Sabtu, April 14, 2007

Sarjana Pengangguran

Oleh Sri Mulyadi

BAGI banyak orang, wisuda sarjana adalah acara yang menggembirakan sekaligus membanggakan. Baik bagi si wisudawan maupun orang tuanya. Mereka telah menjadi orang sukses. Paling tidak jika kesuksesan itu diukur dari keberhasilan mengatasi persoalan selama proses meraih gelar sarjana.

Berkaitan itu tak mengherankan kalau usai acara wisuda hajat syukuran bertebaran dimana-mana. Mulai dari tumpengan biasa hingga makan bersama di restoran berkelas. Muara dari semua itu adalah bersyukur ke hadirat-Nya.

Mereka memang layak melakukan itu. Di depan atau belakang namanya telah ada gelar. Pembekalan dari sang dosen pun mengalir: ''Sebelum terjun ke masyarakat kamu harus punya ketrampilan berkomunikasi, jujur, mampu bekerja dalam tim, fleksibel, etos kerja tinggi. Punya kemampuan analisis, teknik, motivasi, kepercayaan diri, dsb.''


Statusnya pun berubah, dari mahasiswa menjadi sarjana. Namun, justru persoalan status inilah yang kemudian sering memunculkan persoalan. Sebagian dari wisudawan, khususnya yang belum bekerja, bahkan mengaku gelisah.

Alasan mereka: ''Mulai besok status saya berubah, dari mahasiswa menjadi pengangguran terdidik. Padahal setelah selesai kuliah saya digadang bisa meringankan ekonomi keluarga. Namun di sisi lain, mencari pekerjaan bukanlah urusan mudah di negeri ini. Harus bersaing dengan jutaan sarjana lain yang lebih dulu menyandang predikat penganggur. Mau wirausaha terbentur modal.''

Sikap pesimistis seperti itu memang tak layak dipelihara di era globalisasi dan serba canggih seperti saat ini. Namun realitas seperti itu ternyata masih banyak dijumpai. Gelar yang selayaknya menjadi pemicu motivasi, menjadikan lebih percaya diri dan kreatif, berubah menjadi belenggu. Gengsi sarjana justru menjadikan pilih-pilih pekerjaan, selektif dalam bergaul, dsb. Mereka lupa bahwa gengsi seringkali hanyalah harga diri palsu.

***

Akademisi dituding sebagai produsen penganggur, bukan pencetak orang yang bisa menyediakan lapangan kerja. Dunia industri mengritik sarjana baru umumnya tak siap pakai. Sebaliknya, akademisi beranggapan tugasnya adalah mencetak sarjana, bukan tukang.

Akankah situasi saling-salah itu dibiarkan tanpa solusi? Yang pasti para wisudawan tak mengharapkan. Namun menemukan jalan ke luar yang mujarab, bukanlah pekerjaan mudah.

China perlu merapatkan barisan semua lini, guna mengatasi pengangguran. Salah satu terapinya memanfaatkan potensi pasar dalam negeri. Hasilnya memang tak seratus persen mengatasi pengangguran, namun mampu ke luar dari krisis. Dunia industri menjadi kuat, dan lapangan kerja terbuka lebar. Industri penunjang pun otomatis tumbuh, ibarat roda akan berputar kembali karena memang pasarnya ada.

Restrukturisasi dilakukan secara menyeluruh, tak cuma industri modern, bidang pertanian juga disentuh. Areal terkurangi namun hasil per luas lahan ditingkatkan. Dilakukan inovasi teknologi serta diversifikasi tanaman. Petani juga diharuskan memanfaatkan lahan untuk tanaman yang punya nilai tambah tinggi, buah-buahan, dan sayuran.

***

Negeri ini pun sebenarnya bisa. Dengan penduduk sekitar 250 juta, sudah merupakan pasar yang cukup dalam memanfaatkan potensi domestik. Syaratnya ''cuma'' komitmen bersama, penjabat pemerintah (lurah hingga presiden), wakil rakyat, pengusaha, perguruan tinggi, dan elemen masyarakat. Semua harus berada dalam satu tujuan, dan yang menghambat dianggap musuh rakyat, termasuk mereka yang meraup uang rakyat lewat jalur impor.

Tindakan mendewakan barang impor, mulai dari garam, beras, jagung, gula, daging, kedelai, susu, pakaian, sepatu, buah, sayur, dsb, sudah saatnya dikikis. Prinsip ekonomi, kalau bisa membeli dengan harga lebih murah dan kualitas lebih baik, mengapa memaksakan memproduksi sendiri, biarlah menjadi bahan renungan ekonom.

Kebijakan impor, saat ini, tak lagi sekedar mengesankan kemerosotan kepercayaan diri dan semangat kemandirian. Dampak yang muncul jauh lebih luas, terutama bagi puluhan juta orang miskin dan penganggur. Namun berharap banyak kepada pemerintah cukup berat, sebab sebagian besar anggaran tidak digunakan menggiatkan perekonomian, tetapi lebih banyak untuk kebutuhan konsumtif dan membayar utang luar negeri.

Jusuf Kalla sewaktu menjabat Menko Kesra, memang pernah melontarkan gagasan yang intinya mendesak agar pemerintah melakukan investasi dan siap mengambil risiko. ''Kalau tidak, bagaimana investasi swasta dan asing bisa masuk,'' kata dia waktu itu. Mudah-mudahan sekarang pun, setelah menjadi Wapres, dia masih konsisten. Bahkan tampil di barisan terdepan dalam memanfaatkan pasar domestik, serta ''memasyarakatkan'' guilty feeling atau perasaan bersalah di kalangan pendulang uang rakyat lewat kebijakan impor.


Sri Mulyadi, wartawan Suara Merdeka di Semarang._


[+] Baca Selengkapnya

Selasa, April 10, 2007

Indonesia: Hastina?

 Oleh Sri Mulyadi

KEBANYAKAN orang, khususnya di Jawa, pasti tidak enak hati jika Indonesia disamakan dengan negara di dunia wayang bernama Hastinapura atau Alengkadiraja. Alasannya, di dua negara tersebut sebagian besar rakyat, termasuk sang raja, perbuatannya amoral, sarat dengan keangkaramurkaan.
Puncak angkara murka di Hastina, saat Sang Raja Duryudana ingkar janji tak mau mengembalikan negara kepada yang berhak, yakni Pandawa. Akibatnya terjadi perang Bharatayudha. di Alengka, ketika pimpinan puncak negara, Dasamuka atau Rahwana mencuri Dewi Shinta, istri Raja Ayodyapala, Ramawijaya. Ujung-ujungnya terjadi perang besar "Brubuh Alengka".
Antipati terhadap Hastina atau Alengka masuk akal. Citra kedua negara itu sangat buruk saat dipimpin Duryudana dan Dasamuka. Hastina dan Alengka itu panggung tempat berkumpulnya orang-orang amoral. Mereka akan lebih bangga jika Indonesia disamakan dengan Amarta (negara Pandawa), Ayodyapala, atau Dwarawati yang dikomandoi Sri Kresna.


Alasannya, karena Amarta dipimpin Yudistira, raja yang murah hati, suka memberi, berbudi pekerti luhur, dan "bawalaksana" atau bersatunya kata dengan perbuatan.
Sang Raja menerapkan hastabrata atau suatu kepemimpinan yang menerapkan sifat bumi, yakni setia memberi kebutuhan hidup kepada siapa saja. Sifat air, selalu turun ke bawah dan memberikan kesejukan atau ketenteraman kepada rakyat.
Sifat angin, selalu bersikap adil. Mengamalkan sifat bulan, yakni menimbulkan suasana damai, sejuk dan indah, serta kebahagiaan dan harapan. Juga bersifat bak matahari, memberi sinar hidup, sumber petunjuk hidup.
Sang raja juga menerapkan sifat laut. Dia memosisikan sebagai tempat curahan hati bagi rakyat, berpandangan luas, penuh kasih, pengertian, dan sabar. Bersifat layaknya gunung, kukuh, teguh, tidak mudah menyerah untuk membela kebenaran. Terakhir, bersikap layaknya api, mampu membakar semangat, memberi kehangatan, memerangi kejahatan, memberikan ketenteraman, serta melindungi rakyat.
Amarta juga dibentengi ksatria yang punya spesifikasi untuk diteladani. Misalnya Bima yang punya sifat jujur, tegas, disiplin, berani karena benar. Ksatria yang lain adalah Arjuna. Dia senang bertapa dan menuntut ilmu, sehingga sangat sakti. Nakula ahli pertanian dan piawai mengurusi kesejahteran rakyat, serta Sadewa yang digambarkan piawai di bidang peternakan dan industri.
Di belakang ksatria yang dikenal dengan sebutan pandawa tersebut ada Sri Kresna yang bijaksana, ahli strategi, antisipatif, sering disebut bisa mengerti suatu kejadian yang belum terjadi.
Pandawa juga selalu didampingi Semar yang digambarkan cerminan rakyat, dan senantiasa mengingatkan para pemimpin negara agar mengedepankan nurani setiap kali membuat keputusan. Dia akan mencela, bahkan menentang apabila ksatria yang diikuti berbuat egois, me-ngorbankan kepentingan rakyat.
***
Bagaimana jika kondisi itu dikaitkan dengan kondisi Indonesia? Nampaknya masih "njomplang". Banyak pejabat sipil/militer, wakil rakyat, konglomerat, tokoh masyarakat, di ruang tamunya terpampang tokoh-tokoh ideal seperti Kresna, Yudistira, Bima, Arjuna, bahkan Semar, namun perbuatan si empunya tak seperti yang diamalkan tokoh yang dipajang.
Pajangan tokoh ideal itu hanyalah salah satu bentuk kepura-puraan. Tindakan sehari hari tak ubahnya to-koh "hitam" seperti Sangkuni, Dursasana, Duryudana, Rahwana, dsb. Mereka terjerumus ke perbuatan korupsi, egois, menyalahgunakan kekuasaan, tanpa mau tahu terhadap penderitaan rakyat.
Apakah dengan kondisi itu Indonesia pantas diidentikkan dengan Hastinapura atau Alengka? Jawabnya tentu tidak, sebab negara tak dapat disamakan dengan sifat pemimpinnya. Hastina pun pernah menjadi negara yang "panjang" atau populer serta "punjung" alias berwibawa pada saat dipimpin Pandudewanata atau Parikesit pasca-Bharatayuda.
Demikian juga Alengka saat di bawah kekuasaan Gunawan Wibisana (pasca-brubuh Alengka) atau Prabu Somali. Yang menentukan citra negara bukanlah nama tetapi penghuninya, mulai pemimpin hingga rakyat.
Di negeri ini nampaknya peran pemimpin juga lebih dominan. Pemimpin yang korup dan egois, akan cenderung menghasilkan rakyat yang korup dan egois pula. Sebaliknya, jika sang pemimpin mampu menjadi panutan serta mengutamakan kepentingan rakyat, tentu level di bawahnya akan mengikuti.
Dengan gambaran itu tentu tergantung ke mana para pemimpin berkiblat. Ke Amarta atau Hastina di bawah kungkungan Duryudana. Jika ke Amarta, tentu para "pangrehpraja" harus banting stir dengan mengedepankan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi atau golongan. Porsi Semar yang senantiasa mengingatkan para pemimpin agar selalu mengedepankan keluhuran budi, tentu tak mungkin diabaikan.

[+] Baca Selengkapnya

Senin, Maret 26, 2007

Peran Media Massa Dalam Pengembangan Wisataagro

SECARA sederhana pengertian agrowisata atau wisataagro adalah kegiatan wisata yang berlokasi atau berada di kawasan pertanian secara umum, lebih dikhususkan pada areal hortikultura.
Pengembangan agrowisata pada konsep universal dapat ditempuh melalui diversifikasi dan peningkatan kualitas sesuai dengan persyaratan yang diminta konsumen dan pasar global. Sedangkan pada konsep uniqueness, konsumen ditawarkan kepada produk spesifik yang bersifat unik.
Keinginan masyarakat untuk menikmati objek-objek spesifik seperti udara yang segar, pemandangan yang indah, pengolahan produk secara tradisional, maupun produk-produk pertanian/perkebunan modern dan spesifik, akhir-akhir ini menunjukkan peningkatan yang pesat.


Kecenderungan itu merupakan pertanda tingginya permintaan akan agrowisata dan sekaligus membuka peluang bagi pengembangan produk-produk agrobisnis, baik dalam bentuk kawasan ataupun produk pertanian yang mempunyai daya tarik spesifik.
Hamparan areal tanaman yang luas seperti pada areal perkebunan, dan hortikultura di samping menyajikan pemandangan dan udara yang segar, juga merupakan media pendidikan bagi masyarakat dalam dimensi yang sangat luas, mulai dari pendidikan tentang kegiatan usaha di bidang masing-masing, sampai kepada pendidikan tentang keharmonisan dan kelestarian alam.
Objek wisataagro tidak hanya terbatas kepada objek dengan skala hamparan yang luas seperti yang dimiliki oleh areal perkebunan, tetapi juga skala kecil yang karena keunikannya dapat menjadi objek wisata yang menarik.
Cara pembuatan gula kelapa misalnya, juga merupakan salah satu contoh dari kegiatan yang dapat dijual kepada wisatawan. Di samping mengandung muatan kultural dan pendidikan juga dapat menjadi media promosi, karena dipastikan pengunjung akan tertarik untuk membeli gula merah yang dihasilkan perajin.
Dengan demikian wisataagro bukan semata merupakan usaha/bisnis di bidang jasa bagi pemenuhan konsumen akan pemandangan yang indah dan udara yang segar, namun juga dapat berperan sebagai media promosi produk pertanian/perkebunan dan menjadi media pendidikan masyarakat, dsb.

Strategi

Pengembangan agrowisata juga tak beda dari mengembangkan usaha yang lain. Biasanya diawali dari penetapan visi, misi, strategi, sampai ke evaluasi. Secara otomatis, hal itu ditetapkan dengan mempertimbangkan dinamika untuk meningkatkan daya saing agrobisnis dalam perdagangan global, nasional, regional, maupun lokal, lewat analisis SWOT atau strenght (kekuatan), weakness (kelemahan), opportunity (peluang/kesempatan), threat (ancaman).
Pada era persaingan global yang semakin kompleks ini, maka faktor efisiensi merupakan faktor kunci dalam pengembangan agrobisnis, termasuk wisataagro. Pergerakan ke arah efisiensi tersebut menuntut kemampuan manajerial, profesionalisme dalam pengelolaan usaha dan penggunaan teknologi maju.
Dengan demikian, peran teknologi informasi dan promosi usaha serta kemampuan dalam menyiasati pasar dengan berbagai karakteristiknya, akan menjadi komponen yang sangat penting untuk selalu dicermati. Pada bagian lain wisataagro cenderung dominan kepada menjual jasa sumberdaya alam, untuk itu aspek kelestarian alam harus mendapat perhatian utama.
Sesuai dengan cakupan tersebut, maka upaya pengembangan wisataagro secara garis besar mencakup aspek pengembangan sumberdaya manusia, sumberdaya alam, promosi, dukungan sarana san kelembagaan.
sumberdaya manusia
Sumberdaya manusia mulai dari pengelola sampai kepada masyarakat berperan penting dalam keberhasilan pengembangan wisataagro. Kemampuan pengelola wisataagro dalam menetapkan target sasaran dan menyediakan, mengemas, menyajikan paket-paket wisata serta promosi yang terus menerus sesuai dengan potensi yang dimiliki, sangat menentukan keberhasilan dalam mendatangkan wisatawan.
Dalam hal ini keberadaan/peran pemandu wisata dinilai sangat penting. Kemampuan pemandu wisata yang memiliki pengetahuan ilmu dan keterampilan menjual produk wisata sangat menentukan. Pengetahuan pemandu wisata seringkali tidak hanya terbatas kepada produk dari objek wisata yang dijual, tetapi juga pengetahuan umum terutama hal-hal yang lebih mendalam berkaitan dengan produk wisata tersebut.
Ketersediaan dan upaya penyiapan tenaga pemandu wisataagro saat ini dinilai masih terbatas. Pada jenjang pendidikan formal seperti pendidikan pariwisata, mata ajaran wisataagro dinilai belum memadai sesuai dengan potensi wisataagro di Indonesia. Sebaliknya pada pendidikan pertanian, mata ajaran kepariwisataan juga praktis belum diajarkan.
Untuk mengatasi kesenjangan tersebut pemandu wisata agro dapat dibina dari pensiunan dan atau tenaga yang masih produktif dengan latar belakang pendidikan pertanian atau pariwisata dengan tambahan kursus singkat pada bidang yang belum dikuasainya.
Dalam kaitan ini kerjasama antara objek wisataagro dengan biro perjalanan, perhotelan, dan jasa angkutan sangat berperan. Salah satu metoda promosi yang dinilai efektif dalam mempromosikan objek wisataagro adalah metoda "tasting". Yaitu memberi kesempatan kepada calon konsumen/wisatawan untuk datang dan menentukan pilihan konsumsi dan menikmati produk tanpa pengawasan berlebihan sehingga wisatawan merasa betah. Kesan konsumen itu akan menciptakan promosi tahap kedua dan berantai dengan sendirinya.
Faktor sumberdaya alam dan lingkungan tersebut mencakup sumberdaya objek wisata yang dijual, serta lingkungan sekitar termasuk masyarakat. Untuk itu upaya mempertahankan kelestraian dan keasrian sumberdaya alam dan lingkungan yang dijual sangat menentukan keberlanjutan usaha.
Kondisi lingkungan masyarakat sekitar juga menentukan minat wisatawan untuk berkunjung. Sebaik apapun objek wisata yang ditawarkan, apabila masyarakat sekitar tidak menerima kehadirannya, akan menyulitkan dalam pengembangan.
Antara usaha wisata agro dengan pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan terdapat hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. Usaha wisataagro berkelanjutan membutuhkan terbinanya sumberdaya alam dan lingkungan yang lestari, sebaliknya dari usaha bisnis yang dihasilkannya dapat diciptakan sumberdaya alam dan lingkungan yang lestari.
Perlu diingat pula usaha wisataagro bersifat jangka panjang dan hampir tidak mungkin sebagai usaha jangka pendek. Untuk itu segala usaha perlu dilakukan dalam perspektif jangka panjang. Sekali konsumen/wisatawan mendapatkan kesan buruk, dapat berdampak jangka panjang untuk mengembalikannya.
Kehadiran konsumen/wisatawan juga ditentukan oleh kemudahan-kemudahan yang diciptakan, mulai dari pelayanan yang baik, kemudahan akomodasi dan transportasi sampai kepada kesadaran masyarakat sekitarnya.
Upaya menghilangkan hal-hal yang bersifat formal, kaku dan menciptakan suasana santai serta kesan bersih dan aman, merupakan aspek penting yang perlu diciptakan.
Pengembangan wisataagro memerlukan pula dukungan semua pihak, seperti pemerintah yang bertindak sebagai fasilitator dalam mendukung berkembangnya wisataagro dalam bentuk kemudahan perizinan, infra struktur, dan lainnya.
Kondisi perekonomian dan persaingan global yang semakin kompleks, menuntut kreativitas pengembangan usaha yang kompetitif, sesuai dengan keunggulan yang dimiliki. Wisataagro merupakan salah satu usaha agrobisnis yang prospektif untuk dikembangkan.
Namun demikian tantangan yang dihadapi dalam pembangunan wisataagro ke depan sangat besar, terutama berkaitan dengan kesiapan SDM, promosi dan dukungan prasarana pengembangan. Untuk itu diperlukan langkah bersama antara pemerintah, pengusaha wisata agro, lembaga terkait dan masyarakat. Upaya terobosan perlu dirancang untuk lebih meningkatkan kinerja dan peran wisataagro.

Peran Media

Jawa Tengah sendiri memiliki potensi agrowisata yang cukup banyak dan variatif. Misalnya Agrowisata Kebun Tambi di Kecamatan Kejajar, Wonosobo (kebun teh dan proses pengolahannya), Kebun Lerep di Ungaran (kebun kopi dan cengkih), serta Kebun Getas/Asinan di Kecamatan Beringin, Kabupaten Semarang (aneka tanaman buah dan proses pengolahannya). Ini sekadar contoh agrowisata perkebunan.
Hanya saja, potensi tersebut belum banyak dikembangkan secara profesional, sehingga belum banyak dikenal masyarakat dan memberikan profit yang maksimal bagi pengusahanya.
Di samping belum dikelola secara profesional, para pemilik/pengelola umumnya juga kurang memanfaatkan media massa dalam pengembangan usahanya. Baik media audio (dapat didengar misalnya radio), visual (dapat dilihat seperti media cetak), audio-visual (didengar dan dilihat misalnya televisi), maupun media digital seperti internet.
Belum memanfaatkannya media tersebut, pada umumnya disebabkan karena mereka belum tahu bagaimana berhubungan dengan insan pers/media. Padahal kegiatan promosi merupakan salah satu kunci dalam mendorong kegiatan wisata agro.
Penyebaran informasi dan pesan promosi memang tak hanya melalui media massa, tetapi dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti melalui leaflet, booklet, pameran, cinderamata, penyediaan informasi pada tempat public (hotel, restoran, bandara dan lainnya). Tetapi pemanfaatan media (dalam bentuk iklan, advetorial, release/berita, atau laporan), sangat efektif karena jangkauan audience lebih luas.
Berkaitan itu ‘’hukumnya wajib’’ setiap perusahaan agrowisata mempunyai petugas PR (Public Relation) yang bertugas mempublikasikan potensi yang dipunyai kepada masyarakat luas media massa, atau bentuk-bentuk publikasi potensi yang lain.

(Sri Mulyadi, bahan tulisan dari berbagai sumber)

[+] Baca Selengkapnya

Rabu, Maret 21, 2007

Potret Politikus

Oleh Sri Mulyadi
SUATU hari, rombongan politikus berkunjung ke daerah terpencil dengan naik bus. Sepulangnya bus yang ditumpangi masuk jurang. Oleh warga sekitar semuanya dikubur di tempat itu juga.
Sehari kemudian polisi datang ke tempat kejadian dan menanyakan ke para penduduk setempat.
Polisi: Apa dalam kecelakaan itu tak ada yang masih hidup?
Penduduk: Kemarin ada beberapa penumpang yang merintih: Tolong pak, saya masih hiduup.
Polisi: Lalu kemana penumpang yang hidup itu sekarang?
Penduduk: Sudah kita kubur, bapak kan tahu sendiri kejujuran politikus. Bilang A tapi nyatanya B. Janji mau melakukan C kenyataannya D. Paling kemarin itu juga begitu. Ngakunya masih hidup, padahal sebenarnya sudah mati, jadi ya kita kubur saja!


Cerita rekaan tersebut memang cuma joke yang tersebar lewat internet. Namun yang namanya joke atau lelucon, bisa juga dipahami sebagai potret dari realita. Ibaratnya tak ada asap kalau tanpa api. Lelucon hanyalah realita yang diplesetkan dalam bentuk adegan atau kata-kata lucu.

Apakah polikus di negeri ini suka tidak jujur, ingkar janji, dsb, sehingga muncul lelucon seperti itu? Jawabnya pasti tidak semua. Kalau pun ada, istilahnya pasti sudah berubah. Ingkar janji diganti: belum atau masih proses, dll. Tidak jujur alias bohong diubah menjadi: ada pihak yang ingin mendiskreditkan, belum saatnya diungkap, daripada menimbulkan persepsi yang keliru, jangan berprasangka negatif, dan istilah lain yang ada di ''kamus berkilah ala politikus''.

Sebagian di antara mereka ada yang beranggapan, tercapainya tujuan adalah utama. Soal fair atau etis tidaknya cara yang digunakan, cukup pada tingkatan penting, bukan utama. Prinsip kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya tergantung lidah, nampaknya masih saja dianut. Masalah janji saat kampanye dianggap masa lalu.

Pada saat kemiskinan dan pengangguran bertambah akibat berbagai bencana seperti sekarang ini, wacana soal reshuffle kabinet, terus saja digulirkan. Bahkan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Samsudin, ikut-ikutan mendesak agar reshuffle dilakukan paling lambat akhir 2007. Bahkan ada yang terang-terangan minta jatah menteri.

Di DPR juga terjadi bagi-bagi laptop untuk 550 wakil rakyat a Rp 21 juta. Sementara PP37/2006 yang beberapa waktu diributkan, juga telah selesai direvisi. Hasil revisi memunculkan PP 21/2007, intinya tunjangan DPRD tetap diberikan. Rapelan juga tetap, bedanya sekarang dimulai Januari 2007. Yang telanjur menerima kelebihan rapelan, boleh diangsur sampai sebulan sebelum masa jabatan 2004-2009 selesai.
Dampak lumpur Lapindo makin meluas, penderitaan korban makin berlarut. Soal kebijakan impor beras di tengah masim panen seperti sekarang ini, seolah juga tak mengusik nurani mereka, meskipun membela kepentingan petani selalu digembar-gemborkan saat kampanye. ''Dagangan'' kampanye tentang perubahan yang sempat menimbulkan harapan baru ke arah lebih baik, tanda-tandanya belum dirasakan oleh sebagian besar rakyat.
***
Etiskah pada situasi sekarang ini para politikus masih saja bergelut soal akan dan masih proses? Bermoralkah mereka yang tetap menonjolkan kepentingan pribadi dan kelompoknya? Jawabnya memang bisa bias, masing-masing punya argumentasi sendiri.
Ada yang berpandangan antara politik dan etika/moral, tak dapat dicampuradukkan. Nicolo Machiavelli, Lenin dan Gladstone menganggap politik adalah lembah yang kotor. Segala cara halal. Tujuan utamanya menaklukkan lawan, dan memenangi pertarungan yang akhirnya meraih kekuasaan.

Sementara Karl Popper, seorang ahli filsafat politik dari Inggris berpendapat bahwa politik harus dimoralkan. Bukan sebaliknya, moral dipolitisasikan. Dalam artian secara konsisten berpegang pada nilai-nilai yang berlaku di masyarakat dan agama. Panggung politik tanpa rambu moral, sama saja dunia binatang. Dan etika berdemokrasi cuma dapat terwujud manakala elite politik berperilaku sesuai kaidah-kaidah demokrasi.

Namun apa yang terjadi, secara umum masih banyak disaksikan dominannya orientasi politikus pada kekuasaan, sehingga pemaknaan politik sebagai upaya meraih kekuasaan, lebih besar dibanding bagaimana memanfaatkan kekuasaan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Meskipun sering dijumpai upaya memperoleh kekuasaan itu pun dilakukan dengan tidak jujur.

Apa memang demikian lah dunia polikus di negeri ini? Urusan rakyat selalu donomorduakan? Kalau jawabannya iya, bersiap-siaplah menuai apatisme rakyat saat terjadi Pemilu, baik untuk memilih calon wakil rakyat maupun pejabat politik.
Mereka yang punya predikat suka ingkar janji, lebih mengutamakan kepentingan pribadi/golongan, tak konsisten menjaga omongan, pasti akan menuai ketidakpercayaan konstituen. Ujung-ujungnya, masih hidup pun langsung ''dikubur'' oleh rakyat yang merasa dibodohi.

(Sri Mulyadi, wartawan Suara Merdeka di Semarang)

[+] Baca Selengkapnya

Jumat, Maret 09, 2007

Kolam Bencana

Oleh Sri Mulyadi
Bukan lautan, hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada ombak, tiada badai kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu
Orang bilang tanah kita tanah sorga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

Syair lagu Koes Plus tersebut menggambarkan kondisi sejatinya negeri ini, paling tidak di era 1970-1980-an. Negeri ini begitu memikat nan elok bak zamrud katulistiwa. Bahkan ki dalang mengumandangkan sebagai negeri yang ''gemah ripah loh jinawi, tentrem ayem kertaraharja''. Siapa pun bangga memiliki dan berlindung di pelukan ibu pertiwi.
Waktu itu orang pasti tak menyangka, sekarang begini jadinya. Begitu banyak derita mengoyak negeri ini. Predikat kolam susu berubah menjadi negeri yang didera bencana, gudangnya orang miskin dan pengangguran. Materialisme, egoisme, keserakahan, kemunafikan, kehilangan nurani, menyelimuti negeri ini.
Ibu Pertiwi bermandi darah. Kurang dari tiga tahun terakhir saja, ratusan ribu jiwa melayang ditelan bencana, kecelakaan di darat, laut, dan udara. Mulai dari tsunami, gempa, tanah longsor, kecelakaan kereta, kapal, pesawat, dsb. Terakhir (Rabu 7/3), pesawat Garuda yang selama ini jadi andalan angkutan udara, terutama dari sisi safety-nya, terbakar dan meledak di Bandara Adisucipto Yogyakarta. Korban tewas mencapai puluhan orang.


Catatan tentang kelabunya negeri ini pun tambah panjang. Ibu pertiwi kembali terhenyak. Jutaan warga menangis tersedu, berkabung, meratap haru biru. Sebagian lagi bungkam, tertegun termangu. Tak tahu apa yang harus diperbuat, meski di sisi lain belasan warga Indonesia dinobatkan sebagai orang terkaya di dunia.
Murkakah Sang Pencipta? Jawabnya pasti tidak. Yang pasti di negeri yang dulu diibaratkan sebagai kolam susu ini, sekarang makin banyak dihuni manusia yang mengabaikan cinta, kasih sayang, kebaikan, anugerah, dan semua yang mulia dari Sang Pencipta.
Logika telah berbalik makna. Berebut benar dengan mengorbankan sesama. Merusak lingkungan berdalih devisa. Efisiensi dengan taruhan nyawa. Keteledoran dibalut bencana. Bencana dibalut kehendak-Nya, dsb.
Penyelesaian masalah ''beranak'' masalah, seperti PP37/2006, kebijakan impor beras, bantuan bencana, lumpur panas PT Lapindo, dsb. Yang satu belum terselesaikan, muncul lainnya, begitu seterusnya, dan ujung-ujungnya terbelenggu tak dapat keluar dari masalah.
***
Mungkin yang dikemukakan Einstein benar. Menurut dia, apa yang menyebabkan masalah, tak bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah. Cuma persoalannya, adakah orang atau pejabat di negeri ini yang berani bilang, sayalah yang menyebabkan munculnya masalah? Sehingga harus tahu diri atau mundur dari jabatan, karena tak bisa menyelesaikan masalah.
Umumnya yang terjadi justru yang bersangkutan malah berburu kambing hitam, menyalahkan alam, mengalihkan perhatian, dsb, yang intinya menghindar dari tanggung jawab dan membuat skenario supaya terhindar dari predikat sebagai penyebab munculnya masalah. Meskipun sebenarnya yang bersangkutan tahu bahwa menghindar bukanlah solusi yang baik.
Memang tidak ada negara yang tak punya masalah. Yang berbeda hanya tingkat kesulitan, jenis, serta cara menyelesaikannya. Munculnya persoalan di satu sisi memang menjadikan orang kreatif, namun kalau pemerintahan yang dikerubuti masalah, ya akhirnya -- rakyat di segmen bawah umumnya-- yang terabaikan. Buntutnya? Ya sangat logis jika ''zamrud katulistiwa'' berubah menjadi ladang persemaian kemiskinan dan pengangguran.
Jika akar permasalahan tidak tersentuh oleh yang berkewajiban, masalah yang sama dan baru akan terus terulang. Semua dituntut jeli melihat akar masalah untuk mengatasi. Sebab dan akibat adalah logika yang sangat sederhana dan dapat dipahami semua orang. Tapi kalau tidak dipakai dalam memberantas setiap masalah yang terjad, kemajuan akan makin jauh, dan akan tetap terpuruk dalam ketakberdayaan dan kemiskinan. Ujung-ujungnya menimbulkan penderitaan bagi banyak orang, lingkungan dan alam.
***
Presiden SBY pun juga berpandangan demikian. Masalah tidak akan selesai jika hanya dilihat dan diamati saja. Kekuasan bukan sebagai tujuan, tapi sebagai alat untuk mensejahterakan rakyat. ''Saya tidak suka menyampaikan hal-hal yang tidak ada. Jangan bohongi rakyat. Katakan apa yang belum tercapai dan minta maaf,'' kata SBY, di depan kader Partai Demokrat, beberapa hari lalu.
Logikanya, masalah kemiskinan dan pengangguran pun, juga tak akan selesai jika hanya dilihat. Persoalannya, jangan-jangan dilihat saja tidak, sehingga ''zamrud katulistiwa'' tetap menjadi persemaian kaum miskin dan pengangguran. Program pengentasan bagi mereka tetap saja menuai program.
Bagi Badrun, warga sebuah desa di Sragen, punya cara sendiri dalam menyelesaikan persoalan. ''Patahkan sapu lidi ini,'' katanya kepada setiap anaknya. Tapi, tak seorang pun dari mereka bisa.
''Kini buka ikatannya lalu patahkan setiap lidi secara terpisah,'' ujarnya. Sudah dapat diduga, mereka bisa mengerjakan tanpa kesulitan. ''Makna dari kejadian ini, kalau lidi (kita) disatukan menjadi kuat dan sulit dipatahkan. Tapi kalau sapu lidi (masalah) diurai, akan gampang diselesaikan,'' ungkapnya.
(Sri Mulyadi, wartawan Suara Merdeka di Semarang)_

[+] Baca Selengkapnya

Kamis, Februari 22, 2007

Galak-Celutak

Oleh: Sri Mulyadi

NEK galak aja celutak, nek celutak aja galak. Pepatah Jawa ini maknanya: Kalau suka marah, mencaci-maki, jangan rakus atau senang makan sesuatu yang tidak patut karena bukan hak/jatahnya.
Namun yang sering dijumpai dalam kehidupan masyarakat saat ini, justru sebaliknya. Galak tetapi celutak. Ke-galak-an untuk menutupi ke-celutak-annya. Cukup banyak contoh di sekitar kita. Suka marah untuk menutupi salah, kekurangannya, bahkan sebagai sarana mendulang TST (tahu sama tahu) yang UUD (ujung-ujungnya duit). Praktik seperti itu terjadi di lingkungan rumah tangga, jalan raya, instansi pemerintah, lingkungan sekolah, dsb.
Para pelaku tak sadar bahwa galak tapi celutak, ibarat menabur angin yang akan menuai badai. Menabur ke-galak-an sekaligus ke-celutak-an, akan menuai cibiran, cemoohan, umpatan, bahkan dendam.
''Walaah mbok ngaca, instrospeksi, orang kok enggak ngrumangsani. Awas rasakan balasanku nanti, dsb.'' Begitulah antara lain reaksi yang muncul dari para korban ke-galak-an sekaligus ke-celutak-an. Yang pasti, ujung-ujungnya senjata makan tuan. Dan dalam tindakan celutak si pelaku secara otomatis menyandang predikat gupak alias kotor atau tercemar kotoran.


***

Dalam konflik Mensesneg Yusril Ihza Mahendra - Ketua KPK Taufiqurachman Ruki, siapa galak dan siapa yang celutak? Hingga kini belum ada yang tahu, karena memang baru sebatas pengusutan dan menjadi wacana.
Kasus itu berawal dari ancaman Yusril kepada Ketua KPK. Usai diperiksa dalam kasus pengadaan alat automatic finger print identification system (AFIS) di Depkumham tahun 2004 senilai Rp 18,48 miliar dan diduga ada penyimpangan Rp 6 miliar, dia ''geram''.
Yusril mengancam akan mengadukan Ketua KPK jika langkah penunjukan langsung yang dilakukan semasa memimpin Depkumham dipermasalahkan. Dasar laporan itu di KPK juga terjadi pengadaan alat penyadapan dengan penunjukan langsung. Dan Yusril pun merealisasi ancamannya Jumat (16/2) lalu.
Dari kronologi itu Yusril yang nampak galak, sementara Ketua KPK tenang, justru komentar di luaran yang bertebaran. Namun hingga kini pun belum ada yang tahu bagaimana sikap Taufiqurachman sewaktu memeriksa Yusril. Orang awam hanya bisa bertanya-tanya, apa ada sesuatu selama pemeriksaan sehingga Yusril bereaksi segalak itu?
Bagi sebagian orang, kejadian itu dianggap pantas memperoleh sambutan tawa. Bagaimana mungkin para petinggi negara yang seharusnya menjadi panutan dalam menjalankan proyek pengadaan barang, dan lembaga yang bertugas memvonis ada tidaknya pelanggaran dalam kegiatan itu, justru saling mempertontonkan ''borok'' di level atas.
Yusril diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi pengadaan AFIS. Kemudian dia gantian menuduh KPK tidak menerapkan Keppres 80/2003 tentang pengadaan barang dan jasa, dan malah memeriksa orang lain yang melanggar Keppres itu.

Kepriben kiye? Begitulah bahasa Tegalnya. Bagi orang awam bisa jadi hal itu memang terasa aneh. Apalagi jika nantinya terbukti benar pengadaan barang di KPK memang tak sesuai ketentuan. Banyak orang akan kembali bertanya, bukankah sesuai pasal 6 Undang-Undang No 30 Th 2002 tugas KPK memberantas dan mencegah korupsi?
Begitu pula sebaliknya, jika ternyata Yusril yang terbukti bersalah, tentu wajah Ibu Pertiwi makin muram. Bagaimana tidak, pejabat yang berwenang memberi rekomendasi sebelum presiden memutuskan, ternyata terkena wabah celutak juga, paling tidak sudah gupak/tercemar. Catatan rakyat tentang carut-marutnya wajah pejabat tinggi di negeri ini pun pasti bertambah panjang.

***

Lantas siapa yang harus meng-clear-kan konflik itu? Presiden? Lembaga peradilan? Atau dibiarkan begitu saja biar ''clear'' sendiri alias menguap bersama sang waktu? Nggak tahulah. Yang pasti di negeri ini banyak ''sutradara'' yang pandai mengemas suatu adegan lucu dan hot menjadi dingin-dingin saja.
Biar anjing menggonggong kafilah tetap berlalu, dengan menganggap seolah-olah rakyat bisa memahami. Tak peduli bahwa sebenarnya masyarakat menyimpan segudang pertanyaan tentang menguapnya kasus-kasus besar yang merugikan negara triliunan rupiah.
Repotnya lagi, ada sebagian politikus, pejabat tinggi, pakar hukum, dll, menganggap hal itu merupakan bagian dari ''permainan'' sehari-hari dalam mengemban tugasnya.

[+] Baca Selengkapnya

Senin, Februari 12, 2007

Serakah

Oleh: Sri Mulyadi

SEORANG tokoh agama berseru di hadapan umatnya: ''Semoga Tuhan memberkati rezeki melimpah kepada saudara-saudara. Amin.'' Umat pun menyahut dengan lantang: Amin.
''Uang banyak yang dilimpahkan kepada saudara, simpanlah dengan baik, jangan dihamburkan. Amin. ''Sekali lagi umat pun menyahut: Amin.
''Jangan lupa pula sisihkan sebagian untuk Tuhan, misalnya membantu korban bencana, membangun tempat ibadah, dan kegiatan sosial lain. Amin….''
Ternyata umat yang mendengar seruan itu cuma saling berpandangan.
Apakah semua orang akan bersikap sama jika mendengar seruan seperti itu? Jawabnya tentu tidak. Buktinya ribuan orang rela membantu korban tsunami, gempa di wilayah DIY dan Jateng, tanah longsor, dsb.
Sebaliknya, tak sedikit pula orang yang tinggal di negeri yang berdasarkan Pancasila ini, sikap dan perilakunya serakah, tak ubahnya seekor kera yang sedang makan kacang. Sebagian ditelan, lainnya disimpan di mulut, sementara tangannya masih terus sibuk mengupas. Bahkan kakinya pun digunakan juga untuk mengamankan sisa makanan yang masih ada.


***

Apakah mencari uang sebanyak-banyaknya, seolah akan hidup seribu tahun, tindakan serakah dan keliru? Apa salahnya kalau ada peluang dimanfaatkan sebaik-baiknya? Tentu saja jawabnya bukan keliru atau tak keliru, benar atau salah, karena persoalan yang muncul menyangkut bagaimana cara memperolehnya.
Kalau cara yang ditempuh tidak fair, merampas milik orang lain dengan ambisi liar, mengabaikan kepatutan, etika, menghalalkan segala cara, dan mengabaikan kepentingan orang lain, bahkan menyakitkan, itu yang disebut serakah. Namun bila kekayaan diperoleh secara benar, lewat perjuangan yang fair, dan tak egois, tentu bukan serakah. Bahasa religiusnya, mengejar lebih banyak uang, menuntut untuk menjadi lebih kaya, tidaklah salah, tetapi pakailah cara sesuai ajaran agama.
Namun realita menunjukkan makin sedikit saja orang yang tak menganut aliran ''aji mumpung''. Merasa dirinya miskin, bukan karena tidak sanggup mencukupi kebutuhan hidupnya, melainkan karena ia membandingkan dirinya dengan orang lain. Akhirnya keserakahan muncul di semua level. Tak peduli terhadap wajah bangsa yang makin amburadul, dan badut-badut berdasi tanpa malu memamerkan kelucuannya.
Bagaimana tidak lucu jika ada ribuan wakil rakyat di daerah ngluruk ke Jakarta guna ''melunaskan'' uang rapelan yang telah habis digunakan untuk pribadi/golongan, usai pemerintah merevisi PP37/2006. Padahal di saat bersamaan, jutaan warga ibu kota dalam kondisi menderita akibat kebanjiran, dan pemerintah kesulitan mencari dana untuk membantu dan menyelesaikan persoalan.
Apakah mereka termasuk yang serakah, egois, menghalalkan segala cara, rakus, tak mau tahu penderitaan rakyat yang diwakili? Enggak tahulah. Yang pasti, hampir semua wakil rakyat itu bukan termasuk orang berkekurangan, buktinya bisa ke Jakarta dan menginap di hotel berkelas.
Namun mungkin mereka lupa bahwa tindakannya itu memukul diri sendiri. Konstituen tak lagi respek. Catatan rakyat tentang reputasi wakil rakyat bertambah. Di antara mereka yang biasanya mengantuk saat sidang membicarakan nasib rakyat, menjadi bergairah saat memperjuangkan isi kantongnya. Mereka juga lupa bahwa di negeri ini ada budaya malu dan azas kepatutan, tak sekedar budaya silat lidah dalam mencapai tujuan.
***
Mereka nampaknya juga lupa menanyakan dan mengamati kenapa ibu kota bisa lumpuh akibat tergenang air. Padahal kondisi seperti itu jelas sangat mungkin terjadi di wilayah dimana para wakil rakyat tersebut bertugas. Terutama daerah yang posisinya di bawah permukaan air laut.
Bila dikaji secara mendalam, penyebab utama musibah tersebut (termasuk banjir di Semarang) juga akibat ulah manusia (penguasa, pengusaha, wakil rakyat, dsb) yang serakah. Peraturan Daerah (Perda) tentang tata ruang kota dilanggar, demi mengedepankan kepentingan sempit sang penguasa/wakil rakyat, dan mengorbankan rakyat miskin pada umumnya.
Ribuan hektare sabuk hijau/resapan air, empang, embung, tambak, hutan lindung, dikorbankan dan dialihfungsikan menjadi perumahan, pertokoan, dan bangunan lain, yang semuanya terbuat dari beton. Padahal lokasi tersebut merupakan penampung air hujan yang utama. Jika daerah resapan mencukupi air akan cepat merembes ke tanah. Baru kelebihannya akan mengalir ke sungai.
Namun karena daerah resapan hilang secara bertahap, biasanya seiring pergantian penentu kebijakan, sungai pun juga tak mampu menampung luapan air. Akibatnya jika hujan lokasi permukiman, yang letaknya memang di bawah permukaan air laut, tergenang. Dan jika sudah demikian biasanya justru kondisi kanal yang dijadikan sasaran sebagai penyebab utama. Mana yang kondisinya sudah dangkal, bantarannya dipenuhi gubuk-gubuk orang miskin, dsb.
Ada juga pejabat yang melempar wacana: Penyebab banjir adalah kanal yang tak mampu menampung air, bulan purnama yang biasanya dibarengi rob besar, dan curah hujan yang tinggi.
Uedan! Ringan bener tugas pejabat di Indonesia. Wilayahnya kebanjiran bisa menyalahkan alam. Bukankah fungsi kanal tidak sebagai penyelesai utama, dan purnama serta rob sejak dulu kala memang sudah ada.
Begitukah budaya penentu kebijakan di negeri ini? Persoalan yang muara sebenarnya moral hazard alias serakah, dibungkus dengan bermain lidah tanpa nurani, etika, kepatutan, menyalahkan alam, atau pembungkus lain yang seolah-olah masuk akal dan membuat rakyat percaya. Tak cuma rapelan dan banjir, soal harga beras pun, nampaknya juga tak lepas dari ''pejuang'' yang berbaju keserakahan.

(Sri Mulyadi, wartawan Suara Merdeka di Semarang)

[+] Baca Selengkapnya

Sabtu, Januari 27, 2007

Mengetuk Nurani Wakil Rakyat

 Oleh Sri Mulyadi
PRESIDEN Bolivia, Evo Morales, memotong gajinya 50 persen. Kini dia menerima 1.800 dolar AS atau sekitar Rp 16,5 juta per bulan. Selanjutnya gaji seluruh pegawai negeri akan ditinjau, sebab pejabat tidak boleh menerima gaji lebih tinggi dari presiden.
Langkahnya itu sesuai dengan janji yang dilontarkan sewaktu kampanye, dan dimaksudkan untuk memperbesar jumlah dokter dan guru. Diindikasikan anggota Kongres juga harus merelakan gajinya dipangkas.
Sementara itu Presiden Meksiko, Felipe Calderon yang disumpah 3 Desember 2006, mengeluarkan kebijakan baru berupa pemotongan 10 % dari gajinya dan gaji seluruh menteri kabinetnya.
Dalam pidatonya di televisi, Calderon juga berjanji akan memotong anggaran belanja pemerintah, mulai dari biaya telepon sampai anggaran kunjungan ke luar negeri. Pemotongan anggaran itu, menurutnya, akan menghemat anggaran negara 2,5 miliar dolar AS untuk 2007, atau cukup untuk membangun sekitar 2.500 sekolah.
Tindakan kedua kepala negara tersebut, sebagai realisasi dari janji sewaktu kampanye. Janji dianggap mempunyai konsekuensi besar, karena terikat oleh tanggung jawab. Apa yang dapat dipercayai rakyat dari para pemimpin, tentu dari kata-katanya, namun realisasi dari ucapan itulah yang akan punya arti lebih penting. Kredibilitas seorang pemimpin akan terancam jika janjinya tidak dipenuhi.


Orang yang menjunjung prinsip sportivitas, janji dianggap utang. Seorang tenaga pemasar, menganggap janji merupakan sesuatu yang sakral, tabu untuk dilanggar. Gara-gara ingkar janji, bisa merusak segalanya. Kredibilitasnya bisa anjlok dan perlahan-lahan menghancurkan merk produknya. Namun bagi orang yang menjadikan janji sekadar sebagai alat mencapai tujuan atau sarana mencari makan, tentu maknanya bisa berbeda. Tapi lepas dari apa pun goalnya, pasti berhubungan dengan "ganjel" atau sekumpulan orang yang menopang predikat, posisi, kedudukannya.
Adanya pemimpin, ketua, dan posisi puncak lain, pastilah karena ada anak buah. Munculnya predikat wakil rakyat, karena ada rakyat yang memilih dan diwakili. Namun rakyat yang telah merelakan dirinya dijadikan "ganjel", tentu tak bisa diperlakukan seenaknya. Diperlukan sentuhan dari hati ke hati. Siapa pun akan total dalam suatu hal, jika ada keuntungan dan cinta, tanpa dilukai hatinya.
Persoalan yang kemudian muncul, sudahkah para pemimpin atau pengurus suatu organisasi, terutama di bidang politik, telah menyentuh dengan hati para konstituennya? Atau mungkin malah sebaliknya, melukai hati sekumpulan orang yang telah merelakan dirinya menjadi "ganjel"? Kiranya hanya nurani atau lubuk hati yang paling dalamlah yang mampu menjawabnya, karena tak pernah bohong.
Reaksi terhadap PP 37/2006 yang intinya mengenai kenaikan pendapatan para wakil rakyat, tentu bukan persoalan legal atau ilegal. Nampaknya lebih cenderung ke anggapan bahwa mereka tidak peka terhadap kemiskinan yang masih meluas, menerapkan "aji mumpung", dan sebagainya. Apalagi jika diberlakukan surut, dirapel sejak Januari 2006 seperti telah diterapkan di Provinsi Banten.
Kebanyakan orang menganggap gaji mereka memang terlalu tinggi. Di tingkat provinsi Rp 6,86 juta - Rp 32,25 juta/bulan. Untuk kota/kabupaten Rp 6,42 juta - Rp 24,72 juta, tergantung keuangan masing-masing.
Ketua MPR, Hidayat Nurwahid ketika berkunjung ke Redaksi Suara Merdeka Senin lalu, dan ditanya setuju atau tidak terhadap PP 37/2006 tersebut, cuma menyebut persyaratan yang harus ditempuh. Di antaranya, anggaran tidak memberatkan keuangan daerah, dan jika ada yang menerima bukan untuk memperkaya diri.
Syarat itu memang berkesan sederhana; yang sulit justru mencari figur yang bisa memenuhi syarat itu, meskipun saat kampanye telah berjanji akan berbuat maksimal demi kesejahteraan rakyat.
Lidah memang tak bertulang, seribu dalih bisa diucapkan. Indonesia berbeda dari Bolivia atau Meksiko. Janji bisa tinggal janji. Alam pun masih bisa menerima untuk disalahkan sebagai faktor penyebab tak terpenuhinya janji mereka. Namun rakyat yang menopang eksistensi mereka, tentu punya catatan tersendiri. Sekali lagi, cuma nurani yang bisa menjawab tentang patut tidaknya bergembira di saat banyak rakyat sengsara, atau menari dengan iringan genderang PP 37/2006.
Anggapan miring itu pasti akan berbalik 180 derajat seandainya uang rapelan dan tambahan tunjangan, kemudian dikumpulkan dan digunakan untuk menyelesaikan persoalan sosial. Misalnya untuk membantu warga yang terkena musibah, dan sebagainya.
Dari wakil rakyat di Jawa Tengah saja, mungkin bisa digunakan untuk membangun puluhan sekolah atau fasilitas sosial lain di daerah Klaten yang hancur akibat gempa, beberapa waktu lalu.
Mimpi kali ye? Mungkin itu reaksi spontan penganut aliran pesimistis. Tentu lain halnya jika nurani dan goodwill yang bicara. Evo Morales dan Felipe Calderon pun ternyata bisa.(68)

[+] Baca Selengkapnya

Senin, Januari 15, 2007

Mencari dan Menulis Berita

Bagi kebanyakan orang akan merasakan lebih mudah mengenali suatu peristiwa/kejadian itu berita atau bukan, dibanding mendifinisikan apakah berita itu? Hal ini disebabkan karena banyaknya difinisi tentang berita itu sendiri.
Ada yang mengatakan: Orang digigit anjing bukan berita. Orang menggigit anjing baru namanya berita. Ada lagi yang mendifinisikan: Berita adalah sesuatu yang bermakna dan pantas disampaikan kepada masyarakat, sehingga memberi nilai tambah pada pembaca. Atau berita adalah laporan tertulis tentang suatu peristiwa/kejadian aktual yang menarik dan dipilih oleh redaksi suatu media massa untuk dipublikasikan/disiarkan.
Secara teknik jurnalistik berita adalah: Laporan peristiwa/kejadian yang mempunyai nilai berita, layak dimuat di media massa, dan bermanfaat bagi yang membaca.
Dari semua difinisi itu kalau dicermati intinya: Berita adalah sebuah laporan peristiwa/kejadian yang menarik, aktual, bermanfaat bagi pembacanya.


Sumber Berita
a. Kejadian/peristiwa
1. Kejadian yang dapat diduga
2. Kejadian yang tak dapat diduga
b. Laporan lisan/tertulis
c. isu, desas-desus, rumor, dsb
d. Bahan referensi tertulis
f. Informasi-informasi di internet, TV, radio, dsb
g. Program redaksi

2. Menarik
a. Luar biasa.
b. Akibat.
c. Mengandung unsur pertentangan
d. Human interest
e. Kedekatan suatu peristiwa dengan pembaca.

3. Aktual
a. Menjadi pembicaraan hangat di masyarakat
b. Dilaporkan segera ke redaksi sampai batas akhir (dead line)
c. Disiarkan kesempatan pertama
d. Paling pertama dibanding dengan media lain, atau setidaknya mampu
menyajikan ''sisi'' lain.
e. Mencakup semua segi kepentingan masyarakat
f. Memenuhi keinginan pembaca

4. Bermanfaat
a. Pembaca lebih tahu keadaan/terpenuhi keingintahuannya
b. Berguna bagi profesi atau kehidupannya
c. Merasa senang/terhibur
d. Terisi waktu luangnya dengan baik
e. Pikiran dan imajinasinya terangsang untuk hal-hal baru

5. Layak Muat
Untuk kategori layak muat disamping memenuhi point-point tersebut juga
harus mematuhi:
a. Rambu hukum
b. Rambu etik/sosial
c. Rambu bisnis

Menulis Berita

Sebelum menulis pada prinsipnya harus beranggapan: Menulis bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk orang lain. Jelas bagi dirinya, belum tentu jelas pula bagi orang lain. Dengan demikian, tulisan yang dihasilkan harus jelas bagi diri sendiri, dan juga untuk orang lain.
Kecuali itu berita harus ditulis dengan mengingat bahwa pembaca koran adalah orang yang sibuk, yang selalu ingin tahu banyak dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, juga tanpa harus bersusah payah. Sering Koran dibaca sambil tiduran. Untuk pembaca demikian itulah berita harus ditulis:
Sehubungan itu penulisan berita pada dasarnya bisa disajikan secara mendalam (dept news), dan straight news (berita langsung atau singkat). Untuk bahan muatan pers yang sifatnya sumir atau news value (nilai berita)-nya rendah, disarankan untuk disajikan dengan model straight news. Namun bahan muatan pers yang menarik, bisa disajikan secara mendalam.
Penulisannya bisa menerapkan berbagai model, misalnya piramida terbalik, atau materi yang penting didahulukan.
Di antara jurnalis mungkin menganggap model itu sangat sederhana. Namun piramida terbalik yang di dalamnya mencakup unsur 5 W + 1 H sebenarnya merupakan teori yang sangat mendasar dalam dunia jurnalistik.
Mungkin mereka beranggapan bahwa teori itu hanya cocok dibicarakan di kalangan pemula, orang-orang yang baru saja memasuki dunia jurnalistik. Padahal meskipun teori ini dianggap kuno, namun ternyata sampai sekarang masih tetap relevan.
Piramida Terbalik merupakan cara penulisan berita secara berjenjang menurut tingkat kandungan makna informasi. Alinea paling atas, yang biasa disebut lead, merupakan informasi yang paling penting, alinea-alinea berikutnya mengandung informasi yang kurang penting. Makin ke bawah, kandungan makna informasinya kurang penting.
Keterkaitannya, alinea dua terikat oleh lead, namun tak terikat alinea tiga. Alinea tiga terikat alinea dua, namun tak terikat oleh alinea empat, begitu seterusnya.
5 W + 1 H adalah what, who, where, when, why dan how. Suatu berita disebut berita kalau menjawab pertanyaan tentang apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana. Mudah dan sederhana memang, namun bukan tidak mungkin kita yang sudah bertahun-tahun berkecimpung dalam dunia jurnalistik, terpeleset dalam masalah yang kelihatannya mudah dan sederhana ini.
Untuk tulisan berita yang pendek, yang penting mencakup unsur 5 W + 1 H atau who (siapa yang terlibat dalam kegiatan/peristiwa itu), what (kejadian/peristiwanya apa), why (mengapa bisa terjadi atau diadakan kegiatan itu), when (peristiwanya kapan), where (dimana kejadiannya), dan how (bagaimana kejadian atau jalannya kegiatan).

Lead
Dalam penulisan lead (teras berita) atau intro/alinea pembukaan tulisan, bisa menerapkan model 5 W + 1 H lead.
Misalnya:
1. Untuk who lead bisa ditulis: Presiden SBY kemarin mengumumkan bahwa
harga BBM naik lima persen.
2. Harga BBM akan naik lima persen, kata Presiden kemarin, dst (what
lead).
3. Kemarin Presiden mengumumkan harga BBM akan naik lima persen, dst (when
lead).
4. Di Jakarta, Presiden kemarin mengumumkan harga BBM akan naik lima persen,
dst (where lead).
5. Untuk mengurangi beban Negara dalam mensubsidi kebutuhan BBM, harga BBM
akan dinaikkan lima persen, dst (why lead).
6. Setelah melalui pembicaraan yang panjang di antara pihak-pihak terkait,
harga BBM akan dinaikkan lima persen, dst (how lead).

Kecuali 5 W + 1 H lead, bisa juga diterapkan model lead yang lain, yaitu:
01. Quotation lead (lead kutipan). Misalnya: ''Saya kaget ada reklamasi di
Kali Ciliwung,'' kata Meneg LH Rahmat Witular. ''Masa sampai sungai pun diuruk
untuk tempat tinggal.''
02. Quotation & who lead. Contoh: Wali Kota Semarang, Sukawi Sutarip
mengatakan pihaknya siap menghadapi gugatan warga Manyaran. ''Silakan
mereka menuntut melalui pengadilan.''
03. Direct address (langsung pada pembaca). Misal: Bayangkan tentang sebuah
hotel yang di dalamnya terdapat kamar-kamar ber-AC dan biasa digunakan
untuk para pasangan selingkuh untuk berasyik-masyuk. Suatu situasi yang
mampu melenakan iman seseorang untuk berbuat amoral.
04. Analogi. Contoh: Pucuk dicinta ulam tiba, begitu bunyi pepatah. Hal itu
agaknya berlaku pula bagi pasangan Rukiah dan Parmanto. Contoh lain: Bagi
pecinta majalah Tempo, berita kemenangannya di PTUN kemarin bak setetes
embun di padang gersang.
05. Contrast lead. Misalnya: Jakarta, yang dulu menjadi tumpuan untuk meraih
sukses bagi setiap orang, kini mulai dihindari pendatang. Contoh lain:
Klaten yang dikenal lumbung padinya Jawa Tengah, kini warganya banyak yang
kelaparan.
06. Narrative lead. Contoh: Puskesmas Semarang Tengah tak seperti biasa.
Sekitar seribu warga setempat menyerbu Puskesmas itu. Apa gerangan yang
terjadi? Ternyata kerumunan dan hiruk pikuk yang ditingkah tangis bayi itu
adalah acara lomba bayi sehat.
07. Dialog lead. Misalnya: ''Tubuh saya nggak diukur-ukur,'' kata Alya Rohali.
Wartawan terus mendesak: ''Tapi bagaimana cara Anda melepas bikini?''
08. Question lead. Contoh: Apa mungkin adik saya Tommy menyimpan senjata api
dan dalang pembunuh hakim agung Safrudin Kartasasmita yang sesungguhnya?
Pertanyaan itu meluncur dari Tutut, kakak kandung Tommy Soeharto, sambil
menangis.
09. Flash Back. Misalnya: Sepuluh tahun lalu jalan itu masih rusak total. Kini
ratusan bus, truk dan angkutan darat lain melaju dengan lancarnya.
10. Cumulative lead. Misalnya: Guruh mengatakan kepada wartawan: ''Saya siap
dikenai sanksi bila kedatangan saya ke DPR, melanggar ketentuan partai''.
Sementara Megawati sambil memasuki mobil mengatakan bahwa dia belum tahu
soal rencana itu. Sedangkan Ketua DPR Akbar Tanjung mengatakan: Itu
sepenuhnya tergantung DPP PDIP.
11. Delayed Lead (lead yang tertunda). Misalnya: Siang terik di Jl Kaligawe.
Seperti biasa, kemacetan adalah teman akrab kawasan ini. Di tengah lalu
lintas berjalan menyemut, mendadak terdengar suara berderak dari arah
palang kereta.

Sistematika dan bahasa
Menulis berita pun memerlukan perhatian mengenai sistematika, bahasa, dan penyajian.
A. Sistematika yang dimaksud adalah:
a. pengungkapan peristiwa secara runtut
b Disusun sesuai urutan pentingnya bagian berita (piramida terbalik)
c. Pemilihan data dan permasalah tepat
d. Bernada menjanjikan, merangsang untuk mengetahui kelanjutannya
e. Penyajian seimbang antara quoting (kutipan ucapan), deskripsi (penggambaran peristiwa), eksposisi (penulisan data), dan argumentasi (alasan-alasan kuat untuk meyakinkan pembaca)

B. Bahasa:
a. Mudah dipahami/lugas, membantu pembaca untuk ''langsung jelas''
b. Singkat, padat, jelas. Alinea jangan terlalu panjang, kalimat tidak
terlalu panjang sehingga ''memberi kesempatan pembaca untuk bernafas''
c. Menggunakan bahasa baku
d. Pemilihan ungkapan tepat
e. Tata bahasa benar
f. Penggunaan bahasa asing atau daerah benar/akurat

C. Penyajian
a. Memberi informasi secara rinci
b. Melukiskan situasi peristiwa
c. Referensi dan data lengkap
d. Menyajikan pula keterkaitannya dengan masalah lain yang relevan
e. Sudut penulisan tepat
f. Kesinambungan tersaji dengan baik
g. ''Stamina'' konsistensi selalu terjaga.

Inventarisasi Data

Dalam hal mempermudah penulisan berita, pada umumnya jurnalis melakukan inventarisasi data. Hal ini disamping untuk memudahkan penulisan, juga dimaksudkan memudahkan si penulis mengingat data-data yang telah diperolehnya, paling tidak garis besarnya. Padahal data itulah yang merupakan bahan pokok pembuatan sebuah berita.
Contoh inventarisasi data:

- Aparat gabungan Poltabes Semarang gerebek pasangan selingkuh
- Jumat 12 Oktober 2006
- siang hari pukul 11.30
- 15 pasang pria-wanita
- ngamar di Hotel Permata Hijau, Jl Wahidin 64-66.
- dibawa ke Mapoltabes untuk dimintai keterangan.
- diperiksa selama tiga jam lebih,
- petang harinya mereka dilepas
- mereka sedang asyik berduaan dengan pasangannya di 15 kamar terpisah.
- Petugas tak mendapati mereka berbuat mesum
- diduga di kamar melakukan hubungan intim
- di antara mereka tak mengenakan pakaian lengkap
- 7 di antaranya pegawai negeri sipil (PNS)
- pasangan y (42) dan Ny h (43) sesama PNS Pemprov Jateng.
- b (38) dan r (36), serta p (63) dan Ny s (47) PNS Pemkot Semarang.
- Lainnya, a (42) PNS Dolog berduaan dengan w (30), pegawai swasta.
- Ada pula pasangan PNS Pemkab Pati, w (43) dan Ny t (38).
- masuk hotel dengan pakaian olahraga
- pasangan lain mengaku pegawai swasta.
- Kapoltabes AKBP Drs Noer Ali: penggerebekan sengaja dilakukan hari Jumat
siang. Sebab, saat itu banyak pasangan yang memanfaatkan jam kosong setelah
olahraga untuk saling bertemu.
- Langkah tersebut dilaksanakan untuk mengantisipasi berbagai tindak kriminal
yang dilakukan di hotel, losmen, atau tempat hiburan di Semarang. Sebab,
kejahatan di hotel sulit terdeteksi misalnya transaksi narkoba.
- kegiatan itu dilaksanakan untuk kepentingan semua pihak.

Dari inventarisasi tersebut kita bisa memilih tema sentral dalam penulisan berita. Namun seandainya data yang terinventarisasi tersebut dirangkai begitu saja sebenarnya juga sudah merupakan sebuah berita.
Teknik Wawancara
Apakah yang dinamakan wawancara itu?
Wawancara adalah tanya-jawab dengan seseorang untuk mendapatkan keterangan atau pendapatnya tentang suatu hal atau masalah. Wawancara sering dihubungkan dengan pekerjaan jurnalistik untuk keperluan penulisan berita yang disiarkan dalam media masa. Namun wawancara juga dapat dilakukan oleh pihak lain untuk keperluan, misalnya penelitian atau penerimaan pegawai.
Di bidang jurnalistik orang yang mewawancarai dinamakan pewawancara (jurnalis/wartawan/koresponden/reporter), sedang orang yang diwawancarai dinamakan sumber berita.
Tujuan seorang reporter melakukan wawancara adalah mengumpulkan informasi yang lengkap, akurat, dan adil (fair). Seorang pewawancara yang baik mencari sebuah pengungkapan atau wawasan, pikiran atau sudut pandang yang menarik, yang cukup bernilai untuk diketahui. Jadi bukan sesuatu yang sudah secara umum didengar atau diketahui.
Perbedaan penting antara wawancara dengan percakapan biasa adalah wawancara bertujuan pasti: Menggali permasalahan yang ingin diketahui untuk disampaikan kepada khalayak pembaca (media cetak), pendengar (radio), atau pemirsa (televisi). Namun berbeda dengan penyidik perkara atau interogator, wartawan tidak memaksa tetapi membujuk orang agar bersedia memberikan keterangan yang diperlukan.
Dalam proses wawancara, wartawan bersangkutan benar-benar harus meredam egonya, dan pada saat yang sama harus melakukan pengendalian tersembunyi. Ini adalah sesuatu yang sulit. Pernah dalam suatu acara talk-show di televisi, si pewawancara malah bicara lebih banyak dan seolah-olah ingin kelihatan lebih pintar daripada orang yang diwawancarai. Ini contoh yang menunjukkan si pewawancara gagal meredam egonya dan dengan demikian memperkecil peluang bagi orang yang diwawancarai untuk mengungkapkan lebih banyak.
Dalam proses wawancara, wartawan memantau semua yang diucapkan oleh dan bahasa tubuh dari orang yang diwawancarai, sambil berusaha menciptakan suasana santai dan tidak mengancam, yakni suasana yang kondusif bagi berlangsungnya wawancara.
Dalam prakteknya, berbagai pikiran muncul di benak si penanya ketika wawancara sedang berlangsung. Seperti: Apa yang harus saya tanyakan lagi? Bagaimana nada bicara orang yang diwawancarai ini? Dari gerak tubuh dan nada suaranya, apakah terlihat ia bicara jujur atau mencoba menyembunyikan, dsb.
Seorang pewawancara secara sekaligus melakukan berbagai hal:
a. Mendengarkan
b Mengamati
c. Menyelidiki
d. Menanggapi
e. Mencatat.
Kadang-kadang seperti seorang penginterogasi, kadang-kadang secara tajam menyerang dengan menunjukkan kesalahan-kesalahan orang yang diwawancarai. Kadang-kadang mengklarifikasi, tapi di lain sisi seperti pasif atau menjadi pendengar yang baik.
Sukses atau tidaknya suatu wawancara tergantung pada kemampuan melakukan kombinasi berbagai keterampilan itu secara pas, sesuai dengan tuntutan situasi dan orang yang diwawancarai.
Sifat wawancara bermacam-macam, tergantung dari informasi apa yang diinginkan si wartawan, dan bagaimana situasi serta kondisi yang dihadapi orang yang diwawancarai. Sifat wawancara bisa sangat bervariasi, dari yang biasa-biasa saja sampai yang antagonistik. Dari yang mempertunjukkan luapan perasaan sampai yang bersifat defensif dan menutup diri.
Jika seorang wartawan mewawancarai seorang pejabat pemerintah tentang keberhasilan salah satu programnya, tentu si wartawan akan mendapat tanggapan yang baik dan panjang-lebar. Namun jika si wartawan mencoba mengungkap praktek korupsi yang diduga dilakukan oleh pejabat bersangkutan, tentu si pejabat akan bersifat defensif bahkan tertutup.
Wartawan yang baik harus mengerti bagaimana cara ''memegang'' orang yang diwawancarai dan menangani situasi. Wartawan harus bisa merasakan apa yang harus dilakukan pada momen tertentu ketika berlangsung wawancara. Kapan ia harus bersikap lembut, kapan harus ngotot atau bersikap keras, kapan harus mendengarkan tanpa komentar, dan kapan harus memancing dengan pertanyaan-pertanyaan tajam.

Tujuan Spesifik Wawancara
Tujuan wartawan melakukan wawancara adalah untuk memperoleh informasi. Namun informasi macam apa yang ingin digali, bisa dirinci sebagai berikut:
1. Untuk memperoleh fakta. Guna memperoleh fakta yang penting dari suatu wawancara, reporter harus menemukan sumber yang kredibel atau bisa dipercaya, dengan informasi akurat. Wartawan bisa saja mewawancarai orang yang kebetulan ditemui di jalan untuk dimintai pendapatnya tentang kondisi krisis ekonomi Indonesia. Ucapan orang itu mungkin bagus untuk dikutip, namun tidak memiliki kredibilitas. Seorang ekonom jelas lebih kredibel diwawancarai tentang kondisi ekonomi, walaupun ekonom sering bicara dengan jargon-jargon disiplin ilmunya yang harus diterjemahkan ke bahasa yang mudah dimengerti.
2. Untuk mencari kutipan. Begitu wartawan sudah menyelesaikan riset faktual untuk tulisannya, wartawan itu perlu menambahkan sesuatu agar tulisannya lebih menarik. Misalnya, wartawan itu sudah mengumpulkan data statistik tentang penyaluran kredit dari bank pemerintah untuk iuran kredit dari bank pemerintah untuk pedagang kaki lima. Kemudian, wartawan itu mewawancarai seorang pedagang kaki lima dan karyawan bank yang mengurus perkreditan. Tulsian itu sebenarnya secara statistik sudah akurat tanpa tambahan wawancara. Namun pembaca dapat lebih menghayati makna statistik itu dengan membaca kutipan wawancara mereka yang terlibat atau menjadi penerima penyaluran kredit tersebut.
3. Untuk mengumpulkan anekdot. Penutupan cerita anekdot dapat memberi tambahan warna dan wawasan pada tulisan.
4. Untuk memberi karakter pada situasi. Wartawan dapat menggunakan reaksi seseorang di lokasi peliputan untuk memberi karakter pada situasi. Misalnya, dalam meliput korban gempa bumi, wartawan menemukan seorang perempuan tua berdiri di depan reruntuhan bangunan, yang dulu pernah menjadi rumahnya. ''Lima puluh tahun kehidupan saya hancur dalam waktu kurang dari satu menit, ketika seluruh atap dan bagian bangunan lantai,'' ujar perempuan itu. Dengan mengutip ucapan itu, wartawan tersebut dapat memberi karakter pada peristiwa gempa bumi, dengan cara khas yang akan diingat oleh pembaca.
5. Untuk mengkonfirmasi apa yang sudah diketahui. Kadang-kadang wartawan membutuhkan seseorang untuk membenarkan atau membantah sebuah tuduhan atau sejumlah informasi, yang sudah dikonfirmasi biasanya berarti wartawan sudah tahu jawabannya sebelum mengajukan pertanyaan, dan wartawan itu siap mengkonfrontasikan apa pun jawaban pemberi wawancara dengan informasi yang sudah diketahui wartawan bersangkutan.
6. Untuk menunjukkan bahwa wartawan berada di tempat kejadian. Reporter kadang-kadang dimunculkan dalam tulisan, hanya untuk menunjukkan bahwa surat kabar atau stasiun televisi bersangkutan meliput berita dengan reporternya sendiri. Untuk maksud itu, yang diperlukan hanyalah satu-dua kutipan singkat dari pemberi wawancara, sekadar untuk menunjukkan bahwa reporter berada di sana dan memberi tambahan warna pada berita. Berita tentang bencana alam dan konferensi pers termasuk dalam kategori ini. Pembunuhan terhadap sejumlah anak ke Kantor berita biasanya akan menyiarkan berita tentang bencana alam atau hasil konferensi pers, namun setiap media tetap mengirim reporternya sendiri untuk memperoleh angle (sudut pandang penulisan) yang berbeda.

Figur untuk Diwawancarai
Orang menjadi bagian dari berita, dan perlu diwawancarai, karena beberapa alasan. Alasan itu antara lain:
1. Pekerjaan mereka penting. Pejabat negara, direktur utama perusahaan swasta, komandan militer, pemimpin organisasi massa, pemimpin organisasi profesi, bahkan tokoh kejahatan terorganisasi semacam mafia atau yakuza, diakui karean posisi yang mereka miliki. Jabatan pekerjaan mereka menjadikannya juru bicara bagi profesinya dan untuk isu-isu yang mempengaruhi kepentingan mereka.
2. Mereka mencapai prestasi yang penting. Kalangan selebritis, seniman, bintang film, pemusik, dan atlet profesional menjadi terkenal karena prestasi yang telah mereka ukir di bidang masing-masing. Masyarakat menikmati karya mereka, serta membayar dan menghargai mereka untuk apa yang sudah mereka lakukan.
3. Mereka dituduh melakukan kejahatan yang penting. Seorang gelandangan yang mengaku melakukan praktek sodomi dan dua ambruk sampai rata dengan tanah,'' cil mendapat perhatian publik, bukan karena profesi atau jabatannya, tetapi karena perbuatannya yang mengerikan. Hal serupa berlaku untuk seorang perampok yang membunuh satu keluarga dalam suatu aksi perampokannya.
4. Mereka mengetahui sesuatu atau seseorang yang penting. Seorang sekretaris, yang kebetulan menyimpan memo -- yang kemudian menjadi bukti penting dalam suatu kasus korupsi yang menjebloskan seorang gubernur ke penjara -- untuk waktu tertentu menjadi berita. Sekretaris Presiden Bill Clinton pernah jadi sumber berita, karena dianggap menjadi saksi kunci yang mengetahui perselingkuhan Clinton dengan seorang gadis pekerja magang di Gedung Putih yang menghebohkan itu. Teman-teman seorang bintang film atau teman lama seorang presiden sering menajdi sumber berita karena kedekatan pertemanannya dengan bintang film atau presiden tersebut.
5. Mereka menyaksikan sesuatu yang penting terjadi. Saksi-saksi suatu peristiwa kejahatan atau peristiwa publik yang penting dapat memberikan informasi tentang kesaksiannya itu, sehingga wartawan dapat menjelaskan suatu peristiwa secara rinci.
6. Sesuatu yang penting telah menimpa mereka. Korban perampokan dan pencurian, korban yang selamt dari sebuah pesawat yang jatuh, atau orang yang tiba-tiba memenangkan lotere berhadiah besar, akan menarik dijadikan berita karena tragedi atau kegembiraan mendadak yang muncul dari peristiwa tersebut. Orang yang memperoleh penghargaan -- seperti Tokoh Pejuang Lingkungan atau Tokoh Pembela Hak Asasi Manusia Tahun 2000 -- layak menjadi berita karena alasan yang sama.
7. Mereka mewakili sebuah kecenderungan nasional yang penting. Penumpang ynag terperangkap d bandar udara karena ada pemogokan massal oleh karyawan bandar udara, pasangan muda yang tak mampu membeli rumah tapi sudah terlanjur punya anak, mahasiswa yang kesulitan membayar biaya kuliah di tengah krisis ekonomi -- masing-masing orang ini mewakili suatu perubahan sosial dalam komunitas sosial.
Wartawan mungkin ingin mewawancarai mereka karean salah satu atau beberapa alasan sekaligus. Mungkin saja kategori-kategori ini tumpang-tindih. Ketika di mobil artis Desy Ratnasari oleh polisi ditemukan obat terlarang, misalnya, setidaknya dua kategori sudah terpenuhi: Desy sebagai figur selebritis yang sudah mencapai prestasi tertentu di bidang keahliannya, dan tuduhan keterlibatannya dalam kejahatan narkotika. Dengan makin banyaknya kategori yang tercakup, makin banyak informasi dan warna yang bisa dituliskan.

Tulisan yang Mengandalkan Wawancara
Wawancara adalah kunci bagi jurnalis untuk menggali informasi. Tulisan yang informatif dan menghibur berasal dari wawancara-wawancara yang diselenggarakan dan diorganisasikan dengan baik. Ada empat macam tulisan yang mengandalkan hasil wawancara.
News Story. Umumnya, setiap news story melaporkan berdasarkan standar 5 W (apa, siapa, mengapa, kapan, di mana) dan kadang-kadang ditambah 1 H (bagaimana suatu peristiwa terjadi).
News Feature. Sebuah news feature sering secara seksama mengulas aspek ''bagaimana'' dan ''mengapa'' dari sebuah news story, atau memberikan rincian latar belakang tentang ''siapa'' dan ''apa.'' Sebuah news feature bisa dimuat berdampingan dengan sebuah news story untuk menjelaskan beberapa aspek dari peristiwa yang diberitakan, atau sebuah news feature juga bisa menjadi tulisan susulan dari sebuah news story.
Profil. Tujuan tulisan profil adalah memfokuskan pada satu orang. Jika figur yang mau diprofilkan sudah cukup dikenal pembaca, maka tulisan ini harus menyajikan suatu aspek/unsur yang baru dari figur tersebut bagi para pembaca. Jika figur tersebut belum dikenal sama sekali oleh pembaca, wartawan harus secara utuh menggambarkan karakter figur tersebut. Kadang-kadang apa yang diperbuat oleh figur tersebut lebih penting dari yang ia katakan.
Tulisan Investigatif. Sebuah tulisan investigatif menjawab aspek ''bagaimana'' dan ''mengapa'' secara jauh lebih mendalam ketimbang sebuah news story menjawab ''apa.'' Tulisan investigatif bisa tercipta karena ada wartawan yang bersedia meluangkan waktu dan tenaga, untuk menyelidiki sesuatu di balik apa yagn biasanya sudah diketahui mengenai peristiwa tertentu.
Round-Up. Tulisan yang bergaya simposium ini memberikan perspektif kepada pembaca tentang suatu isu yang sedang hangat, dengan cara mengumpulkan pendapat dari sejumlah orang. Seorang wartawan dapat melaporkan sebuah round-up opini atau komentar tentang sebuah isu tertentu.

Tahapan Wawancara/Persiapan
Banyak orang sering meremehkan tahapan awal ini, padahal tanpa persiapan yang baik wawancara tidak akan menghasilkan sesuai harapan. Persiapan teknis, seperti tape recorder untuk merekam wawancara, notes, kamera, dan sebagainya. Wartawan umumnya menggunakan catatan tertulis (notes) dan tidak boleh terlalu tergantung pada alat elektronik. Tapi alat elektronik seperti tape recorder cukup penting untuk mengecek ulang, apabila ada yang terlupa atau ada informasi yang meragukan, sehingga dikhawatirkan bisa salah kutip.
Di Indonesia, banyak kasus di mana pejabat pemerintah mengingkari lagi pernyataan yang diberikan kepada wartawan, sesudah pernyataan yang dimuat media massa itu menimbulkan reaksi keras di masyarakat. Wartawan disalahkan dan dituding ''salah kutip,'' bahkan diancam akan diperkarakan di pengadilan. Untuk menghindari risiko ini, banyak gunanya jika wawancara direkam, dan setiap saat dibutuhkan bisa diputar kembali.
Rekaman elektronik memang belum bisa menjadi alat bukti di pengadilan, namun bisa menjadi indikator tentang siapa yang benar dalam kontroversi tuduhan ''wartawan salah kutip'' tadi.
Selain persiapan teknis, yang harus diingat pertama kali dalam liputan investigasi adalah kita tidak memulai wawancara tentang suatu masalah dari nol.
Sebelum mengatur waktu dan tempat pertemuan dengan narasumber untuk wawancara, wartawan sendiri harus jelas tentang beberapa hal. Misalnya, persoalan apa yang mau ditanyakan? Apakah persoalan itu menyangkut korupsi yang diduga dilakukan seorang pejabat pemerintah, atau tentang pencemaran lingkungan yang diduga dilakukan sebuah perusahaan pertambangan? Apa pun persoalannya, si wartawan harus memiliki pemahaman dasar tentang permasalahan tersebut. Bila pemberi wawancara melihat wartawan itu tidak menguasai permasalahan, ia mungkin enggan memberi informasi lebih lanjut.
Setelah wartawan yakin telah menguasai permasalahan, langkah berikutnya adalah menentukan siapa sumber yang akan diwawancarai. Orang dapat bermanfaat sebagai pemberi wawancara karena sejumlah alasan. Untuk proyek peliputan yang panjang, faktor-faktor ini menjadi penting:
1. Kemudahan diakses (accessibility). Apakah wartawan dengan mudah dapat mewawancarai orang ini? Jika tidak mudah dihubungi, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bisa menghubungi? Apakah wawancara harus dilakukan lewat telepon atau tertulis, ketimbang bertemu muka langsung? Jika narasumber ini bersifat vital bagi peliputan, wartawan harus realistis tentang prospek wawancara ini.
2. Reliabilitas (reliability). Apakah orang ini bisa dipercaya sebelumnya? Apakah informasi yang diberikan bisa dibuktikan benar oleh sumber-sumber independen lain? Apakah narasumber ini pakar yang betul-betul mengetahui permasalahan? Apa latar belakang kepentingannya sehingga ia bersedia diwawancarai? Wartawan harus hati-hati, karena ia akan terlihat bodoh jika melaporkan isu atau desas-desus yang belum jelas kebenarannya.
3. Akuntabilitas (accountability). Apakah orang ini secara langsung bertanggung jawab atas informasi yang diinginkan wartawan atau atas tindakan-tindakan yang sedang diinvestigasi? Apakah ada sumber lain yang lebih punya otoritas tanggung jawab langsung ketimbang orang ini? Berapa orang sebenarnya yang diwakili oleh seseorang yang menyebut diri sebagai juru bicara?
4. Dapat tidaknya dikutip (quotability). Mewawancara seorang pakar yang fasih dan punya informasi lengkap mungkin dapat mengembangkan tulisan, seperti seorang pejabat publik yang blak-blakan dan suka membuat pernyataan-pernyataan kontroversial. Para tokoh masyarakat atau selebritis biasanya sudah tahu, ucapan macam apa yang suka dikutip wartawan. Sedangkan orang awam biasanya tidak ahli dalam ''merekayasa'' komentar yang bagus buat dikutip wartawan.
Kadang-kadang, orang yang mau diwawancarai wartawan memang mengetahui informasi dan pernyataannya bagus untuk dikutip, namun ia sedang ke luar kota dan sulit dihubungi. Sebaliknya, ada juga sumber yang mudah dihubungi, tetapi ia mungkin tidak begitu menguasai permasalahan yang mau ditanyakan. Pemberi wawancara yang ideal adalah yang memenuhi semua faktor ini.

Mengatur Waktu dan Tempat Wawancara
Sesudah jelas materi yang mau ditanyakan dan orang yang akan diwawancarai, ditentukanlah waktu dan tempat untuk wawancara. Wawancara bisa dilakukan di rumah atau kantor narasumber. Jika di rumah, suasanya akan lebih santai dan informasi. Jika di kantor, suasananya akan lebih formal.
Namun seringkali, rumah ataupun kantor bukanlah tempat yang pas untuk wawancara investigasi. Jika narasumber akan memberikan informasi yang sifatnya rahasia, maka kemungkinan besar ia tidak ingin diketahui oleh publik atau atasannya telah menyampaikan informasi tersebut kepada pers. Hal itu karena bisa berisiko pada keselamatan dirinya, keluarganya, jabatannya, atau karier politiknya. Maka harus diatur pertemuan di tempat dan waktu tertentu secara khusus.
Pengaturan waktu dan tempat di atas berlangsung dalam kondisi ''normal,'' artinya narasumber memang sudah bersedia diwawancarai. Namun ada kalanya narasumber sengaja menghindar, mungkin karena merasa terancam keselamatannya atau ia sendiri mungkin terlibat dalam permasalahan. Dalam kondisi demikian, wartawan yang harus aktif melacak lokasi keberadaan nara-sumber, mengejar, mencegat narasumber tersebut untuk diwawancarai.
Wartawan jangan mudah patah semangat dan jangan mundur menghadapi penolakan, perlakuan tidak ramah, atau sikap dingin dari sumber berita. Perlakuan semacam ini kadang-kadang diberikan oleh seorang pejabat pemerintah kepada wartawan baru.
SM Ali, mantan Redaktur Pelaksana Bangkok Post yang berasal dari Banglades menyatakan, berdasarkan pengalamannya mewawancarai sejumlah pejabat dan pemimpin nasional di Asia, selalu ada kesempatan pertemuan lain. Banyak pejabat yang pada pertemuan pertama sama sekali tidak komunikatif, tetapi mereka kemudian luar biasa ramahnya pada pertemuan-pertemuan berikutnya.

Narasumber yang Enggan Diwawancarai
Namun ada juga narasumber yang memang betul-betul tidak ingin diwawancarai, walaupun mereka tidak terang-terangan mengatakan ''tidak.'' Yang mereka lakukan adalah menghindar dengan cara tidak menjawab telepon, atau meminta sekretarisnya untuk mengatakan ''Bapak sedang ke luar kantor,'' jika ada permintaan wawancara dari wartawan. Sehingga wartawan merasa dipermainkan atau diremehkan.
Jika wartawan menghadapi narasumber yang enggan diwawancarai, padahal sumber itu sangat vital bagi peliputan yang sedang dilakukan, wartawan tersebut punya tiga pilihan. Pertama, menuliskan hasil liputan tanpa wawancara itu. Kedua, menuliskan hasil liputan dengan tambahan keterangan bahwa setelah berusaha dihubungi berulang kali, narasumber tetap tidak menjawab panggilan telepon, pesan fax, e-mail, atau surat permintaan wawancara. Ketiga, meyakinkan narasumber untuk bersedia diwawancarai.
Orang yang tak mau diwawancarai mungkin menolak wawancara karena beberapa alasan seperti
1. Waktu. Calon pemberi wawancara yang mengatakan: ''Saya tak punya waktu untuk wawancara'' sebenarnya ingin memanfaatkan waktunya untuk mengerjakan sesuatu yang lain ketimbang diwawancarai oleh wartawan. Mereka memperkirakan alangkah lama waktu yang dihabiskan untuk wawancara, dan menghitung manfaat wawancara itu dibandingkan dengan jika waktunya dipakai untuk kepentingan lain.
2. Rasa bersalah. Orang mungkin tak mau diwawancarai karena takut kelepasan bicara, atau mengatakan sesuatu yang sebenarnya tak ingin mereka ungkapkan.
3. Kecemasan. Seorang pemalu mungkin takut pada pengalaman diwawancarai. Ketakutan pada sesuatu yang belum dikenal membuat mereka cenderung menolak risiko pengalaman baru diwawancarai.
4. Perlindungan. Orang mungkin menolak diwawancarai karena ingin melindungi keluarga, teman, atau orang lain yang dicintai, atau orang lain yang diketahui melakukan perbuatan salah. Calon pemberi wawancara mungkin juga takut dikaitkan dengan pernyataan atau komentar yang bisa mempermalukan atau mengecam pihak lain.
5. Ketidaktahuan. Calon pemberi wawancara bisa jadi menolak wawancara, karena dia tidak tahu apa-apa atau hanya tahu sedikit sekali tentang masalah yang dijadikan fokus wawancara.
6. Mempermalukan. Orang mungkin menolak wawancara karena masalah yang mau dipertanyakan itu membuat dirinya merasa malu, risih, atau dianggap terlalu intim dan pribadi sifatnya.
7. Tragedi. Orang yang baru mengalami musibah berat mungkin tidak ingin mengungkapkan masalahnya kepada umum. Padahal wartawan dengan tulisannya akan mengubah masalah yang bersifat pribadi itu menjadi konsumsi publik.

Pelaksanaan Wawancara
Pertama yang harus dilakukan oleh wartawan adalah memberi rasa aman kepada narasumber, agar ia merasa santai, tenang dan mau terbuka memberi informasi. Wartawan harus memberi keyakinan kepada narasumber bahwa wartawan dan medianya bisa dipercaya, dan mampu menyimpan rahasia (terutama jika narasumber tak ingin identitasnya dimuat di media massa).
Kepercayaan dari pemberi wawancara ini sangat penting. Kalau pewawancara tidak memperoleh kepercayaan dari sumber berita, maka informasi yang ia peroleh tidak akan lebih dari keterangan rutin, ulangan beberapa fakta yang sudah seirng dimuat, pernyataan normatif yang sudah tidak perlu diperdebatkan, atau jawaban yang sifatnya mengelak belaka.
Sesudah penciptaan suasana kondusif itu, dimulailah wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan pembuka. Pertanyaan pembuka ini sifatnya masih memberi rasa aman dan kepercayaan pada narasuber. Pertanyaan inti dan tajam, yang berisiko merusak suasana wawancara, harus disimpan dan baru dilontarkan pada momen yang tepat. Dari tanya-jawab awal, wartawan sudah bisa meraba bagaimana kondisi mental dan emosional narasumber, sehingga wartawan bisa memilih momen yang tepat untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kunci tersebut.
Pewawancara mengikuti arah pertanyaannya sampai yakin tidak ada yang dapat digali lagi. Selama wawancara, pertanyaan sebaiknya disusun dalam kalimat-kalimat yang pendek dan cermat. Hindarkan pertanyaan yang tidak langsung berhubungan dengan masalah yang ingin diinvestigasikan, dan jangan bertele-tele.
Untuk meluaskan komentar dan pernyataan dari orang yang diwawancarai, wartawan dapat mengajukan pertanyaan terbuka (open-ended). Sedangkan untuk memperoleh informasi yang spesifik dan rinci tentang sesuatu hal, harus diajukan pertanyaan tertutup (closed-ended).
Pertanyaan terbuka -- biasanya pertanyaan ''bagaimana'' dan ''mengapa'' -- memungkinkan pemberi wawancara berspekulasi, untuk menawarkan opini, pengamatan atau deskripsi. Pewawancara yang mengajukan pertanyaan terbuka berarti menawarkan peluang bagi komentar dan arah dari pemberi wawancara. Pertanyaan terbuka ini, misalnya, ''Bagaimana pandangan Anda tentang tuduhan bahwa pabrik Anda mencemarkan lingkungan?'' atau ''Mengapa Anda begitu yakin bahwa pabrik Anda tidak mencemarkan lingkungan?''
Pertanyaan terbuka mengundang tanggapan yang lebih lengkap dari pemberi wawancara, yang bisa memilih seberapa panjang dan bagaimana isi jawabannya. Pertanyaan terbuka ini mengundang kerjasama dan partisipasi dari pemberi wawancara. Pemberi wawancara yang menjawab pertanyaan-pertanyaan terbuka mungkin juga bersedia memberi informasi lebih jauh dengan sukarela. Jawaban pertanyaan terbuka, selain lebih spekulatif, juga akan mencerminkan kepribadian pemberi wawancara.
Sedangkan pertanyaan tertutup berusaha mengarahkan pemberi wawancara ke jawaban yang spesifik. Misalnya, ''Apakah Anda merasa gembira atau sedih dengan terungkapnya kasus kebocoran limbah pabrik ini?'' atau ''Berapa kali kebocoran tangki penyimpan limbah ini pernah terjadi sebelumnya?'' Dengan pertanyaan semacam ini, pewawancara mengisyaratkan sebuah pilihan atau harapan bagi kesimpulan yang bisa dikuantifikasikan (diukur secara numerik).
Pertanyaan tertutup dapat menghemat waktu karena lebih spesifik. Pertanyaan semacam ini biasanya menghasilkan jawaban-jawaban pendek, lebih berjarak dari pemberi wawancara, dan kurang memberi peluang partisipasi. Pertanyaan tertutup berguna untuk memperoleh informasi faktual. Informasi presisi itu merupakan hasil dari pertanyaan yang bisa dikuantifikasikan, yang dapat memberikan angka spesifik atau statistik yang otoritatif dan dapat digunakan dalam penulisan.
Untuk tulisan tentang profil seseorang, akan lebih berhasil jika menggunakan pertanyaan-pertanyaan terbuka. Wawancara memang akan berlangsung lebih lama, namun pemberi wawancara akan merasa lebih percaya dan lebih bersedia memberikan anekdot khas dan pengamatannya.
Sedangkan wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan tertutup lebih cocok untuk penulisan berita yang cepat atau untuk situasi di mana wartawan membutuhkan jawaban spesifik pada periode waktu yang singkat. Pewawancara yang baik dapat mengkombinasikan pertanyaan-pertanyaan terbuka dan tertutup, untuk membuat tulisan dengan rincian spesifik, tetapi juga diwarnai oleh anekdot pemberi wawancara.

Sifat Hasil Wawancara

Di dalam lingkungan pers internasional dikenal berbagai sifat hasil wawancara. Antara lain:
On the Record. Nama dan jabatan pemberi wawancara dapat digunakan sebagai sumber, dan keterangannya boleh dikutip langsung serta dimuat di media massa.
Off the Record. Pemberi wawancara tidak dapat digunakan sebagai sumber dan keterangannya tidak boleh dimuat di media massa.
Background. Boleh menggunakan kutipan langsung atau menyiarkan keterangan apa pun yang diberikan, tetapi harus menyebutkan nama dan jabatan pemberi wawancara sebagai sumbernya. Misalnya, digunakan istilah ''sumber di departemen/badan...'' menurut persyaratan yang disepakati dengan pemberi wawancara. Kadang-kadang disebut juga ''not for attribution.''
Deep Background. Tidak boleh menggunakan kutipan langsung atau menyebut nama, jabatan, dan instansi pemberi wawancara.
Reporter harus memberitahu redaktur tentang sifat wawancara yang dilakukannya. Apa pun bentuk kesepakatan yang telah dicapai dengan pemberi wawancara, itu harus dihormati dan terwujud dalam pemberitaan. Kalau pemberi wawancara tidak ingin disebut nam adan jabatannya, misalnya, maka redaktur perlu diberitahu. Sebab, begitu berita hasil wawancara itu dimuat, tanggungjawab atas isi berita tidak lagi terletak di pundak reporter, tetapi menjadi tanggung jawab institusi media bersangkutan.
Meskipun pemberi wawancara berhak menyembunyikan identitasnya, wartawan sedapat mungkin harus meyakinkan pemberi wawancara agar bersedia disebutkan identitasnya. Sebab, apabila terlalu banyak sumber berita yang tidak jelas identitasnya, kredibilitas wartawan dipertaruhkan. Tingkat kepercayaan pembaca terhadap isi tulisannya.
Pewawancara, yang membutuhkan anekdot juga semakin kecil, seolah-olah isi tulisan itu hanya berdasarkan gosip, isu, kabar angin atau bahkan ''karangan'' wartawan belaka.
Keraguan ini muncul bisa jadi karena adanya praktek pelanggaran kode etik yang dilakukan sejumlah wartawan Indonesia. Misalnya, sejumlah artis mengeluh karena ditulis begini dan begitu, padahal artis ini tidak merasa pernah diwawancarai wartawan bersangkutan. Namun karena posisi artis yang sangat membutuhkan publisitas dan dukungan media massa, para artis ini tidak mau ribut-ribut ke Dewan Pers atau pengadilan mengadukan masalahnya.

(Diambil dari berbagai sumber)



[+] Baca Selengkapnya

Senin, Januari 01, 2007

Negeri Bingung

Oleh: Sri Mulyadi


KEBERADAAN unggas nonkomersial dilarang dipelihara di pekarangan. Terkecuali peternakan besar untuk tujuan industri. Orang yang mempunyai 20 ekor unggas lebih, harus merelakan piaraannya dimusnahkan, kecuali dikandangkan pada minimal 250 meter dari permukiman. Itulah keputusan pemerintah lewat Menko Kesra Aburizal Bakrie.
Sebagai tindakan yang reaktif, hal itu memang sah-sah saja. Tapi sebagai pesan yang disampaikan ke masyarakat, belumlah dapat dianggap ''clear'' bahkan cenderung bias, karena menimbulkan multitafsir. Bisa jadi ''feed back''-nya justru membuat orang bingung atau hilang akal.
Orang akan bertanya-tanya bagaimana kriteria komersial dan nonkomersial. Misalnya, orang yang tinggal di pedesaan, punya 15 ekor ayam ''babon'' dan tiap hari lima di antaranya bertelur saja, sudah sangat mendukung ekonomi rumah tangganya. Lantas bagaimana kalau yang golongan ini unggasnya juga harus dimusnahkan?
Lebih luas lagi, bagaimana nasib orang yang selama ini menggantungkan nasib dari keberadaan ayam kampung (nonpeternakan besar). Baik peternak maupun penjual. Apakah ayam kampong akan tamat sebagaimana lele lokal yang musnah akibat munculnya lele dumbo.
Terkesan agak lucu lagi kalau kandangnya harus dijauhkan 250 meter dari permukiman. Bagi yang punya tanah di luar permukiman bisa mungkin, tapi yang tidak terus bagaimana? Apalagi bila unggasnya berupa burung merpati. Padahal kelompok pembudidaya burung dara ini juga tak sedikit.
Pemerintah memang akan memberikan ganti rugi Rp 12.500 untuk tiap ekor ayam yang dimusnahkan. Namun tentu realisasinya tak semudah membalik telapak tangan. Siapa yang menanggung dananya? Siapa eksekutornya? Sosialisasinya bagaimana? Belum lagi menyangkut kriteria unggas yang diganti-rugi. Apakah itik nilainya disamakan ayam? Apakah angsa disamakan dengan jago bangkok, dsb.
Lebih repot lagi jika kebijakan itu justru memunculkan ketegangan di antara warga masyarakat. Yang satu mengganggap harus dimusnahkan, karena bisa menyebarkan virus, sementara tetangga atau warga lain menganggap tidak.
Lantas bagaimana nasib unggas di permukiman yang pemeliharaannya sudah sebagaimana dilakukan peternak besar. Misalnya dikandangkan, divaksin, dan juga disemprot disinfektan?
Lepas dari tujuannya yang baik dan mulia, demi menyelamatkan nyawa manusia dan mencegah meluasnya penyebaran virus flu burung, dampak yang akan muncul sebagai akibat adanya suatu kebijakan, tentu tak bisa diabaikan begitu saja. Kecuali memang tujuannya membingungkan masyarakat, dan memasyarakatkan kebingungan.
Tak Habis Pikir
Kebijakan yang bernuansa sama, beberapa waktu lalu juga pernah dilakukan pemerintah. Bantuan langsung tunai (BLT), menuai protes karena tidak merata dan dianggap tidak mendidik. Bahkan yang seharusnya berhak, ternyata tidak mendapat. Sebaliknya, yang masuk golongan orang berada, malah menerima. Gelombang protes tentang adanya penyimpangan pun, terus berdatangan.
Bantuan korban gempa di DIY dan Klaten, juga demikian, menuai ketegangan antarkorban, karena kriteria tidak jelas. Bahkan hujatan, karena janji pemerintah lewat Wapres, tak sesuai dengan kenyataan. Akhir ceritanya? Gak tahulah.
Bahkan akhir-akhir ini makin banyak saja orang yang tak habis pikir terhadap kejadian di negeri ini. Baik menyangkut kebijakan pemerintah yang bias, ''semena-menanya'' wakil rakyat dalam hal memanfaatkan uang rakyat untuk kepentingan pribadi/golongan, sampai ke persoalan musibah yang datangnya tiada jeda.
Di semua lokasi (darat, laut, udara), terjadi kecelakaan yang merenggut ratusan jiwa korban. Awal tahun ini, wajah Departemen Perhubungan brtul-brtul carut-marut. Pesawat AdamAir jurusan Surabaya-Manado dengan 102 penumpang, hilang dan hingga kini belum ditemukan.
KM Senopati Nusantara Pumai-Semarang, juga tenggelam. Sekitar 300 orang penumpang yang jadi korban, nasibnya juga belum diketahui. Bahkan bangkai kapalnya saja belum ketemu.
Belum lagi jatuhnya puluhan korban jiwa akibat kapal tenggelam dan tanah longsor di luar Jawa, seperti di Sangihe Sumut. Terakhir Selasa dinihari lalu, KA Bengawan anjlok di Desa Gunung, Kecamatan Cilongok, Banyumas. Lima orang tewas, dan ratusan penumpang lain luka-luka. Sementara ''PR'' tentang semburan lumpur panas PT Lapindo Brantas, yang membuat belasan ribu orang harus mengungsi karena rumahnya tergenang lumpur, tak kunjung ada titik terang.
Apakah keberuntunan musibah tersebut ada pengaruhnya terhadap kebijakan pemerintah yang terkesan reaktif dibanding antisipatif/preventif? Yang pasti, orang awam tetap saja berkutat pada pertanyaan mengapa dan bagaimana? Kalau beberapa waktu lalu ada istilah ''negeri tersangka'', karena banyak penjabat atau tokoh menjadi tersangka karena kasus korupsi, mungkin kini berganti menjadi ''negeri bingung''. Hal ini tak lain sebagai akibat seolah pemerintah hilang akal dalam mengatasi persoalan yang muncul (belum termasuk yang nonmusibah), sehingga dalam meluncurkan sebuah kebijakan justru sering bias.

[+] Baca Selengkapnya

Sabtu, April 09, 2005

Perkantoran Mewah Robin

BEGITU memasuki salah satu bangunan perkantoran moderen, Royal Office Building (Robin), sentuhan klasik desain maupun interior begitu kental dan menyejukkan hati. Apalagi setelah menikmati view di sekitarnya, kondisi nyaman dan aman, begitu terasa.
Royal Office Building adalah perkantoran modern . Gaya arsitektur dan desainnya mengadopsi bangunan-bangunan terkenal di dunia, yaitu Jin Mao di China, Gate Rowes Waharf Amerika Serikat, National Museum di Australia, Big Ben Inggris, National Bank, Miniatur Chrysler dan Pan Am, Amerika Serikat.

Kedelapan bangunan megah, mewah, klasik, sekaligus eksklusif itu terpadu secara serasi, sehingga nampak sangat menonjol dibanding bangunan lain di sekitarnya. Desain dan interior di masing-masing ruangan berbeda, namun terpadu secara serasi, sehingga kesan mewah terasa dominan.


Mengingat lokasinya di pusat kota, tepatnya di Jalan Madukoro Raya 8A, Puri Anjasmoro, Semarang, bangunan tersebut juga nampak menonjol dan paling megah di antara bangunan lain.

Bangunan gedung perkantoran yang ditangani CV Family Inti Sejati itu, berlantai tiga dan empat. Dari lantai tiga atau empat pemandangan di sekitar, seperti PRPP dan suasana laut di Pantai Marina atau Tanjung Emas, nampak jelas dan memesona.

Mengangkat Citra

Buyamin, Direktur CV Family Inti Sejahtera mengemukakan, pembangunan kompleks perkantoran megah dan modern tersebut antara lain dimaksudkan untuk membantu mengangkat citra Kota Semarang, sehingga tidak terkesan tertinggal dibanding kota besar lain seperti Surabaya, Medan, Bandung.
‘’Di Jawa Tengah dan Semarang khususnya, banyak perusahaan besar dan berhasil, sehingga sudah saatnya Semarang memiliki gedung perkantoran ekslusif dan mewah. Sebab secara langsung, kondisi kantor yang ditempati mampu mengangkat citra perusahaan yang menempati. Kepercayaan stake holder pun juga meningkat,’’ ungkapnya.
Lokasi Stategis
Masing-masing lantai seluas 270 meter persegi, dan terbagi menjadi beberapa ruangan. Material bangunan yang digunakan di tiap lantai sebagian besar kombinasi keramik, marmer, dan gipsum. ’’Tiap unit dilengkapi lift, sehingga kesan modern juga menonjol,’’ tambah Buyamin, Direktur CV Family Inti Sejati.
Bangunan tersebut bisa dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, kantor perbankan, lembaga pendidikan, lembaga keuangan, bahkan showroom.

Kelebihan lain, lokasinya bisa diakses dari segala penjuru, sehingga pengguna tidak akan terjebak kemacetan arus lalu lintas. Juga dilengkapi akses jalan khusus menuju Bandara Ahmad Yani. ‘’Hal ini menunjukkan bahwa kami benar-benar siap mengantisipasi denyut kehidupan bisnis baru berlingkup internasional yang segera hadir,’’ tambahnya.
Warga masyarakat yang ingin bekerja sama mendukung taman flora dan fauna bisa menghubungi Lisa, Telp 08164254221 dan Jesi Telp 02470778188.

[+] Baca Selengkapnya

Minggu, Juli 25, 2004

Pesona Karimunjawa (3), Disediakan Pesawat untuk Jemput

Tamu Pengunjung yang menginginkan tempat menginap lain, di samping menumpang di rumah warga atau penginapan tengah laut, di Karimunjawa juga ada "Kura-kura Hotel". Bangunan tersebut milik Pemprov Jateng, namun saat ini dikontrak oleh biro wisata Kura-kura Resort. Di tempat itu disediakan tujuh buah kamar dan tiga bungalo. Setiap bungalo terdiri atas dua kamar sehingga keseluruhan bisa menampung 36 orang. Juga disediakan tempat tidur ekstra. Kamar yang berfasilitas AC saat ini tarifnya Rp 133.100 dan yang berkipas angin Rp 87.400. Makan empat kali Rp 96.000/ orang (perhitungan tarif menggunakan standar dolar AS). "Untuk makan paketnya dihitung empat kali karena biasanya tamu datang Sabtu siang dan pulang Minggu siang," ungkap Abdul, karyawan hotel tersebut.

Wisatawan asing yang ke Karimunjawa pada umumnya menggunakan jasa Kura-kura Resort. Biro wisata "berkelas" dan merupakan satu-satunya di Karimunjawa itu fasilitasnya lebih lengkap. Wisatawan biasanya dijemput dengan pesawat terbang jenis Cessna 172 M yang berkapasitas tiga penumpang dan Cessna 402 B untuk penumpang minimal enam orang. Mereka langsung dijemput di Bandara Adisumarmo Solo dan Adisucipto Yogyakarta pada pukul 08.00. Adapun yang turun atau berangkat dari Semarang dijemput pada pukul 08.30. Perjalanan dari Solo atau Yogyakarta ke Karimunjawa dengan Cessna 127 M ditempuh dua jam, jika menggunakan Cessna 402 B cukup satu jam. Dari Semarang sekitar 45 menit dan 35 menit. Dari Lapangan Terbang Dewandaru Karimunjawa wisatawan diantar dengan kapal motor ke Pulau Menyawakan (ada juga yang menyebut Mencawakan). Penerbangan dari Solo, Yogya, atau Semarang, bergantung pada permintaan. Kalau musim liburan seperti pada 9 - 11 Juli lalu, wisatawan yang datang ke Karimunjawa mencapai 32 orang. Pada bulan Juni 55 orang, dan pada hari-hari nonliburan 40-50 pengunjung per bulan. Kebanyakan dari Korea, yaitu pasangan yang berbulan madu," ungkap Helmi, karyawati Kura-kura Resort di kantor pusatnya di Jepara. Wisatawan yang menggunakan kapal motor cepat Kartini I atau kapal Muria dijemput di Karimunjawa dan ke Pulau Menyawakan menggunakan perahu motor kayu. Di Pulau Menyawakan tersedia lima bungalo VIP dan 10 deluxe yang semuanya bisa menampung 30 pengunjung. Untuk paket dua hari satu malam, yang tidak menggunakan pesawat tarifnya 77 dolar AS atau sekitar Rp 693.000, dan yang dijemput pesawat 137 dolar (Rp 1.233.000). Bila ditambah paket diving atau menyelam, nonpesawat Rp 187 dolar (Rp 1.683.000) dan yang dijemput pesawat 247 dolar atau kurang lebih Rp 2.223.000. Wisatawan yang pernah ke Karimunjawa pada umumnya mengagumi kehidupan bawah laut yang alami banget. Selain itu, suasananya tenang. Di Pulau Menyawakan tidak ada telepon kabel ataupun HP. Komunikasi hanya bisa dilakukan dengan HT," kata Helmi. Nita, juga karyawati Kura-kura Resort menambahkan, pihaknya juga melayani kursus diving atau menyelam. Saat ini seorang instruktur dan dua asistennya berasal dari Swedia. Biaya kursus untuk kategori bersertifikat (4 hari 3 malam) biayanya 320 dolar atau sekitar Rp 2.880.000. Untuk tingkat pemula (2 hari 1 malam) 75 dolar atau kurang lebih Rp 975.000. Materi kursus untuk pemula selain teori, tayangan video, juga praktik di kolam renang dan perairan laut. Lokasi yang dipilih biasanya sekitar Pulau Cemara Besar yang kedalaman airnya sekitar 12 meter. Bagi pengunjung yang tidak hobi menyelam disediakan fasilitas kolam renang air suling. Untuk yang hobi memancing, sekitar 200 meter dari pantai Pulau Menyawakan merupakan lokasi yang ideal, kedalaman airnya sekitar 15-20 meter. Ikan yang terpancing biasanya bermacam jenis kerapu (termasuk kerapu merah) dan badong. Banyak juga jenis ikan hias seperti triger dan capung kepodang, beratnya rata-rata 0,5 kilogram. Wisatawan nonpaket biro wisata bisa menyewa peralatan menyelam lewat Muchlis, petugas wisma wisata atau Ismarjoko, pengusaha penginapan di tengah laut. Untuk snorkel sewanya sekitar Rp 30 ribu/paket, pukul 08.00 - 12.00. Peralatan lengkap, termasuk tabung oksigen, sewanya Rp 250.000 - Rp 300.000. Jika memerlukan jasa pembimbing, tarifnya sekitar Rp 150.000/paket. Tiap tabung oksigen bisa untuk penyelaman selama satu jam. Sewa peralatan menyelam memang agak mahal karena harga peralatan juga tinggi, sekitar Rp 15 juta per set. Pengisian oksigen dapat pula dilakukan di Karimunjawa, biayanya Rp 40.000 per tabung," ungkap Muchlis. Di samping homestay, menyelam, memancing, menikmati keindahan terumbu karang dan ke perkampungan Bugis (jaraknya sekitar 25 km dari dermaga ASDP Karimunjawa), pengunjung yang datang tak sedikit pula yang melakukan ziarah ke makam Syeh Amir Khasan atau lebih dikenal dengan sebutan Sunan Nyamplungan. Tokoh yang dimakamkan di lereng perbukitan Karimunjawa tersebut adalah anak dari Sunan Muria. "Peziarah datang dari berbagai daerah dengan maksud bermacam-macam pula. Orang yang permintaannya terkabul biasanya datang kembali untuk mengadakan selamatan," ungkap Harinto, Kasi Pemerintahan dan Trantib Kecamatan Jepara. Karimunjawa juga dihuni beberapa hewan langka, di antaranya elang, ular kobra, rusa, dan penyu. Khusus untuk menyelamatkan penyu, dibentuk Kelompok Pelestari Penyu Karimunjawa yang diketuai Ismarjoko Budi Santosa. Tugas kelompok itu di samping memberikan penyuluhan tentang arti penting penyelamatan penyu, juga melakukan pembesaran anak penyu. Jika ditemukan lokasi bertelurnya penyu, tempat tersebut diberi tanda dan pagar keliling sehingga pada saat telur penyu menetas 60 hari kemudian, anakannya tidak langsung ke laut lepas. Anakan penyu tersebut diambil untuk dimasukkan ke kolam pembesaran. "Kalau telur dibiarkan tanpa perlindungan risiko kematian sangat besar. Pada saat menetas anakan penyu banyak yang dimakan predator seperti biawak, kepiting, dan burung," ungkap Ismarjoko. Jenis penyu yang hidup di perairan Karimunjawa adalah penyu sisik dan hijau. Rata-rata beratnya 11-15 kg/ekor, namun ada juga yang mencapai berat 30 kg. Nelayan setempat saat ini kesadarannya sudah cukup tinggi dalam upaya penyelamatan. Kalau kebetulan ada yang tersangkut jaring, oleh nelayan yang bersangkutan penyu itu diserahkan kepada Kelompok Pelestari Penyu dan sebagai bentuk penghargaan, kelompok itu memberikan kaus kenang-kenangan. Untuk anakan penyu yang diperhitungkan sudah kuat bertahan hidup di perairan lepas, dilakukan acara pelepasan sekaligus dijadikan objek untuk menarik wisatawan ke Karimunjawa. Saat ini di kolam pembesaran terdapat sekitar 200 ekor anakan penyu. Selama di kolam tersebut penyu-penyu itu diberi makanan berupa pelet atau cacahan daging ikan. Berdasar pengamatan, kehidupan bawah laut di Kepulauan Karimunjawa (meliputi 27 pulau), sudah cukup kuat untuk menarik perhatian wisatawan Nusantara (wisnu) dan wisatawan mancanegara (wisman). Sarana dan fasilitas yang tersedia juga sudah memadai, bahkan lebih. Buktinya, tamu bisa langsung dijemput pesawat karena di Karimunjawa sudah ada lapangan terbang. Untuk menikmati keindahan kehidupan bawah laut di Pulau Sipadan yang sudah mendunia, fasilitas yang tersedia tidak selengkap dan semudah di Karimunjawa. Untuk pergi ke pulau yang dulu disengketakan antara Indonesia-Malaysia (akhirnya dimenangkan Malaysia) itu, dari Kualalumpur harus naik pesawat ke Kinabalu dan pindah pesawat lagi ke Tawau. Dari Tawau harus melalui perjalanan darat sekitar 3 jam untuk menuju Pantai Semporna. Dari Semporna ke Sipadan naik perahu motor sekitar satu jam. Di Pulau Sipadan yang luasnya hampir sama dengan Pulau Menyawakan (Karimunjawa) itu cuma terdapat bungalo-bungalo yang sederhana. Adapun untuk ke Karimunjawa, dari Jakarta atau bandara lain di Indonesia maupun luar negeri, pengunjung bisa langsung ke Bandara Solo, Yogyakarta, atau Semarang. Dari Bandara tersebut wisatawan langsung dijemput pesawat untuk diantar ke lokasi. Pengunjung juga bisa naik kapal motor cepat dari Semarang atau Jepara. Dari Semarang butuh waktu 3,5 jam dan dari Jepara 2,5 jam. Sarana penginapan yang tersedia juga sudah memadai dan bervariasi. Ada penginapan di tengah laut, numpang di rumah warga, wisma wisata, atau hotel. Masyarakat setempat pun ramah terhadap siapa saja yang berkunjung. Daerahnya juga sangat aman, bahkan nyaris tidak pernah ada gangguan/keributan.

[+] Baca Selengkapnya