Selasa, Oktober 23, 2007

Praktis, Ekonomis, Tragis

Oleh Sri Mulyadi

Tantangan seringkali mengasyikkan dan membikin hidup terasa lebih hidup. Tapi kadang bisa berujung maut. Seperti halnya mudik menggunakan motor. Di satu sisi, praktis, tak terikat waktu, ekonomis, mengasyikkan (terutama yang ramai-ramai). Sampai di daerah tujuan pun, bisa digunakan sebagai angkutan ke rumah para kerabat.
Namun di sisi lain berisiko tinggi. Misalnya kehujanan, kepanasan, ban kempes, mesin rusak, dan sakit di perjalanan. Bahkan rentan terjadi kecelakaan. Bisa diakibatkan serempetan sesama motor, tabrakan dengan kendaraan lain, slip, dan sebagainya. Yang pasti, karena pengendara motor perlindungannya minim, seringkali kecelakaan berdampak tragis.



Seperti terjadi pada Lebaran Tahun 2007 ini. Di Jawa Tengah saja, dalam kurun waktu 11 hari (H-7 hingga H+4), terjadi 285 kasus kecelakaan dengan korban 60 orang tewas. Ironisnya, 70 persen di antara korban adalah pengendara motor.
Repotnya, jumlah pemudik menggunakan motor tiap tahun naik. Faktor yang mendorong tak hanya praktis, tetapi ekonomis. Untuk Semarang-Jakarta PP, biaya beli bensin sekitar Rp 100 ribu - Rp 150 ribu. Satu motor bisa dinaiki sekeluarga terdiri atas, ayah, ibu, dan dua anak. Jika naik bus sekali jalan Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu.
Untuk mempunyai motor baru, di Jakarta atau kota besar lain, cukup bermodal KTP dan uang muka Rp 500 ribu - Rp 1 juta. Selanjutnya angsuran per bulan Rp 350 ribu - Rp 400 ribu. Kalau misalnya mau nakal, 3 bulan gak bayar angsuran, paling risiko motor ditarik dealer. "Kalau ditarik ya anggap saja kita pinjam tiga bulan dengan sewa Rp 500 ribu. Misalnya dioper kredit ke teman, juga banyak yang mau," ungkap Djoko Darmono (36), salah seorang pemudik asal Pamulang, Jakarta.
***
Alasan mereka memang sederhana dan sangat mudah dipahami. Di tanah kelahirannya mereka juga bisa "mejeng" dengan motor baru. Keluarga atau tetangga tentu tak akan tanya status motor, dari beli atau kredit. Orang tua juga ikut bangga, karena anaknya di rantau sudah mampu beli motor.
Benarkah alasan mereka mudik pakai motor cuma itu? Berbagai komentar bermunculan. Soedaryanto, Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan Anggota Komisi V DPR Aswar Anas berpendapat, fenomena makin maraknya mudik pakai motor menunjukkan tidak maksimalnya pemerintah menyediakan transportasi publik.
Jika ada angkutan nyaman dan aman, hal itu tentu tak terjadi. Bus dan kereta api biasanya penuh sesak, dan harga tiket pesawat tak terjangkau. Belum lagi karena alasan masalah kemacetan lalu lintas hingga berjam-jam, penumpukan penumpang di terminal atau stasiun KA, harga tiket yang melambung tinggi, calo, dan copet.
Argumen itu bisa benar juga. Namun persoalan yang utama tentu bukan soal praktis, ekonomis, dan ketidakmampuan pemerintah. Masalah yang tak dapat ditawar adalah mudik dan balik menggunakan motor sangat berbahaya. Maunya praktis, ekonomis, dan romantis, bisa berujung tragis. Jumlah orang meninggal akibat mudik pakai motor, tiap tahun bertambah.
Dalam menyikapi masalah ini, tentu tak mungkin kita saling menyalahkan. Aparat keamanan sudah maksimal menjalankan tugas, sampai rela tak ikut merayakan Idul Fitri bersama keluarga. Penanggung jawab infrastruktur juga demikian, pembenahan sarana jalan telah diperbaiki jauh hari sebelum Lebaran. Angkutan umum sudah dikerahkan secara maksimal, meskipun kondisinya belum seperti yang diharapkan Soedaryanto maupun Aswar Anas. Namun toh angka kecelakaan tetap tinggi.
Persoalan teknis seperti kondisi motor, nampaknya juga bukan penyebab. Umumnya kendaraan yang digunakan masih dalam kondisi baru. Yang sulit diprediksi dan diantisipasi serta ditanggulangi mungkin justru persoalan fisik dan psikis. Imbauan untuk istirahat di saat kondisi lelah sudah bermunculan dari berbagai pihak.
Tempat istirahat dari yang sekedar berkipas angin hingga ber-ac telah tersedia di sepanjang jalur mudik dan balik. Namun karena jarak yang ditempuh mencapai 500 kilometer lebih sekali jalan, sebugar apapun kondisi seseorang pasti kelelahan. Untuk mengembalikan, tak cukup dalam waktu singkat. Sehingga ketika melanjutkan perjalanan, sebenarnya kebugaran belum kembali betul. Kondisi ini otomatis mengurangi konsentrasi, dan dalam kondisi jalan yang padat, kecelakaan sangat mungkin terjadi.
Secara psikis juga demikian. Ketika mudik ada dorongan kuat untuk secepatnya sampai lokasi yang dituju. Mereka ingin segera bertemu dengan orang tua atau sanak keluarga. Otomatis dia terdorong mempercepat laju kendaraan. Apalagi kalau rekan yang berangkatnya bersamaan telah lebih dulu tiba di daerah tujuan, pasti yang bersangkutan tambah "kemrungsung". Padahal pada kondisi psikis seperti itu, orang cenderung kurang waspada. Ujung-ujungnya, kecelakaan tak terhindarkan. Ketika balik ke kota, kondisi fisik dan psikis pun, nampaknya juga dominan menjadi pemicu.
Mudik pakai motor memang sah-sah saja, dan tentu sulit dilarang. Namun yang perlu direnungkan adalah tindakan itu berisiko tinggi. Tak hanya bagi pengendara, tetapi juga terhadap pengguna jalan yang lain. Pengawalan dari polisi ternyata juga belum menjamin terjadinya penurunan angka kecelakaan.
Akankah Lebaran tahun depan diperbolehkan atau dilarang? Persoalan tentu tak sesederhana itu. Masing-masing punya konsekuensi. Kalau diperbolehkan tindakan preventifnya apa, dan jika dilarang solusinya bagaimana.
Tantangan kadang membikin hidup terasa lebih hidup. Tetapi jika itu bisa mendatangkan maut dan bisa dihindari, mengapa tetap tertantang melakukan. Untung rugi dalam suatu keputusan pasti ada. Hanya saja bila keuntungan yang diperoleh tak sepadan dengan risiko, kenapa harus ditempuh.
--- Sri Mulyadi, wartawan Suara Merdeka di Semarang

[+] Baca Selengkapnya