Oleh Sri Mulyadi
Bukan lautan, hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada ombak, tiada badai kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu
Orang bilang tanah kita tanah sorga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.
Syair lagu Koes Plus tersebut menggambarkan kondisi sejatinya negeri ini, paling tidak di era 1970-1980-an. Negeri ini begitu memikat nan elok bak zamrud katulistiwa. Bahkan ki dalang mengumandangkan sebagai negeri yang ''gemah ripah loh jinawi, tentrem ayem kertaraharja''. Siapa pun bangga memiliki dan berlindung di pelukan ibu pertiwi.
Waktu itu orang pasti tak menyangka, sekarang begini jadinya. Begitu banyak derita mengoyak negeri ini. Predikat kolam susu berubah menjadi negeri yang didera bencana, gudangnya orang miskin dan pengangguran. Materialisme, egoisme, keserakahan, kemunafikan, kehilangan nurani, menyelimuti negeri ini.
Ibu Pertiwi bermandi darah. Kurang dari tiga tahun terakhir saja, ratusan ribu jiwa melayang ditelan bencana, kecelakaan di darat, laut, dan udara. Mulai dari tsunami, gempa, tanah longsor, kecelakaan kereta, kapal, pesawat, dsb. Terakhir (Rabu 7/3), pesawat Garuda yang selama ini jadi andalan angkutan udara, terutama dari sisi safety-nya, terbakar dan meledak di Bandara Adisucipto Yogyakarta. Korban tewas mencapai puluhan orang.
Catatan tentang kelabunya negeri ini pun tambah panjang. Ibu pertiwi kembali terhenyak. Jutaan warga menangis tersedu, berkabung, meratap haru biru. Sebagian lagi bungkam, tertegun termangu. Tak tahu apa yang harus diperbuat, meski di sisi lain belasan warga Indonesia dinobatkan sebagai orang terkaya di dunia.
Murkakah Sang Pencipta? Jawabnya pasti tidak. Yang pasti di negeri yang dulu diibaratkan sebagai kolam susu ini, sekarang makin banyak dihuni manusia yang mengabaikan cinta, kasih sayang, kebaikan, anugerah, dan semua yang mulia dari Sang Pencipta.
Logika telah berbalik makna. Berebut benar dengan mengorbankan sesama. Merusak lingkungan berdalih devisa. Efisiensi dengan taruhan nyawa. Keteledoran dibalut bencana. Bencana dibalut kehendak-Nya, dsb.
Penyelesaian masalah ''beranak'' masalah, seperti PP37/2006, kebijakan impor beras, bantuan bencana, lumpur panas PT Lapindo, dsb. Yang satu belum terselesaikan, muncul lainnya, begitu seterusnya, dan ujung-ujungnya terbelenggu tak dapat keluar dari masalah.
***
Mungkin yang dikemukakan Einstein benar. Menurut dia, apa yang menyebabkan masalah, tak bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah. Cuma persoalannya, adakah orang atau pejabat di negeri ini yang berani bilang, sayalah yang menyebabkan munculnya masalah? Sehingga harus tahu diri atau mundur dari jabatan, karena tak bisa menyelesaikan masalah.
Umumnya yang terjadi justru yang bersangkutan malah berburu kambing hitam, menyalahkan alam, mengalihkan perhatian, dsb, yang intinya menghindar dari tanggung jawab dan membuat skenario supaya terhindar dari predikat sebagai penyebab munculnya masalah. Meskipun sebenarnya yang bersangkutan tahu bahwa menghindar bukanlah solusi yang baik.
Memang tidak ada negara yang tak punya masalah. Yang berbeda hanya tingkat kesulitan, jenis, serta cara menyelesaikannya. Munculnya persoalan di satu sisi memang menjadikan orang kreatif, namun kalau pemerintahan yang dikerubuti masalah, ya akhirnya -- rakyat di segmen bawah umumnya-- yang terabaikan. Buntutnya? Ya sangat logis jika ''zamrud katulistiwa'' berubah menjadi ladang persemaian kemiskinan dan pengangguran.
Jika akar permasalahan tidak tersentuh oleh yang berkewajiban, masalah yang sama dan baru akan terus terulang. Semua dituntut jeli melihat akar masalah untuk mengatasi. Sebab dan akibat adalah logika yang sangat sederhana dan dapat dipahami semua orang. Tapi kalau tidak dipakai dalam memberantas setiap masalah yang terjad, kemajuan akan makin jauh, dan akan tetap terpuruk dalam ketakberdayaan dan kemiskinan. Ujung-ujungnya menimbulkan penderitaan bagi banyak orang, lingkungan dan alam.
***
Presiden SBY pun juga berpandangan demikian. Masalah tidak akan selesai jika hanya dilihat dan diamati saja. Kekuasan bukan sebagai tujuan, tapi sebagai alat untuk mensejahterakan rakyat. ''Saya tidak suka menyampaikan hal-hal yang tidak ada. Jangan bohongi rakyat. Katakan apa yang belum tercapai dan minta maaf,'' kata SBY, di depan kader Partai Demokrat, beberapa hari lalu.
Logikanya, masalah kemiskinan dan pengangguran pun, juga tak akan selesai jika hanya dilihat. Persoalannya, jangan-jangan dilihat saja tidak, sehingga ''zamrud katulistiwa'' tetap menjadi persemaian kaum miskin dan pengangguran. Program pengentasan bagi mereka tetap saja menuai program.
Bagi Badrun, warga sebuah desa di Sragen, punya cara sendiri dalam menyelesaikan persoalan. ''Patahkan sapu lidi ini,'' katanya kepada setiap anaknya. Tapi, tak seorang pun dari mereka bisa.
''Kini buka ikatannya lalu patahkan setiap lidi secara terpisah,'' ujarnya. Sudah dapat diduga, mereka bisa mengerjakan tanpa kesulitan. ''Makna dari kejadian ini, kalau lidi (kita) disatukan menjadi kuat dan sulit dipatahkan. Tapi kalau sapu lidi (masalah) diurai, akan gampang diselesaikan,'' ungkapnya.
(Sri Mulyadi, wartawan Suara Merdeka di Semarang)_
Jumat, Maret 09, 2007
Kolam Bencana
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
22.52
0
komentar
Label: Tulisan Kolom
Langganan:
Komentar (Atom)