Jumat, November 16, 2007

Kuil Emas dan Pancuran Bertuah di Kyoto

BAYANGKAN saja rumah Anda terbuat dari emas. Yakinlah, siapa pun pasti bakal tertarik melihatnya. Mereka bakal memandanginya lekat-lekat dan puja-puji kekaguman bakal meluncur dari mulut mereka. Sangat mungkin pula orang bakal mereka-reka berapa nilai atau harga rumah itu, bertanya-tanya siapa yang terlibat dalam pembuatan, dan bagaimana mengamankannya. Itu keniscayaan. Sebab, sejak manusia mengenal peradaban, logam mulia tersebut sudah punya arti tersendiri.
Maka lumrah saja kekaguman serupa itu meruah untuk Kuil atau Paviliun Kinkakuji di Kyoto, Jepang. Maklum, sebagian besar bangunan tersebut terbuat dari emas. Lihat saja, selain bangunan paling bawah dan bagian atapnya yang terbikin dari kayu, dua lantainya dibuat dari lempengan emas. Pun di bagian atapnya yang kayu, ada fenghuang emas dalam rupa burung phoenix.


Kenapa tak semua bagian bangunannya dibikin saja dari emas? Tentu saja arsitek atau penggagas bangunannya punya konsep filosofis arsitektural tersendiri. Pada bagian yang terbuat dari emas, yakni di lantai dua dan tiga, fungsinya memang untuk bersemadi. Adapun lantai satu yang tak secuil pun berlapis emas mengandung makna sebagai representasi alam dunia.
Kuil tersebut dibangun pada tahun 1397. Tujuan pembangunannya adalah sebagai tempat peristirahatan Shogun Ashikaga Yoshimitsu. Dinamika zaman ikut mengisi keberadaannya. Misalnya, ia pernah terbakar beberapa kali, khususnya pada masa Perang Onin. Setelah direhabilitasi, ia juga pernah terbakar lagi pada tahun 1950. Tepatnya sewaktu bangunan itu ditempati seorang biksu yang sakit jiwa. Selanjutnya kuil dibangun kembali dengan menggunakan daun atau lempengan emas.
Keunikan bangunan itu terlihat pada setiap lantainya yang dibuat dalam gaya arsitektural berbeda. Meski begitu, secara keseluruhan gayanya mencerminkan bangunan masa Muromachi (1333-1573). Lokasi bangunannya pun begitu eksotis. Ia terletak di tengah kolam buatan bernama Kyokochi di pebukitan Kitayama, sebelah utara Kyoto.
Tentu saja, Kuil Kinkakuji menjadi magnet kepenasaran siapa pun hingga sekarang. Catat saja, setiap tahunnya empat juta orang dari segala penjuru dunia, terutama di musim gugur dan semi, berkunjung ke sana. Padahal, untuk bisa mengaguminya, wisatawan tak bisa mendekat. Mereka hanya bisa melihat dari kejauhan. Jarak untuk melihat yang paling dekat sekitar 100 meter. Walhasil, karena tak bisa mendekat dan bersentuhan langsung, para pengunjung cuma bisa mengabadikan dengan kamera atau handycam.
Kenyataan itu tak pelak sering memunculkan perdebatan kecil atau sejenis keragu-raguan. Benarkah kuil itu terbuat dari emas? Yang percaya bahwa bangunan itu memang dari emas punya alasan yang cukup logis. Katanya, karena Jepang merupakan salah satu negara terkaya di dunia, maka mendirikan bangunan dari emas tentu bukan persoalan besar. Tapi yang sangsi pun punya dalih tersendiri. Kata mereka, bangunan terbuat dari kayu dan hanya dilapisi serbuk emas atau cat berwarna keemasan.
Tanpa harus turut suntuk memperdebatkannya, yang tak bisa didebat lagi adalah bahwa objek wisata kuil emas tersebut sangat sayang dilewatkan apabila kita mengunjungi Kyoto. Bangunan itu tampak indah berkilau di tengah kolam yang dipenuhi ikan emas seberat empat atau lima kilogram per ekornya yang hidup bareng bersama ikan-ikan koi. Di tepi kolam selalu terlihat beberapa burung bangau yang tengah menunggu mangsa berupa ikan-ikan kecil. Jalan yang mengelilingi kompleks pun sangat bersih. Pada kanan kirinya berjajar tanaman hias khas Jepang. Pun lihat juga keelokan bunga padma atau teratai di tengah kolam. Konon bunga itu sebagai perlambang kehidupan, sementara telaganya menjadi simbol dunia, dan warna emas di kuil itu menyimpan makna sebagai arahan meraih berkat surgawi.
