Oleh Sri Mulyadi
LAGI-LAGI, masyarakat di negeri ini dihantui persoalan Bahan Bakar Minyak (BBM). Luka lama akibat kenaikan drastis di tahun 2005 yang rata-rata 126 persen belum juga sembuh, kini telah mulai digoyang lagi. Kemasan kali ini memang bukan kenaikan harga, tetapi pasokan BBM bersubsidi dikurangi. Namun yang paling merasakan dampak negatifnya setali tiga uang alias sama, yakni rakyat di lapis bawah.
Pertamina mulai awal 2008 sudah memberlakukan kebijakan tersebut di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), Batam, Bali, sebelum nantinya ke seluruh Indonesia. Semua SPBU di jalan protokol, perumahan elite, tol, hanya diperbolehkan menjual premium oktan 90, pertamax (oktan 92), dan pertamax plus (oktan 95). Sedang premium oktan 88 (bersubsidi), dijual di luar daerah tersebut. Itu saja jumlahnya dibatasi.
Menurut Direktur Niaga dan Pemasaran Pertamina, Achmad Faisal, pasokan premium bersubsidi di daerah itu dikurangi 40 persen. Angkutan umum pun nantinya cuma dijatah premium bersubsidi 10 liter/hari. Ini untuk memastikan angkutan umum tak menjual kembali premiumnya. Sementara Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengatakan, pembatasan di Jabodetabek itu bisa menghemat subsidi Rp 6 triliun.
Argumen yang dikedepankan dua pejabat tersebut sekilas memang nampak logis. Pertama, pembatasan diterapkan di wilayah konsentrasi mobil-mobil mewah. Kedua, bisa menghemat subsidi Rp 6 triliun. Logika sederhananya, yang menanggung beban akibat pembatasan BBM bersubsidi adalah orang kaya (pemilik mobil mewah), sementara penghematan subsidi Rp 6 triliun dapat digunakan membantu orang miskin.
***
Hanya saja, korelasi antara kebijakan soal BBM dengan realitas sosial kadang tak sesederhana itu. Rentetan dampak dan faktor sebab-akibatnya cukup panjang. Misalnya soal pembatasan pembelian BBM bersubsidi angkutan umum. Sebagai langkah mencegah penyimpangan memang bisa saja diterapkan. Tetapi jika dilihat dari kacamata keberpihakan, bisa jadi sebaliknya.
Pemerintah, melalui aparat terkait, tentu tahu persis kondisi pengusaha angkutan. Apakah keuntungannya telah sesuai dengan modal dan biaya operasional yang dikeluarkan. Jika sudah, ya selayaknya mereka ikut terkena beban. Namun kalau sebaliknya, sebaiknya justru subsidi ditingkatkan. Hal ini dengan tujuan agar pengusaha mampu meningkatkan pelayanan dengan menyediakan kendaraan yang nyaman. Harapan selanjutnya, masyarakat yang semula menggunakan mobil pribadi mau beralih ke angkutan umum. Dengan demikian penggunaan BBM berkurang, dan kemacetan di kota-kota besar teratasi
Bila dalam kondisi pas-pasan tetap dibebani menanggung subsidi tinggi, bisa diibaratkan ''suduk gunting tatu loro'' (tusukan gunting akan menimbulkan dua luka). Artinya, kelangsungan usaha akan terganggu. Ujung-ujungnya, tarif angkutan akan disesuaikan. Rangkaian selanjutnya, kaum marginal yang menanggung beban, sebab pos biaya transportasi juga akan naik. Apalagi, seperti biasanya, kalau biaya angkutan naik harga-harga yang lain juga mengikuti.
Kecuali itu, menghilangkan premium oktan 88 di jalan protokol, tol, perumahan elite, belum tentu identik bahwa orang kaya mau mengurangi kekayaannya. Meskipun pemiliknya orang kaya (entah konglomerat atau pejabat), tetap saja akan memperhitungkan biaya operasional kendaraannya.
Bila akibat penggantian premium, entah menjadi beroktan 92 atau pertamax, biaya operasional bertambah, secara logika umum dia pasti akan berusaha mencari tambahan penghasilan untuk menutup. Jika demikian yang terjadi, mungkin cuma jalan Tuhan yang bisa membantu. Mudah-mudahan mereka tidak mencari tambahan penghasilan dengan objek rakyat kecil.
***
Persoalan hasil tambang itu, di Negeri ini memang kompleks dan banyak menguras energi pengambil keputusan maupun masyarakat. Jika subsidi tak dikurangi, negara harus menanggung puluhan triliun rupiah. Tetapi kalau dilakukan pengurangan, otomatis biaya hidup warganya akan naik, sebab semua kebutuhan sehari-hari yang produksinya terkait BBM, pasti akan menyesuaikan.
Siapa yang salah? Jawabnya tentu tergantung cara pandang siapa yang ditanya. Namun yang pasti, setiap terjadi perubahan kebijaksanaan, selalu memunculkan gejolak. Hal ini karena setiap kebijakan pasti selalu berdampak negatif bagi rakyat.
Setiap saat warga Negeri ini seperti dihadapkan pada persoalan misteri seperti tayangan dunia lain. Pirsawan dibuat takut oleh penyampai narasi, sementara di layar kaca yang terlihat cuma suasana seram di tempat ''wingit'', namun si penghuni alam lain atau biasa disebut hantu, tidak nampak.
Bagi kebanyakan orang, ''dunia'' BBM pun juga penuh misteri. Berapa jumlah minyak di perut Ibu Pertiwi yang diambil Caltex, ExxonMobil, dan perusahaan-perusahaan lain, hanya beberapa orang yang tahu. Perhitungan mengenai subsidi premium oktan 88 sebesar Rp 2.000, dan oktan 90 sebanyak Rp 500 - Rp 1.000, juga cuma orang tertentu yang mengerti. Apalagi yang menyangkut soal ''kebocoran'' atau penyelundupan, masyarakat cuma tahu bahwa hal itu menyeramkan.
Akankah pembatasan premium bersubsidi kali ini juga akan menakuti dan membingungkan rakyat? Jawabnya tentu tergantung pemerintah. Jika argumen yang mendasari bisa meyakinkan, tentu masyarakat bisa menerima, paling tidak memahami, sekalipun terasa pahit. Sebaliknya, apabila arogansi kekuasaan lebih menonjol, bisa jadi malah menuai keapatisan, demo, ketidakpercayaan terhadap pengambil keputusan, dan hal lain yang kontraproduktif.
Sri Mulyadi, wartawan Suara Merdeka di Semarang
Selasa, Desember 11, 2007
Goyangan BBM
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
21.46
1 komentar
Label: Tulisan Kolom
Rabu, Desember 05, 2007
‘’Bangun Tidur’’
Oleh Sri Mulyadi
‘’PERUBAHAN adalah kata lain untuk berkembang atau mau belajar. Dan, kita semua mampu melakukannya jika berkehendak,’’ kata filsuf Prof Charles Handy. Tapi kalau perubahan tersebut hanya sebatas ungkapan retorik dalam kampanye pemilihan umum, tentu dampaknya justru berbalik.
Hasilnya bukannya berkembang, tapi malah makin terpuruk. Juga bukan suatu proses belajar dari pengalaman masa lalu demi memperbaiki keadaan, namun justru mengulang dan mengulang kesalahan. Ujung-ujungnya, yang muncul situasi stagnan, bahkan cenderung mundur, karena negara lain mampu belajar untuk berkembang.
Ujud nyata dari kondisi makin terjerembab tersebut tak cuma terlihat di sektor riil dunia usaha, jumlah penganggur dan orang miskin, tetapi juga di sektor lingkungan hidup. Selama November 2007 ini, terjadi angin puting beliung di semua daerah. Khusus di wilayah sepanjang pantai, muncul ‘’pemerataan’’ banjir akibat rob atau air pasang laut. Di Jakarta malah dibarengi tanggul pantai jebol, sehingga ribuan warga di kawasan pantai utara harus mengungsi karena permukiman mereka tergenang.
Kejadian itu memang terkait faktor alam. Hanya saja, jika dirunut lebih cermat dan pikiran jernih, penyebabnya adalah ulah manusia. Mulai dari global warming (pemanasan global), penurunan permukaan tanah, pembabatan hutan termasuk bakau, sampai ke pembuangan sampah.
Pemanasan global tak sekedar akibat produksi gas buang yang berlebihan, tetapi juga dampak penebangan hutan seenaknya. Istilah lain pembalakan liar, meskipun yang terjadi pencurian kayu hutan besar-besaran dengan pengawalan pihak berwenang.
Dengan fakta itu, ya tak mengheran jika ada yang tertangkap, ketika proses di meja hijau bebas, dan pelaku menghilang. Baru kemudian di tingkat elite (Jakarta), untuk sementara seolah kebakaran jenggot. Selebihnya, ya biasa-biasa saja. Contoh terakhir terjadi di Sumatera Utara. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), wakil rakyat, penegak hukum, dan sebagainya, juga ikut ribut.
***
Dunia yang makin panas berdampak pula pada volume cairan es di kutup bertambah, dan mengalir ke laut. Kian tahun permukaan laut naik, dan akhir-akhir ini rata-rata per tahun mencapai 10 mililiter.
Penurunan permukaan tanah, awalnya juga ulah manusia. Hampir di semua penjuru dan wilayah kota, dari kawasan pantai hingga perbukitan, dipenuhi perumahan. Hal itu tak hanya menutup pori-pori tanah sehingga menghilangkan daerah resapan, tetapi biasanya disertai penyedotan air tanah untuk kebutuhan rumah tangga.
Industri pun demikian, menyedot air tanah tiap hari tanpa henti. Ujung-ujungnya menyebabkan permukaan tanah turun. Di sisi lain, hutan bakau yang berfungsi menghadang masuknya air laut ke daratan, juga dibabat habis. Dengan demikian, memang sudah selazimnya jika terjadi air pasang langsung menggenangi daratan, termasuk permukiman.
Bila bersamaan puncak air pasang (pada bulan purnama), hujan, angin kencang, dan jebolnya tanggul pantai (seperti di Jakarta), luapan rob telah berubah menjadi bencana. Tanpa dibarengi hujan dan angin pun, akhir-akhir ini di pantai uatara Jawa, rob telah menggenangi sebagian jalan dan permukiman.
Usaha represif memang sudah dilakukan. Misalnya membangun tanggul di pantai, menggalakkan penghijauan pantai dengan bakau, gerakan penanaman sejuta pohon di berbagai wilayah, reboisasi, penertiban pembalakan liar, dan sebagainya. Namun yang sering terlihat, langkah tersebut belum konsisten. Artinya, penghuni negeri ini masih banyak yang punya sifat seperti anak kecil, ‘’demenyar’’ (demene yen anyar-disukai kalau masih baru).
Soal gerakan penghijaun semua elemen masyarakat mendukung. Repotnya, mereka cuma semangat waktu menanam. Padahal, bibit apa pun jika cuma ditanam tanpa dipelihara, bisa jadi cuma menjadi makanan hewan, mati kekurangan air atau sebab yang lain. Demikian juga bangunan, tanpa pemeliharaan memadai, umurnya juga tak akan panjang.
Hampir semua calon kepala daerah yang wilayahnya tergenang rob, sewaktu kampanye juga ‘’menjual dagangan’’ berupa penyelesaian sekitar persoalan itu.
Kita itu kurang apa? Begitulah pertanyaan bernada menonjolkan usahanya, yang sering terdengar dari para pejabat di daearah langganan rob.
Hanya saja, nampaknya mereka lupa bahwa itu semua tindakan represif, belum diikuti tindakan preventif secara maksimal seperti pembatasan pengambilan air tanah, pengerukan/normalisasi saluran, larangan menebang pohon sembarangan. Peraturan daerah tentang penyediaan areal resapan di setiap rumah, pengaturan reklamasi secara ketat, pengelolaan sampah secara benar, dan sebagainya.
***
Muara dari semua itu, persoalan tetap saja menimbulkan masalah. Yang bermunculan justru lulusan strata satu, strata dua, bahkan doktor-doktor baru yang objek penelitiannya tentang banjir dan rob. Sementara warga yang bermukim di wilayah pantai, tetap saja lebih sering hidup di atas air kotor.
Pemerintah memang telah merintis membangun rumah panggung di daerah rob, misalnya di Kecamatan Wedung, Demak. Hal ini karena biaya membuat bendung di sepanjang pantai utara Jawa, jelas sangat mahal. Tetapi tentu saja itu sifatnya sementara, di samping bukan merupakan penyelesaian yang tuntas. Sebab meskipun orangnya tak kebanjiran, namun sarana jalan tetap terendam, sehingga perekonomian rakyat setempat tetap terganggu. Kecuali itu, kalau robnya makin tahun tambah tinggi, rumah model itu akhirnya takkan memadai lagi.
Apakah kita akan pasrah atau berkehendak mengatasi seperti kata filsuf Prof Charles Handy? Jawabanya tentu tergantung penghuni Negeri Ini, utamanya yang punya kuasa.
Selama mereka komitmen, konsisten dan konsekuen, persoalan pasti bisa diatasi. Yang pasti, menurut Pujangga Prancis Paul Valery (1985-1041), jalan awal terbaik untuk mewujudkan segalan impian adalah bangun dan bangkit dari tidur. Namun tentu yaang dimaksud bukan tidur dalam pengertian istirahat, tetapi terlena.
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
23.09
0
komentar
Label: Tulisan Kolom
Jumat, November 23, 2007
Jual Diri
Oleh Sri Mulyadi
HARI ini Sarimi (33 tahun) dan keluarga makan nasi aking. Harga beras mereka rasakan mahal. Sementara suaminya Saroni (35 tahun) tak lagi bekerja. Selama ini nasi aking hanya dimakan bebek. Saroni tak sendirian, walau semua tak makan nasi aking. 49% penduduk Indonesia dalam kondisi miskin (data Bank Dunia 2006).
Kalimat tersebut merupakan iklan di sebuah media cetak nasional. Di bawah kalimat tersebut tertulis: Saya, Wiranto, mengajak Anda bergabung dalam gerakan moral. Bersatu sejahterakan rakyat. Ciptakan 10 juta lapangan kerja. Tingkatkan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas. Tumbuhkan ekonomi melalui pemerintahan yang kuat dan tegas.
Siapa pun yang membaca tentu bebas mencerna dan menginterprestasikan kalimat tersebut. Komentar di internet pun bermunculan. Ada yang mengatakan, mengiklankan diri sendiri sekarang ini bukan hal yang tabu. Apalagi hajatan Pilpres 2009 tak lama lagi. Memperkenalkan diri pada publik dan menciptakan citra adalah hal yang mutlak dilakukan.
Ada juga yang komentar: Terlalu banyak calon bingung milihnya, mana yang gak bakalan buat terlalu makan ati. Aku juga bingung karena terlalu banyak pilihan (tapi nggak ada yang layak pilih). Kayanya ... aku golput aja deh ..., tapi liat aja entar ... siapa tahu Tuhan tiba2 kasih kita calon alternatif buat bangsa ini.
***
Wiranto memang tak sendirian. Dalam Pilkada di Kalbar 15 November lalu, empat kandidat juga ‘’menjual’’ isu kemiskinan. Di daerah lain pun, fenomena menjual diri dengan sasaran konsumen orang miskin, juga terjadi. Terutama berkaitan maraknya pemilihan kepala daerah, dan menjelang pemilihan presiden di tahun 2009.
Tokoh (baik yang mengaku maupun memang ditokohkan) di tingkat kota/kabupaten, provinsi, maupun pusat, berlomba unjuk muka menjual diri. Mereka berpacu saling menonjolkan diri. Menebar citra dan anggapan bahwa dirinyalah yang serba ter. Termampu, tercocok, terbaik, terlayak, dan ter-ter yang lain yang berkonotasi positif. Istilah lainnya rumangsa bisa (merasa bisa).
Segala cara ditempuh. Mulai menebar janji sampai mengobral uang. Etis dan tidak etis bukan dianggap masalah. Yang penting jualannya laku, feedback atau respon dari konsumen, dalam hal ini rakyat, positif untuk dirinya. Jika ada sebagian orang yang mencemooh, juga dianggap angin lalu. Baginya yang terpenting pada akhirnya dia ‘’dibeli’’.
Pada saat menjual diri dalam kaitan meraih simpati, dagangan yang akhir-akhir ini juga layak dijual adalah kemiskinan. Hampir semua calon kepala daerah maupun kepala negara, hari-harinya diisi kegiatan mengobjekkan orang miskin.
Kemiskinan bukannya disikapi sebagai persoalan bersolusi tebar bukti dan tindakan nyata, tetapi masih diwacanakan disertai obral janji. Jika terpilih saya akan…. kalau mendapat kepercayaan saya akan…., seandainya saya dipercaya mengemban amanat maka….., dan kata-kata lain yang berujung akan. Sementara jumlah orang miskin sendiri tak kunjung berkurang.
Lebih celaka lagi, di tingkat elite justru sibuk berkutat mempermasalahkan jumlah dan metoda penghitungan. Tahun 2006 jumlahnya 37 persen atau 49 persen, dasar yang dipakai untuk menentukan apa. Dibanding tahun sebelumnya naik apa turun, dan seterusnya.
Ujung-ujungnya terjadi debat kusir, mereka lupa bahwa angka punya makna. Lewat akurasi data, akan ditemukan terapi yang semestinya. Sebaliknya, jika terjadi rekayasa, muaranya kemiskinan tak sekedar dijadikan barang ‘’dagangan’’, namun menjurus dibuat ‘’objekan’’ penguasa.
Kejadian di Negeri ini kadang memang unik. Termasuk soal korelasi antara menjual diri dengan kemiskinan. Umumnya orang yang menjual diri adalah wanita miskin (baik harta maupun pemahaman terhadap ajaran agama) atau mereka yang terpojok persoalan ekonomi.
Hanya saja, logika tersebut kini justru berbalik. Saat ini bertebaran orang kaya yang menjual diri agar dibeli oleh kaum miskin, dan menjual kemiskinan untuk meningkatkan kekayaan dan harga diri. Bahkan ada yang tega merancang suatu kondisi dan angka kemiskinan untuk tujuan politik dan kepentingan pribadi serta kelompok.
Akankah emosi rakyat kecil tersentuh oleh jualan mereka dan akhirnya ikhlas memberikan hak suara? Jawabnya tentu rakyat sendiri yang tahu. Namun biasanya, pada saat orang terbawa emosi, kiat teliti sebelum membeli, terabaikan.
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
23.17
0
komentar
Label: Tulisan Kolom
Jumat, November 16, 2007
Sulit
Oleh Sri Mulyadi
"SEORANG pesimis melihat kesulitan di setiap kesempatan; seorang optimistis melihat kesempatan dalam setiap kesulitan." Itu pendapat Winston Churchil, mantan Perdana Menteri Inggris. Di negeri ini, sekarang juga tengah mengalami musim "pesimis". Berjuta orang seakan kehilangan akal untuk menemukan cara apa yang harus dilakukan untuk menghadapi kondisi yang ada.
Mereka pesimistis bukan lantaran tak mau melihat serta memanfaatkan kesempatan di tengah kesulitan yang muncul. Namun nampaknya lebih cenderung akibat peluang yang ada memang benar-benar tak mampu terjangkau. Masalah yang satu belum teratasi, persoalan lain muncul. Begitu seterusnya, ibarat petinju yang bertarung di ronde sepuluh pada posisi ketinggalan angka.
Mengejar perolehan nilai mustahil, memaksakan kemenangan KO stamina belum tentu mendukung. Cuma faktor keberuntungan, jam terbang, dan mental, yang masih bisa diharapkan. Salah perhitungan, justru lawan makin menguasai pertandingan.
Demikian juga dengan kondisi di negeri ini. Ketika harga bahan bakar minyak (BBM) dunia akhir-akhir ini mendekati angka 100 dolar per barel. Pemerintah maupun masyarakat terkesan panik.
Pemerintah mulai melontarkan wacana mengenai pengaturan suplai ke masyarakat. Menneg Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas Paskah Suzetta dan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, sudah ancang-ancang akan membatasi penggunaan BBM bersubsidi, terutama bensin dan minyak tanah.
Penguasa tak punya banyak pilihan, kecuali menaikkan harga, mengurangi pasokan BBM bersubsidi ke masyarakat, atau kombinasi keduanya.
Alternatif menaikkan harga BBM, nampaknya mustahil dilakukan pemerintahaan SBY-JK. Kenaikan harga pada Maret dan Oktober 2005 saja, dampaknya sampai sekarang belum teratasi. Luka yang ditimbulkan akibat kenaikan sebelumnya, belum juga sembuh.
Kondisi sosial-ekonomi di kalangan kaum marginal makin terpuruk. Mereka "dihajar" inflasi yang mendekati angka dua digit. Ujung-ujungnya, jumlah orang miskin membengkak. Pada awal 2005 sekitar 16 persen, tahun 2006 telah mendekati 18 persen (sekitar 40 juta jiwa).
Apalagi menghadapi Pemilu 2009, jelas sangat riskan bagi SBY-JK. Saat ini saja, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, baik berkaitan pengentasan kemiskinan, mengurangi pengangguran, maupun memberantas korupsi, menurun tajam.
Seandainya terpaksa mengurangi suplai BBM bersubsidi, tentu realisasinya tak semudah membalik telapak tangan, terutama teknis di tingkat konsumen langsung.
Tanpa perencanaan yang njelimet dan matang, bisa jadi justru berbuah keributan. Masyarakat pasti akan menyerbu BBM bersubsidi. Jika yang ini dibatasi, pasti akan berebut. Belum lagi kalau terjadi permainan, mengingat soal main-memainkan di negeri ini sudah dianggap lazim.
***
Sektor riil yang diharapkan mampu mengurangi pengangguran dan menurunkan angka kemiskinan, pertumbuhannya belum banyak bisa diharapkan. Sementara daftar barang impor makin bertambah. Terakhir tabung elpiji pun harus impor. Dengan pertimbangan lebih mempercepat proses peralihan penggunaan minyak tanah ke gas di sektor rumah tangga, sehingga bisa menghemat subsidi.
Pemerintah pusat, provinsi, kota, kabupaten, maupun wakil rakyat, telah banyak studi banding dan berkunjung ke luar negeri berbekal uang rakyat. Nota kesepakatan dengan calon investor asing telah banyak yang ditandatangani. Sayangnya, nota kesepakatan tersebut banyak yang tak berujung realisasi.
"Kesepakatan oke, tertarik investasi di Indonesia iya, tapi soal realisasi ya nantilah, itung-itung dulu sambil membandingkan penawaran dari negara lain, mana yang lebih menguntungkan." Mungkin begitulah jalan pikiran para bakal calon investor, toch tak ada sanksi yang mengikat.
Sebagai wacana, apa yang disampaikan Paskah Suzetta atau Purnomo Yusgiantoro, sah-sah saja. Bahkan, sebagai tindakan antisipasi memang sudah seharusnya.
Hanya saja, meskipun baru sebatas wacana, bukan tidak mungkin sudah mengganggu konsentrasi, karena setiap terjadi perubahan kebijaksanaan di sektor BBM, pasti rakyat kecil makin menderita. Kebijakan pengalihan penggunaan minyak tanah ke gas pun, kaum marginal juga yang paling terkena getahnya.
Bagi Winston Churcil, memang tidak selayaknya sikap pesimistis dikedepankan, karena takkan membantu melihat kesempatan dalam kesulitan yang dihadapi. Demikian juga halnya kiat aktor yang kini menjabat Gubernur Kalifornia, Arnold Schwarzenegger.
Menurut Arnold, kekuatan bukan berasal dari kemenangan. Perjuangan Anda lah yang melahirkan kekuatan. Ketika Anda menghadapi kesulitan dan tak menyerah, itulah kekuatan. Kiat itu memang tak beda dari peran di film yang dibintanginya seperti Comando, Terminator, Predator. Dengan modal kegigihan, keyakinan, keterampilan, ketenangan, mampu mengatasi segala kesulitan dan rintangan di hadapannya.
Akankah di negeri ini juga bakal muncul tokoh semacam Churcil dan Arnold. Tokoh yang tak lelah, jera, patah semangat, didera kesulitan? Atau tokoh pengemban amanah rakyat yang ikhlas berjuang demi kaum miskin serta pengangguran dengan mengesampingkan kepentingan pribadi dan kelompok? Yang pasti, makin banyak penganut faham pesimistis, kesulitan tak akan kunjung terselesaikan.
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
21.39
0
komentar
Label: Tulisan Kolom
Mengabadikan Cinta di Hutan Bambu Arasiyama
SUASANA romantis hutan bambu di Arasiyama, Kyoto, Jepang, punya kesan tersendiri di benak siapa pun yang berkunjung ke sana. Khususnya bagi mereka yang datang dengan pasangannya. Ada keyakinan, cinta pasangan yang melewati kawasan hutan tersebut bakal abadi alias langgeng.
Bagi yang masih pacaran atau bertunangan, kisah kasihmereka bakal akan berlanjut ke buhul pernikahan. Sementara untuk pasangan suami-istri, biduk rumah tangganya akan bertahan seumur hidup. Maka tak heran kalau lokasi tersebut selalu ramai dikunjungi wisatawan, terutama pada musim gugur atau semi.
Bambu yang tumbuh di kawasan tersebut berwarna hijau dan rata-rata berdiameter 10 sentimeter. Tanaman itu tumbuh subur dan pohonnya menjulang setinggi kurang lebih 30 meter, mirip bambu ''petung'' yang biasa dibuat menjadi kursi. Namun, bambu di Arasiyama tersebut tak membentuk rumpun. Tunas atau rebungnya juga tak terlihat.
Kawasan di tengah hutannya dijadikan jalan dengan pembatas berupa pagar yang terbuat dari ranting bambu. Walhasil suasana alami benar-benar terasa di sana. Apalagi bila suhu udaranya sedang dingin (sekitar 15 derajat Celsius), suasananya jadi benar-benar romantis.
Tak sulit untuk mengunjungi lokawisata Arasiyama. Ada kereta disel dengan kaca yang tembus pandang. Usai membeli tiket seharga 500 yen (sekitar Rp 40 ribu), pengunjung menunggu di stasiun kecil Kameoka untuk menuju tempat pemberhentian berikutnya, yakni Stasiun Arasiyama. Jarak Kameoka ke Arasiyama sekitar tujuh kilometer. Waktu tempuhnya 20 menit.
Selama berada di dalam kereta, penumpang bisa menikmati pemandangan alam sekitar karena jendela kereta sengaja dibuka. Bahkan di lokasi tertentu kereta berhenti untuk memberi kesempatan penumpang menikmati dan mengabadikan keindahan pemandangan dengan kamera atau peranti perekam lainnya.
Ya, dari kereta kita bisa melihat pelbagai macam tanaman, berwarna-warni, terutama di musim bunga atau musim gugur. Kita juga bisa menyaksikan orang-orang yang tengah menikmati wisata arung jeram di sungai yang ada di bawah jembatan untuk kereta.
Tiba di Stasiun Arasiyama, pengunjung meniti jalan bertangga menuju kawasan hutan bambu. Jalannya sempit, jadi mereka terpaksa berjalan dengan saling berdesakan. Namun di antara pengunjung, justru hal itu punya keasyikan tersendiri. Asyik bisa bersenggolan dengan sesama wisatawan. Golongan pelancong yang serupa itu umumnya kaum muda.
Wisatawan yang malas berjalan juga tak perlu repot-repot, apalagi harus berdesakan. Naik saja angkutan semacam becak berkapasitas dua orang yang ditarik manusia. Mirip riksaw di China. Ongkosnya lumayan mahal bagi ukuran Indonesia: 8.000 yen (sekitar Rp 640 ribu) per 30 menit. Selain tidak perlu bercapai-capai untuk mengelilingi objek wisata, penyewa juga tampak anggun saat berada di atas kendaraan tradisional itu. Ya, mirip seorang pembesar, dan umumnya menjadi pusat perhatian pengunjung lain.
Para penarik ''becak Jepang'' bukan hanya kaum lelaki yang berbadan kekar. Ada juga penarik wanita yang berperawakan kecil, tetapi mampu menarik becak di jalan naik-turun, meskipun penumpangnya dua orang. Oh, betapa kuatnya dia!
Usai menjelajah hutan bambu, pengunjung bisa menikmati masakan atau mencari suvenir khas Jepang di kawasan Toketkio sambil menikmati keindahan alam sekitar Sungai Katsura. Di tepi sungai itu banyak ditemui burung dara atau belibis. Beberapa pengunjung terlihat dikerumuni hewan bersayap tersebut. Maklum, mereka memang sengaja membawakan makanan khusus untuk burung-burung itu. (Sri Mulyadi)
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
16.10
0
komentar
Label: PARIWISATA
Kuil Emas dan Pancuran Bertuah di Kyoto
BAYANGKAN saja rumah Anda terbuat dari emas. Yakinlah, siapa pun pasti bakal tertarik melihatnya. Mereka bakal memandanginya lekat-lekat dan puja-puji kekaguman bakal meluncur dari mulut mereka. Sangat mungkin pula orang bakal mereka-reka berapa nilai atau harga rumah itu, bertanya-tanya siapa yang terlibat dalam pembuatan, dan bagaimana mengamankannya. Itu keniscayaan. Sebab, sejak manusia mengenal peradaban, logam mulia tersebut sudah punya arti tersendiri.
Maka lumrah saja kekaguman serupa itu meruah untuk Kuil atau Paviliun Kinkakuji di Kyoto, Jepang. Maklum, sebagian besar bangunan tersebut terbuat dari emas. Lihat saja, selain bangunan paling bawah dan bagian atapnya yang terbikin dari kayu, dua lantainya dibuat dari lempengan emas. Pun di bagian atapnya yang kayu, ada fenghuang emas dalam rupa burung phoenix.
Kenapa tak semua bagian bangunannya dibikin saja dari emas? Tentu saja arsitek atau penggagas bangunannya punya konsep filosofis arsitektural tersendiri. Pada bagian yang terbuat dari emas, yakni di lantai dua dan tiga, fungsinya memang untuk bersemadi. Adapun lantai satu yang tak secuil pun berlapis emas mengandung makna sebagai representasi alam dunia.
Kuil tersebut dibangun pada tahun 1397. Tujuan pembangunannya adalah sebagai tempat peristirahatan Shogun Ashikaga Yoshimitsu. Dinamika zaman ikut mengisi keberadaannya. Misalnya, ia pernah terbakar beberapa kali, khususnya pada masa Perang Onin. Setelah direhabilitasi, ia juga pernah terbakar lagi pada tahun 1950. Tepatnya sewaktu bangunan itu ditempati seorang biksu yang sakit jiwa. Selanjutnya kuil dibangun kembali dengan menggunakan daun atau lempengan emas.
Keunikan bangunan itu terlihat pada setiap lantainya yang dibuat dalam gaya arsitektural berbeda. Meski begitu, secara keseluruhan gayanya mencerminkan bangunan masa Muromachi (1333-1573). Lokasi bangunannya pun begitu eksotis. Ia terletak di tengah kolam buatan bernama Kyokochi di pebukitan Kitayama, sebelah utara Kyoto.
Tentu saja, Kuil Kinkakuji menjadi magnet kepenasaran siapa pun hingga sekarang. Catat saja, setiap tahunnya empat juta orang dari segala penjuru dunia, terutama di musim gugur dan semi, berkunjung ke sana. Padahal, untuk bisa mengaguminya, wisatawan tak bisa mendekat. Mereka hanya bisa melihat dari kejauhan. Jarak untuk melihat yang paling dekat sekitar 100 meter. Walhasil, karena tak bisa mendekat dan bersentuhan langsung, para pengunjung cuma bisa mengabadikan dengan kamera atau handycam.
Kenyataan itu tak pelak sering memunculkan perdebatan kecil atau sejenis keragu-raguan. Benarkah kuil itu terbuat dari emas? Yang percaya bahwa bangunan itu memang dari emas punya alasan yang cukup logis. Katanya, karena Jepang merupakan salah satu negara terkaya di dunia, maka mendirikan bangunan dari emas tentu bukan persoalan besar. Tapi yang sangsi pun punya dalih tersendiri. Kata mereka, bangunan terbuat dari kayu dan hanya dilapisi serbuk emas atau cat berwarna keemasan.
Tanpa harus turut suntuk memperdebatkannya, yang tak bisa didebat lagi adalah bahwa objek wisata kuil emas tersebut sangat sayang dilewatkan apabila kita mengunjungi Kyoto. Bangunan itu tampak indah berkilau di tengah kolam yang dipenuhi ikan emas seberat empat atau lima kilogram per ekornya yang hidup bareng bersama ikan-ikan koi. Di tepi kolam selalu terlihat beberapa burung bangau yang tengah menunggu mangsa berupa ikan-ikan kecil. Jalan yang mengelilingi kompleks pun sangat bersih. Pada kanan kirinya berjajar tanaman hias khas Jepang. Pun lihat juga keelokan bunga padma atau teratai di tengah kolam. Konon bunga itu sebagai perlambang kehidupan, sementara telaganya menjadi simbol dunia, dan warna emas di kuil itu menyimpan makna sebagai arahan meraih berkat surgawi.
''Kalau Anda datang pada musim semi, panoramanya begitu memesona. Bunga warna-warni itu begitu serasi berpadu dengan keelokan kuil emas,'' ungkap salah seorang penjaga.
***
PERLU diketahui, Kota Kyoto yang dibangun pada tahun 794 itu adalah bekas ibukota Jepang. Jaraknya sekitar 50 kilometer dari Tokyo. Luas wilayahya sekitar 610 kilometer persegi dengan penduduk kurang lebih 1,5 juta jiwa. Ia merupakan kota yang molek. Setiap sudutnya memperlihatkan harmoni sebuah kota yang didominasi keteduhan dengan pemandangan pepohonan hijau, pegunungan, dan kuil-kuil berusia ratusan tahun yang terawat dan indah.
Pegunungan rendah Tamba mengitari kota tersebut dari utara, timur, dan
barat. Dua puncak gunung, Hieizan dan Atagoyama, mendominasi kawasan
pada bagian barat laut dan timur laut kota ini. Itu masih dilengkapi dengan Sungai Kamogawa dan Katsuragawa yang melintasi wilayah pusat dan barat Kyoto.
Untuk menuju Kyoto, wisatawan dari Tokyo bisa naik pesawat atau kereta cepat (shinkanzen) menuju Osaka. Jarak Tokyo-Osaka sekitar 500 kilometer, hampir sama Semarang-Jakarta. Dengan shinkanzen bertarif 13 ribu yen (sekitar Rp 1.040.000), waktu tempuhnya cuma 2,5 jam. Adapun dari Osaka ke Kyoto yang jaraknya sekitar 50 kilometer, kita bisa menggunakan bus umum.
Kuil lain yang juga punya keunikan tersendiri adalah Kiyomizudera yang terbuat dari kayu, dan konon tanpa paku. Di kuil itu tersimpan patung Dewi Kwan Im, dan hanya dikeluarkan setiap 36 tahun sekali. Di luar ruangan penyimpan patung terdapat genta dari kuningan lengkap dengan pemukulnya. Pada umumnya, usai berdoa pengunjung langsung memukul genta, sehingga gaungnya terdengar sambung-menyambung menjadi semacam ilustrasi kekhusukan doa di kuil yang berada di atas ngarai curam tersebut.
Di kompleks tersebut juga terdapat tiga pancuran yang airnya dipercaya punya ''pengaruh'' atau ''tuah'' bagi orang yang meminumnya. Masing-masing pun punya makna sendiri. Air di pancuran pertama konon ''bertuah'' untuk mereka yang mencari kebahagiaan, sementara pancuran kedua untuk kesehatan, dan yang ketiga untuk mereka yang menginginkan panjang usia.
Dan rupanya banyak sekali orang yang memercayainya. Akhir bulan lalu, ketika bersama rombongan ''Daihatsu Journalist Test Drive'' datang ke sana, saya menyaksikan begitu banyak pengunjung pada masing-masing pancuran. Puluhan orang itu secara teratur antre mengambil air dengan gayung dan meminum airnya.
''Saya percaya saja air ini memang bertuah. Saya yakin banyak juga yang memercayainya. Lihat, itu banyak sekali orang yang antre untuk meminum air dari pancuran,'' ungkap Tan Lie Siong, seorang turis asal Hong Kong dalam bahasa Inggris sambil menunjuk kerumunan orang di dekat pancuran.
Untuk soal yang satu itu, mungkin tak perlu jauh-jauh pergi ke Kyoto. Di sini pun banyak tempat yang airnya dipercaya ''bertuah''. Tapi kalau sudah sampai di Kyoto dan berkesempatan ke Kuil Kiyomizudera, ya silakan coba mereguk air pancuran itu. Siapa tahu memang berkhasiat, paling tidak memuaskan rasa haus (kalau kebetulan haus), dan tentu saja rasa kepenasaran Anda. (Sri Mulyadi)
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
14.53
0
komentar
Label: PARIWISATA
Jumat, November 02, 2007
Sensasi Ikan Bluntak Osaka
ANDA ingin mencoba merasakan masakan ikan buntal atau sering juga disebut ikan bluntak? Datanglah ke restoran Zuboraya, Do Ton Buri, Osaka, Jepang. Tapi jangan kaget, harga per paket masakan tersebut 10.500 Yen atau sekitar Rp 840.000. Itu saja tiap paket ikan bluntaknya (di Jepang disebut ikan fugu), cuma sekitar dua ons. Lainnya berupa cumi, udang, tofu atau tahu khas Jepang yang lembek. Kemudian sayur, semangkuk nasi, buah, es krim.
Rasa ikan itu memang lezat, gurih agak manis, tak kalah dibanding salmon, cumi, udang bago, kakap, atau lainnya. Sampai-sampai di Jepang muncul ungkapan: Mereka yang memakan sup fugu adalah bodoh. Tetapi mereka yang tidak memakan sup fugu juga bodoh." Ungkapan itu memang bisa dimengerti. Di satu sisi ikan itu memang lezat, tetapi sekaligus sangat berbahaya. Jika cara membersihkan tidak benar, bisa berujung maut.
Racun yang terkandung di perut ikan fugu jauh lebih mematikan dibanding sianida, bahkan mampu membunuh antara 24 hingga 30 orang manusia sekaligus. Hal ini diakibatkan di dalam badan ikan buntal, terutama di bahagian hati dan empedu, mengandungi sejenis toksin tetrodoxin. Racun ini berasal dari makanannya. Makanan ikan fugu ini adalah mikroorganisme tertentu yang menyebabkan bagian dalam tubuh ikan ini mengandung racun.
Dipotong Menyilang .
Wartawan Suara Merdeka, Sri Mulyadi yang mengikuti test drive Daihatsu di Shiga Technical Center, Osaka, 23-28 Oktober lalu melaporkan, di kawasan Do Ton Buri ada beberapa rumah makan yang menyajikan menu ikan fugu. Sebagian memajang menu lengkap di etalase, dan ada juga yang meletakkan aquarium berisi ikan fugu di depan restoran. Sedang memasaknya, digoreng, dibakar atau direbus, tergantung konsumen. Di tiap meja disediakan kompor gas lengkap peralatan memasaknya.
Shigonobu Oyama, pemilik Zuboraya, mengatakan ikan tersebut berasal dari nelayan di sekitar pulau Honshu. Sebelum disajikan ikan dipotong menyilang, seluruh isi perut dibuang. Kemudian kulit dikelupas, terutama bagian kepala. ‘’Ikan jenis ini memang beracun, tetapi jika cara membersihkannya benar, aman dikonsumsi. Rasanya lezat dan khas,’’ ungkapnya.
Kaosao Ichiro, seorang pelayan rumah makan mengungkapkan, di perairan laut Jepang ada sekitar 40 jenis fugu, namun yang bisa dikonsumsi hanya jenis torafugu robripes.
Menyediakan hidangan fugu tidak mudah. Hanya orang yang benar-benar terlatih dan berlisensi yang diperbolehkan. Sebelumnya mereka dilatih mengenai cara menangkap, memotong, membersihkan dan memasak, kemudian diharuskan memakan hasil masakannya. ‘’Faktor kesulitan menyajikan hidangan inilah yang menyebabkan ikan fugu menjadi salah satu menu termahal di Jepang.’’
Bagian kepala fugu disajikan dalam bentuk fillet atau diiris tipis. Bagian badan cuma dagingnya yang diambil. Siripnya disendirikan, dan biasanya digoreng dan dihidangkan dalam sake panas. Masakan ini dinamakan fugu hire-zake. ‘’Kelezatan menu ikan fugu terletak pada rasa dan teksturnya. Jika direbus dagingnya menjadi kenyal.’’
Masa panen ikan ini biasanya bersamaan dengan musim semi. Pada masa itu fugu memasuki musim kawin dan bertelur. Pertengah musim semi mulai beranak. Di antara pemilik rumah makan ada yang melakukan pembesaran sendiri anak fugu di karamba dengan makanan ikan segar. Ada juga yang membeli dari pasar dalam kondisi hidup, kemudian dipelihara di akuarium.
Di Indonesia ikan bluntak jenis itu juga banyak ditemukan, tetapi umumnya belum dijadikan menu untuk dikonsumsi. Di Semarang masuk kelompok ikan hias yang dipelihara di akuarium air laut, karena bentuknya lucu dan jika dipegang perut akan menggelembung menyerupai bola. Biasanya ikan ini didatangkan dari Banyuwangi atau Bali. Sedangkan di Karimunjawa, dipelihara di karamba, juga sebagai ikan hias. Bahkan yang di Karimunjawa per ekor beratnya bisa dua atau tiga kilogram.
Di pasar ikan tradisional Tambaklorok, Semarang, ada juga yang menjual salah satu jenis ikan buntal. Kebanyakan orang menyebut bluntak pisang, bukan fugu. Ikan ini aman dikonsumsi asal memotongnya benar, yakni menyilang. Dari kepala hingga belakang dubur dibuang. ‘’Kalau selama ini banyak orang meninggal setelah makan ikan bluntak, karena tak tahu cara memotongnya,’’ ungkap seorang bakul ikan di Tambaklorok. Yang membedakan cara mengonsumsi ikan bluntak pisang dengan fugu adalah cara pemotongan. Kalau fugu menyilang di bagian perut, sedang bluntak pisang yang terbuang setengah badan lebih.
Ta Ko Yaki
Di kawasan Don Ton Buri, juga banyak ditemui ta ko yaki, makanan khas Osaka. Terbuat dari tepung, jahe merah, cumi (jenis sotong/cumi bertulang), daun bawang panjang, kobis, telur. Setelah diaduk merata dibentuk bulat-bulat, kemudian dipanggang. Harga per enam biji 320 yen atau sekitar Rp 25.600 (per yen sekitar Rp 80), 8 biji 420 yen, dan 12 biji 620 yen. ‘’Rasanya lumayan, agak cocok dengan masakan Indonesia,’’ ungkap beberapa wartawan yang ikut rombongan test drive Daihatsu.
Kecuali ta ko yaki, makanan khas yang bisa dinikmati di Osaka adalah yakiniku. Bahan berupa ikan, udang, cumi, kepiting, daging sapi, ayam, dan lainnya, disantap setelah sebelumnya dimasak sendiri di hot plate yang ada di setiap meja. Khusus daging sapi, konsumen bisa memilih yang istimewa. Sebelum dipotong, menurut informasi, sapi sering dipijit dan diberi minum bir, sehingga dagingnya lembut.
Gang-gang di kawasan Don Ton Buri, tak pernah sepi dari pengunjung pejalan kaki, dan pengendara sepeda. Kendaraan bermotor tak boleh lewat. Objek yang bisa dinikmati tak hanya rumah makan dengan berbagai menu. Di kawasan ini juga ada yang menjual anjing jenis kecil,kucing, humter. Pengunjungnya juga ramai, dan kebanyakan para wanita. Hewan-hewan itu diletakkan di kotak kaca. Untuk anjing dan kucing ada yang ditawarkan hingga Rp 10 juta – Rp 15 juta/ekor.
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
21.28
0
komentar
Label: PARIWISATA
Uji Nyali di Sirkuit Daihatsu
MELEPAS seseorang untuk mengendarai mobil dengan kecepatan 100 kilometer per jam atau lebih di arena uji coba (semacam sirkuit balap), jelas berisiko tinggi. Lebih-lebih bila orang tersebut belum pernah mengendarai mobil yang akan dia coba, dan jalur yang dilalui juga belum dia kenal.
Tapi seperti itulah yang dilakukan Perusahaan Daihatsu, beberapa waktu lalu di Shiga Technical Center, Osaka. Sebanyak 29 wartawan dari berbagai daerah di Indonesia diundang untuk melalukan test drive.
Jenis mobil yang digunakan adalah pikap dan minibus, yang akan diluncurkan di Indonesia November 2007 ini. Perlu ditambahkan, meski belum diluncurkan, pemesan yang tercatat di atas 1.300 orang
Untuk pikap, uji coba dilakukan di jalur lurus yang diberi rintangan rambu seperti layaknya ujian SIM. Jalurnya dibikin berbelok tak beraturan, dengan tujuan menguji kelincahan mobil. Pada kesempatan itu peserta diminta mencoba tiga mobil pikap. Yakni, Daihatsu 1.300 cc, 1.500 cc, dan mobil pembanding.
Sedangkan yang minibus, sebelum mencoba mengendarai mobil terbaru itu peserta diajak mengelilingi arena menggunakan bus. Awalnya berkecepatan 40- 50 Km/jam di jalur paling kiri. Kemudian di jalur dua kecepatannya berubah menjadi 80-100 Km/jam. Setelah itu masing-masing peserta dilepas mengendarai mobil sendiri didampingi seorang teman sesama peserta.
Arena uji coba terdiri atas empat lajur sepanjang 2,8 Km. Kemiringan jalannya 45 derajat, dan khusus jalur lurus satu kilometer. Bagian paling kiri dibikin tidak rata seperti jalan rusak. Ada beberapa bagian dibikin menonjol atau dibuat rambu polisi tidur berjajar. Hal itu dimaksudkan untuk mengetahui kondisi mobil saat lewat jalan jelek dan bergelombang.
Pada lajur dua yang kemiringan jalannya 15 derajat, kondisi jalan halus, namun di jalur lurus sebagian dibuat cekung dan berair. Kenapa berair? Itu untuk mengetes kendaraan pada saat melewati genangan. Di jalur tersebut, pada saat kendaraan melaju dengan kecepatan 80-100 km/jam kemiringan jalan tidak terasa.
Selama kemudi tidak digerakkan, mobil akan melaju seperti di jalur lurus, meskipun kondisi jalan sebenarnya berbelok. Demikian juga di jalur tiga dan empat. Ketika mobil dipacu dengan kecepatan 150 km/jam, kemiringan 45 derajat tak terasa, seolah mobil melaju di jalan lurus.
Hanya saja, jika kemudi digerakkan ke kanan atau kiri, bisa berakibat fatal, menabrak pembatas jalan yang terbuat dari besi. Pada test drive ketika itu ada peserta yang nekat memacu kendaraan hingga berkecepatan 145 km/jam dan masuk ke jalur empat.
Bagi yang suka tantangan di jalan, itu memang mengasyikkan. Apalagi dengan mobil baru yang belum ada di pasaran, bisa mencoba mengendarai di beberapa kondisi jalan dengan kecepatan yang bervariasi, mulai 10 km/jam hingga di atas 150 km/jam. Yang kadang tak disadari, peserta terlalu asyik sehingga memacu kendaraan secepat mungkin, mengabaikan perintah instruktur.
Usai menguji kendaraan, peserta dipertemukan dengan para petinggi di Daihatsu Motor. Mereka antara lain Manager Engineering Sinichi Namba, General Manager Test Yukihiro Yamasaki, Direktur Marketing PT Astra Daihatsu Motor Suparno Djasmin, dan Vice President Director Sudirman MR.
Pada pertemuan itu terpapar bahwa bahan bakar minibus terbaru tersebut cukup irit. Catat saja, untuk yang 1.300 cc bahan bakarnya hanya 11,14 kilometer/liter. Adapun untuk 1.500 cc tiap liternya mampu menempuh jarak 11,11 kilometer. Sedangkan untuk pikap, per liter di atas 12 kilometer.
''Semua komponen diperbarui, dan jelas berbeda dibanding generasi sebelumnya, kecuali roda,'' ungkap Suparno.(Sri Mulyadi)
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
16.20
0
komentar
Selasa, Oktober 23, 2007
Praktis, Ekonomis, Tragis
Oleh Sri Mulyadi
Tantangan seringkali mengasyikkan dan membikin hidup terasa lebih hidup. Tapi kadang bisa berujung maut. Seperti halnya mudik menggunakan motor. Di satu sisi, praktis, tak terikat waktu, ekonomis, mengasyikkan (terutama yang ramai-ramai). Sampai di daerah tujuan pun, bisa digunakan sebagai angkutan ke rumah para kerabat.
Namun di sisi lain berisiko tinggi. Misalnya kehujanan, kepanasan, ban kempes, mesin rusak, dan sakit di perjalanan. Bahkan rentan terjadi kecelakaan. Bisa diakibatkan serempetan sesama motor, tabrakan dengan kendaraan lain, slip, dan sebagainya. Yang pasti, karena pengendara motor perlindungannya minim, seringkali kecelakaan berdampak tragis.
Seperti terjadi pada Lebaran Tahun 2007 ini. Di Jawa Tengah saja, dalam kurun waktu 11 hari (H-7 hingga H+4), terjadi 285 kasus kecelakaan dengan korban 60 orang tewas. Ironisnya, 70 persen di antara korban adalah pengendara motor.
Repotnya, jumlah pemudik menggunakan motor tiap tahun naik. Faktor yang mendorong tak hanya praktis, tetapi ekonomis. Untuk Semarang-Jakarta PP, biaya beli bensin sekitar Rp 100 ribu - Rp 150 ribu. Satu motor bisa dinaiki sekeluarga terdiri atas, ayah, ibu, dan dua anak. Jika naik bus sekali jalan Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu.
Untuk mempunyai motor baru, di Jakarta atau kota besar lain, cukup bermodal KTP dan uang muka Rp 500 ribu - Rp 1 juta. Selanjutnya angsuran per bulan Rp 350 ribu - Rp 400 ribu. Kalau misalnya mau nakal, 3 bulan gak bayar angsuran, paling risiko motor ditarik dealer. "Kalau ditarik ya anggap saja kita pinjam tiga bulan dengan sewa Rp 500 ribu. Misalnya dioper kredit ke teman, juga banyak yang mau," ungkap Djoko Darmono (36), salah seorang pemudik asal Pamulang, Jakarta.
***
Alasan mereka memang sederhana dan sangat mudah dipahami. Di tanah kelahirannya mereka juga bisa "mejeng" dengan motor baru. Keluarga atau tetangga tentu tak akan tanya status motor, dari beli atau kredit. Orang tua juga ikut bangga, karena anaknya di rantau sudah mampu beli motor.
Benarkah alasan mereka mudik pakai motor cuma itu? Berbagai komentar bermunculan. Soedaryanto, Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan Anggota Komisi V DPR Aswar Anas berpendapat, fenomena makin maraknya mudik pakai motor menunjukkan tidak maksimalnya pemerintah menyediakan transportasi publik.
Jika ada angkutan nyaman dan aman, hal itu tentu tak terjadi. Bus dan kereta api biasanya penuh sesak, dan harga tiket pesawat tak terjangkau. Belum lagi karena alasan masalah kemacetan lalu lintas hingga berjam-jam, penumpukan penumpang di terminal atau stasiun KA, harga tiket yang melambung tinggi, calo, dan copet.
Argumen itu bisa benar juga. Namun persoalan yang utama tentu bukan soal praktis, ekonomis, dan ketidakmampuan pemerintah. Masalah yang tak dapat ditawar adalah mudik dan balik menggunakan motor sangat berbahaya. Maunya praktis, ekonomis, dan romantis, bisa berujung tragis. Jumlah orang meninggal akibat mudik pakai motor, tiap tahun bertambah.
Dalam menyikapi masalah ini, tentu tak mungkin kita saling menyalahkan. Aparat keamanan sudah maksimal menjalankan tugas, sampai rela tak ikut merayakan Idul Fitri bersama keluarga. Penanggung jawab infrastruktur juga demikian, pembenahan sarana jalan telah diperbaiki jauh hari sebelum Lebaran. Angkutan umum sudah dikerahkan secara maksimal, meskipun kondisinya belum seperti yang diharapkan Soedaryanto maupun Aswar Anas. Namun toh angka kecelakaan tetap tinggi.
Persoalan teknis seperti kondisi motor, nampaknya juga bukan penyebab. Umumnya kendaraan yang digunakan masih dalam kondisi baru. Yang sulit diprediksi dan diantisipasi serta ditanggulangi mungkin justru persoalan fisik dan psikis. Imbauan untuk istirahat di saat kondisi lelah sudah bermunculan dari berbagai pihak.
Tempat istirahat dari yang sekedar berkipas angin hingga ber-ac telah tersedia di sepanjang jalur mudik dan balik. Namun karena jarak yang ditempuh mencapai 500 kilometer lebih sekali jalan, sebugar apapun kondisi seseorang pasti kelelahan. Untuk mengembalikan, tak cukup dalam waktu singkat. Sehingga ketika melanjutkan perjalanan, sebenarnya kebugaran belum kembali betul. Kondisi ini otomatis mengurangi konsentrasi, dan dalam kondisi jalan yang padat, kecelakaan sangat mungkin terjadi.
Secara psikis juga demikian. Ketika mudik ada dorongan kuat untuk secepatnya sampai lokasi yang dituju. Mereka ingin segera bertemu dengan orang tua atau sanak keluarga. Otomatis dia terdorong mempercepat laju kendaraan. Apalagi kalau rekan yang berangkatnya bersamaan telah lebih dulu tiba di daerah tujuan, pasti yang bersangkutan tambah "kemrungsung". Padahal pada kondisi psikis seperti itu, orang cenderung kurang waspada. Ujung-ujungnya, kecelakaan tak terhindarkan. Ketika balik ke kota, kondisi fisik dan psikis pun, nampaknya juga dominan menjadi pemicu.
Mudik pakai motor memang sah-sah saja, dan tentu sulit dilarang. Namun yang perlu direnungkan adalah tindakan itu berisiko tinggi. Tak hanya bagi pengendara, tetapi juga terhadap pengguna jalan yang lain. Pengawalan dari polisi ternyata juga belum menjamin terjadinya penurunan angka kecelakaan.
Akankah Lebaran tahun depan diperbolehkan atau dilarang? Persoalan tentu tak sesederhana itu. Masing-masing punya konsekuensi. Kalau diperbolehkan tindakan preventifnya apa, dan jika dilarang solusinya bagaimana.
Tantangan kadang membikin hidup terasa lebih hidup. Tetapi jika itu bisa mendatangkan maut dan bisa dihindari, mengapa tetap tertantang melakukan. Untung rugi dalam suatu keputusan pasti ada. Hanya saja bila keuntungan yang diperoleh tak sepadan dengan risiko, kenapa harus ditempuh.
--- Sri Mulyadi, wartawan Suara Merdeka di Semarang
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
19.17
0
komentar
Label: Tulisan Kolom
Jumat, Oktober 12, 2007
Mudik
Oleh Sri Mulyadi
Lebaran telah di ambang pintu. Hiruk-pikuk mudik sudah mulai terasa H-10. Penghuni Ibu Kota khususnya, seakan berpacu ke luar dari sarang, menuju tanah kelahiran masing-masing. Baik menggunakan kereta, pesawat, bus, kapal, mobil pribadi, maupun sepeda motor.
Di sisi lain, kalangan pengusaha termasuk perbankan dan organisasi politik, seakan berlomba memperebutkan simpati mereka, terutama yang menggunakan kendaraan umum nonpesawat. Tawaran menarik bermunculan.
Ada yang menawarkan tiket mudik dan balik gratis, dihibur artis-artis Ibu Kota, doorprize, dan sebagainya. Tujuan mereka sama, menyenangkan pemudik, terutama ''wong cilik''. Tawaran pun kini lebih spesifik, ditujukan bagi pedagang mie, kuli bangunan, pedagang asongan, dan kelompok lainnya.
Pertanyaan yang mungkin menggelitik, pertanda apakah kejadian ini? Di satu sisi memunculkan fenomena pengusaha dermawan di negeri ini makin banyak. Tokoh politik dan wakil rakyat tak sekadar menyampaikan aspirasi, tetapi langsung turun tangan ikut menyelesaikan masalah dengan mengeluarkan biaya pribadi. Politikus tak cuma obral janji, namun obral bukti.
Bisa diartikan pula bahwa tujuan politikus dan pengusaha sama, membikin senang kaum marginal. Mereka merasa selama ini telah banyak dibantu oleh rakyat kecil, dan musim Lebaran merupakan waktu tepat untuk balas membantu.
Dari sudut pandang pengusaha, pemudik adalah konsumen potensial, sehingga wajar jika setahun sekali memperoleh fasilitas mudik gratis. Bagi yang belum menjadi konsumen, paling tidak mulai mengenal merk dan produk.
Dengan demikian, pada masa mendatang bisa dijadikan sasaran target pasar, dan diharapkan masuk barisan sebagai konsumen. Paling tidak simpati mereka ke merk atau pengusaha produk tertentu, bisa lebih menyebar ke para kerabat dan tetangga.
Dapat pula diartikan sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan, dan diharapkan menciptakan citra yang sangat positif. Biaya dianggap sebagai investasi jangka panjang yang bisa menciptakan iklim sosial politik kondusif.
Organisasi politik pun ada juga yang menjadikan sebagai lahan menjual citra serta "target pasar'' dalam pemilihan umum (pemilu). Jumlah pemudik yang jutaan orang, diskenario mampu mendongkrak perolehan suara bagi partai yang bersangkutan.
***
YANG dilakukan pelaku usaha maupun partai politik tersebut memang sah-sah saja, dan dinilai banyak membantu kaum marginal. Seandainya di balik tindakan tersebut mengandung unsur bisnis berupa promosi citra, merk, maupun produk, juga wajar-wajar saja. Ujung-ujungnya, seiring berbagai kemudahan itu, jumlah pemudik terus meningkat
Persoalan yang mungkin muncul adalah orang yang terlibat dalam hiruk-pikuk mudik umumnya berasal dari desa. Atau mudik diartikan sebagai kembali ke udik, pulang desa, atau pulang ke tanah kelahiran. Dengan demikian mudik hanya bersifat searah, dari kota ke desa.
Sebagai konsekuensinya, adat, pola dan gaya hidup kota, ikut terbawa ke desa. Sebagai contoh, pembantu rumah tangga pun ketika mudik punya tren tersendiri. Jika dua tahun lalu pulang kampung menenteng hand phone, tahun ini cenderung ke penampilan fisik, rambut dicat warna-warni.
Tak cuma pembantu, majikan pun tak sedikit yang terlibat memasyarakatkan salah satu pola hidup kota, konsumtif. Demi jaim (jaga image) sebagai orang dari kota, mereka dengan enteng melepas puluhan bahkan ratusan ribu rupiah untuk sekadar beli barang sekunder bahkan tersier.
Celakanya, banyak orang desa terpengaruh, bahkan terobsesi. Mereka menganggap hidup masa kini seharusnya memang demikian. Jika tidak, berarti ketinggalan zaman. Tetap jadi orang udik yang ''ndesa''. Dampak selanjutnya, kota-kota besar makin disesaki kaum urban. Nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, keselarasan, yang umumnya berhabitat di desa kian terkikis.
***
Namun jika direnungkan lebih mendalam, tradisi mudik juga tak sedikit dampak positifnya. Acara silaturahmi, sungkem ke orang tua, saudara, saling memaafkan, merupakan tindakan yang dianjurkan agama. Di samping itu, mereka juga kembali menikmati siraman nilai-nilai desa untuk menyegarkan kegersangan yang dialami di kota. Hanya, siraman nilai itu kadang tak bertahan lama. Selang beberapa saat usai Lebaran, mereka kembali ke pola dan gaya hidup kotanya.
Serba repot ya? Memang demikianlah kenyataannya. Makin banyak yang memfasilitasi, jumlah pemudik tambah membeludak. Risikonya, banyak orang desa terkontaminasi kehidupan warga kota. Seiring dengan itu, urbanisasi terus melonjak, yang ujung-ujungnya menambah persoalan di kota. Sebaliknya kalau mereka tak difasilitasi, nilai positif yang terkandung dalam mudik lama kelamaan bisa luntur. Lembaga pemerintah, pengusaha, partai politik, dianggap tak peka terhadap tuntutan rakyat kecil.
Mencari titik temu yang ideal nampaknya memang tak mudah. Tapi pendapat Sineas dan Penulis Italia, Luciano de Crescenzo yang berbunyi: "Kita, tiap-tiap kita adalah malaikat dengan satu sayap, dan kita hanya mampu terbang jika saling memberikan pelukan" bisa dijadikan salah satu renungan. Hal itu bisa juga dimaknai, tradisi mudik tetap dilestarikan, tetapi pemudik punya kesadaran untuk tidak ''merangsang'' orang desa meniru gaya dan pola hidup kota yang berujung urbanisasi.
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
19.21
1 komentar
Label: Tulisan Kolom
Kamis, September 27, 2007
Amanah
Oleh Sri Mulyadi
"MENCINTAI artinya berbagi kebahagiaan demi kebahagiaan orang yang kita cintai." Itu kata GW Von Leibnitz, matematikawan penemu Kalkulus. Kata-kata itu bisa bermakna pula, “Tiada istilah mencintai tanpa berbagi kebahagiaan dengan orang yang dicintai.”
Namun pengertian itu sendiri tentu tak cuma mengarah pada sebatas cinta seorang pria kepada wanita atau sebaliknya. Tetapi relevan juga ditujukan untuk hubungan antarmanusia, antara pimpinan dan bawahan, orang tua dengan anak, atau pimpinan pemerintahan dengan rakyat.
Jika ada pemimpin cuma berkutat pada kebahagiaan diri sendiri beserta keluarga, dan mengabaikan kesejahteraan rakyat, berarti mereka tak mau berbagi kebahagiaan. Mereka masuk ke dalam golongan pemburu kesenangan dan ketenteraman hidup (lahir dan batin) sendiri. Otomatis pula, hanya omong kosong jika mereka di setiap kesempatan selalu ngomong: “Apa yang kami lakukan semata demi cinta kepada rakyat.”
Apakah di negeri ini tak ada pemimpin yang bersedia berbagi kebahagiaan dengan rakyat? Jawabnya tentu ada. Bahkan semua pemimpin, termasuk wakil rakyat, jika ditanya pasti akan menjawab bahwa jabatan yang disandang hanya amanah. Jabatan sebagai tempat atau alat memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Bukan sebagai sarana membahagiakan diri, keluarga, dan golongan.
Namun persoalannya tergantung kepada berapa jumlah yang konsisten dan konsekuen terhadap ucapannya. Lebih banyak yang bersedia berbagi atau sebaliknya. Yang pasti, semua perlu bukti, bukan sekadar omongan.
Jika jumlah penduduk miskin tak juga turun, bahkan makin banyak yang gelisah menghadapi hari esok, tentu bisa dimaknai bahwa mereka yang punya kuasa cuma pandai bicara. Mereka terlena dan terjebak pada kepentingan pribadi. Lontaran kata ''mencintai rakyat'' hanya sebatas retorika ketika akan menggapai jabatan.
Repotnya lagi, di tengah kesusahan memperjuangkan kebutuhan hidup, rakyat malah disuguhi adegan yang tak lucu di level atas. Bahkan di tingkat lembaga tinggi negara juga terjadi perseteruan. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melaporkan Mahkamah Agung (MA) kepada polisi. Pasalnya MA keberatan diaudit soal pemasukan dari biaya perkara.
Meskipun sudah didamaikan Presiden, namun hal itu telah mencerminkan ada ''lembaga super'' dan ketidakharmonisan antarlembaga tinggi di negeri ini. Demikian juga hal sama terjadi antara DPD dan DPR. Ketua DPD menuduh segala sesuatu yang terjadi di DPR serba uang. Tanpa uang pembahasan rencana undang-undang (RUU), termasuk amandemen UUD 1945, yang diajukan DPD takkan terlaksana.
Hal itu memang baru tuduhan dan perlu dukungan bukti. Namun adegan tersebut juga telah mencerminkan bahwa mereka yang terlibat cukup sibuk mengurusi lembaga sendiri. DPD sibuk memperjuangkan eksistensi, sedangkan DPR cenderung mempertahankan ''sawah-ladang''. Sementara perhatian pemimpin lain, termasuk tokoh partai politik, mulai tersedot ke persiapan Pemilu 2008.
Muara dari semua itu, lagi-lagi ya rakyat miskin yang menjadi ''tumbal''. Padahal jika direnungkan dengan hati jernih, keadaan yang menimpa rakyat sekarang ini bukanlah semata-mata datang dari mereka sendiri. Andil sikap dan tindakan penguasa yang cenderung tak mau berbagi kebahagiaan sangat besar. Mereka usrek sendiri, dan persoalan yang diributkan, ya dari itu ke itu saja. Soal kekuasaan, eksistensi, gengsi, dan fulus, yang semuanya tak berkaitan langsung dengan tindakan menyejahterakan rakyat.
Para penguasa juga terkesan angkuh, tak mau belajar dari kegagalan masa lalu. Langkah terdahulu yang menjadikan rakyat kecil tak pernah ''naik derajat'', bukan dijadikan pelajaran untuk memperbaiki keadaan. Nampaknya mereka cuek saja, meskipun sebenarnya belajar dari kegagalan masa lalu bisa dijadikan referensi untuk membenahi langkah baru.
Jika mau belajar dari berbagai kesalahan masa lalu, tentu kondisi bangsa ini dapat lebih baik. Sebab, sejumlah masalah yang selama ini cukup menguras banyak energi, seperti korupsi, konflik di tingkat elite, egois, sebenarnya mempunyai pola yang sama dengan berbagai kejadian masa lalu. Ujung-ujungnya pun juga sama, kepentingan masyarakat bawah terabaikan.
Celakanya, para penguasa dan mereka yang menempati posisi strategis, justru cenderung melupakan dengan berbagai cara. Misalnya dengan memunculkan ketidakpastian proses hukum, merekayasa opini yang tidak proporsional dan cenderung menguntungkan diri sendiri dan lembaganya.
Persoalan ke depan, tentu tergantung yang sikap para penguasa dan elite politik, serta pemegang posisi strategis. Jika cintanya kepada rakyat diikuti dengan berbagi kebahagiaan, tentu akan menyandang predikat sebagai manusia yang konsisten dan konsekuen, serta bermartabat sekaligus bermanfaat. Sebaliknya, kalau tindakannya tetap saja mengutamakan kepentingan pribadi, lembaga, golongan, predikat yang disandang adalah mahkluk yang cuma pandai bicara.
Soal cinta, Filsuf China Lao Tzu punya pendapat senada dengan GW Von Leibnitz. Dia berpendapat: Dicintai seseorang begitu dalam akan memberi Anda kekuatan. Mencintai seseorang begitu dalam akan memberi Anda keberanian.
Kata-kata itu tentu dapat dimaknai juga: Kalau rakyat dicintai begitu mendalam akan punya kekuatan menghadapi tantangan, termasuk kemiskinan. Sebaliknya, penguasa dan elite politik yang mencurahkan cinta kepada rakyat secara mendalam, akan punya keberanian mengambil keputusan yang berpihak kepada kaum marginal, meskipun mungkin berisiko tinggi.
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
23.25
0
komentar
Label: Tulisan Kolom
Sabtu, September 15, 2007
Kleptomaniak Uang Rakyat
Oleh: Sri Mulyadi
ALKISAH: Di salah satu situs internet seorang pria, sebut saja namanya Badrun, mengaku bersalah karena selama menjadi manajer menengah di sebuah perusahaan kebablasan kleptomaniak. Dia telah banyak membantu transaksi licik yang merugikan negara lewat pembukuan ganda, penggelapan pajak, mark up proyek, rekayasa tender, penyeludupan, pembabatan hutan, ekspor fiktif, dll.
Mulanya dia merasa biasa saja, sekedar pemuasan ego, pemenuhan ekonomi keluarga, dan pengakuan lingkungan kerja. Kemudian kebablasan jadi kleptomaniak. Pencurian menjadi hal rutin. Tiada hari tanpa menipu, tiada hari tanpa niat mencuri uang negara. Semakin besar risikonya, semakin menarik dan mengasyikkan.
Uedan nggak? Uang negara yang sumbernya dari rakyat dijadikan objek menyalurkan hobi. Seperti panjat tebing saja, naik gunung, menyelam, dsb. Makin tinggi risiko tambah mengasyikkan. Atau mungkin para pelaku itu sudah menyadari bahwa sekarang ini telah masuk era jaman edan. ''Yen ora melu ngedan ora keduman. Mumpung ada kesempatan, kalau tidak sekarang kapan lagi''. Mungkin begitulah yang ada di benaknya.
Lagi pula, di negeri yang katanya bukan penganut sekulerisme ini, soal curi-mencuri uang negara yang identik dengan uang rakyat, nampaknya memang belum merupakan sesuatu yang memalukan, apalagi dianggap sebagai aib. Buktinya di semua lini masih saja ditemukan adanya praktik seperti itu. Yang terlibat mulai prajurit hingga jenderal, dari pegawai rendahan sampai pejabat tinggi Negara, gubernur, wali kota, bupati, dsb.
Modus operandinya juga macam-macam. Mulai dari rekayasa tender, model penunjukan langsung, mark up, dsb. Bahkan soal impor beras, yang tujuannya membantu orang miskin pun, ditengarai ada permainan.
***
Beberapa waktu lalu Wakil Ketua Fraksi PBR DPR, Ade Daud Nasution dalam jumpa pers di Gedung DPR menduga, kontrak impor beras 500 ribu ton antara Perum Bulog dengan Vietnam Southerm Food Corporations (Vinafood II), merugikan negara Rp 140 miliar. Harga Vinafood ternyata lebih mahal dibanding tawaran Pakistan dan Cina.
Harga Vinafood 308 dolar AS/ton, tapi Cina dan Pakistan menawarkan 208 dolar AS/ton. Padahal beras yang masuk Indonesia juga termasuk dari Thailand dan India. ''Berarti Vinafood menjadi broker, alias calo. Karena dia juga membeli beras dari Thailand dan India untuk memenuhi kontrak impor ke Indonesia,'' ungkap Ade.
Orang awam cuma bisa bilang: Nggak tahulah mana yang benar, itu urusan yang di level atas sana. Yang pasti cerita seperti itu bukan barang baru, dan nggak ada matinya, kayak bunyi iklan.
Pernyataan filosuf Aristoteles bahwa ciri khas manusia adalah sebagai animal rationale (hewan yang berakal budi) atau dikuasai oleh kekuatan rasionya dan bukan oleh nafsu atau naluri, tentu sulit dimengerti untuk memotret kondisi ''permoralan'' di kalangan elite negeri ini. Banyak di antara mereka yang merasa dirinya miskin, bukan karena tidak sanggup mencukupi kebutuhan hidupnya, melainkan karena ia membandingkan dirinya dengan orang lain yang lebih kaya.
Rasio bukan dipersepsikan sebagai sarana untuk memihak kepada rakyat miskin, kaum marginal, dan mereka yang teraniaya, tetapi diputarbalikkan demi memenuhi tuntutan nafsunya. Keuntungan sangat besar dalam sebuah transaksi, dianggap suatu yang rasional, meskipun munculnya lewat jalan kolusi, mark up, dan cara lain yang tidak fair.
***
Jika asumsi itu benar, Aristoteles pasti bertanya: Lantas apa bedanya para pelaku tersebut dengan hewan?
Uang memang penting. Banyak orang punya prinsip: Kalau tidak punya uang kamu bisa apa? Uang memang telah menjadi bagian penting bagi hidup manusia. Banyak orang rela mengorbankan hal-hal yang terpenting dan berharga di dalam hidup untuk mendapatkannya.
Bahkan bagi yang ektrem ada yang menggambarkan bahwa orang yang tak punya uang â˜Ã¢™luwih aji godhong jati akingâ™Ã¢™, lebih berharga daun jati kering. Daun jati kering bisa dijadikan pengganti kayu bakar atau dibuat kompos.
Pertanyaan berikutnya, apakah orang yang uangnya banyak tetapi dari hasil mencuri uang negara atau korupsi, tetap lebih berharga dibanding daun jati kering? Jawaban yang muncul pasti berbeda-beda, tergantung kemana dia ''berkiblat''. Yang pasti, tindakan tebang pilih atau lemahnya sanksi terhadap kleptomaniak uang negara, akan sangat mengganggu penyelesaian persoalan bangsa ini.
Lantas bagaimana tindakan si Badrun setelah dia mengakui perbuatannya? ''Setelah melihat betapa kronisnya negeri ini, kepuasan pun berbalik menjadi guilty feeling. Seandainya dulu saya tidak terpengaruh oleh target-target materi skala mikro, sehingga mengorbankan secara makro, tentu keadaan tidak seburuk ini. Jika rasa bersalah ini muncul lebih awal, mungkin keadaan tidak jadi begini. Dan seandainya ada ribuan orang berbuat sama, mungkin keadaan bisa terhindar dari keterpurukan ini,'' ungkapnya. Siapa menyusul?
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
22.42
0
komentar
Label: Tulisan Kolom
Jumat, Agustus 24, 2007
Rumah Ibadah dan Korupsi
Oleh Sri Mulyadi
UNGKAPAN Uskup Agung Semarang, Ignatius Suharyo yang berbunyi ''tempat ibadah bertambah, namun korupsi tidak berkurang'', terasa menggelitik, kontras dan tidak nalar. Secara logika, kalau tempat ibadah bertambah tentu identik dengan jumlah umat yang takwa dan memanfaatkan Rumah Tuhan itu juga makin banyak. Dampak selanjutnya tindak korupsi, kekerasan, dan perbuatan lain yang bertentangan dengan ajaran agama akan menurun.
Analogi tersebut di mata umum memang sudah selayaknya. Semangat membangun rumah ibadah merupakan pertanda banyak orang makin memenuhi pangakuan Tuhan, dan kehidupan duniawi disadari makin tidak membawa kebahagiaan sejati.
Namun pada kasus tertentu, bisa jadi justru sebaliknya. Sesuatu yang di mata umum kontradiksi, seperti halnya analogi tempat ibadah dan korupsi tersebut, oleh sekelompok orang dianggap hal yang wajar. Persoalan ibadah tak ada korelasi dengan perbuatan yang oleh orang umum dianggap tercela. Ibadah dianggap sebagai bentuk tanggung jawab umat kepada Sang Pencipta, sementara korupsi sebagai ''kewajiban'' bagi diri sendiri dan keluarga.
Kok bisa begitu ya? Memang demikianlah kenyataannya. Negeri ini tak cuma mampu menghasilkan orang-orang yang bisa menembus daftar orang kaya di dunia, tetapi warganya juga ''kreatif'' menemukan dalih pembenar atas tindakan yang menyengsarakan rakyat kecil, egois, serta piawai memutarbalikkan logika.
Di negeri ini juga banyak ditemukan ''musang berbulu domba'', orang yang berpura-pura berbuat baik namun di balik tindakannya itu terselip niatan jahat. Tak sedikit birokrat atau konglomerat yang kesehariannya nampak santun, dermawan, taat menjalankan perintah agama, di sisi lain adalah koruptor atau penjarah uang rakyat.
Dalam hal pembangunan tempat ibadah atau kegiatan sosial lain, mereka kadang tampil di barisan paling depan sebagai donatur. Demi menghasilkan ''potret diri'' yang bersih, uang berapa pun bukanlah masalah. Ujung-ujungnya tindakan masyarakat juga menjadi terbalik, ada sanksi sosial yang luar biasa terhadap pencuri kelas teri. Tapi terhadap koruptor kakap, kadang malah lolos dari jerat hukum, entah karena fakta diputarbalikkan, lewat penyuapan, koneksi, atau ada faktor lain.
Muaranya, bisa saja terjadi sesuatu yang ''ganjil''. Tindakan membangun rumah ibadah yang begitu menggebu, tak seiring dengan semangat untuk berbuat sesuatu lewat kegiatan yang bermanfaat bagi banyak orang. Golongan ini sering ''berlindung'' di balik ungkapan ''barang siapa membangun Rumah Tuhan, maka Tuhan akan membangun buat dia sebuah istana di surga.''
***
Dengan ''menelan mentah'' kalimat itu mereka seolah ditantang, sehingga berlomba membangun rumah ibadah. Mereka tak mau tahu bahwa tempat ibadah hanya sarana untuk menjalankan perintah agama, mendekatkan diri pada Tuhan, menyebarkan ajaran agama, berhimpun demi berbuat kebajikan, dan sebagainya, yang muaranya pada kebaikan sesama.
Mereka sengaja tak mau menyadari bahwa korupsi meraup hak orang lain, makin menyengsarakan orang miskin karena uang negara tergerogoti, merusak sistem ekonomi, sistem perekonomian negara akan kacau, bahkan dapat merusak apa saja. Kelompok jenis ini seolah lupa bahwa menggunakan harta hasil korupsi untuk membangun tempat ibadah, menurut Teten Masduki, aktivis Indonesian Coruption Wacth (ICW), termasuk pendusta agama. Mereka tak hanya berdosa di mata Sang Pencipta, namun juga dosa terhadap sesama, yang cuma bisa diampuni jika yang bersangkutan dimaafkan oleh orang yang dizalimi.
Sayangnya, perkembangan akhir-akhir ini justru orang yang menjalankan ajaran agama dengan benar, jujur, ringan tangan, disiplin, mendahulukan kepentingan orang banyak dibanding keluarga atau kelompok, malah dianggap ''nyeleneh''. Dituduh cari muka, sok suci, sok alim, sok pahlawan, dsb.
Rakyat pun masih saja bermimpi, betapa indahnya wajah Ibu Pertiwi seandainya pernyataan Uskup Agung Semarang, Ignatius Suharyo menjadi berbanding lurus. Artinya, semangat membangun rumah ibadah seiring dengan semakin menjamurnya umat yang peduli akan kemiskinan, pengangguran, keteraniayaan kaum marginal. Mengedepankan gotong royong, memberantas korupsi, menghindari kemurkaan, egois, ketergantungan pada negara lain.
Jurang antara si miskin dan orang kaya juga tak makin curam. Orang pun akan menyadari bahwa tindakan korupsi, menyuap aparat, mempermainkan aturan, hukum, mengutamakan kepentingan golongan, akan merusak segala sendi kehidupan di negeri ini. Musang berbulu domba tak ada lagi, yang bermunculan musang ya berbulu musang. Jati diri bangsa ini tak lepas dari fondasinya, Pancasila.
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
23.29
0
komentar
Label: Tulisan Kolom
Rabu, Agustus 01, 2007
Mewujudkan Aktivitas Batam di KEK Kaliwungu
PEKERJAAN besar itu bernama Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kaliwungu, Kendal. Tidak hanya besar dalam pemaknaan fisik, namun juga manfaat yang akan diperoleh dari realisasinya. Sebut saja, ribuan tenaga kerja akan terserap dalam aktivitas itu. Berkaitan Hari Jadi Kabupaten Kendal ke-403 (Senin, 28/7), wartawan Suara Merdeka, Setyo Sri Mardiko dan Sri Mulyadi menyajikan beberapa laporan.
KAWASAN Ekonomi Khusus (KEK) merupakan sebuah bentuk percepatan industri dalam suatu kawasan yang dikelola dengan segala hak eksklusifitasnya, termasuk insentif fiskal dan nonfiskal, jaringan infrastruktur, kelembagaan manajemen, serta fasilitas pelayanan terpadu. Di dalam kawasan itu terdapat perusahaan dan industri yang mendapat hak, serta kewajiban eksklusif dalam menjalankan roda bisnisnya.
Mengacu Peraturan Pemerintah Pengganti UU No. 1/2007 Pasal 2 dijelaskan bahwa batas-batas kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas, baik daratan maupun perairan yang ditetapkan melalui peraturan pemerintah tentang Pembentukan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. Pada Pasal 3 juga dijelaskan bahwa di dalam kawasan itu dilakukan beragam kegiatan bidang ekonomi, seperti sektor maritim, perdagangan, industri, perhubungan, perbankan, pariwisata, dan lainnya.
Keberadaan KEK untuk mempercepat akselerasi pertumbuhan serta pembangunan ekonomi, memperkuat ketahanan nasional pada kancah persaingan internasional dan meningkatkan investasi, penciptaan lapangan pekerjaan, pertumbuhan devisa. ''Aktivitas di dalam KEK, nantinya bisa dikatakan berkiblat kegiatan bisnis di Pulau Batam,'' kata Kepala Bappeda Pemkab Kendal, Drs Soepardjan.
Dia menambahkan, KEK merupakan program dari pusat untuk menjadikan pemicu atau akeselerasi kegiatan ekonomi di daerah. ''Pemkab Kendal menangkap peluang itu dengan menyusun rencana pembangunan pada kawasan industri di sekitar Pelabuhan Kaliwungu. Dari aspek tata-ruang, seiring dengan program Pemerintah Daerah untuk mengembangkan Kaliwungu sebagai pusat pertumbuhan industri.''
Perizinan Cepat dan Pasti
Lokasinya sangat strategis, karena didukung akses transportasi yang mudah. Yakni, berada satu kompleks dengan Pelabuhan Desa Wonorejo, ditopang jalur arteri/pantura serta jalan tol Semarang-Batang, berjarak 4 km dari stasiun kereta api (KA) Kaliwungu, sekitar 2 km dari terminal bus Mangkang, 19 km ke arah barat Bandara Ahmad Yani Semarang.
Total luas adalah 2.830 hektare, yang antara lain terdiri atas dermaga dan terminal peti kemas, industri khusus, zona besar KEK, kantor pengelola perizinan, permukiman industri, zona komersial, serta didukung fasilitas rekreasi, hiburan, rumah-sakit, pendidikan, dilengkapi instalasi air maupun pengolahan limbah. ''Ada 20 daerah di Indonesia yang memeroleh rekomendasi KEK dari pusat, termasuk Kabupaten Kendal. Hal ini seiring dengan persetujuan dari DPR dan Departemen Perindustrian.''
Menindaklanjuti kebijakan tersebut, Pemkab telah menerbitkan Perda No.23/2007, Perda 24/2007 dan Perda No 25/2007. ''Persiapan untuk mewujudkan sudah dilakukan Pemkab sejak tiga tahun silam. Sehingga, harapan KEK menjadi pusat perdagangan, industri, dan perekonomian yang terpadu, dengan fasilitas berupa kemudahan bagi investor dalam sebuah paket penanaman modal yang ekonomis, cepat, dan pasti. Proses penyelesaian perizinan berkisar 6-12 hari,'' tandas Soepardjan.
Dia menuturkan, sejauh ini sedikitnya telah ada sepuluh investor lokal dan luar negeri yang berminat investasi di kawasan tersebut. Mereka telah melakukan kajian serta pemaparan dengan tim Pemkab dipimpin asisten Sekda bidang pembangunan. Misalnya, investor dari perusahaan galangan kapal, asosiasi pelayaran Singapura, dan pabrikan motor.
''Sejauh ini Pemkab telah melengkapi infrastruktur, seperti fasilitas jalan masuk, jaringan listrik, air bersih dan telekomunikasi. Pembangunan bekerjasama dengan pihak pengembang. Peluang dari pusat ditangkap Pemkab, karena optimistis bahwa KEK akan menjadi penggerak perekonomian di daerahnya, dan Jateng di masa depan.''
Karena luasannya, KEK nantinya berada di empat wilayah desa di Kecamatan Kaliwungu. Yakni Wonorejo, Mororejo, Nolokerto, dan Sumber Rejo. (G15-09)
Pertama di Jawa Tengah
KECAMATAN Kaliwungu merupakan wilayah yang ditunjuk sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Jawa Tengah. Ada tiga desa di kecamatan yang berbatasan dengan Kota Semarang sebelah barat itu, yang nantinya akan dijadikan KEK. Yakni, Desa Mororejo, Wonorejo, dan Sumberejo.
''Pada tahap pertama, wilayah Kecamatan Kaliwungu ditunjuk sebagai KEK di Jawa Tengah. Izin dari menteri Perdagangan sudah turun, dan Pemkab Kendal menindaklanjuti kebijakan dengan Perda No. 22/2007, Perda No. 23/2007, serta Perda No. 24/2007 tentang tata ruang,'' kata Wabup Dra Siti Nurmarkesi, kemarin.
Dengan penetapan tersebut, pihaknya mengimbau seluruh elemen untuk mendukung program itu. ''Termasuk warga pemilik lahan di calon lokasi. Tolong agar masyarakat berfikir makro. Kalau tanah miliknya akan dimanfaatkan untuk kepentingan KEK, diharapkan agar memberikan patokan harga jual yang realistis. Sebab, pada akhirnya semua itu semata-mata bertujuan untuk peningkatan ekonomi.''
Seandainya ada investor yang menawar dan membutuhkan lahan, imbau dia, masyarakat pemilik lahan harus ramah untuk diajak bicara dan bermusyawarah. ''Keberadaan KEK nantinya mampu menyerap ribuan tenaga kerja, karena di dalamnya juga terdapat kegiatan industri pendukung.''
Terkait dengan rencana tersebut, Pemkab Kendal sebagai sebatas fasilitator dan memetakan titik yang akan dijadikan KEK, sehingga lahan yang ditunjuk tidak dimanfaatkan untuk keperluan lain. ''Lahan yang dibutuhkan mencapai 1.000 hektare, terdiri atas 700 hektare diperuntukkan aktivitas industri besar, 200 hektare untuk industri menengah, dan 100 hektare bagi industri kecil.''
Di dalam KEK ini, imbuh Wabup, juga akan direalisasikan sebuah Terminal Kayu Terpadu (TKT). ''Pengadaan tanah untuk keperluan ini dilakukan Pemkab, sedangkan bangunan TKT didakan oleh Pemprov Jateng, serta sarana pendukung, seperti mesin dan peralatan oleh pemerintah pusat. Realisasi TKT dilakukan pada tahun ini.'' (G15-)
Ditingkatkan Menjadi Pelabuhan Barang
KEBERADAAN pelabuhan di Desa Wonorejo, Kaliwungu, menjadi fasilitas pendukung utama bagi kawasan ekonomi khusus (KEK). Pelabuhan yang menyatu dengan zona tersebut, nantinya menjadi pilar lalu lintas ke luar dan masuk barang ke kawasan.
Pada tahap awal, pelabuhan yang mulai dibangun sejak sekitar 2003 ini dikonsentrasikan sebagai sebuah pelabuhan penyeberangan yang mengakses antara daerah Kendal dengan Kumai, Kalimantan Tengah. ''Kendati sifatnya pelabuhan penyeberangan, transportasi yang akan dilayani kapal feri tidak sebatas mengangkut penumpang. Kapal juga melayani pengangkutan barang. Barang-barang tersebut ditempatkan di mobil angkutan, seperti truk,'' ungkap Kepala Dinas Perhubungan, Telekomunikasi, dan Informatika Pemkab Kendal, Affandi SH MM, kemarin.
Jadi, imbuh dia, pelabuhan penyeberangan bersifat fleksibel. Meskipun dalam pengangkutan barang-barang kuantitasnya terbatas. ''Pelabuhan Wonorejo nantinya akan membuka dan meningkatkan jalur ekonomi antara Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah dengan Kalimantan. Saat ini realisasi pembangunan pelabuhan telah menginjak 80 persen. Kami optimistis pada 2010 mendatang, pelabuhan penyeberangan siap dioperasionalkan.''
Bersamaan dengan proses penyelesaian pembangunan pelabuhan penyeberangan itu, Pemkab berancang-ancang untuk mengembangkan menjadi pelabuhan barang. Upaya ini harus ditempuh, karena pelabuhan lebih mampu menjadi pendukung aktivitas KEK. Di dalam pelabuhan barang, antara lain disediakan fasilitas bongkar muat barang dan lokasi peti kemas.
Pengembangan pelabuhan penyeberangan menjadi pelabuhan barang dilakukan dengan bekerjasama pihak ketiga selaku investor. Sejauh ini, Pemkab Kendal telah menerima permintaan dari tiga investor yang berniat melakukan pengembangan. Mereka adalah investor berskala nasional dan internasional. ''Lantaran masih pada tahap penjajagan, kami belum bisa mengumumkan siapa-siapa investor itu. Nanti setelah pembicaraan mencapai final dan kesepakatan, baru kita jelaskan.''
Izin Operasional
Affandi menjelaskan, pembangunan pelabuhan penyeberangan telah menginjak tahap finishing. Pekerjaan yang masih dilakukan untuk mencapai operasionalisasi, adalah merampungkan bangunan pemecah gelombang, dan pengaspalan jalan ke luar masuk dari kompleks pelabuhan ke jalur arteri Kaliwungu.
''Pembangunan pemecah gelombang saat ini masih kurang sekitar 300 meter lagi. Setelah itu selesai selesai, maka kita menginjak pada pengerukan kolam pelabuhan. Sejauh ini pengerukan kolam pelabuhan baru sebatas dilakukan pada alur untuk ke luar dan masuk kapal. Kedalaman kolam itu minimal lima meter,'' urai Affandi.
Dengan hasil tersebut, pengerukan kolam baru dilakukan sekitar 25 persen dari rencana semua pekerjaan. ''Sebuah kapal feri untuk angkutan penumpang yang akan dioperasionalkan telah disiapkan oleh pemerintah pusat. Kapal tersebut sedang proses penyelesaian. Di sisi lain, perizinan operasional pelabuhan penyeberangan sudah kita ajukan.''
Ada lima perizinan operasional pelabuhan penyeberangan. Yakni izin lintas, izin penetapan lokasi, penetapan master plan, izin operasional, dan izin penetapan pembangunan. ''Dari lima izin ini, tiga di antaranya sudah disetujui. Yaitu izin lintas, lokasi, dan pembangunan. Untuk persyaratan izin master plan dan operasional, sudah semuanya kita ajukan dan diproses Departemen Perhubungan Pusat.''
Apabila secara fisik pembangunan pelabuhan penyeberangan sudah selesai seratus persen, tandas Affandi, maka secara otomatis izin operasional pelabuhan tersebut akan keluar. ''Dengan demikian, kita tidak harus menunggu selesainya pelabuhan penyeberangan selesai, proses pengembangan pelabuhan barang bisa diajukan. Pengembangan ini perlu dilakukan, misalnya pada bagian dermaga barang, bongkar muat barang sebagai penunjang KEK.'' (G15-09)
Dibutuhkan Kebersamaan Seluruh Elemen
LOKASI kawasan ekonomi khusus (KEK) di wilayah Kecamatan Kaliwungu, Kendal, dinilai sangat ideal. Selain letaknya strategis, juga telah didukung sejumlah fasilitas pendukung, seperti pelabuhan, stasiun kereta api (KA), jalur arteri dan jalan pantura, serta dekat dengan Bandara Ahmad Yani.
''Jauh-jauh hari sebelum aktivitas KEK resmi beroperasi, sekitar calon lokasi sudah ramai kegiatan ekonomi. Di sepanjang jalur arteri Kaliwungu, misalnya, tumbuh subur rumah makan yang ramai pembeli. Keberadaan dua SPBU juga menjadi pertanda meningkatnya aktivitas ekonomi di sana. Jadi, pemilihan lokasi di tiga desa Kaliwungu itu sangat ideal,'' kata Ketua DPRD Kendal, Drs H Akmat Suyuti, kemarin
Indikasi positif lain, imbuh dia, keberadaan pelabuhan yang meskipun belum dioperasikan, ternyata disambut positif oleh warga. ''Kompleks pelabuhan menjadi tujuan rekreasi bagi sejumlah warga Kendal dan sekitarnya, khususnya pada hari libur. Tak sedikit pula warga memanfaatkan lokasi untuk arena memancing. Karena jadi tujuan rekreasi, hal ini bisa menjadi peluang yang bagus untuk dikembangkan oleh Pemkab. Di sisi lain, keberadaan pengunjung juga berimbas positif mengundang pedagang kaki lima.''
Dia mengemukakan, untuk merealisasikan KEK, sejumlah upaya memang harus ditempuh. Yang terpenting yakni membangun kebersamaan seluruh elemen, seperti eksekutif, legislatif, masyarakat umum, LSM, ormas dan tokoh masyarakat. ''KEK perlu disosialisasikan, dengan tujuan agar pemilik lahan yang akan digunakan bisa memahami dan menerima dengan sukarela. Dalam setiap kesempatan, misalnya kampanye, kader dan simpatisan kami akan ikut memberikan pengertian kepada masyarakat.''
Dengan sosialisasi tersebut, lanjut dia, warga pemilik lahan akan menyadari pentingya KEK. ''Sehingga para pemilik lahan itu mau melepas tanah dengan harga yang standar kepada investor. Di sisi lain, untuk meminim lisasi terjadinya praktik makelar tanah yang tujuannya sekadar mencari untung, ada beberapa kiat yang harus ditempuh. Misalnya, setelah tanah dibeli harus didaftarkan di notaris dengan perjanjian untuk aktivitas KEK. Tanah yang dibeli agar tidak dijual kembali.''
Feri Cepat
Lebih lanjut pria kelahiran 5 September 1966 itu mengatakan, pembangunan pelabuhan, KEK, serta terminal kayu terpadu (TKT) Kaliwungu merupakan rentetan gebrakan Pemkab yang bagus. Kalau semua itu terwujud, anggapan daerah Kendal sebagai kabupaten penyangga Kota Semarang, dengan sendirinya akan terpupus. ''Bahkan tidak tertutup kemungkinan Kendal nantinya akan lebih maju daripada Semarang. Misalnya, Pelabuhan Semarang saat ini telah jenuh. Sebagai pemekaran ekonomi, Kendal sangat ideal.''
Ketua DPC PDI-P Kendal itu. Ditambahkan, pada APBD II 2008 ini diakui tidak mengalokasikan anggaran untuk kelanjutan pembangunan pelabuhan. Namun demikian, kegiatan pembangunan diharapkan bisa terus berjalan dengan cara mendatangkan atau bekerjasama dengan pihak investor. ''Kita tidak menganggarkan dana tahun ini, karena APBD II mengkonsentrasikan perbaikan dan perawatan jalan kabupaten. Prioritas ini harus dilakukan.''
Lulusan IKIP Veteran Semarang yang juga mantan pengajar di SMAN 1 Kendal itu menjelaskan, DPRD terus memberikan dukungan dalam setiap proses realisasi KEK. Mulai dari pendampingan ke pemerintah pusat maupun melakukan studi banding ke daerah yang memiliki pelabuhan maju. ''Pelabuhan Kaliwungu nantinya akan dilayani feri cepat dengan trayek Jakarta-Semarang. Rencana ini sangat bagus, karena pertimbangan arus di jalur pantura sudah jenuh. Tidak hanya penumpang yang diangkut feri itu, tetapi juga penumpang. Saat ini feri sedang dalam proses penyelesaian.''
Dia mengimbau, dalam proses pembangunan kawasan industri dan perdagangan tersebut, Pemkab Kendal harus mengedepankan kelestarian lingkungan. ''Seiring dengan pembangunan tersebut, wawasan lingkungan harus diwujudkan.'' (G15-09)
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
12.47
0
komentar
Label: laporan
Selasa, Juli 24, 2007
Rekayasa Angka
Oleh Sri Mulyadi
ANGKA memang punya makna dan arti bagi masing-masing orang. Tak ada orang yang tidak berhubungan dengan angka. Paling tidak menyangkut tanggal dan tahun kelahiran, jumlah keluarga, anak, ulang tahun, dan sebagainya. Yang buta huruf pun juga tak bisa meninggalkan angka. Apalagi yang tak ketinggalan. Apalagi yang menyangkut nilai uang, atau hitungan hari. Keberhasilan dan kegagalan seseorang pun juga sering ditentukan oleh angka.
Di sisi lain angka juga dapat digunakan sebagai bahan joke alias guyonan. Misalnya: Suatu hari dua orang sahabat sedang berbincang tentang anaknya. "Anakku Bejo saat ini berumur 6 tahun." "Putriku, Darmi, kini usianya 2 tahun." "Kalau begitu kita jodohkan saja mereka." "Tidak bisa, aku tak setuju." "Lho mengapa?" "Usia Darmi 2 tahun, sedang Bejo 6 tahun, berarti umur anakmu tiga kali lipat sehingga ketika anakku umur 20 tahun, anakmu sudah 60 tahun."
Soal angka kadang bikin pusing orang. Sebab ada angka riil dan rekayasa. Saat mengajukan permintaan bantuan, angka cenderung digelembungkan. Sebaliknya, manakala dikaitkan dengan prestasi dalam pengentasan kemiskinan atau buta aksara misalnya, terjadi "penyunatan" atau jumlahnya dikecilkan. Intinya, angka direkayasa sesuai dengan kepentingannya.
Misalnya menyangkut jumlah penganggur dan orang miskin. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Indonesia turun dari 10,4 persen menjadi 9,75 persen per Februari 2007. Penduduk miskin per Maret 2007 turun 2,13 juta, dari 39,30 juta orang (17,75%) menjadi 37,17 juta (16,58%), dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun informasi menggembirakan itu diragukan kebenarannya oleh Direktur Institut for Development of Economic and Finance (Indef), Iman Sugema. Menurutnya, angka tersebut tak lebih dari pesanan pemerintah. "Itu angka pesanan dari Istana Tampak Siring, karena beberapa waktu lalu BPS dipanggil Presiden di Istana Tampak Siring, Bali" kata Iman dalam diskusi bertajuk "Angka Kemiskinan 2007, Apakah Mungkin Lebih Rendah?"
Kok bisa begitu ya? Memang demikianlah kenyataannya. Selama ini pun kalau menyangkut soal angka atau data di negeri ini memang sering runyam. Tak jarang memunculkan kontroversi dan cenderung skeptis. Kemunculan suatu angka bukan sesuai fakta yang sebenarnya, tetapi sudah ada "muatan". Misalnya data tersebut untuk apa dan ditujukan kepada siapa. Bahkan muncul istilah angka pesanan, dengan tendensi tertentu. Entah dengan tujuan agar atasan senang, biar dinilai program pengentasan orang miskin dan penganggur berhasil, atau tujuan lain.
Ada pula yang digunakan sebagai komoditas politik. Melalui "rekayasa metodologi" si pengguna data mengklaim ekonomi tumbuh sekian persen, kemiskinan dan pengangguran turun, dan lain-lainnya. Namun di sisi lain ada kelompok yang memunculkan angka bertolak belakang. Padahal kedua kelompok mengaku telah menggunakan metodologi dan tolok ukur yang benar dan universal.
Masing-masing bersikukuh paling benar, tanpa menyadari dampak dari manipulasi yang dilakukan. Mereka tak mau tahu bahwa tindakan itu masuk katagori pembohongan publik, dapat menjerumuskan siapa pun yang menggunakan sebagai referensi, dan bakal menyebar lewat jendela dunia bernama internet.
***
Para calon kepala daerah, kepala desa, kepala negara, yang akan maju lagi ikut pemilihan, umumnya juga menggunakan angka sebagai bahan kampanye. Lewat sederet angka lengkap diskripsinya, mereka mengklaim telah berhasil mengatasi atau paling tidak mengurangi persoalan mendasar yang dihadapi rakyat. Ujung-ujungnya dengan senjata "angka telah membuktikan", konstituen dibujuk untuk memilih dia kembali.
Kampanye model itu memang efektif, terutama bagi pemilih yang telah tersugesti atau bagi mereka yang memang tak tahu tentang asal-usul pemunculan data yang dijadikan "barang dagangan" tersebut. "Kalau data telah membuktikan, mengapa coba-coba pilih yang lain?" Mungkin begitulah isi kampanye mereka.
Namun jika direnungkan lebih mendalam, sebenarnya tak sedikit rakyat di negeri ini yang tak peduli terhadap angka-angka yang mereka perdebatkan. Kaum marginal cenderung lebih percaya kepada sesuatu yang dilihat sendiri dan dirasakan. Bagi mereka soal pertumbuhan ekonomi, keberkurangan angka kemiskinan dan pengangguran, tak cukup berhenti pada angka statistik dan kalimat retorika.
Golongan ini punya tolok ukur sendiri dalam menentukan pilihan, bahkan cenderung pragmatis. Artinya, siapa yang secara instan memberi manfaat, itulah yang dianggap "baik". Di antara mereka tak jarang yang telanjur skeptis, siapa pun yang akan maju menjadi pucuk pimpinan, hanyalah obral janji, bukan obral bukti.
Kemunculan angka-angka - meskipun mungkin sesuai realita - dianggap bukan suatu prestasi atau hasil kerja keras orang-orang cerdas yang bisa menentukan masa depan rakyat, namun justru dianggap sebagai tindakan spekulatif dalam mencapai tujuan pribadi atau golongan.
Jika demikian halnya, para pakar pengumpul dan pengolah angka dan penentu tolok ukur, nampaknya perlu berkumpul guna menentukan strategi, agar data yang dihasilkan dipercaya siapa saja. Jika tidak, bisa jadi kerja kerasnya tak dihargai sebagaimana mestinya apalagi dijadikan referensi, namun justru dianggap angka rekayasa dan selalu memunculkan kontroversi.
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
23.42
0
komentar
Label: Tulisan Kolom
Kamis, Juli 05, 2007
SMS = Situasi Makin Seram
Oleh Sri Mulyadi
''SATU dari lima tempat yang telah kami aktifkan bom akan meledak pukul 13.00 WIB alias tiga jam lagi kedutaan AS, Polda Metro Jaya, kantor Freeport, kantor Badan Intelijen Negara (BIN), dan Gedung BI.'' Itulah bunyi salah satu ancaman lewat short message service (SMS), yang dikirim 8 Maret lalu ke 1717.
Ancaman serupa, akhir-akhir ini memang makin sering terjadi. Selama Februari 2007, sedikitnya ada tiga ancaman. Sasarannya, Singapore International School (SIS) Medan, Bank Indonesia di Jakarta, SMA Al Azhar 3 Bandarlampung.
Selama Maret, hingga tanggal 13, sedikitnya terjadi enam kali ancaman serupa. Sasarannya, PT Freeport Indonesia, Kantor Kedutaan Inggris, Mal Artha Gading, Monas, Kedubes AS, dan Pasar Sentral Gorontalo.
Dampaknya sudah bisa diduga, menakuti semua orang yang berada di bangunan tersebut. Polisi segera menyisir lokasi. Hasilnya? Seperti juga kejadian sebelumnya, ancaman tak terbukti.
Persoalannya tentu bukan terbukti atau tidaknya ancaman itu. Namun menyangkut dampak dari aksi tersebut. Orang asing pasti bertanya, sebegitu gawatkah kondisi Indonesia? Kenyataannya memang tak seseram yang dibayangkan mereka. Namun yang pasti ancaman lewat SMS tersebut memunculkan kesan situasi makin suram (SMS).
Ditambah lagi belakangan ini musibah dan bencana mendera tiada henti. Bahkan dalam musibah terbakarnya pesawat Garuda di Bandara Adisucipto, Yogyakarta, juga muncul sinyalemen ada sabotase. Kejadian penyalahgunaan senjata api oleh aparat penegak hukum juga marak, terakhir (14 Maret 2007), Wakapolwil Semarang AKBP Lilik Purwanto tewas ditembak anak buahnya, Briptu Hance. Seolah makin lengkaplah kesuraman situasi negeri ini.
***
Siapakah yang sedemikian konyol, sampai berani bermain mengenai citra dan kondisi negara? Jawabnya mungkin polisi, penjabat, warga masyarakat, wakil rakyat, atau siapa pun. Yang jelas, mereka tak menyadari dampak atas tindakannya, sehingga ngomong soal teror lewat SMS dan sabotase begitu gampang tanpa kontrol.
Atau mungkin mereka tak menyadari bahwa di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini, apa pun kejadian (dalam hitungan menit), telah menyebar ke segala penjuru dunia lewat media ''dot com''. Potret suatu negeri begitu mudah digambarkan melalui media on line yang telah menghubungkan puluhan juta komputer di dunia.
Dampak lebih lanjut dari terbentuknya citra negatif tentang negeri ini, tentu berkait menurunnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan calon investor.
Meskipun tidak ada satu pun negara yang menjamin bahwa wisman akan aman ketika tinggal di negaranya, namun tersebarnya informasi yang seram-seram tentang wilayah yang akan dikunjungi, pasti menjadi pertimbangan utama. Wisman dan investor butuh suatu keyakinan bahwa negara yang akan dikunjungi serta mengembangkan usaha, sungguh-sungguh dapat menjaga keamanan.
Orang mungkin bisa berdalih yang pentingnya ''barang dagangannya''. Kalau objeknya memang bagus, konsumen akan datang sendirinya. Namun untuk Indonesia apakah yang punya daya tarik tinggi untuk dijual?
Keindahan alam? Mungkin bagi kebanyakan orang akan menjawab iya. Tapi perlu disadari bahwa jawaban itu cuma cocok bagi orang yang jarang melakukan perjalanan wisata ke mancanegara. Sebab tak sedikit negara yang punya keindahan alam melebihi Indonesia. Wisata budaya pun demikian pula. Roma, Yunani, Mesir, objek wisata budayanya juga sangat menarik.
***
Asisten Deputi Promosi Luar Negeri Depbudpar, Syamsul Lussa juga mengakui dunia pariwisata Indonesia saat ini masih bergelut dengan citra dan persepsi yang tidak menguntungkan. Hal ini berkait seringnya Indonesia disebut sebagai negara kurang aman. Stabilitas keamanannya kurang terjamin, dan dipersepsikan tidak nyaman.
Kalau kemudian ancaman bom lewat SMS terus digulirkan, pasti akan meluluhlantakkan ekuitas merek (brand equity) Indonesia. Branding negeri ini akan makin buram. Kunjungan Presiden dan Wapres ke luar negeri dengan menghabiskan uang rakyat ribuan dolar AS, bisa jadi juga takkan mampu membangkitkan investor dan dan wisman untuk masuk ke negeri ini.
Segala program yang dicanangkan Menbudpar, Jero Wacik, untuk meraih 10 juta wisatawan mancanegara pada tahun 2009 pun, tak mustahil cuma berbuah kekecewaan. Padahal sektor wisata cukup dominan sebagai penyedia kesempatan kerja, yakni 10 persen dengan jumlah tenaga kerja langsung 7,3 juta orang dan tidak langsung 5 juta orang.
Akankah dunia investasi dan pariwisata dibiarkan buram gara-gara situasi makin suram (SMS) akibat maraknya teror bom lewat short message service (SMS)? Akankah kondisi keamanan dan kenyamanan yang tak kondusif dibiarkan begitu saja menghiasi wajah Ibu Pertiwi, dan tersebar ke seluruh dunia lewat era www? Jawabnya tentu tergantung kemauan baik pemerintah plus perangkatnya. Rakyat pasti mendukung apa pun langkah pemerintah, selama ditujukan bagi kebaikan bersama.
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
22.56
0
komentar
Label: Tulisan Kolom
Kamis, Juni 28, 2007
Pokoke
Oleh Sri Mulyadi
''SEORANG manusia menjadi manusia karena dirinya mengakui orang lain sebagai manusia,'' kata Desmond Tutu, aktivis antiapartheid Afsel. Di Indonesia muncul istilah memanusiakan manusia. Banyak orang beranggapan, jika ingin dihormati orang lain, kita juga harus menghormati sesama kita. Kalau menghendaki pendapatnya didengar, perlu mendengar pendapat orang lain, dsb. Inti dari semua itu adalah terciptanya hubungan timbal balik yang seimbang, dan diri sendiri sebagai pemrakarsa.
Banyak orang telah memahami hal itu, namun faktanya, di masyarakat masih banyak muncul fenomena yang bertolak belakang. Sering dijumpai sekelompok orang, lembaga, instansi, dsb, menganut aliran satu dimensi bernama ''pokoke''. Target itu telah dicanangkan dari awal aksinya, tanpa membuka pintu dialog untuk mencari bagaimana baiknya demi kepentingan bersama.
Contoh terakhir ketika muncul pro-kontra rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di wilayah Jepara. Pihak Batan (Badan Atom Nasional), bertindak seolah-olah proyek tersebut sudah tak ada masalah, sehingga langsung menentukan lokasi, sekaligus melakukan sosialisasi ke warga sekitar, dengan bekal hasil penelitian Lemlit Undip yang mengklaim sebagian besar warga tak keberatan.
Sementara kelompok lain seperti Masyarakat Reksa Bumi (Marem), memasang target PLTN haram, dan Gerakan Tolak Nuklir (Geton) dan LSM Environment Parliament Watch (EPW),juga punya sasaran sama. Saking getolnya penolakan, sampai-sampai Kamis lalu mereka nekat membubarkan diskusi PLTN di Undip. Di samping dua kelompok tersebut, tak sedikit juga pakar fisika, kimia, ahli nuklir, yang nadanya juga tak setuju dengan PLTN.
***
Bagi orang awam, nampaknya lebih pada posisi seperti halnya orang buta sewaktu ditanya soal gajah. Jika si pencerita mengatakan bentuk gajah itu bulat besar, mata sipit, kaki empat, dsb, mereka akan menggunakan cerita itu sebagai jawaban ketika dia ditanya atau menceritakan ke orang lain.
Mungkin demikian pula jika menjawab pertanyaan tentang PLTN. Mereka akan mengatakan sesuai penjelasan yang telah dia dengar sebelumnya. Kalau penjelasan yang diperoleh menyebutkan PLTN sangat berbahaya, otomatis dia akan menyatakan menolak jika ditanya sikapnya mengenai keberadaan PLTN. Sebaliknya, akan mendukung bila informasi yang dia peroleh menyebut penggunaan nuklir untuk pembangkit listrik sangat perlu, tidak berbahaya, dan menguntungkan rakyat.
Yang repot, apabila baik Batan, LSM, atau pihak lain, sewaktu memberikan masukan ke masyarakat masih mengedepankan senjata ''pokoke'', yang otomatis menutup pintu dialog serta perdebatan, dan tak membuka wacana lagi. Jika demikian, bukan mustahil masyarakat awam yang berkait langsung dengan PLTN juga akan mengekor.
Di satu sisi, tindakan itu memang nampak logis-logis saja. Para pelaku menganggap tindakannya sah karena membela kebenaran (menurut versi mereka), sehingga untuk mencapai tujuan butuh perjuangan. Pro dan kontra dianggap sebagai suatu pilihan dalam berjuang, padahal entah disadari atau tidak, kalau muncul kelompok pro dan kontra, ujung-ujungnya pasti ada yang merasa terkalahkan.
***
Di sisi lain, izin penggunaan nuklir untuk pembangkit listrik saja belum ada. Otomatis pihak yang akan membiayai proyek yang diperkirakan menelan biaya triliunan rupiah itu juga belum ada. Semua pihak baru memperkirakan dan berhitung bahwa usaha itu menjanjikan keuntungan besar, sehingga tak sulit menggaet investor asing.
Pertanyaan pun bermunculan. Apa sebenarnya latar belakang perjuangan pihak-pihak yang pro dan kontra, sampai menimbulkan kesan ''tak dapat ditawar'', bahkan menimbulkan kesan menjurus ke pemaksaan kehendak? Mengapa nampaknya mereka -- yang pro dan kontra -- sulit duduk bersama, kemudian mengkaji permasalahan secara jernih, demi menentukan jawaban sejujur-jujurnya tentang apakah keberadaan PLTN diperlukan atau tidak?
Seandainya dianggap perlu, konsekuensi apa yang harus ditempuh. Begitu juga sebaliknya, bila dianggap belum saatnya, apa yang harus diperbuat sebagai alternatif, mengingat penambahan daya untuk memperbesar kapasitas listrik di Jawa-Bali sangat mendesak. Yang pasti, apa pun kesepakatan yang dihasilkan, belum tentu dapat terealisasi sebagaimana yang diangankan. Semua masih tergantung, baik terhadap si pemberi izin maupun yang akan membiayai.
Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), menggunakan energi angin, gas, batubara, surya, dsb, mungkin dipandang lebih pas dikembangkan di Indonesia. Namun masalahnya, siapa yang akan membiayai? Jawabannya tentu tak semudah membalik telapak tangan. Mengandalkan dana pemerintah nampaknya sulit, mengingat APBN saja masih defisit.
Ditawarkan ke investor lokal maupun asing, bukan berarti mulus-mulus saja. Buktinya hingga kini PLN belum menemukan investor untuk salah satu PLTU di Jepara, padahal warga sekitar sudah sangat mengharapkan. Bagaimanapun investor tetap investor, sewaktu mengeluarkan uang harus ada jaminan uang kembali dengan tingkat keuntungan yang menjanjikan. Dengan kenyataan itu, bisa jadi pihak yang pro dan kontra sudah telanjur ''perang'' dan cenderung tak menghargai orang lain, ujung-ujungnya menghadapi tembok bernama "tergantung".
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
23.06
0
komentar
Label: Tulisan Kolom