Tamu Pengunjung yang menginginkan tempat menginap lain, di samping menumpang di rumah warga atau penginapan tengah laut, di Karimunjawa juga ada "Kura-kura Hotel". Bangunan tersebut milik Pemprov Jateng, namun saat ini dikontrak oleh biro wisata Kura-kura Resort. Di tempat itu disediakan tujuh buah kamar dan tiga bungalo. Setiap bungalo terdiri atas dua kamar sehingga keseluruhan bisa menampung 36 orang. Juga disediakan tempat tidur ekstra. Kamar yang berfasilitas AC saat ini tarifnya Rp 133.100 dan yang berkipas angin Rp 87.400. Makan empat kali Rp 96.000/ orang (perhitungan tarif menggunakan standar dolar AS). "Untuk makan paketnya dihitung empat kali karena biasanya tamu datang Sabtu siang dan pulang Minggu siang," ungkap Abdul, karyawan hotel tersebut.
Wisatawan asing yang ke Karimunjawa pada umumnya menggunakan jasa Kura-kura Resort. Biro wisata "berkelas" dan merupakan satu-satunya di Karimunjawa itu fasilitasnya lebih lengkap. Wisatawan biasanya dijemput dengan pesawat terbang jenis Cessna 172 M yang berkapasitas tiga penumpang dan Cessna 402 B untuk penumpang minimal enam orang. Mereka langsung dijemput di Bandara Adisumarmo Solo dan Adisucipto Yogyakarta pada pukul 08.00. Adapun yang turun atau berangkat dari Semarang dijemput pada pukul 08.30. Perjalanan dari Solo atau Yogyakarta ke Karimunjawa dengan Cessna 127 M ditempuh dua jam, jika menggunakan Cessna 402 B cukup satu jam. Dari Semarang sekitar 45 menit dan 35 menit. Dari Lapangan Terbang Dewandaru Karimunjawa wisatawan diantar dengan kapal motor ke Pulau Menyawakan (ada juga yang menyebut Mencawakan). Penerbangan dari Solo, Yogya, atau Semarang, bergantung pada permintaan. Kalau musim liburan seperti pada 9 - 11 Juli lalu, wisatawan yang datang ke Karimunjawa mencapai 32 orang. Pada bulan Juni 55 orang, dan pada hari-hari nonliburan 40-50 pengunjung per bulan. Kebanyakan dari Korea, yaitu pasangan yang berbulan madu," ungkap Helmi, karyawati Kura-kura Resort di kantor pusatnya di Jepara. Wisatawan yang menggunakan kapal motor cepat Kartini I atau kapal Muria dijemput di Karimunjawa dan ke Pulau Menyawakan menggunakan perahu motor kayu. Di Pulau Menyawakan tersedia lima bungalo VIP dan 10 deluxe yang semuanya bisa menampung 30 pengunjung. Untuk paket dua hari satu malam, yang tidak menggunakan pesawat tarifnya 77 dolar AS atau sekitar Rp 693.000, dan yang dijemput pesawat 137 dolar (Rp 1.233.000). Bila ditambah paket diving atau menyelam, nonpesawat Rp 187 dolar (Rp 1.683.000) dan yang dijemput pesawat 247 dolar atau kurang lebih Rp 2.223.000. Wisatawan yang pernah ke Karimunjawa pada umumnya mengagumi kehidupan bawah laut yang alami banget. Selain itu, suasananya tenang. Di Pulau Menyawakan tidak ada telepon kabel ataupun HP. Komunikasi hanya bisa dilakukan dengan HT," kata Helmi. Nita, juga karyawati Kura-kura Resort menambahkan, pihaknya juga melayani kursus diving atau menyelam. Saat ini seorang instruktur dan dua asistennya berasal dari Swedia. Biaya kursus untuk kategori bersertifikat (4 hari 3 malam) biayanya 320 dolar atau sekitar Rp 2.880.000. Untuk tingkat pemula (2 hari 1 malam) 75 dolar atau kurang lebih Rp 975.000. Materi kursus untuk pemula selain teori, tayangan video, juga praktik di kolam renang dan perairan laut. Lokasi yang dipilih biasanya sekitar Pulau Cemara Besar yang kedalaman airnya sekitar 12 meter. Bagi pengunjung yang tidak hobi menyelam disediakan fasilitas kolam renang air suling. Untuk yang hobi memancing, sekitar 200 meter dari pantai Pulau Menyawakan merupakan lokasi yang ideal, kedalaman airnya sekitar 15-20 meter. Ikan yang terpancing biasanya bermacam jenis kerapu (termasuk kerapu merah) dan badong. Banyak juga jenis ikan hias seperti triger dan capung kepodang, beratnya rata-rata 0,5 kilogram. Wisatawan nonpaket biro wisata bisa menyewa peralatan menyelam lewat Muchlis, petugas wisma wisata atau Ismarjoko, pengusaha penginapan di tengah laut. Untuk snorkel sewanya sekitar Rp 30 ribu/paket, pukul 08.00 - 12.00. Peralatan lengkap, termasuk tabung oksigen, sewanya Rp 250.000 - Rp 300.000. Jika memerlukan jasa pembimbing, tarifnya sekitar Rp 150.000/paket. Tiap tabung oksigen bisa untuk penyelaman selama satu jam. Sewa peralatan menyelam memang agak mahal karena harga peralatan juga tinggi, sekitar Rp 15 juta per set. Pengisian oksigen dapat pula dilakukan di Karimunjawa, biayanya Rp 40.000 per tabung," ungkap Muchlis. Di samping homestay, menyelam, memancing, menikmati keindahan terumbu karang dan ke perkampungan Bugis (jaraknya sekitar 25 km dari dermaga ASDP Karimunjawa), pengunjung yang datang tak sedikit pula yang melakukan ziarah ke makam Syeh Amir Khasan atau lebih dikenal dengan sebutan Sunan Nyamplungan. Tokoh yang dimakamkan di lereng perbukitan Karimunjawa tersebut adalah anak dari Sunan Muria. "Peziarah datang dari berbagai daerah dengan maksud bermacam-macam pula. Orang yang permintaannya terkabul biasanya datang kembali untuk mengadakan selamatan," ungkap Harinto, Kasi Pemerintahan dan Trantib Kecamatan Jepara. Karimunjawa juga dihuni beberapa hewan langka, di antaranya elang, ular kobra, rusa, dan penyu. Khusus untuk menyelamatkan penyu, dibentuk Kelompok Pelestari Penyu Karimunjawa yang diketuai Ismarjoko Budi Santosa. Tugas kelompok itu di samping memberikan penyuluhan tentang arti penting penyelamatan penyu, juga melakukan pembesaran anak penyu. Jika ditemukan lokasi bertelurnya penyu, tempat tersebut diberi tanda dan pagar keliling sehingga pada saat telur penyu menetas 60 hari kemudian, anakannya tidak langsung ke laut lepas. Anakan penyu tersebut diambil untuk dimasukkan ke kolam pembesaran. "Kalau telur dibiarkan tanpa perlindungan risiko kematian sangat besar. Pada saat menetas anakan penyu banyak yang dimakan predator seperti biawak, kepiting, dan burung," ungkap Ismarjoko. Jenis penyu yang hidup di perairan Karimunjawa adalah penyu sisik dan hijau. Rata-rata beratnya 11-15 kg/ekor, namun ada juga yang mencapai berat 30 kg. Nelayan setempat saat ini kesadarannya sudah cukup tinggi dalam upaya penyelamatan. Kalau kebetulan ada yang tersangkut jaring, oleh nelayan yang bersangkutan penyu itu diserahkan kepada Kelompok Pelestari Penyu dan sebagai bentuk penghargaan, kelompok itu memberikan kaus kenang-kenangan. Untuk anakan penyu yang diperhitungkan sudah kuat bertahan hidup di perairan lepas, dilakukan acara pelepasan sekaligus dijadikan objek untuk menarik wisatawan ke Karimunjawa. Saat ini di kolam pembesaran terdapat sekitar 200 ekor anakan penyu. Selama di kolam tersebut penyu-penyu itu diberi makanan berupa pelet atau cacahan daging ikan. Berdasar pengamatan, kehidupan bawah laut di Kepulauan Karimunjawa (meliputi 27 pulau), sudah cukup kuat untuk menarik perhatian wisatawan Nusantara (wisnu) dan wisatawan mancanegara (wisman). Sarana dan fasilitas yang tersedia juga sudah memadai, bahkan lebih. Buktinya, tamu bisa langsung dijemput pesawat karena di Karimunjawa sudah ada lapangan terbang. Untuk menikmati keindahan kehidupan bawah laut di Pulau Sipadan yang sudah mendunia, fasilitas yang tersedia tidak selengkap dan semudah di Karimunjawa. Untuk pergi ke pulau yang dulu disengketakan antara Indonesia-Malaysia (akhirnya dimenangkan Malaysia) itu, dari Kualalumpur harus naik pesawat ke Kinabalu dan pindah pesawat lagi ke Tawau. Dari Tawau harus melalui perjalanan darat sekitar 3 jam untuk menuju Pantai Semporna. Dari Semporna ke Sipadan naik perahu motor sekitar satu jam. Di Pulau Sipadan yang luasnya hampir sama dengan Pulau Menyawakan (Karimunjawa) itu cuma terdapat bungalo-bungalo yang sederhana. Adapun untuk ke Karimunjawa, dari Jakarta atau bandara lain di Indonesia maupun luar negeri, pengunjung bisa langsung ke Bandara Solo, Yogyakarta, atau Semarang. Dari Bandara tersebut wisatawan langsung dijemput pesawat untuk diantar ke lokasi. Pengunjung juga bisa naik kapal motor cepat dari Semarang atau Jepara. Dari Semarang butuh waktu 3,5 jam dan dari Jepara 2,5 jam. Sarana penginapan yang tersedia juga sudah memadai dan bervariasi. Ada penginapan di tengah laut, numpang di rumah warga, wisma wisata, atau hotel. Masyarakat setempat pun ramah terhadap siapa saja yang berkunjung. Daerahnya juga sangat aman, bahkan nyaris tidak pernah ada gangguan/keributan.
Minggu, Juli 25, 2004
Pesona Karimunjawa (3), Disediakan Pesawat untuk Jemput
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
13.18
0
komentar
Label: PARIWISATA
Sabtu, Juli 24, 2004
Pesona Karimunjawa (2)Homestay sambil Menikmati Ikan Bakar

PENGUNJUNG yang merasa tidak nyaman tidur di kamar tengah laut, bisa homestay atau numpang tidur di rumah penduduk Karimunjawa, sambil menikmati ikan bakar. Tetapi meskipun istilahnya numpang tidur dan kamar yang disediakan menjadi satu dengan pemilik rumah, tamu tetap harus membayar.
Di Ibu Kota Kecamatan Karimunjawa terdapat 16 rumah yang dijadikan homestay dan dapat menampung 150 orang lebih. Tarif tiap kamar rata-rata Rp 35.000 - Rp 40.000/malam. Jika dengan makan, menjadi Rp 12.500/orang sekali makan. Menunya bisa pesan kepada pemilik rumah.
Misalnya di rumah Bu Sri, sebelah kanan Kantor Telkom, menu yang ditawarkan layaknya di restoran. Yakni ikan bakar/goreng, cumi-cumi, ayam saos tiram, kopi susu, es rumput laut, jus kelapa muda, bahkan ada rujak.
Juga disediakan halaman khusus yang diteduhi pohon mangga dan diberi ''lincak'' bambu untuk tempat duduk. Dilengkapi pula peralatan untuk membakar ikan, sehingga sangat cocok bagi rombongan yang ingin ramai-ramai membakar ikan sambil menikmati udara bebas Karimunjawa.
Suasana numpang tidur di rumah penduduk itu memang tidak sesantai atau sebebas di penginapan umum,karena kita menyatu dengan keluarga pemilik rumah.
Namun, pada umumnya keluarga pemilik rumah sudah membiasakan diri bergaul dengan berbagai pengunjung, sehingga suasananya serasa menginap di rumah saudara. Tamu yang ingin memasak sendiri, juga bisa. Bahkan, ada ''petugas'' yang menemani ngobrol atau sebagai pemandu para tamu.
Letak rumah untuk homestay memang strategis, di ibu kota kecamatan. Dekat pasar, toko-toko kelontong, kantor telepon, dan kantor kecamatan. Toko cendera mata juga ada. Toko ini pada umumnya menjual kaus atau barang-barang dari kayu stigi atau dewandaru (kayu khas Karimunjawa). Sarana telepon memang vital, karena di Karimunjawa tak ada sinyal, sehingga handphone (HP) tak berfungsi.
Dari rumah homestay ke dermaga rakyat, juga tidak jauh, hanya beberapa ratus meter. Di dermaga ini berjajar perahu motor yang berukuran kecil (4-6 penumpang) dan perahu besar (di atas 10 penumpang), sehingga memudahkan pengunjung yang ingin berpesiar laut.
Ada dua dermaga di Karimunjawa, yakni dermaga rakyat dan ASDP (angkutan sungai, danau, dan penyeberangan). Pengunjung yang menggunakan kapal motor cepat Kartini I atau Kapal Muria, turun di dermaga ASDP. Untuk menuju ke penginapan atau tujuan lain, bisa menggunakan angkutan umum, mobil, atau becak. Ongkos naik becak sekitar Rp 5.000, sedangkan mobil Rp 25.000/angkatan atau sekali jalan. Tersedia 14 becak dan 10 mobil.
Wisma Wisata
Di Kecamatan Karimunjawa yang membawahkan tiga kelurahan (Karimunjawa, Kemujan, dan Parang) tersebut, juga tersedia losmen dan wisma wisata yang dikelola Dinas Pariwisata Kabupaten Jepara. Di wisma ini tersedia enam kamar, dengan masing-masing dua tempat tidur. Empat kamar berfasilitas kipas angin, dengan tarif Rp 50.000/ kamar semalam. Dua kamar ber-AC Rp 90.000/kamar. Ongkos sekali makan Rp 12.500/orang.
''Kami juga menyediakan kapal motor berlantai tembus pandang, untuk menyaksikan terumbu karang. Setelah para pengunjung melihat keindahan terumbu karang, kami drop ke Pulau Menjangan Kecil untuk menikmati keindahan laut. Misalnya berenang di pantai, memancing, berjemur, menyelam, atau sekadar santai di pulau sambil menikmati kelapa muda. Biayanya per orang Rp 30.000, waktunya dari pukul 08.00 hingga 12.00,'' ungkap Muchlis, salah seorang petugas di wisma wisata.
Kampung Bugis
Kecamatan Karimunjawa dihuni beberapa etnis. Yakni etnis Jawa, Madura, Bugis (Sulawesi Selatan), Buton (Sumatera Selatan), dan Bajau dari Sulawesi Utara. Khusus perkampungan Bugis di Dusun Batulawang, Kelurahan Kumujan, mendapat banyak perhatian wisatawan. Jumlah mereka 300-400 orang, dan pekerjaan utama sebagai nelayan. Sebagian ada yang bertani kelapa, mete, dan cengkih. ''Di antara mereka ada juga yang kawin dengan penduduk asli,'' ungkap Ismarjoko, salah seorang pengusaha penginapan di Karimunjawa.
Pada umumnya para nelayan pendatang tersebut mempunyai ketangguhan di laut. Meskipun ombak besar, mereka tidak kesulitan menjual hasil tangkapannya ke Jepara. Biasanya mereka tidak menjual ikan di tempat pelelangan ikan (TPI), tetapi langsung ke pengepul.
Mereka juga dikenal andal menyelam, sehingga sangat cocok dengan kondisi perairan laut Karimunjawa. Sewaktu perburuan ikan lemak (mirip gurami atau ikan kakatua) masih marak karena nilai jualnya tinggi (Rp 100.000 - Rp 200.000/ kilogram), mereka mendominasi hasil tangkapan. Namun perburuan itu sekarang jarang, karena dilarang pemerintah. Cara penangkapan yang menggunakan bahan kimia seperti sianida (apotas), dapat merusak terumbu karang dan mengakibatkan ikan jenis lain mati.
Untuk menangkap ikan lemak, nelayan harus menyelam di bebatuan karang. Ikan yang terperangkap di bebatuan karang disemprot dengan bahan kimia. Setelah teler/keracunan, ikan ditangkap untuk dimasukkan ke tempat karantina yang airnya tidak tercemar. Setelah sehat kembali, barulah ikan laku dijual dengan harga tinggi. Jika mati, nilai jualnya tidak berbeda dari jenis ikan lainnya. Ikan lemak ini memang khusus untuk konsumsi ekspor.
Perburuan ikan hias dan tumbuhan laut seperti jamur mangkok untuk keperluan akuarium air laut, kini juga dilarang. Perburuan ini juga dianggap merusak lingkungan. Kalaupun sekarang di Jepara masih banyak jamur mangkok dan ikan hias seperti clownfish/ikan badut, itu karena memang ada beberapa nelayan yang nekat. Petugas dari perlindungan alam dan aparat kepolisian tidak bisa berbuat apa-apa, karena di Kecamatan Karimunjawa terdapat 27 pulau dengan luas perairan 104.592 hektare. Sehingga mungkin saja perburuan ikan hias atau tanaman laut di pantai pulau yang jauh dari Karimunjawa, dan langsung dijual ke penampung di Jepara. Bisa juga dikarantina di pantai salah satu pulau, dan setelah terkumpul baru dikirim ke pembeli.
Hambatan para pengusaha dalam mengembangkan penginapan di Karimunjawa, jelas Ismarjoko, adalah modal. Bunga pinjaman bank yang rata-rata tiga persen per bulan, cukup memberatkan. Karena itu, dia berharap pemerintah ikut membantu memecahkan dengan memberikan subsidi atau kredit lunak berbunga rendah.
''Di sini semua bahan bangunan serba mahal, karena harus didatangkan dari Jepara. Misalnya semen per sak (50 kg) yang di Jepara seharga Rp 29 ribu, di Karimunjawa Rp 37 ribu. Upah tenaga kerja juga tinggi antara Rp 30 ribu-Rp 45 ribu per hari. Untuk pengadaan sebuah kamar dan isinya di penginapan tengah laut, kami membutuhkan dana sekitar Rp 8 juta,'' ungkapnya.
3,5 Jam
Pengunjung dari Semarang yang ingin ke Karimunjawa, bisa menggunakan Kapal Motor Cepat Kartini I. Berangkat hari Sabtu dari Pelabuhan Tanjung Emas pukul 09.00, dengan harga tiket kelas eksekutif Rp 75 ribu dan bisnis Rp 65 ribu, belum termasuk tiket masuk pelabuhan. Yang membedakan kelas tersebut, untuk bisnis di dek I (dek bawah) tanpa jendela dan eksekutif di dek II (dek atas) ada jendela. Namun kedua dek penumpang tersebut sama-sama ber-AC. Sedang buritan digunakan untuk barang.
Jarak Semarang-Karimunjawa yang sekitar 110 kilometer ditempuh dalam waktu 3,5 jam, berangkat jam 09.00 dan tiba pukul 13.30. Pada musim angin timur seperti sekarang ini gelombang tidak begitu besar, sehingga kapal seharga Rp 15 miliar lebih dan berbobot 150 ton dengan kapasitas penumpang 168 orang tersebut, bisa melaju dengan tenang. Kapal tersebut dibeli secara patungan antara Pemprov Jateng dan Pemkab Jepara. Modal Pemprov Rp 14 miliar lebih dan Pemkab sekitar Rp 1 miliar.
Saat ini jadwal pelayaran Semarang-Karimunjawa seminggu sekali, yaitu hari Sabtu. Sedang Karimunjawa-Semarang hari Minggu pukul 14.00 dan tiba di Pelabubuhan Tanjung Emas jam 15.30. Sedang untuk Jepara-Karimunjawa berangkat hari Minggu jam 09.00 dan Senin pukul 10.00. Sedang Karimunjawa-Jepara, Sabtu jam 14.00 dan Selasa pukul 09.00. Jarak Jepara-Karimunjawa yang sekitar 90 kilometer ditempuh dalam waktu 2,5 jam.
Untuk Kapal Muria yang berkapasitas sekitar 300 penumpang hanya menempuh rute Jepara-Karimunjawa PP. Dari Jepara hari Rabu dan Sabtu pukul 09.00, sedang Karimunjawa-Jepara hari Senin dan Kamis pukul 09.00. Harga tiketnya untuk kelas ekonomi Rp 17 ribu dan VIP Rp 26.500, dengan waktu pelayaran enam jam. (Sri Mulyadi-Bersambung-78t)
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
13.10
0
komentar
Label: PARIWISATA
Jumat, Juli 23, 2004
Pesona Karimunjawa (1) Memancing Ikan dari Kamar Penginapan

MEMANCING: Seorang anak perempuan pengunjung penginapan tengah asyik memancing ikan dari teras kamar tidur.(10) - SM/Sri Mulyadi
Sejak Kapal Kartini 1 diluncurkan awal Maret 2004 lalu, kunjungan wisata ke Karimunjawa terus meningkat terutama pada hari Sabtu dan Minggu. Perjalanan Semarang-Karimunjawa yang berjarak sekitar 110 km hanya memerlukan waktu 3,5 jam. Pada umumnya wisatawan yang berkunjung karena terpesona kondisi bawah laut masih alami. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka Sri Mulyadi tentang kondisi Karimunjawa akhir-akhir ini dalam beberapa tulisan.
MEMANCING ikan laut dari kamar tidur kedengarannya memang belum lazim. Namun di Pulau Karimunjawa, Kabupaten Jepara, hal itu bisa dilakukan, dan kini dikembangkan menjadi pesona baru untuk menarik wisatawan ke pulau yang memiliki luas daratan 4 ribu ha dengan penduduk 8.642 jiwa tersebut.
Bahkan, memancing sambil tiduran di kasur sekalipun dapat dilakukan, karena kamar penginapan memang sengaja dibangun di atas perairan lepas, perbatasan antara perairan dangkal dan dalam.
Di depan kamar kedalamannya 3-4 meter, sedangkan sekitar empat meter dari kamar tidur kedalaman air mencapai 20 meter. Keindahan terumbu karang dan beraneka ikan hias juga terlihat jelas dari teras kamar karena airnya sangat jernih.
Konstruksinya dibikin semacam bagang (kerangka bambu yang ditancapkan di perairan laut berukuran sekitar 20m x 20m dan di tengahnya diberi jaring untuk menangkap ikan). Tiang pancang terbuat dari kayu besi (ulin) dan lantainya juga kayu. Sebagian bangunan berada di atas batu karang sehingga lebih kokoh dan tidak mengkhawatirkan sekalipun diterjang ombak.
Penginapan itu memang sengaja dibangun di lokasi yang aman. Bila musim angin timur, terlindung Pulau Karimunjawa. Namun pada musim angin barat atau sering disebut musim paceklik bagi nelayan karena ombak laut besar, lokasi itu terlindungi gugusan karang. Jadi meskipun ombak di tengah laut besar, sampai di lokasi penginapan sudah kecil dan tidak mengganggu.
Adapun bila angin datang dari arah selatan, sudah terhalang Pulau Menjangan.
Di Karimunjawa penginapan seperti itu ada dua tempat. Keduanya berada di dekat Pulau Menjangan Besar. Dari dermaga pusat kota Kecamatan Karimunjawa, untuk menuju ke lokasi menggunakan perahu motor cuma butuh waktu sekitar 5 menit. Dua tempat tersebut juga dilengkapi kolam ikan.
Tanggul kolam dari batu karang itu diberi pengaman jaring sehingga kedalamannya sesuai dengan air pasang-surut. Namun karena airnya jernih, semua isi kolam terlihat jelas. Penginapan yang dikelola Ismarjoko Budi Santosa itu kolamnya diisi berbagai macam ikan hias dan kura-kura. Di penginapan milik Ismarjoko (biasa dipanggil Joko) inilah pengunjung bisa memancing dari dalam atau teras kamar tidur karena kedalaman air di depan kamar hanya 4 meter dan ikannya banyak.
Kamar yang tersedia delapan buah, masing-masing untuk dua orang. Tiga buah dengan kamar mandi di dalam dengan tarif Rp 50.000/malam, dan lima buah lainnya kamar mandinya menjadi satu dengan tarif Rp 40.000/malam. Untuk sekali makan Rp 12.500 per orang dengan menu ikan laut, juga disediakan minuman ringan dan air panas untuk bikin kopi atau teh. Televisi atau radio juga ada, namun untuk komunikasi telepon harus ke wartel. Handphone (hp) tidak bisa digunakan karena tak ada sinyal.
Adapun di penginapan lain yang menurut informasi dikelola oleh Cuming dari Semarang, tersedia tujuh kamar dengan tarif dan fasilitas yang sama. Di kolam ikannya selain ada kura-kura, pengunjung bisa menyaksikan beberapa ikan hiu (di antaranya sepanjang kurang lebih satu meter), ikan kerapu yang beratnya sekitar 30 kg, dan ikan bluntak/buntel seberat dua kilogram lebih. Namun tempatnya lebih dekat daratan, sehingga kurang ideal untuk memancing.
Terumbu Karang
Dengan tersedianya penginapan seperti itu, bisa dibilang Karimunjawa merupakan ''surga'' bagi pecinta lautan. Bagi yang berhobi memancing jelas dijamin tak kecewa karena perairan di sekitar kepulauan yang ada di Karimunjawa dipenuhi terumbu karang, termasuk di sekitar penginapan.
Di sekitar penginapan yang kedalaman airnya 3-4 meter, ikan yang berukuran besar jumlahnya memang tak banyak. Namun pada malam hari banyak juga cumi-cumi. Sebab, faktor penerangan di penginapan itu hanya menggunakan listrik dari diesel. Pada malam hari biasanya ikan dan cumi-cumi akan mendekati tempat yang diterangi lampu, baik listrik maupun petromaks.
Jika mau agak ke tengah, terutama yang berkedalaman di atas 10 meter, ikan yang terpancing berukuran agak besar, beratnya antara 0,5 kg - 3 kg. ''Namanya juga memancing, kadang faktor keberuntungan yang berperan. Pernah juga ada tamu yang memancing di sekitar penginapan mendapat ikan jenis kakatua seberat sebelas kilogram. Namun di perairan dangkal pada umumnya ya cuma dapat ikan kecil,'' ungkap Ismarjoko.
Untuk menuju ke ''daerah ikan'' banyak tersedia kapal motor. Yang berukuran sedang kapasitasnya 4 atau 6 penumpang, sedangkan yang berukuran besar bisa 10 orang lebih. Namun tarifnya untuk ukuran Jawa Tengah tergolong agak mahal. Perahu motor sedang sekitar Rp 100.000 - Rp 150.000 per paket (4-5 jam), sedangkan yang besar Rp 200.000 per paket. Namun soal tarif itu masih bisa dikompromikan, bergantung pada sepi atau ramainya pengunjung yang memanfaatkan perahu. Untuk paket satu hari, pagi sampai sore, perahu besar bisa ditawar sampai Rp 300.000.
Sebagai perbandingan, sewa perahu berukuran besar di Pantai Kartini Jepara berkisar Rp 125.000 - Rp 150.000 per hari, biasanya berangkat pukul 05.00 dan kembali pada pukul 15.00 (10 jam). Di Semarang, dengan ukuran perahu dan waktu yang sama, tarifnya sekitar Rp 200.000 per hari.
Tentang peralatan pancing, toko-toko di ibu kota kecamatan (dekat dermaga) itu banyak yang menyediakan. Tetapi walesan (tangkai pancing) yang tersedia pada umumnya sangat sederhana karena warga setempat sudah terbiasa memancing tanpa walesan. Cukup menggunakan gulungan senar, pancing, dan bandul timbal. Umpannya menggunakan cumi atau ikan kecil yang dipotong-potong. Semua itu bisa dibeli dari beberapa penampung ikan, termasuk Joko (panggilan akrab Ismarjoko).
Umpan berupa udanga mati atau hidup termasuk langka, sebab di Karimunjawa jarang ada tambak udang. Sebab di samping kadar garam air lautnya terlalu tinggi, tanahnya juga berpasir sehingga tak cocok untuk tambak udang atau bandeng. Pembudidayaan udang atau bandeng memang cuma cocok dilakukan di tambak yang berair payau dan berlumpur.
Berkait dengan kondisi itu, untuk memancing ikan permukaan seperti jenis jolong memang sulit, kecuali disiasati dengan menggunakan umpan ikan kecil hidup. Adapun untuk ikan jenis tengiri atau barakuda, umpan menggunakan ikan sintetis dengan ditarik perahu/dikalar.
Pemancing dari luar daerah, biasanya membawa udang hidup (baik udang tenger maupun udang putih) dari Semarang atau Jepara dengan dimasukkan boks khusus, foam, dan ember dengan diberi airator (gelembung udara untuk menyuplai oksigen). Bisa juga dimasukkan plastik berisi air payau dan dimasuki oksigen.
27 Pulau
Di Kecamatan Karimunjawa terdapat 27 pulau, yakni Pulau Karimunjawa, Kemujan, Menjangan Besar, Menjangan Kecil, Cemara Besar, Cemara Kecil, Gleyang, Burung. Pulau Bengkoang, Parang, Nyamuk, Kembar, Katang, Krakal Besar, Krakal Kecil, Sintok, Mrican, Pulau Tengah, Pulau Pinggir, Cilik, Gundul, Seruni, Tambangan, Genting, Cendekian, Kumbang, dan Pulau Mencawakan (ada yang menyebut Menyawakan).
Di antara pulau-pulau itu, yang berpenghuni baru Pulau Karimunjawa, Kemujan, Menjangan, Parang, Nyamuk, Tambangan, Genting, dan Mencawakan. Antara Pulau Karimunjawa dan Kemujan, kini sudah terhubungkan dengan jembatan. Khusus Pulau Gundul, selama ini biasa digunakan untuk sasaran tembak dalam latihan militer. (Bersambung)
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
14.01
0
komentar
Label: PARIWISATA
Minggu, Mei 09, 2004
Taman Flora dan Fauna Diresmikan
KEINGINAN para hobies flora dan faunan di Semarang khususnya untuk memiliki tempat untuk berkumpul dan berbagi pengetahuan serta pengalaman, dalam waktu dekat akan terwujud. Mei 2009 nanti CV Family Inti Sejati akan meresmikan taman flora dan fauna, sekaligus exhibition hall atau gedung pertujukan/pameran. Sarana itu juga bisa dimanfaatkan oleh para hobies flora dan fauna untuk berkumpul.
Menurut Buyamin, Direktur CV Family Inti Sejati, di lokasi seluas kurang lebih 8.000 meter persegi itu dibangun 50 stan atau kapling, masing-masing berukuran 6 x 3 meter. Tanaman yang ditampilkan/dijual mulai bunga berbagai jenis hingga tanaman hortikultura. Sedangkan jenis hewan antara lain burung, kucing, reptil, anjing, kelinci, dan sebagainya. Termasuk pula segala jenis ikan air tawar maupun laut, beserta perlengkapan/peralatannya.
''Di Semarang khususnya belum ada pengembang kawasan perumahan atau developer yang menyediakan sarana seperti itu, padahal warga penggemar tanaman, ikan, dan binatang piaraan jumlahnya sangat banyak. Untuk itu kami optimistis sarana yang kami sediakan akan banyak diminati, sekaligus sebagai sarana wisata,'' ungkapnya.
Bagi peminat tidak perlu mengeluarkan uang, sebab tempat dikelola dengan sistem kerja sama atau bagi hasil yang saling menguntungkan. ''Kalau dijual harganya pasti sangat tinggi, sehingga butuh modal cukup besar. Untuk itu demi meringankan beban calon pengguna kami tempuh dengan model kerja sama.''
Bagi dokter hewan yang berkeinginan membuka praktek di tempat itu juga dilayani. Sementara masyarakat yang membutuhkan tenaga ahli taman sekaligus tanamannya, para penghuni siap pula melayani. ''Segala asesoris yang berkaitan dengan tanaman dan binatang juga tersedia,'' tambahnya.
Exhibition Hall
Yang lebih menarik, pengembang membangun exhibition hall atau tempat pameran atau arena pertunjukan. Nantinya secara bergilir pemilik stan bisa memanfaatkan gedung tersebut, baik untuk pameran tanaman, ikan, maupun binatang. Dapat pula dimanfaatkan untuk kontes anjing, kucing, bahkan lomba burung.
Seperti halnya Royal Food Square, bisnis flora dan fauna ke depan juga sangat cerah. Lokasi taman flora dan fauna, berdampingan dengan kompleks rumah makan tradisional Pondok Daun dan cuma beberapa puluh meter dari Royal Food Square. Dengan demikian, pengunjung rumah makan internasional maupun tradisional, langsung bisa singgah ke taman flora dan fauna.
’’Kawasan yang kami bangun memang sengaja dipadukan untuk saling mendukung. Begitu memasuki kawasan masyarakat bisa menikmati wisata kuliner internasional, tradisional, taman flora dan fauna, ke pantai Marina, objek lain yang masing-masing punya daya tarik tersendiri,’’ ungkap Buyamin.
Warga masyarakat yang ingin bekerja sama mengisi taman flora dan fauna, bisa menghungi Patric Hp 08886555532.
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
21.23
0
komentar
Label: properti