Jumat, Juli 23, 2004

Pesona Karimunjawa (1) Memancing Ikan dari Kamar Penginapan



MEMANCING: Seorang anak perempuan pengunjung penginapan tengah asyik memancing ikan dari teras kamar tidur.(10) - SM/Sri Mulyadi

Sejak Kapal Kartini 1 diluncurkan awal Maret 2004 lalu, kunjungan wisata ke Karimunjawa terus meningkat terutama pada hari Sabtu dan Minggu. Perjalanan Semarang-Karimunjawa yang berjarak sekitar 110 km hanya memerlukan waktu 3,5 jam. Pada umumnya wisatawan yang berkunjung karena terpesona kondisi bawah laut masih alami. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka Sri Mulyadi tentang kondisi Karimunjawa akhir-akhir ini dalam beberapa tulisan.
MEMANCING ikan laut dari kamar tidur kedengarannya memang belum lazim. Namun di Pulau Karimunjawa, Kabupaten Jepara, hal itu bisa dilakukan, dan kini dikembangkan menjadi pesona baru untuk menarik wisatawan ke pulau yang memiliki luas daratan 4 ribu ha dengan penduduk 8.642 jiwa tersebut.
Bahkan, memancing sambil tiduran di kasur sekalipun dapat dilakukan, karena kamar penginapan memang sengaja dibangun di atas perairan lepas, perbatasan antara perairan dangkal dan dalam.

Di depan kamar kedalamannya 3-4 meter, sedangkan sekitar empat meter dari kamar tidur kedalaman air mencapai 20 meter. Keindahan terumbu karang dan beraneka ikan hias juga terlihat jelas dari teras kamar karena airnya sangat jernih.



Konstruksinya dibikin semacam bagang (kerangka bambu yang ditancapkan di perairan laut berukuran sekitar 20m x 20m dan di tengahnya diberi jaring untuk menangkap ikan). Tiang pancang terbuat dari kayu besi (ulin) dan lantainya juga kayu. Sebagian bangunan berada di atas batu karang sehingga lebih kokoh dan tidak mengkhawatirkan sekalipun diterjang ombak.

Penginapan itu memang sengaja dibangun di lokasi yang aman. Bila musim angin timur, terlindung Pulau Karimunjawa. Namun pada musim angin barat atau sering disebut musim paceklik bagi nelayan karena ombak laut besar, lokasi itu terlindungi gugusan karang. Jadi meskipun ombak di tengah laut besar, sampai di lokasi penginapan sudah kecil dan tidak mengganggu.

Adapun bila angin datang dari arah selatan, sudah terhalang Pulau Menjangan.

Di Karimunjawa penginapan seperti itu ada dua tempat. Keduanya berada di dekat Pulau Menjangan Besar. Dari dermaga pusat kota Kecamatan Karimunjawa, untuk menuju ke lokasi menggunakan perahu motor cuma butuh waktu sekitar 5 menit. Dua tempat tersebut juga dilengkapi kolam ikan.

Tanggul kolam dari batu karang itu diberi pengaman jaring sehingga kedalamannya sesuai dengan air pasang-surut. Namun karena airnya jernih, semua isi kolam terlihat jelas. Penginapan yang dikelola Ismarjoko Budi Santosa itu kolamnya diisi berbagai macam ikan hias dan kura-kura. Di penginapan milik Ismarjoko (biasa dipanggil Joko) inilah pengunjung bisa memancing dari dalam atau teras kamar tidur karena kedalaman air di depan kamar hanya 4 meter dan ikannya banyak.

Kamar yang tersedia delapan buah, masing-masing untuk dua orang. Tiga buah dengan kamar mandi di dalam dengan tarif Rp 50.000/malam, dan lima buah lainnya kamar mandinya menjadi satu dengan tarif Rp 40.000/malam. Untuk sekali makan Rp 12.500 per orang dengan menu ikan laut, juga disediakan minuman ringan dan air panas untuk bikin kopi atau teh. Televisi atau radio juga ada, namun untuk komunikasi telepon harus ke wartel. Handphone (hp) tidak bisa digunakan karena tak ada sinyal.

Adapun di penginapan lain yang menurut informasi dikelola oleh Cuming dari Semarang, tersedia tujuh kamar dengan tarif dan fasilitas yang sama. Di kolam ikannya selain ada kura-kura, pengunjung bisa menyaksikan beberapa ikan hiu (di antaranya sepanjang kurang lebih satu meter), ikan kerapu yang beratnya sekitar 30 kg, dan ikan bluntak/buntel seberat dua kilogram lebih. Namun tempatnya lebih dekat daratan, sehingga kurang ideal untuk memancing.

Terumbu Karang

Dengan tersedianya penginapan seperti itu, bisa dibilang Karimunjawa merupakan ''surga'' bagi pecinta lautan. Bagi yang berhobi memancing jelas dijamin tak kecewa karena perairan di sekitar kepulauan yang ada di Karimunjawa dipenuhi terumbu karang, termasuk di sekitar penginapan.

Di sekitar penginapan yang kedalaman airnya 3-4 meter, ikan yang berukuran besar jumlahnya memang tak banyak. Namun pada malam hari banyak juga cumi-cumi. Sebab, faktor penerangan di penginapan itu hanya menggunakan listrik dari diesel. Pada malam hari biasanya ikan dan cumi-cumi akan mendekati tempat yang diterangi lampu, baik listrik maupun petromaks.

Jika mau agak ke tengah, terutama yang berkedalaman di atas 10 meter, ikan yang terpancing berukuran agak besar, beratnya antara 0,5 kg - 3 kg. ''Namanya juga memancing, kadang faktor keberuntungan yang berperan. Pernah juga ada tamu yang memancing di sekitar penginapan mendapat ikan jenis kakatua seberat sebelas kilogram. Namun di perairan dangkal pada umumnya ya cuma dapat ikan kecil,'' ungkap Ismarjoko.

Untuk menuju ke ''daerah ikan'' banyak tersedia kapal motor. Yang berukuran sedang kapasitasnya 4 atau 6 penumpang, sedangkan yang berukuran besar bisa 10 orang lebih. Namun tarifnya untuk ukuran Jawa Tengah tergolong agak mahal. Perahu motor sedang sekitar Rp 100.000 - Rp 150.000 per paket (4-5 jam), sedangkan yang besar Rp 200.000 per paket. Namun soal tarif itu masih bisa dikompromikan, bergantung pada sepi atau ramainya pengunjung yang memanfaatkan perahu. Untuk paket satu hari, pagi sampai sore, perahu besar bisa ditawar sampai Rp 300.000.

Sebagai perbandingan, sewa perahu berukuran besar di Pantai Kartini Jepara berkisar Rp 125.000 - Rp 150.000 per hari, biasanya berangkat pukul 05.00 dan kembali pada pukul 15.00 (10 jam). Di Semarang, dengan ukuran perahu dan waktu yang sama, tarifnya sekitar Rp 200.000 per hari.

Tentang peralatan pancing, toko-toko di ibu kota kecamatan (dekat dermaga) itu banyak yang menyediakan. Tetapi walesan (tangkai pancing) yang tersedia pada umumnya sangat sederhana karena warga setempat sudah terbiasa memancing tanpa walesan. Cukup menggunakan gulungan senar, pancing, dan bandul timbal. Umpannya menggunakan cumi atau ikan kecil yang dipotong-potong. Semua itu bisa dibeli dari beberapa penampung ikan, termasuk Joko (panggilan akrab Ismarjoko).

Umpan berupa udanga mati atau hidup termasuk langka, sebab di Karimunjawa jarang ada tambak udang. Sebab di samping kadar garam air lautnya terlalu tinggi, tanahnya juga berpasir sehingga tak cocok untuk tambak udang atau bandeng. Pembudidayaan udang atau bandeng memang cuma cocok dilakukan di tambak yang berair payau dan berlumpur.

Berkait dengan kondisi itu, untuk memancing ikan permukaan seperti jenis jolong memang sulit, kecuali disiasati dengan menggunakan umpan ikan kecil hidup. Adapun untuk ikan jenis tengiri atau barakuda, umpan menggunakan ikan sintetis dengan ditarik perahu/dikalar.

Pemancing dari luar daerah, biasanya membawa udang hidup (baik udang tenger maupun udang putih) dari Semarang atau Jepara dengan dimasukkan boks khusus, foam, dan ember dengan diberi airator (gelembung udara untuk menyuplai oksigen). Bisa juga dimasukkan plastik berisi air payau dan dimasuki oksigen.

27 Pulau

Di Kecamatan Karimunjawa terdapat 27 pulau, yakni Pulau Karimunjawa, Kemujan, Menjangan Besar, Menjangan Kecil, Cemara Besar, Cemara Kecil, Gleyang, Burung. Pulau Bengkoang, Parang, Nyamuk, Kembar, Katang, Krakal Besar, Krakal Kecil, Sintok, Mrican, Pulau Tengah, Pulau Pinggir, Cilik, Gundul, Seruni, Tambangan, Genting, Cendekian, Kumbang, dan Pulau Mencawakan (ada yang menyebut Menyawakan).

Di antara pulau-pulau itu, yang berpenghuni baru Pulau Karimunjawa, Kemujan, Menjangan, Parang, Nyamuk, Tambangan, Genting, dan Mencawakan. Antara Pulau Karimunjawa dan Kemujan, kini sudah terhubungkan dengan jembatan. Khusus Pulau Gundul, selama ini biasa digunakan untuk sasaran tembak dalam latihan militer. (Bersambung)

Tidak ada komentar: