Oleh Sri Mulyadi
Lebaran telah di ambang pintu. Hiruk-pikuk mudik sudah mulai terasa H-10. Penghuni Ibu Kota khususnya, seakan berpacu ke luar dari sarang, menuju tanah kelahiran masing-masing. Baik menggunakan kereta, pesawat, bus, kapal, mobil pribadi, maupun sepeda motor.
Di sisi lain, kalangan pengusaha termasuk perbankan dan organisasi politik, seakan berlomba memperebutkan simpati mereka, terutama yang menggunakan kendaraan umum nonpesawat. Tawaran menarik bermunculan.
Ada yang menawarkan tiket mudik dan balik gratis, dihibur artis-artis Ibu Kota, doorprize, dan sebagainya. Tujuan mereka sama, menyenangkan pemudik, terutama ''wong cilik''. Tawaran pun kini lebih spesifik, ditujukan bagi pedagang mie, kuli bangunan, pedagang asongan, dan kelompok lainnya.
Pertanyaan yang mungkin menggelitik, pertanda apakah kejadian ini? Di satu sisi memunculkan fenomena pengusaha dermawan di negeri ini makin banyak. Tokoh politik dan wakil rakyat tak sekadar menyampaikan aspirasi, tetapi langsung turun tangan ikut menyelesaikan masalah dengan mengeluarkan biaya pribadi. Politikus tak cuma obral janji, namun obral bukti.
Bisa diartikan pula bahwa tujuan politikus dan pengusaha sama, membikin senang kaum marginal. Mereka merasa selama ini telah banyak dibantu oleh rakyat kecil, dan musim Lebaran merupakan waktu tepat untuk balas membantu.
Dari sudut pandang pengusaha, pemudik adalah konsumen potensial, sehingga wajar jika setahun sekali memperoleh fasilitas mudik gratis. Bagi yang belum menjadi konsumen, paling tidak mulai mengenal merk dan produk.
Dengan demikian, pada masa mendatang bisa dijadikan sasaran target pasar, dan diharapkan masuk barisan sebagai konsumen. Paling tidak simpati mereka ke merk atau pengusaha produk tertentu, bisa lebih menyebar ke para kerabat dan tetangga.
Dapat pula diartikan sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan, dan diharapkan menciptakan citra yang sangat positif. Biaya dianggap sebagai investasi jangka panjang yang bisa menciptakan iklim sosial politik kondusif.
Organisasi politik pun ada juga yang menjadikan sebagai lahan menjual citra serta "target pasar'' dalam pemilihan umum (pemilu). Jumlah pemudik yang jutaan orang, diskenario mampu mendongkrak perolehan suara bagi partai yang bersangkutan.
***
YANG dilakukan pelaku usaha maupun partai politik tersebut memang sah-sah saja, dan dinilai banyak membantu kaum marginal. Seandainya di balik tindakan tersebut mengandung unsur bisnis berupa promosi citra, merk, maupun produk, juga wajar-wajar saja. Ujung-ujungnya, seiring berbagai kemudahan itu, jumlah pemudik terus meningkat
Persoalan yang mungkin muncul adalah orang yang terlibat dalam hiruk-pikuk mudik umumnya berasal dari desa. Atau mudik diartikan sebagai kembali ke udik, pulang desa, atau pulang ke tanah kelahiran. Dengan demikian mudik hanya bersifat searah, dari kota ke desa.
Sebagai konsekuensinya, adat, pola dan gaya hidup kota, ikut terbawa ke desa. Sebagai contoh, pembantu rumah tangga pun ketika mudik punya tren tersendiri. Jika dua tahun lalu pulang kampung menenteng hand phone, tahun ini cenderung ke penampilan fisik, rambut dicat warna-warni.
Tak cuma pembantu, majikan pun tak sedikit yang terlibat memasyarakatkan salah satu pola hidup kota, konsumtif. Demi jaim (jaga image) sebagai orang dari kota, mereka dengan enteng melepas puluhan bahkan ratusan ribu rupiah untuk sekadar beli barang sekunder bahkan tersier.
Celakanya, banyak orang desa terpengaruh, bahkan terobsesi. Mereka menganggap hidup masa kini seharusnya memang demikian. Jika tidak, berarti ketinggalan zaman. Tetap jadi orang udik yang ''ndesa''. Dampak selanjutnya, kota-kota besar makin disesaki kaum urban. Nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, keselarasan, yang umumnya berhabitat di desa kian terkikis.
***
Namun jika direnungkan lebih mendalam, tradisi mudik juga tak sedikit dampak positifnya. Acara silaturahmi, sungkem ke orang tua, saudara, saling memaafkan, merupakan tindakan yang dianjurkan agama. Di samping itu, mereka juga kembali menikmati siraman nilai-nilai desa untuk menyegarkan kegersangan yang dialami di kota. Hanya, siraman nilai itu kadang tak bertahan lama. Selang beberapa saat usai Lebaran, mereka kembali ke pola dan gaya hidup kotanya.
Serba repot ya? Memang demikianlah kenyataannya. Makin banyak yang memfasilitasi, jumlah pemudik tambah membeludak. Risikonya, banyak orang desa terkontaminasi kehidupan warga kota. Seiring dengan itu, urbanisasi terus melonjak, yang ujung-ujungnya menambah persoalan di kota. Sebaliknya kalau mereka tak difasilitasi, nilai positif yang terkandung dalam mudik lama kelamaan bisa luntur. Lembaga pemerintah, pengusaha, partai politik, dianggap tak peka terhadap tuntutan rakyat kecil.
Mencari titik temu yang ideal nampaknya memang tak mudah. Tapi pendapat Sineas dan Penulis Italia, Luciano de Crescenzo yang berbunyi: "Kita, tiap-tiap kita adalah malaikat dengan satu sayap, dan kita hanya mampu terbang jika saling memberikan pelukan" bisa dijadikan salah satu renungan. Hal itu bisa juga dimaknai, tradisi mudik tetap dilestarikan, tetapi pemudik punya kesadaran untuk tidak ''merangsang'' orang desa meniru gaya dan pola hidup kota yang berujung urbanisasi.
Jumat, Oktober 12, 2007
Mudik
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
19.21
1 komentar
Label: Tulisan Kolom
Langganan:
Komentar (Atom)