ANDA ingin mencoba merasakan masakan ikan buntal atau sering juga disebut ikan bluntak? Datanglah ke restoran Zuboraya, Do Ton Buri, Osaka, Jepang. Tapi jangan kaget, harga per paket masakan tersebut 10.500 Yen atau sekitar Rp 840.000. Itu saja tiap paket ikan bluntaknya (di Jepang disebut ikan fugu), cuma sekitar dua ons. Lainnya berupa cumi, udang, tofu atau tahu khas Jepang yang lembek. Kemudian sayur, semangkuk nasi, buah, es krim.
Rasa ikan itu memang lezat, gurih agak manis, tak kalah dibanding salmon, cumi, udang bago, kakap, atau lainnya. Sampai-sampai di Jepang muncul ungkapan: Mereka yang memakan sup fugu adalah bodoh. Tetapi mereka yang tidak memakan sup fugu juga bodoh." Ungkapan itu memang bisa dimengerti. Di satu sisi ikan itu memang lezat, tetapi sekaligus sangat berbahaya. Jika cara membersihkan tidak benar, bisa berujung maut.
Racun yang terkandung di perut ikan fugu jauh lebih mematikan dibanding sianida, bahkan mampu membunuh antara 24 hingga 30 orang manusia sekaligus. Hal ini diakibatkan di dalam badan ikan buntal, terutama di bahagian hati dan empedu, mengandungi sejenis toksin tetrodoxin. Racun ini berasal dari makanannya. Makanan ikan fugu ini adalah mikroorganisme tertentu yang menyebabkan bagian dalam tubuh ikan ini mengandung racun.
Dipotong Menyilang .
Wartawan Suara Merdeka, Sri Mulyadi yang mengikuti test drive Daihatsu di Shiga Technical Center, Osaka, 23-28 Oktober lalu melaporkan, di kawasan Do Ton Buri ada beberapa rumah makan yang menyajikan menu ikan fugu. Sebagian memajang menu lengkap di etalase, dan ada juga yang meletakkan aquarium berisi ikan fugu di depan restoran. Sedang memasaknya, digoreng, dibakar atau direbus, tergantung konsumen. Di tiap meja disediakan kompor gas lengkap peralatan memasaknya.
Shigonobu Oyama, pemilik Zuboraya, mengatakan ikan tersebut berasal dari nelayan di sekitar pulau Honshu. Sebelum disajikan ikan dipotong menyilang, seluruh isi perut dibuang. Kemudian kulit dikelupas, terutama bagian kepala. ‘’Ikan jenis ini memang beracun, tetapi jika cara membersihkannya benar, aman dikonsumsi. Rasanya lezat dan khas,’’ ungkapnya.
Kaosao Ichiro, seorang pelayan rumah makan mengungkapkan, di perairan laut Jepang ada sekitar 40 jenis fugu, namun yang bisa dikonsumsi hanya jenis torafugu robripes.
Menyediakan hidangan fugu tidak mudah. Hanya orang yang benar-benar terlatih dan berlisensi yang diperbolehkan. Sebelumnya mereka dilatih mengenai cara menangkap, memotong, membersihkan dan memasak, kemudian diharuskan memakan hasil masakannya. ‘’Faktor kesulitan menyajikan hidangan inilah yang menyebabkan ikan fugu menjadi salah satu menu termahal di Jepang.’’
Bagian kepala fugu disajikan dalam bentuk fillet atau diiris tipis. Bagian badan cuma dagingnya yang diambil. Siripnya disendirikan, dan biasanya digoreng dan dihidangkan dalam sake panas. Masakan ini dinamakan fugu hire-zake. ‘’Kelezatan menu ikan fugu terletak pada rasa dan teksturnya. Jika direbus dagingnya menjadi kenyal.’’
Masa panen ikan ini biasanya bersamaan dengan musim semi. Pada masa itu fugu memasuki musim kawin dan bertelur. Pertengah musim semi mulai beranak. Di antara pemilik rumah makan ada yang melakukan pembesaran sendiri anak fugu di karamba dengan makanan ikan segar. Ada juga yang membeli dari pasar dalam kondisi hidup, kemudian dipelihara di akuarium.
Di Indonesia ikan bluntak jenis itu juga banyak ditemukan, tetapi umumnya belum dijadikan menu untuk dikonsumsi. Di Semarang masuk kelompok ikan hias yang dipelihara di akuarium air laut, karena bentuknya lucu dan jika dipegang perut akan menggelembung menyerupai bola. Biasanya ikan ini didatangkan dari Banyuwangi atau Bali. Sedangkan di Karimunjawa, dipelihara di karamba, juga sebagai ikan hias. Bahkan yang di Karimunjawa per ekor beratnya bisa dua atau tiga kilogram.
Di pasar ikan tradisional Tambaklorok, Semarang, ada juga yang menjual salah satu jenis ikan buntal. Kebanyakan orang menyebut bluntak pisang, bukan fugu. Ikan ini aman dikonsumsi asal memotongnya benar, yakni menyilang. Dari kepala hingga belakang dubur dibuang. ‘’Kalau selama ini banyak orang meninggal setelah makan ikan bluntak, karena tak tahu cara memotongnya,’’ ungkap seorang bakul ikan di Tambaklorok. Yang membedakan cara mengonsumsi ikan bluntak pisang dengan fugu adalah cara pemotongan. Kalau fugu menyilang di bagian perut, sedang bluntak pisang yang terbuang setengah badan lebih.
Ta Ko Yaki
Di kawasan Don Ton Buri, juga banyak ditemui ta ko yaki, makanan khas Osaka. Terbuat dari tepung, jahe merah, cumi (jenis sotong/cumi bertulang), daun bawang panjang, kobis, telur. Setelah diaduk merata dibentuk bulat-bulat, kemudian dipanggang. Harga per enam biji 320 yen atau sekitar Rp 25.600 (per yen sekitar Rp 80), 8 biji 420 yen, dan 12 biji 620 yen. ‘’Rasanya lumayan, agak cocok dengan masakan Indonesia,’’ ungkap beberapa wartawan yang ikut rombongan test drive Daihatsu.
Kecuali ta ko yaki, makanan khas yang bisa dinikmati di Osaka adalah yakiniku. Bahan berupa ikan, udang, cumi, kepiting, daging sapi, ayam, dan lainnya, disantap setelah sebelumnya dimasak sendiri di hot plate yang ada di setiap meja. Khusus daging sapi, konsumen bisa memilih yang istimewa. Sebelum dipotong, menurut informasi, sapi sering dipijit dan diberi minum bir, sehingga dagingnya lembut.
Gang-gang di kawasan Don Ton Buri, tak pernah sepi dari pengunjung pejalan kaki, dan pengendara sepeda. Kendaraan bermotor tak boleh lewat. Objek yang bisa dinikmati tak hanya rumah makan dengan berbagai menu. Di kawasan ini juga ada yang menjual anjing jenis kecil,kucing, humter. Pengunjungnya juga ramai, dan kebanyakan para wanita. Hewan-hewan itu diletakkan di kotak kaca. Untuk anjing dan kucing ada yang ditawarkan hingga Rp 10 juta – Rp 15 juta/ekor.
Jumat, November 02, 2007
Sensasi Ikan Bluntak Osaka
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
21.28
Label: PARIWISATA
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar