SUASANA romantis hutan bambu di Arasiyama, Kyoto, Jepang, punya kesan tersendiri di benak siapa pun yang berkunjung ke sana. Khususnya bagi mereka yang datang dengan pasangannya. Ada keyakinan, cinta pasangan yang melewati kawasan hutan tersebut bakal abadi alias langgeng.
Bagi yang masih pacaran atau bertunangan, kisah kasihmereka bakal akan berlanjut ke buhul pernikahan. Sementara untuk pasangan suami-istri, biduk rumah tangganya akan bertahan seumur hidup. Maka tak heran kalau lokasi tersebut selalu ramai dikunjungi wisatawan, terutama pada musim gugur atau semi.
Bambu yang tumbuh di kawasan tersebut berwarna hijau dan rata-rata berdiameter 10 sentimeter. Tanaman itu tumbuh subur dan pohonnya menjulang setinggi kurang lebih 30 meter, mirip bambu ''petung'' yang biasa dibuat menjadi kursi. Namun, bambu di Arasiyama tersebut tak membentuk rumpun. Tunas atau rebungnya juga tak terlihat.
Kawasan di tengah hutannya dijadikan jalan dengan pembatas berupa pagar yang terbuat dari ranting bambu. Walhasil suasana alami benar-benar terasa di sana. Apalagi bila suhu udaranya sedang dingin (sekitar 15 derajat Celsius), suasananya jadi benar-benar romantis.
Tak sulit untuk mengunjungi lokawisata Arasiyama. Ada kereta disel dengan kaca yang tembus pandang. Usai membeli tiket seharga 500 yen (sekitar Rp 40 ribu), pengunjung menunggu di stasiun kecil Kameoka untuk menuju tempat pemberhentian berikutnya, yakni Stasiun Arasiyama. Jarak Kameoka ke Arasiyama sekitar tujuh kilometer. Waktu tempuhnya 20 menit.
Selama berada di dalam kereta, penumpang bisa menikmati pemandangan alam sekitar karena jendela kereta sengaja dibuka. Bahkan di lokasi tertentu kereta berhenti untuk memberi kesempatan penumpang menikmati dan mengabadikan keindahan pemandangan dengan kamera atau peranti perekam lainnya.
Ya, dari kereta kita bisa melihat pelbagai macam tanaman, berwarna-warni, terutama di musim bunga atau musim gugur. Kita juga bisa menyaksikan orang-orang yang tengah menikmati wisata arung jeram di sungai yang ada di bawah jembatan untuk kereta.
Tiba di Stasiun Arasiyama, pengunjung meniti jalan bertangga menuju kawasan hutan bambu. Jalannya sempit, jadi mereka terpaksa berjalan dengan saling berdesakan. Namun di antara pengunjung, justru hal itu punya keasyikan tersendiri. Asyik bisa bersenggolan dengan sesama wisatawan. Golongan pelancong yang serupa itu umumnya kaum muda.
Wisatawan yang malas berjalan juga tak perlu repot-repot, apalagi harus berdesakan. Naik saja angkutan semacam becak berkapasitas dua orang yang ditarik manusia. Mirip riksaw di China. Ongkosnya lumayan mahal bagi ukuran Indonesia: 8.000 yen (sekitar Rp 640 ribu) per 30 menit. Selain tidak perlu bercapai-capai untuk mengelilingi objek wisata, penyewa juga tampak anggun saat berada di atas kendaraan tradisional itu. Ya, mirip seorang pembesar, dan umumnya menjadi pusat perhatian pengunjung lain.
Para penarik ''becak Jepang'' bukan hanya kaum lelaki yang berbadan kekar. Ada juga penarik wanita yang berperawakan kecil, tetapi mampu menarik becak di jalan naik-turun, meskipun penumpangnya dua orang. Oh, betapa kuatnya dia!
Usai menjelajah hutan bambu, pengunjung bisa menikmati masakan atau mencari suvenir khas Jepang di kawasan Toketkio sambil menikmati keindahan alam sekitar Sungai Katsura. Di tepi sungai itu banyak ditemui burung dara atau belibis. Beberapa pengunjung terlihat dikerumuni hewan bersayap tersebut. Maklum, mereka memang sengaja membawakan makanan khusus untuk burung-burung itu. (Sri Mulyadi)
Jumat, November 16, 2007
Mengabadikan Cinta di Hutan Bambu Arasiyama
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
16.10
Label: PARIWISATA
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar