecahkan dengan memberikan subsidi atau kredit lunak berbunga rendah.
''Di sini semua bahan bangunan serba mahal, karena harus didatangkan dari Jepara. Misalnya semen per sak (50 kg) yang di Jepara seharga Rp 29 ribu, di Karimunjawa Rp 37 ribu. Upah tenaga kerja juga tinggi antara Rp 30 ribu-Rp 45 ribu per hari. Untuk pengadaan sebuah kamar dan isinya di penginapan tengah laut, kami membutuhkan dana sekitar Rp 8 juta,'' ungkapnya.
3,5 Jam
Pengunjung dari Semarang yang ingin ke Karimunjawa, bisa menggunakan Kapal Motor Cepat Kartini I. Berangkat hari Sabtu dari Pelabuhan Tanjung Emas pukul 09.00, dengan harga tiket kelas eksekutif Rp 75 ribu dan bisnis Rp 65 ribu, belum termasuk tiket masuk pelabuhan. Yang membedakan kelas tersebut, untuk bisnis di dek I (dek bawah) tanpa jendela dan eksekutif di dek II (dek atas) ada jendela. Namun kedua dek penumpang tersebut sama-sama ber-AC. Sedang buritan digunakan untuk barang.
Jarak Semarang-Karimunjawa yang sekitar 110 kilometer ditempuh dalam waktu 3,5 jam, berangkat jam 09.00 dan tiba pukul 13.30. Pada musim angin timur seperti sekarang ini gelombang tidak begitu besar, sehingga kapal seharga Rp 15 miliar lebih dan berbobot 150 ton dengan kapasitas penumpang 168 orang tersebut, bisa melaju dengan tenang. Kapal tersebut dibeli secara patungan antara Pemprov Jateng dan Pemkab Jepara. Modal Pemprov Rp 14 miliar lebih dan Pemkab sekitar Rp 1 miliar.
Saat ini jadwal pelayaran Semarang-Karimunjawa seminggu sekali, yaitu hari Sabtu. Sedang Karimunjawa-Semarang hari Minggu pukul 14.00 dan tiba di Pelabubuhan Tanjung Emas jam 15.30. Sedang untuk Jepara-Karimunjawa berangkat hari Minggu jam 09.00 dan Senin pukul 10.00. Sedang Karimunjawa-Jepara, Sabtu jam 14.00 dan Selasa pukul 09.00. Jarak Jepara-Karimunjawa yang sekitar 90 kilometer ditempuh dalam waktu 2,5 jam.
Untuk Kapal Muria yang berkapasitas sekitar 300 penumpang hanya menempuh rute Jepara-Karimunjawa PP. Dari Jepara hari Rabu dan Sabtu pukul 09.00, sedang Karimunjawa-Jepara hari Senin dan Kamis pukul 09.00. Harga tiketnya untuk kelas ekonomi Rp 17 ribu dan VIP Rp 26.500, dengan waktu pelayaran enam jam. (Sri Mulyadi-Bersambung-78t)

Tidak ada komentar: