Senin, Januari 15, 2007

Mencari dan Menulis Berita

Bagi kebanyakan orang akan merasakan lebih mudah mengenali suatu peristiwa/kejadian itu berita atau bukan, dibanding mendifinisikan apakah berita itu? Hal ini disebabkan karena banyaknya difinisi tentang berita itu sendiri.
Ada yang mengatakan: Orang digigit anjing bukan berita. Orang menggigit anjing baru namanya berita. Ada lagi yang mendifinisikan: Berita adalah sesuatu yang bermakna dan pantas disampaikan kepada masyarakat, sehingga memberi nilai tambah pada pembaca. Atau berita adalah laporan tertulis tentang suatu peristiwa/kejadian aktual yang menarik dan dipilih oleh redaksi suatu media massa untuk dipublikasikan/disiarkan.
Secara teknik jurnalistik berita adalah: Laporan peristiwa/kejadian yang mempunyai nilai berita, layak dimuat di media massa, dan bermanfaat bagi yang membaca.
Dari semua difinisi itu kalau dicermati intinya: Berita adalah sebuah laporan peristiwa/kejadian yang menarik, aktual, bermanfaat bagi pembacanya.


Sumber Berita
a. Kejadian/peristiwa
1. Kejadian yang dapat diduga
2. Kejadian yang tak dapat diduga
b. Laporan lisan/tertulis
c. isu, desas-desus, rumor, dsb
d. Bahan referensi tertulis
f. Informasi-informasi di internet, TV, radio, dsb
g. Program redaksi

2. Menarik
a. Luar biasa.
b. Akibat.
c. Mengandung unsur pertentangan
d. Human interest
e. Kedekatan suatu peristiwa dengan pembaca.

3. Aktual
a. Menjadi pembicaraan hangat di masyarakat
b. Dilaporkan segera ke redaksi sampai batas akhir (dead line)
c. Disiarkan kesempatan pertama
d. Paling pertama dibanding dengan media lain, atau setidaknya mampu
menyajikan ''sisi'' lain.
e. Mencakup semua segi kepentingan masyarakat
f. Memenuhi keinginan pembaca

4. Bermanfaat
a. Pembaca lebih tahu keadaan/terpenuhi keingintahuannya
b. Berguna bagi profesi atau kehidupannya
c. Merasa senang/terhibur
d. Terisi waktu luangnya dengan baik
e. Pikiran dan imajinasinya terangsang untuk hal-hal baru

5. Layak Muat
Untuk kategori layak muat disamping memenuhi point-point tersebut juga
harus mematuhi:
a. Rambu hukum
b. Rambu etik/sosial
c. Rambu bisnis

Menulis Berita

Sebelum menulis pada prinsipnya harus beranggapan: Menulis bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk orang lain. Jelas bagi dirinya, belum tentu jelas pula bagi orang lain. Dengan demikian, tulisan yang dihasilkan harus jelas bagi diri sendiri, dan juga untuk orang lain.
Kecuali itu berita harus ditulis dengan mengingat bahwa pembaca koran adalah orang yang sibuk, yang selalu ingin tahu banyak dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, juga tanpa harus bersusah payah. Sering Koran dibaca sambil tiduran. Untuk pembaca demikian itulah berita harus ditulis:
Sehubungan itu penulisan berita pada dasarnya bisa disajikan secara mendalam (dept news), dan straight news (berita langsung atau singkat). Untuk bahan muatan pers yang sifatnya sumir atau news value (nilai berita)-nya rendah, disarankan untuk disajikan dengan model straight news. Namun bahan muatan pers yang menarik, bisa disajikan secara mendalam.
Penulisannya bisa menerapkan berbagai model, misalnya piramida terbalik, atau materi yang penting didahulukan.
Di antara jurnalis mungkin menganggap model itu sangat sederhana. Namun piramida terbalik yang di dalamnya mencakup unsur 5 W + 1 H sebenarnya merupakan teori yang sangat mendasar dalam dunia jurnalistik.
Mungkin mereka beranggapan bahwa teori itu hanya cocok dibicarakan di kalangan pemula, orang-orang yang baru saja memasuki dunia jurnalistik. Padahal meskipun teori ini dianggap kuno, namun ternyata sampai sekarang masih tetap relevan.
Piramida Terbalik merupakan cara penulisan berita secara berjenjang menurut tingkat kandungan makna informasi. Alinea paling atas, yang biasa disebut lead, merupakan informasi yang paling penting, alinea-alinea berikutnya mengandung informasi yang kurang penting. Makin ke bawah, kandungan makna informasinya kurang penting.
Keterkaitannya, alinea dua terikat oleh lead, namun tak terikat alinea tiga. Alinea tiga terikat alinea dua, namun tak terikat oleh alinea empat, begitu seterusnya.
5 W + 1 H adalah what, who, where, when, why dan how. Suatu berita disebut berita kalau menjawab pertanyaan tentang apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana. Mudah dan sederhana memang, namun bukan tidak mungkin kita yang sudah bertahun-tahun berkecimpung dalam dunia jurnalistik, terpeleset dalam masalah yang kelihatannya mudah dan sederhana ini.
Untuk tulisan berita yang pendek, yang penting mencakup unsur 5 W + 1 H atau who (siapa yang terlibat dalam kegiatan/peristiwa itu), what (kejadian/peristiwanya apa), why (mengapa bisa terjadi atau diadakan kegiatan itu), when (peristiwanya kapan), where (dimana kejadiannya), dan how (bagaimana kejadian atau jalannya kegiatan).

Lead
Dalam penulisan lead (teras berita) atau intro/alinea pembukaan tulisan, bisa menerapkan model 5 W + 1 H lead.
Misalnya:
1. Untuk who lead bisa ditulis: Presiden SBY kemarin mengumumkan bahwa
harga BBM naik lima persen.
2. Harga BBM akan naik lima persen, kata Presiden kemarin, dst (what
lead).
3. Kemarin Presiden mengumumkan harga BBM akan naik lima persen, dst (when
lead).
4. Di Jakarta, Presiden kemarin mengumumkan harga BBM akan naik lima persen,
dst (where lead).
5. Untuk mengurangi beban Negara dalam mensubsidi kebutuhan BBM, harga BBM
akan dinaikkan lima persen, dst (why lead).
6. Setelah melalui pembicaraan yang panjang di antara pihak-pihak terkait,
harga BBM akan dinaikkan lima persen, dst (how lead).

Kecuali 5 W + 1 H lead, bisa juga diterapkan model lead yang lain, yaitu:
01. Quotation lead (lead kutipan). Misalnya: ''Saya kaget ada reklamasi di
Kali Ciliwung,'' kata Meneg LH Rahmat Witular. ''Masa sampai sungai pun diuruk
untuk tempat tinggal.''
02. Quotation & who lead. Contoh: Wali Kota Semarang, Sukawi Sutarip
mengatakan pihaknya siap menghadapi gugatan warga Manyaran. ''Silakan
mereka menuntut melalui pengadilan.''
03. Direct address (langsung pada pembaca). Misal: Bayangkan tentang sebuah
hotel yang di dalamnya terdapat kamar-kamar ber-AC dan biasa digunakan
untuk para pasangan selingkuh untuk berasyik-masyuk. Suatu situasi yang
mampu melenakan iman seseorang untuk berbuat amoral.
04. Analogi. Contoh: Pucuk dicinta ulam tiba, begitu bunyi pepatah. Hal itu
agaknya berlaku pula bagi pasangan Rukiah dan Parmanto. Contoh lain: Bagi
pecinta majalah Tempo, berita kemenangannya di PTUN kemarin bak setetes
embun di padang gersang.
05. Contrast lead. Misalnya: Jakarta, yang dulu menjadi tumpuan untuk meraih
sukses bagi setiap orang, kini mulai dihindari pendatang. Contoh lain:
Klaten yang dikenal lumbung padinya Jawa Tengah, kini warganya banyak yang
kelaparan.
06. Narrative lead. Contoh: Puskesmas Semarang Tengah tak seperti biasa.
Sekitar seribu warga setempat menyerbu Puskesmas itu. Apa gerangan yang
terjadi? Ternyata kerumunan dan hiruk pikuk yang ditingkah tangis bayi itu
adalah acara lomba bayi sehat.
07. Dialog lead. Misalnya: ''Tubuh saya nggak diukur-ukur,'' kata Alya Rohali.
Wartawan terus mendesak: ''Tapi bagaimana cara Anda melepas bikini?''
08. Question lead. Contoh: Apa mungkin adik saya Tommy menyimpan senjata api
dan dalang pembunuh hakim agung Safrudin Kartasasmita yang sesungguhnya?
Pertanyaan itu meluncur dari Tutut, kakak kandung Tommy Soeharto, sambil
menangis.
09. Flash Back. Misalnya: Sepuluh tahun lalu jalan itu masih rusak total. Kini
ratusan bus, truk dan angkutan darat lain melaju dengan lancarnya.
10. Cumulative lead. Misalnya: Guruh mengatakan kepada wartawan: ''Saya siap
dikenai sanksi bila kedatangan saya ke DPR, melanggar ketentuan partai''.
Sementara Megawati sambil memasuki mobil mengatakan bahwa dia belum tahu
soal rencana itu. Sedangkan Ketua DPR Akbar Tanjung mengatakan: Itu
sepenuhnya tergantung DPP PDIP.
11. Delayed Lead (lead yang tertunda). Misalnya: Siang terik di Jl Kaligawe.
Seperti biasa, kemacetan adalah teman akrab kawasan ini. Di tengah lalu
lintas berjalan menyemut, mendadak terdengar suara berderak dari arah
palang kereta.

Sistematika dan bahasa
Menulis berita pun memerlukan perhatian mengenai sistematika, bahasa, dan penyajian.
A. Sistematika yang dimaksud adalah:
a. pengungkapan peristiwa secara runtut
b Disusun sesuai urutan pentingnya bagian berita (piramida terbalik)
c. Pemilihan data dan permasalah tepat
d. Bernada menjanjikan, merangsang untuk mengetahui kelanjutannya
e. Penyajian seimbang antara quoting (kutipan ucapan), deskripsi (penggambaran peristiwa), eksposisi (penulisan data), dan argumentasi (alasan-alasan kuat untuk meyakinkan pembaca)

B. Bahasa:
a. Mudah dipahami/lugas, membantu pembaca untuk ''langsung jelas''
b. Singkat, padat, jelas. Alinea jangan terlalu panjang, kalimat tidak
terlalu panjang sehingga ''memberi kesempatan pembaca untuk bernafas''
c. Menggunakan bahasa baku
d. Pemilihan ungkapan tepat
e. Tata bahasa benar
f. Penggunaan bahasa asing atau daerah benar/akurat

C. Penyajian
a. Memberi informasi secara rinci
b. Melukiskan situasi peristiwa
c. Referensi dan data lengkap
d. Menyajikan pula keterkaitannya dengan masalah lain yang relevan
e. Sudut penulisan tepat
f. Kesinambungan tersaji dengan baik
g. ''Stamina'' konsistensi selalu terjaga.

Inventarisasi Data

Dalam hal mempermudah penulisan berita, pada umumnya jurnalis melakukan inventarisasi data. Hal ini disamping untuk memudahkan penulisan, juga dimaksudkan memudahkan si penulis mengingat data-data yang telah diperolehnya, paling tidak garis besarnya. Padahal data itulah yang merupakan bahan pokok pembuatan sebuah berita.
Contoh inventarisasi data:

- Aparat gabungan Poltabes Semarang gerebek pasangan selingkuh
- Jumat 12 Oktober 2006
- siang hari pukul 11.30
- 15 pasang pria-wanita
- ngamar di Hotel Permata Hijau, Jl Wahidin 64-66.
- dibawa ke Mapoltabes untuk dimintai keterangan.
- diperiksa selama tiga jam lebih,
- petang harinya mereka dilepas
- mereka sedang asyik berduaan dengan pasangannya di 15 kamar terpisah.
- Petugas tak mendapati mereka berbuat mesum
- diduga di kamar melakukan hubungan intim
- di antara mereka tak mengenakan pakaian lengkap
- 7 di antaranya pegawai negeri sipil (PNS)
- pasangan y (42) dan Ny h (43) sesama PNS Pemprov Jateng.
- b (38) dan r (36), serta p (63) dan Ny s (47) PNS Pemkot Semarang.
- Lainnya, a (42) PNS Dolog berduaan dengan w (30), pegawai swasta.
- Ada pula pasangan PNS Pemkab Pati, w (43) dan Ny t (38).
- masuk hotel dengan pakaian olahraga
- pasangan lain mengaku pegawai swasta.
- Kapoltabes AKBP Drs Noer Ali: penggerebekan sengaja dilakukan hari Jumat
siang. Sebab, saat itu banyak pasangan yang memanfaatkan jam kosong setelah
olahraga untuk saling bertemu.
- Langkah tersebut dilaksanakan untuk mengantisipasi berbagai tindak kriminal
yang dilakukan di hotel, losmen, atau tempat hiburan di Semarang. Sebab,
kejahatan di hotel sulit terdeteksi misalnya transaksi narkoba.
- kegiatan itu dilaksanakan untuk kepentingan semua pihak.

Dari inventarisasi tersebut kita bisa memilih tema sentral dalam penulisan berita. Namun seandainya data yang terinventarisasi tersebut dirangkai begitu saja sebenarnya juga sudah merupakan sebuah berita.
Teknik Wawancara
Apakah yang dinamakan wawancara itu?
Wawancara adalah tanya-jawab dengan seseorang untuk mendapatkan keterangan atau pendapatnya tentang suatu hal atau masalah. Wawancara sering dihubungkan dengan pekerjaan jurnalistik untuk keperluan penulisan berita yang disiarkan dalam media masa. Namun wawancara juga dapat dilakukan oleh pihak lain untuk keperluan, misalnya penelitian atau penerimaan pegawai.
Di bidang jurnalistik orang yang mewawancarai dinamakan pewawancara (jurnalis/wartawan/koresponden/reporter), sedang orang yang diwawancarai dinamakan sumber berita.
Tujuan seorang reporter melakukan wawancara adalah mengumpulkan informasi yang lengkap, akurat, dan adil (fair). Seorang pewawancara yang baik mencari sebuah pengungkapan atau wawasan, pikiran atau sudut pandang yang menarik, yang cukup bernilai untuk diketahui. Jadi bukan sesuatu yang sudah secara umum didengar atau diketahui.
Perbedaan penting antara wawancara dengan percakapan biasa adalah wawancara bertujuan pasti: Menggali permasalahan yang ingin diketahui untuk disampaikan kepada khalayak pembaca (media cetak), pendengar (radio), atau pemirsa (televisi). Namun berbeda dengan penyidik perkara atau interogator, wartawan tidak memaksa tetapi membujuk orang agar bersedia memberikan keterangan yang diperlukan.
Dalam proses wawancara, wartawan bersangkutan benar-benar harus meredam egonya, dan pada saat yang sama harus melakukan pengendalian tersembunyi. Ini adalah sesuatu yang sulit. Pernah dalam suatu acara talk-show di televisi, si pewawancara malah bicara lebih banyak dan seolah-olah ingin kelihatan lebih pintar daripada orang yang diwawancarai. Ini contoh yang menunjukkan si pewawancara gagal meredam egonya dan dengan demikian memperkecil peluang bagi orang yang diwawancarai untuk mengungkapkan lebih banyak.
Dalam proses wawancara, wartawan memantau semua yang diucapkan oleh dan bahasa tubuh dari orang yang diwawancarai, sambil berusaha menciptakan suasana santai dan tidak mengancam, yakni suasana yang kondusif bagi berlangsungnya wawancara.
Dalam prakteknya, berbagai pikiran muncul di benak si penanya ketika wawancara sedang berlangsung. Seperti: Apa yang harus saya tanyakan lagi? Bagaimana nada bicara orang yang diwawancarai ini? Dari gerak tubuh dan nada suaranya, apakah terlihat ia bicara jujur atau mencoba menyembunyikan, dsb.
Seorang pewawancara secara sekaligus melakukan berbagai hal:
a. Mendengarkan
b Mengamati
c. Menyelidiki
d. Menanggapi
e. Mencatat.
Kadang-kadang seperti seorang penginterogasi, kadang-kadang secara tajam menyerang dengan menunjukkan kesalahan-kesalahan orang yang diwawancarai. Kadang-kadang mengklarifikasi, tapi di lain sisi seperti pasif atau menjadi pendengar yang baik.
Sukses atau tidaknya suatu wawancara tergantung pada kemampuan melakukan kombinasi berbagai keterampilan itu secara pas, sesuai dengan tuntutan situasi dan orang yang diwawancarai.
Sifat wawancara bermacam-macam, tergantung dari informasi apa yang diinginkan si wartawan, dan bagaimana situasi serta kondisi yang dihadapi orang yang diwawancarai. Sifat wawancara bisa sangat bervariasi, dari yang biasa-biasa saja sampai yang antagonistik. Dari yang mempertunjukkan luapan perasaan sampai yang bersifat defensif dan menutup diri.
Jika seorang wartawan mewawancarai seorang pejabat pemerintah tentang keberhasilan salah satu programnya, tentu si wartawan akan mendapat tanggapan yang baik dan panjang-lebar. Namun jika si wartawan mencoba mengungkap praktek korupsi yang diduga dilakukan oleh pejabat bersangkutan, tentu si pejabat akan bersifat defensif bahkan tertutup.
Wartawan yang baik harus mengerti bagaimana cara ''memegang'' orang yang diwawancarai dan menangani situasi. Wartawan harus bisa merasakan apa yang harus dilakukan pada momen tertentu ketika berlangsung wawancara. Kapan ia harus bersikap lembut, kapan harus ngotot atau bersikap keras, kapan harus mendengarkan tanpa komentar, dan kapan harus memancing dengan pertanyaan-pertanyaan tajam.

Tujuan Spesifik Wawancara
Tujuan wartawan melakukan wawancara adalah untuk memperoleh informasi. Namun informasi macam apa yang ingin digali, bisa dirinci sebagai berikut:
1. Untuk memperoleh fakta. Guna memperoleh fakta yang penting dari suatu wawancara, reporter harus menemukan sumber yang kredibel atau bisa dipercaya, dengan informasi akurat. Wartawan bisa saja mewawancarai orang yang kebetulan ditemui di jalan untuk dimintai pendapatnya tentang kondisi krisis ekonomi Indonesia. Ucapan orang itu mungkin bagus untuk dikutip, namun tidak memiliki kredibilitas. Seorang ekonom jelas lebih kredibel diwawancarai tentang kondisi ekonomi, walaupun ekonom sering bicara dengan jargon-jargon disiplin ilmunya yang harus diterjemahkan ke bahasa yang mudah dimengerti.
2. Untuk mencari kutipan. Begitu wartawan sudah menyelesaikan riset faktual untuk tulisannya, wartawan itu perlu menambahkan sesuatu agar tulisannya lebih menarik. Misalnya, wartawan itu sudah mengumpulkan data statistik tentang penyaluran kredit dari bank pemerintah untuk iuran kredit dari bank pemerintah untuk pedagang kaki lima. Kemudian, wartawan itu mewawancarai seorang pedagang kaki lima dan karyawan bank yang mengurus perkreditan. Tulsian itu sebenarnya secara statistik sudah akurat tanpa tambahan wawancara. Namun pembaca dapat lebih menghayati makna statistik itu dengan membaca kutipan wawancara mereka yang terlibat atau menjadi penerima penyaluran kredit tersebut.
3. Untuk mengumpulkan anekdot. Penutupan cerita anekdot dapat memberi tambahan warna dan wawasan pada tulisan.
4. Untuk memberi karakter pada situasi. Wartawan dapat menggunakan reaksi seseorang di lokasi peliputan untuk memberi karakter pada situasi. Misalnya, dalam meliput korban gempa bumi, wartawan menemukan seorang perempuan tua berdiri di depan reruntuhan bangunan, yang dulu pernah menjadi rumahnya. ''Lima puluh tahun kehidupan saya hancur dalam waktu kurang dari satu menit, ketika seluruh atap dan bagian bangunan lantai,'' ujar perempuan itu. Dengan mengutip ucapan itu, wartawan tersebut dapat memberi karakter pada peristiwa gempa bumi, dengan cara khas yang akan diingat oleh pembaca.
5. Untuk mengkonfirmasi apa yang sudah diketahui. Kadang-kadang wartawan membutuhkan seseorang untuk membenarkan atau membantah sebuah tuduhan atau sejumlah informasi, yang sudah dikonfirmasi biasanya berarti wartawan sudah tahu jawabannya sebelum mengajukan pertanyaan, dan wartawan itu siap mengkonfrontasikan apa pun jawaban pemberi wawancara dengan informasi yang sudah diketahui wartawan bersangkutan.
6. Untuk menunjukkan bahwa wartawan berada di tempat kejadian. Reporter kadang-kadang dimunculkan dalam tulisan, hanya untuk menunjukkan bahwa surat kabar atau stasiun televisi bersangkutan meliput berita dengan reporternya sendiri. Untuk maksud itu, yang diperlukan hanyalah satu-dua kutipan singkat dari pemberi wawancara, sekadar untuk menunjukkan bahwa reporter berada di sana dan memberi tambahan warna pada berita. Berita tentang bencana alam dan konferensi pers termasuk dalam kategori ini. Pembunuhan terhadap sejumlah anak ke Kantor berita biasanya akan menyiarkan berita tentang bencana alam atau hasil konferensi pers, namun setiap media tetap mengirim reporternya sendiri untuk memperoleh angle (sudut pandang penulisan) yang berbeda.

Figur untuk Diwawancarai
Orang menjadi bagian dari berita, dan perlu diwawancarai, karena beberapa alasan. Alasan itu antara lain:
1. Pekerjaan mereka penting. Pejabat negara, direktur utama perusahaan swasta, komandan militer, pemimpin organisasi massa, pemimpin organisasi profesi, bahkan tokoh kejahatan terorganisasi semacam mafia atau yakuza, diakui karean posisi yang mereka miliki. Jabatan pekerjaan mereka menjadikannya juru bicara bagi profesinya dan untuk isu-isu yang mempengaruhi kepentingan mereka.
2. Mereka mencapai prestasi yang penting. Kalangan selebritis, seniman, bintang film, pemusik, dan atlet profesional menjadi terkenal karena prestasi yang telah mereka ukir di bidang masing-masing. Masyarakat menikmati karya mereka, serta membayar dan menghargai mereka untuk apa yang sudah mereka lakukan.
3. Mereka dituduh melakukan kejahatan yang penting. Seorang gelandangan yang mengaku melakukan praktek sodomi dan dua ambruk sampai rata dengan tanah,'' cil mendapat perhatian publik, bukan karena profesi atau jabatannya, tetapi karena perbuatannya yang mengerikan. Hal serupa berlaku untuk seorang perampok yang membunuh satu keluarga dalam suatu aksi perampokannya.
4. Mereka mengetahui sesuatu atau seseorang yang penting. Seorang sekretaris, yang kebetulan menyimpan memo -- yang kemudian menjadi bukti penting dalam suatu kasus korupsi yang menjebloskan seorang gubernur ke penjara -- untuk waktu tertentu menjadi berita. Sekretaris Presiden Bill Clinton pernah jadi sumber berita, karena dianggap menjadi saksi kunci yang mengetahui perselingkuhan Clinton dengan seorang gadis pekerja magang di Gedung Putih yang menghebohkan itu. Teman-teman seorang bintang film atau teman lama seorang presiden sering menajdi sumber berita karena kedekatan pertemanannya dengan bintang film atau presiden tersebut.
5. Mereka menyaksikan sesuatu yang penting terjadi. Saksi-saksi suatu peristiwa kejahatan atau peristiwa publik yang penting dapat memberikan informasi tentang kesaksiannya itu, sehingga wartawan dapat menjelaskan suatu peristiwa secara rinci.
6. Sesuatu yang penting telah menimpa mereka. Korban perampokan dan pencurian, korban yang selamt dari sebuah pesawat yang jatuh, atau orang yang tiba-tiba memenangkan lotere berhadiah besar, akan menarik dijadikan berita karena tragedi atau kegembiraan mendadak yang muncul dari peristiwa tersebut. Orang yang memperoleh penghargaan -- seperti Tokoh Pejuang Lingkungan atau Tokoh Pembela Hak Asasi Manusia Tahun 2000 -- layak menjadi berita karena alasan yang sama.
7. Mereka mewakili sebuah kecenderungan nasional yang penting. Penumpang ynag terperangkap d bandar udara karena ada pemogokan massal oleh karyawan bandar udara, pasangan muda yang tak mampu membeli rumah tapi sudah terlanjur punya anak, mahasiswa yang kesulitan membayar biaya kuliah di tengah krisis ekonomi -- masing-masing orang ini mewakili suatu perubahan sosial dalam komunitas sosial.
Wartawan mungkin ingin mewawancarai mereka karean salah satu atau beberapa alasan sekaligus. Mungkin saja kategori-kategori ini tumpang-tindih. Ketika di mobil artis Desy Ratnasari oleh polisi ditemukan obat terlarang, misalnya, setidaknya dua kategori sudah terpenuhi: Desy sebagai figur selebritis yang sudah mencapai prestasi tertentu di bidang keahliannya, dan tuduhan keterlibatannya dalam kejahatan narkotika. Dengan makin banyaknya kategori yang tercakup, makin banyak informasi dan warna yang bisa dituliskan.

Tulisan yang Mengandalkan Wawancara
Wawancara adalah kunci bagi jurnalis untuk menggali informasi. Tulisan yang informatif dan menghibur berasal dari wawancara-wawancara yang diselenggarakan dan diorganisasikan dengan baik. Ada empat macam tulisan yang mengandalkan hasil wawancara.
News Story. Umumnya, setiap news story melaporkan berdasarkan standar 5 W (apa, siapa, mengapa, kapan, di mana) dan kadang-kadang ditambah 1 H (bagaimana suatu peristiwa terjadi).
News Feature. Sebuah news feature sering secara seksama mengulas aspek ''bagaimana'' dan ''mengapa'' dari sebuah news story, atau memberikan rincian latar belakang tentang ''siapa'' dan ''apa.'' Sebuah news feature bisa dimuat berdampingan dengan sebuah news story untuk menjelaskan beberapa aspek dari peristiwa yang diberitakan, atau sebuah news feature juga bisa menjadi tulisan susulan dari sebuah news story.
Profil. Tujuan tulisan profil adalah memfokuskan pada satu orang. Jika figur yang mau diprofilkan sudah cukup dikenal pembaca, maka tulisan ini harus menyajikan suatu aspek/unsur yang baru dari figur tersebut bagi para pembaca. Jika figur tersebut belum dikenal sama sekali oleh pembaca, wartawan harus secara utuh menggambarkan karakter figur tersebut. Kadang-kadang apa yang diperbuat oleh figur tersebut lebih penting dari yang ia katakan.
Tulisan Investigatif. Sebuah tulisan investigatif menjawab aspek ''bagaimana'' dan ''mengapa'' secara jauh lebih mendalam ketimbang sebuah news story menjawab ''apa.'' Tulisan investigatif bisa tercipta karena ada wartawan yang bersedia meluangkan waktu dan tenaga, untuk menyelidiki sesuatu di balik apa yagn biasanya sudah diketahui mengenai peristiwa tertentu.
Round-Up. Tulisan yang bergaya simposium ini memberikan perspektif kepada pembaca tentang suatu isu yang sedang hangat, dengan cara mengumpulkan pendapat dari sejumlah orang. Seorang wartawan dapat melaporkan sebuah round-up opini atau komentar tentang sebuah isu tertentu.

Tahapan Wawancara/Persiapan
Banyak orang sering meremehkan tahapan awal ini, padahal tanpa persiapan yang baik wawancara tidak akan menghasilkan sesuai harapan. Persiapan teknis, seperti tape recorder untuk merekam wawancara, notes, kamera, dan sebagainya. Wartawan umumnya menggunakan catatan tertulis (notes) dan tidak boleh terlalu tergantung pada alat elektronik. Tapi alat elektronik seperti tape recorder cukup penting untuk mengecek ulang, apabila ada yang terlupa atau ada informasi yang meragukan, sehingga dikhawatirkan bisa salah kutip.
Di Indonesia, banyak kasus di mana pejabat pemerintah mengingkari lagi pernyataan yang diberikan kepada wartawan, sesudah pernyataan yang dimuat media massa itu menimbulkan reaksi keras di masyarakat. Wartawan disalahkan dan dituding ''salah kutip,'' bahkan diancam akan diperkarakan di pengadilan. Untuk menghindari risiko ini, banyak gunanya jika wawancara direkam, dan setiap saat dibutuhkan bisa diputar kembali.
Rekaman elektronik memang belum bisa menjadi alat bukti di pengadilan, namun bisa menjadi indikator tentang siapa yang benar dalam kontroversi tuduhan ''wartawan salah kutip'' tadi.
Selain persiapan teknis, yang harus diingat pertama kali dalam liputan investigasi adalah kita tidak memulai wawancara tentang suatu masalah dari nol.
Sebelum mengatur waktu dan tempat pertemuan dengan narasumber untuk wawancara, wartawan sendiri harus jelas tentang beberapa hal. Misalnya, persoalan apa yang mau ditanyakan? Apakah persoalan itu menyangkut korupsi yang diduga dilakukan seorang pejabat pemerintah, atau tentang pencemaran lingkungan yang diduga dilakukan sebuah perusahaan pertambangan? Apa pun persoalannya, si wartawan harus memiliki pemahaman dasar tentang permasalahan tersebut. Bila pemberi wawancara melihat wartawan itu tidak menguasai permasalahan, ia mungkin enggan memberi informasi lebih lanjut.
Setelah wartawan yakin telah menguasai permasalahan, langkah berikutnya adalah menentukan siapa sumber yang akan diwawancarai. Orang dapat bermanfaat sebagai pemberi wawancara karena sejumlah alasan. Untuk proyek peliputan yang panjang, faktor-faktor ini menjadi penting:
1. Kemudahan diakses (accessibility). Apakah wartawan dengan mudah dapat mewawancarai orang ini? Jika tidak mudah dihubungi, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bisa menghubungi? Apakah wawancara harus dilakukan lewat telepon atau tertulis, ketimbang bertemu muka langsung? Jika narasumber ini bersifat vital bagi peliputan, wartawan harus realistis tentang prospek wawancara ini.
2. Reliabilitas (reliability). Apakah orang ini bisa dipercaya sebelumnya? Apakah informasi yang diberikan bisa dibuktikan benar oleh sumber-sumber independen lain? Apakah narasumber ini pakar yang betul-betul mengetahui permasalahan? Apa latar belakang kepentingannya sehingga ia bersedia diwawancarai? Wartawan harus hati-hati, karena ia akan terlihat bodoh jika melaporkan isu atau desas-desus yang belum jelas kebenarannya.
3. Akuntabilitas (accountability). Apakah orang ini secara langsung bertanggung jawab atas informasi yang diinginkan wartawan atau atas tindakan-tindakan yang sedang diinvestigasi? Apakah ada sumber lain yang lebih punya otoritas tanggung jawab langsung ketimbang orang ini? Berapa orang sebenarnya yang diwakili oleh seseorang yang menyebut diri sebagai juru bicara?
4. Dapat tidaknya dikutip (quotability). Mewawancara seorang pakar yang fasih dan punya informasi lengkap mungkin dapat mengembangkan tulisan, seperti seorang pejabat publik yang blak-blakan dan suka membuat pernyataan-pernyataan kontroversial. Para tokoh masyarakat atau selebritis biasanya sudah tahu, ucapan macam apa yang suka dikutip wartawan. Sedangkan orang awam biasanya tidak ahli dalam ''merekayasa'' komentar yang bagus buat dikutip wartawan.
Kadang-kadang, orang yang mau diwawancarai wartawan memang mengetahui informasi dan pernyataannya bagus untuk dikutip, namun ia sedang ke luar kota dan sulit dihubungi. Sebaliknya, ada juga sumber yang mudah dihubungi, tetapi ia mungkin tidak begitu menguasai permasalahan yang mau ditanyakan. Pemberi wawancara yang ideal adalah yang memenuhi semua faktor ini.

Mengatur Waktu dan Tempat Wawancara
Sesudah jelas materi yang mau ditanyakan dan orang yang akan diwawancarai, ditentukanlah waktu dan tempat untuk wawancara. Wawancara bisa dilakukan di rumah atau kantor narasumber. Jika di rumah, suasanya akan lebih santai dan informasi. Jika di kantor, suasananya akan lebih formal.
Namun seringkali, rumah ataupun kantor bukanlah tempat yang pas untuk wawancara investigasi. Jika narasumber akan memberikan informasi yang sifatnya rahasia, maka kemungkinan besar ia tidak ingin diketahui oleh publik atau atasannya telah menyampaikan informasi tersebut kepada pers. Hal itu karena bisa berisiko pada keselamatan dirinya, keluarganya, jabatannya, atau karier politiknya. Maka harus diatur pertemuan di tempat dan waktu tertentu secara khusus.
Pengaturan waktu dan tempat di atas berlangsung dalam kondisi ''normal,'' artinya narasumber memang sudah bersedia diwawancarai. Namun ada kalanya narasumber sengaja menghindar, mungkin karena merasa terancam keselamatannya atau ia sendiri mungkin terlibat dalam permasalahan. Dalam kondisi demikian, wartawan yang harus aktif melacak lokasi keberadaan nara-sumber, mengejar, mencegat narasumber tersebut untuk diwawancarai.
Wartawan jangan mudah patah semangat dan jangan mundur menghadapi penolakan, perlakuan tidak ramah, atau sikap dingin dari sumber berita. Perlakuan semacam ini kadang-kadang diberikan oleh seorang pejabat pemerintah kepada wartawan baru.
SM Ali, mantan Redaktur Pelaksana Bangkok Post yang berasal dari Banglades menyatakan, berdasarkan pengalamannya mewawancarai sejumlah pejabat dan pemimpin nasional di Asia, selalu ada kesempatan pertemuan lain. Banyak pejabat yang pada pertemuan pertama sama sekali tidak komunikatif, tetapi mereka kemudian luar biasa ramahnya pada pertemuan-pertemuan berikutnya.

Narasumber yang Enggan Diwawancarai
Namun ada juga narasumber yang memang betul-betul tidak ingin diwawancarai, walaupun mereka tidak terang-terangan mengatakan ''tidak.'' Yang mereka lakukan adalah menghindar dengan cara tidak menjawab telepon, atau meminta sekretarisnya untuk mengatakan ''Bapak sedang ke luar kantor,'' jika ada permintaan wawancara dari wartawan. Sehingga wartawan merasa dipermainkan atau diremehkan.
Jika wartawan menghadapi narasumber yang enggan diwawancarai, padahal sumber itu sangat vital bagi peliputan yang sedang dilakukan, wartawan tersebut punya tiga pilihan. Pertama, menuliskan hasil liputan tanpa wawancara itu. Kedua, menuliskan hasil liputan dengan tambahan keterangan bahwa setelah berusaha dihubungi berulang kali, narasumber tetap tidak menjawab panggilan telepon, pesan fax, e-mail, atau surat permintaan wawancara. Ketiga, meyakinkan narasumber untuk bersedia diwawancarai.
Orang yang tak mau diwawancarai mungkin menolak wawancara karena beberapa alasan seperti
1. Waktu. Calon pemberi wawancara yang mengatakan: ''Saya tak punya waktu untuk wawancara'' sebenarnya ingin memanfaatkan waktunya untuk mengerjakan sesuatu yang lain ketimbang diwawancarai oleh wartawan. Mereka memperkirakan alangkah lama waktu yang dihabiskan untuk wawancara, dan menghitung manfaat wawancara itu dibandingkan dengan jika waktunya dipakai untuk kepentingan lain.
2. Rasa bersalah. Orang mungkin tak mau diwawancarai karena takut kelepasan bicara, atau mengatakan sesuatu yang sebenarnya tak ingin mereka ungkapkan.
3. Kecemasan. Seorang pemalu mungkin takut pada pengalaman diwawancarai. Ketakutan pada sesuatu yang belum dikenal membuat mereka cenderung menolak risiko pengalaman baru diwawancarai.
4. Perlindungan. Orang mungkin menolak diwawancarai karena ingin melindungi keluarga, teman, atau orang lain yang dicintai, atau orang lain yang diketahui melakukan perbuatan salah. Calon pemberi wawancara mungkin juga takut dikaitkan dengan pernyataan atau komentar yang bisa mempermalukan atau mengecam pihak lain.
5. Ketidaktahuan. Calon pemberi wawancara bisa jadi menolak wawancara, karena dia tidak tahu apa-apa atau hanya tahu sedikit sekali tentang masalah yang dijadikan fokus wawancara.
6. Mempermalukan. Orang mungkin menolak wawancara karena masalah yang mau dipertanyakan itu membuat dirinya merasa malu, risih, atau dianggap terlalu intim dan pribadi sifatnya.
7. Tragedi. Orang yang baru mengalami musibah berat mungkin tidak ingin mengungkapkan masalahnya kepada umum. Padahal wartawan dengan tulisannya akan mengubah masalah yang bersifat pribadi itu menjadi konsumsi publik.

Pelaksanaan Wawancara
Pertama yang harus dilakukan oleh wartawan adalah memberi rasa aman kepada narasumber, agar ia merasa santai, tenang dan mau terbuka memberi informasi. Wartawan harus memberi keyakinan kepada narasumber bahwa wartawan dan medianya bisa dipercaya, dan mampu menyimpan rahasia (terutama jika narasumber tak ingin identitasnya dimuat di media massa).
Kepercayaan dari pemberi wawancara ini sangat penting. Kalau pewawancara tidak memperoleh kepercayaan dari sumber berita, maka informasi yang ia peroleh tidak akan lebih dari keterangan rutin, ulangan beberapa fakta yang sudah seirng dimuat, pernyataan normatif yang sudah tidak perlu diperdebatkan, atau jawaban yang sifatnya mengelak belaka.
Sesudah penciptaan suasana kondusif itu, dimulailah wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan pembuka. Pertanyaan pembuka ini sifatnya masih memberi rasa aman dan kepercayaan pada narasuber. Pertanyaan inti dan tajam, yang berisiko merusak suasana wawancara, harus disimpan dan baru dilontarkan pada momen yang tepat. Dari tanya-jawab awal, wartawan sudah bisa meraba bagaimana kondisi mental dan emosional narasumber, sehingga wartawan bisa memilih momen yang tepat untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kunci tersebut.
Pewawancara mengikuti arah pertanyaannya sampai yakin tidak ada yang dapat digali lagi. Selama wawancara, pertanyaan sebaiknya disusun dalam kalimat-kalimat yang pendek dan cermat. Hindarkan pertanyaan yang tidak langsung berhubungan dengan masalah yang ingin diinvestigasikan, dan jangan bertele-tele.
Untuk meluaskan komentar dan pernyataan dari orang yang diwawancarai, wartawan dapat mengajukan pertanyaan terbuka (open-ended). Sedangkan untuk memperoleh informasi yang spesifik dan rinci tentang sesuatu hal, harus diajukan pertanyaan tertutup (closed-ended).
Pertanyaan terbuka -- biasanya pertanyaan ''bagaimana'' dan ''mengapa'' -- memungkinkan pemberi wawancara berspekulasi, untuk menawarkan opini, pengamatan atau deskripsi. Pewawancara yang mengajukan pertanyaan terbuka berarti menawarkan peluang bagi komentar dan arah dari pemberi wawancara. Pertanyaan terbuka ini, misalnya, ''Bagaimana pandangan Anda tentang tuduhan bahwa pabrik Anda mencemarkan lingkungan?'' atau ''Mengapa Anda begitu yakin bahwa pabrik Anda tidak mencemarkan lingkungan?''
Pertanyaan terbuka mengundang tanggapan yang lebih lengkap dari pemberi wawancara, yang bisa memilih seberapa panjang dan bagaimana isi jawabannya. Pertanyaan terbuka ini mengundang kerjasama dan partisipasi dari pemberi wawancara. Pemberi wawancara yang menjawab pertanyaan-pertanyaan terbuka mungkin juga bersedia memberi informasi lebih jauh dengan sukarela. Jawaban pertanyaan terbuka, selain lebih spekulatif, juga akan mencerminkan kepribadian pemberi wawancara.
Sedangkan pertanyaan tertutup berusaha mengarahkan pemberi wawancara ke jawaban yang spesifik. Misalnya, ''Apakah Anda merasa gembira atau sedih dengan terungkapnya kasus kebocoran limbah pabrik ini?'' atau ''Berapa kali kebocoran tangki penyimpan limbah ini pernah terjadi sebelumnya?'' Dengan pertanyaan semacam ini, pewawancara mengisyaratkan sebuah pilihan atau harapan bagi kesimpulan yang bisa dikuantifikasikan (diukur secara numerik).
Pertanyaan tertutup dapat menghemat waktu karena lebih spesifik. Pertanyaan semacam ini biasanya menghasilkan jawaban-jawaban pendek, lebih berjarak dari pemberi wawancara, dan kurang memberi peluang partisipasi. Pertanyaan tertutup berguna untuk memperoleh informasi faktual. Informasi presisi itu merupakan hasil dari pertanyaan yang bisa dikuantifikasikan, yang dapat memberikan angka spesifik atau statistik yang otoritatif dan dapat digunakan dalam penulisan.
Untuk tulisan tentang profil seseorang, akan lebih berhasil jika menggunakan pertanyaan-pertanyaan terbuka. Wawancara memang akan berlangsung lebih lama, namun pemberi wawancara akan merasa lebih percaya dan lebih bersedia memberikan anekdot khas dan pengamatannya.
Sedangkan wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan tertutup lebih cocok untuk penulisan berita yang cepat atau untuk situasi di mana wartawan membutuhkan jawaban spesifik pada periode waktu yang singkat. Pewawancara yang baik dapat mengkombinasikan pertanyaan-pertanyaan terbuka dan tertutup, untuk membuat tulisan dengan rincian spesifik, tetapi juga diwarnai oleh anekdot pemberi wawancara.

Sifat Hasil Wawancara

Di dalam lingkungan pers internasional dikenal berbagai sifat hasil wawancara. Antara lain:
On the Record. Nama dan jabatan pemberi wawancara dapat digunakan sebagai sumber, dan keterangannya boleh dikutip langsung serta dimuat di media massa.
Off the Record. Pemberi wawancara tidak dapat digunakan sebagai sumber dan keterangannya tidak boleh dimuat di media massa.
Background. Boleh menggunakan kutipan langsung atau menyiarkan keterangan apa pun yang diberikan, tetapi harus menyebutkan nama dan jabatan pemberi wawancara sebagai sumbernya. Misalnya, digunakan istilah ''sumber di departemen/badan...'' menurut persyaratan yang disepakati dengan pemberi wawancara. Kadang-kadang disebut juga ''not for attribution.''
Deep Background. Tidak boleh menggunakan kutipan langsung atau menyebut nama, jabatan, dan instansi pemberi wawancara.
Reporter harus memberitahu redaktur tentang sifat wawancara yang dilakukannya. Apa pun bentuk kesepakatan yang telah dicapai dengan pemberi wawancara, itu harus dihormati dan terwujud dalam pemberitaan. Kalau pemberi wawancara tidak ingin disebut nam adan jabatannya, misalnya, maka redaktur perlu diberitahu. Sebab, begitu berita hasil wawancara itu dimuat, tanggungjawab atas isi berita tidak lagi terletak di pundak reporter, tetapi menjadi tanggung jawab institusi media bersangkutan.
Meskipun pemberi wawancara berhak menyembunyikan identitasnya, wartawan sedapat mungkin harus meyakinkan pemberi wawancara agar bersedia disebutkan identitasnya. Sebab, apabila terlalu banyak sumber berita yang tidak jelas identitasnya, kredibilitas wartawan dipertaruhkan. Tingkat kepercayaan pembaca terhadap isi tulisannya.
Pewawancara, yang membutuhkan anekdot juga semakin kecil, seolah-olah isi tulisan itu hanya berdasarkan gosip, isu, kabar angin atau bahkan ''karangan'' wartawan belaka.
Keraguan ini muncul bisa jadi karena adanya praktek pelanggaran kode etik yang dilakukan sejumlah wartawan Indonesia. Misalnya, sejumlah artis mengeluh karena ditulis begini dan begitu, padahal artis ini tidak merasa pernah diwawancarai wartawan bersangkutan. Namun karena posisi artis yang sangat membutuhkan publisitas dan dukungan media massa, para artis ini tidak mau ribut-ribut ke Dewan Pers atau pengadilan mengadukan masalahnya.

(Diambil dari berbagai sumber)



[+] Baca Selengkapnya