Oleh Sri Mulyadi
HARI ini Sarimi (33 tahun) dan keluarga makan nasi aking. Harga beras mereka rasakan mahal. Sementara suaminya Saroni (35 tahun) tak lagi bekerja. Selama ini nasi aking hanya dimakan bebek. Saroni tak sendirian, walau semua tak makan nasi aking. 49% penduduk Indonesia dalam kondisi miskin (data Bank Dunia 2006).
Kalimat tersebut merupakan iklan di sebuah media cetak nasional. Di bawah kalimat tersebut tertulis: Saya, Wiranto, mengajak Anda bergabung dalam gerakan moral. Bersatu sejahterakan rakyat. Ciptakan 10 juta lapangan kerja. Tingkatkan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas. Tumbuhkan ekonomi melalui pemerintahan yang kuat dan tegas.
Siapa pun yang membaca tentu bebas mencerna dan menginterprestasikan kalimat tersebut. Komentar di internet pun bermunculan. Ada yang mengatakan, mengiklankan diri sendiri sekarang ini bukan hal yang tabu. Apalagi hajatan Pilpres 2009 tak lama lagi. Memperkenalkan diri pada publik dan menciptakan citra adalah hal yang mutlak dilakukan.
Ada juga yang komentar: Terlalu banyak calon bingung milihnya, mana yang gak bakalan buat terlalu makan ati. Aku juga bingung karena terlalu banyak pilihan (tapi nggak ada yang layak pilih). Kayanya ... aku golput aja deh ..., tapi liat aja entar ... siapa tahu Tuhan tiba2 kasih kita calon alternatif buat bangsa ini.
***
Wiranto memang tak sendirian. Dalam Pilkada di Kalbar 15 November lalu, empat kandidat juga ‘’menjual’’ isu kemiskinan. Di daerah lain pun, fenomena menjual diri dengan sasaran konsumen orang miskin, juga terjadi. Terutama berkaitan maraknya pemilihan kepala daerah, dan menjelang pemilihan presiden di tahun 2009.
Tokoh (baik yang mengaku maupun memang ditokohkan) di tingkat kota/kabupaten, provinsi, maupun pusat, berlomba unjuk muka menjual diri. Mereka berpacu saling menonjolkan diri. Menebar citra dan anggapan bahwa dirinyalah yang serba ter. Termampu, tercocok, terbaik, terlayak, dan ter-ter yang lain yang berkonotasi positif. Istilah lainnya rumangsa bisa (merasa bisa).
Segala cara ditempuh. Mulai menebar janji sampai mengobral uang. Etis dan tidak etis bukan dianggap masalah. Yang penting jualannya laku, feedback atau respon dari konsumen, dalam hal ini rakyat, positif untuk dirinya. Jika ada sebagian orang yang mencemooh, juga dianggap angin lalu. Baginya yang terpenting pada akhirnya dia ‘’dibeli’’.
Pada saat menjual diri dalam kaitan meraih simpati, dagangan yang akhir-akhir ini juga layak dijual adalah kemiskinan. Hampir semua calon kepala daerah maupun kepala negara, hari-harinya diisi kegiatan mengobjekkan orang miskin.
Kemiskinan bukannya disikapi sebagai persoalan bersolusi tebar bukti dan tindakan nyata, tetapi masih diwacanakan disertai obral janji. Jika terpilih saya akan…. kalau mendapat kepercayaan saya akan…., seandainya saya dipercaya mengemban amanat maka….., dan kata-kata lain yang berujung akan. Sementara jumlah orang miskin sendiri tak kunjung berkurang.
Lebih celaka lagi, di tingkat elite justru sibuk berkutat mempermasalahkan jumlah dan metoda penghitungan. Tahun 2006 jumlahnya 37 persen atau 49 persen, dasar yang dipakai untuk menentukan apa. Dibanding tahun sebelumnya naik apa turun, dan seterusnya.
Ujung-ujungnya terjadi debat kusir, mereka lupa bahwa angka punya makna. Lewat akurasi data, akan ditemukan terapi yang semestinya. Sebaliknya, jika terjadi rekayasa, muaranya kemiskinan tak sekedar dijadikan barang ‘’dagangan’’, namun menjurus dibuat ‘’objekan’’ penguasa.
Kejadian di Negeri ini kadang memang unik. Termasuk soal korelasi antara menjual diri dengan kemiskinan. Umumnya orang yang menjual diri adalah wanita miskin (baik harta maupun pemahaman terhadap ajaran agama) atau mereka yang terpojok persoalan ekonomi.
Hanya saja, logika tersebut kini justru berbalik. Saat ini bertebaran orang kaya yang menjual diri agar dibeli oleh kaum miskin, dan menjual kemiskinan untuk meningkatkan kekayaan dan harga diri. Bahkan ada yang tega merancang suatu kondisi dan angka kemiskinan untuk tujuan politik dan kepentingan pribadi serta kelompok.
Akankah emosi rakyat kecil tersentuh oleh jualan mereka dan akhirnya ikhlas memberikan hak suara? Jawabnya tentu rakyat sendiri yang tahu. Namun biasanya, pada saat orang terbawa emosi, kiat teliti sebelum membeli, terabaikan.
Jumat, November 23, 2007
Jual Diri
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
23.17
0
komentar
Label: Tulisan Kolom
Langganan:
Komentar (Atom)