''Kalau Anda datang pada musim semi, panoramanya begitu memesona. Bunga warna-warni itu begitu serasi berpadu dengan keelokan kuil emas,'' ungkap salah seorang penjaga.
***
PERLU diketahui, Kota Kyoto yang dibangun pada tahun 794 itu adalah bekas ibukota Jepang. Jaraknya sekitar 50 kilometer dari Tokyo. Luas wilayahya sekitar 610 kilometer persegi dengan penduduk kurang lebih 1,5 juta jiwa. Ia merupakan kota yang molek. Setiap sudutnya memperlihatkan harmoni sebuah kota yang didominasi keteduhan dengan pemandangan pepohonan hijau, pegunungan, dan kuil-kuil berusia ratusan tahun yang terawat dan indah.
Pegunungan rendah Tamba mengitari kota tersebut dari utara, timur, dan
barat. Dua puncak gunung, Hieizan dan Atagoyama, mendominasi kawasan
pada bagian barat laut dan timur laut kota ini. Itu masih dilengkapi dengan Sungai Kamogawa dan Katsuragawa yang melintasi wilayah pusat dan barat Kyoto.
Untuk menuju Kyoto, wisatawan dari Tokyo bisa naik pesawat atau kereta cepat (shinkanzen) menuju Osaka. Jarak Tokyo-Osaka sekitar 500 kilometer, hampir sama Semarang-Jakarta. Dengan shinkanzen bertarif 13 ribu yen (sekitar Rp 1.040.000), waktu tempuhnya cuma 2,5 jam. Adapun dari Osaka ke Kyoto yang jaraknya sekitar 50 kilometer, kita bisa menggunakan bus umum.
Kuil lain yang juga punya keunikan tersendiri adalah Kiyomizudera yang terbuat dari kayu, dan konon tanpa paku. Di kuil itu tersimpan patung Dewi Kwan Im, dan hanya dikeluarkan setiap 36 tahun sekali. Di luar ruangan penyimpan patung terdapat genta dari kuningan lengkap dengan pemukulnya. Pada umumnya, usai berdoa pengunjung langsung memukul genta, sehingga gaungnya terdengar sambung-menyambung menjadi semacam ilustrasi kekhusukan doa di kuil yang berada di atas ngarai curam tersebut.
Di kompleks tersebut juga terdapat tiga pancuran yang airnya dipercaya punya ''pengaruh'' atau ''tuah'' bagi orang yang meminumnya. Masing-masing pun punya makna sendiri. Air di pancuran pertama konon ''bertuah'' untuk mereka yang mencari kebahagiaan, sementara pancuran kedua untuk kesehatan, dan yang ketiga untuk mereka yang menginginkan panjang usia.
Dan rupanya banyak sekali orang yang memercayainya. Akhir bulan lalu, ketika bersama rombongan ''Daihatsu Journalist Test Drive'' datang ke sana, saya menyaksikan begitu banyak pengunjung pada masing-masing pancuran. Puluhan orang itu secara teratur antre mengambil air dengan gayung dan meminum airnya.
''Saya percaya saja air ini memang bertuah. Saya yakin banyak juga yang memercayainya. Lihat, itu banyak sekali orang yang antre untuk meminum air dari pancuran,'' ungkap Tan Lie Siong, seorang turis asal Hong Kong dalam bahasa Inggris sambil menunjuk kerumunan orang di dekat pancuran.
Untuk soal yang satu itu, mungkin tak perlu jauh-jauh pergi ke Kyoto. Di sini pun banyak tempat yang airnya dipercaya ''bertuah''. Tapi kalau sudah sampai di Kyoto dan berkesempatan ke Kuil Kiyomizudera, ya silakan coba mereguk air pancuran itu. Siapa tahu memang berkhasiat, paling tidak memuaskan rasa haus (kalau kebetulan haus), dan tentu saja rasa kepenasaran Anda. (Sri Mulyadi)

Tidak ada komentar: