Selasa, April 10, 2007

Indonesia: Hastina?

 Oleh Sri Mulyadi

KEBANYAKAN orang, khususnya di Jawa, pasti tidak enak hati jika Indonesia disamakan dengan negara di dunia wayang bernama Hastinapura atau Alengkadiraja. Alasannya, di dua negara tersebut sebagian besar rakyat, termasuk sang raja, perbuatannya amoral, sarat dengan keangkaramurkaan.
Puncak angkara murka di Hastina, saat Sang Raja Duryudana ingkar janji tak mau mengembalikan negara kepada yang berhak, yakni Pandawa. Akibatnya terjadi perang Bharatayudha. di Alengka, ketika pimpinan puncak negara, Dasamuka atau Rahwana mencuri Dewi Shinta, istri Raja Ayodyapala, Ramawijaya. Ujung-ujungnya terjadi perang besar "Brubuh Alengka".
Antipati terhadap Hastina atau Alengka masuk akal. Citra kedua negara itu sangat buruk saat dipimpin Duryudana dan Dasamuka. Hastina dan Alengka itu panggung tempat berkumpulnya orang-orang amoral. Mereka akan lebih bangga jika Indonesia disamakan dengan Amarta (negara Pandawa), Ayodyapala, atau Dwarawati yang dikomandoi Sri Kresna.


Alasannya, karena Amarta dipimpin Yudistira, raja yang murah hati, suka memberi, berbudi pekerti luhur, dan "bawalaksana" atau bersatunya kata dengan perbuatan.
Sang Raja menerapkan hastabrata atau suatu kepemimpinan yang menerapkan sifat bumi, yakni setia memberi kebutuhan hidup kepada siapa saja. Sifat air, selalu turun ke bawah dan memberikan kesejukan atau ketenteraman kepada rakyat.
Sifat angin, selalu bersikap adil. Mengamalkan sifat bulan, yakni menimbulkan suasana damai, sejuk dan indah, serta kebahagiaan dan harapan. Juga bersifat bak matahari, memberi sinar hidup, sumber petunjuk hidup.
Sang raja juga menerapkan sifat laut. Dia memosisikan sebagai tempat curahan hati bagi rakyat, berpandangan luas, penuh kasih, pengertian, dan sabar. Bersifat layaknya gunung, kukuh, teguh, tidak mudah menyerah untuk membela kebenaran. Terakhir, bersikap layaknya api, mampu membakar semangat, memberi kehangatan, memerangi kejahatan, memberikan ketenteraman, serta melindungi rakyat.
Amarta juga dibentengi ksatria yang punya spesifikasi untuk diteladani. Misalnya Bima yang punya sifat jujur, tegas, disiplin, berani karena benar. Ksatria yang lain adalah Arjuna. Dia senang bertapa dan menuntut ilmu, sehingga sangat sakti. Nakula ahli pertanian dan piawai mengurusi kesejahteran rakyat, serta Sadewa yang digambarkan piawai di bidang peternakan dan industri.
Di belakang ksatria yang dikenal dengan sebutan pandawa tersebut ada Sri Kresna yang bijaksana, ahli strategi, antisipatif, sering disebut bisa mengerti suatu kejadian yang belum terjadi.
Pandawa juga selalu didampingi Semar yang digambarkan cerminan rakyat, dan senantiasa mengingatkan para pemimpin negara agar mengedepankan nurani setiap kali membuat keputusan. Dia akan mencela, bahkan menentang apabila ksatria yang diikuti berbuat egois, me-ngorbankan kepentingan rakyat.
***
Bagaimana jika kondisi itu dikaitkan dengan kondisi Indonesia? Nampaknya masih "njomplang". Banyak pejabat sipil/militer, wakil rakyat, konglomerat, tokoh masyarakat, di ruang tamunya terpampang tokoh-tokoh ideal seperti Kresna, Yudistira, Bima, Arjuna, bahkan Semar, namun perbuatan si empunya tak seperti yang diamalkan tokoh yang dipajang.
Pajangan tokoh ideal itu hanyalah salah satu bentuk kepura-puraan. Tindakan sehari hari tak ubahnya to-koh "hitam" seperti Sangkuni, Dursasana, Duryudana, Rahwana, dsb. Mereka terjerumus ke perbuatan korupsi, egois, menyalahgunakan kekuasaan, tanpa mau tahu terhadap penderitaan rakyat.
Apakah dengan kondisi itu Indonesia pantas diidentikkan dengan Hastinapura atau Alengka? Jawabnya tentu tidak, sebab negara tak dapat disamakan dengan sifat pemimpinnya. Hastina pun pernah menjadi negara yang "panjang" atau populer serta "punjung" alias berwibawa pada saat dipimpin Pandudewanata atau Parikesit pasca-Bharatayuda.
Demikian juga Alengka saat di bawah kekuasaan Gunawan Wibisana (pasca-brubuh Alengka) atau Prabu Somali. Yang menentukan citra negara bukanlah nama tetapi penghuninya, mulai pemimpin hingga rakyat.
Di negeri ini nampaknya peran pemimpin juga lebih dominan. Pemimpin yang korup dan egois, akan cenderung menghasilkan rakyat yang korup dan egois pula. Sebaliknya, jika sang pemimpin mampu menjadi panutan serta mengutamakan kepentingan rakyat, tentu level di bawahnya akan mengikuti.
Dengan gambaran itu tentu tergantung ke mana para pemimpin berkiblat. Ke Amarta atau Hastina di bawah kungkungan Duryudana. Jika ke Amarta, tentu para "pangrehpraja" harus banting stir dengan mengedepankan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi atau golongan. Porsi Semar yang senantiasa mengingatkan para pemimpin agar selalu mengedepankan keluhuran budi, tentu tak mungkin diabaikan.

Tidak ada komentar: