ALKISAH: Seorang guru di sebuah pertapaan memanggil tiga murid lelakinya yang pulang dari merantau selama tiga tahun. Mereka turun gunung dan mengamati situasi di perkampungan dan perkotaan untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan dari Sang Guru: Apakah makna kekayaan, kedudukan, dan wanita bagi manusia?
Seorang murid menjawab: Saya menyimpulkan bahwa kekayaan dan kedudukan adalah akar kejahatan. Banyak sekali manusia yang rela melakukan berbagai kejahatan, tipu muslihat, kecurangan, bahkan pembunuhan untuk mendapatkan hal tersebut. Orang kaya, baik pria maupun wanita, cenderung menggunakan kekayaan untuk berbuat semaunya, dsb.
Sementara pejabat atau penguasa, menyalahgunakan kekuasaan untuk menumpuk harta bagi keluarga dan kelompoknya sendiri, termasuk berburu wanita sebagai pelengkap kedudukan dan kekayaannya. Kekuasaan dijadikan sarana untuk menyalurkan keinginan yang bermuara ke surga dunia. Korupsi, kolusi, dan nepotisme, dijadikan menu makan sehari-hari.
Murid yang lain mengemukakan, selama mengembara banyak melihat pejabat atau penguasa dan pengusaha kaya yang sangat dermawan. Sang pejabat benar-benar mengemban amanah dengan memikirkan kepentingan rakyat, bahkan mengabaikan urusan pribadi dan keluarga. Sementara dari kalangan pengusaha kaya juga tidak sedikit yang mendermakan hartanya, membangun tempat ibadah, tempat tinggal untuk orang miskin, menyantuni anak yatim, serta menolong orang yang kesusahan.
***
Giliran murid terakhir, dia mengungkapkan bahwa selama perjalanan berjumpa dengan penguasa dan orang kaya yang baik, namun ada juga yang jahat. Ada juga orang yang tak punya kedudukan dan rakyat miskin yang baik, tetapi di antaranya terdapat pula yang jahat. Orang kaya dan penguasa yang taat beribadah dan selalu ingat pada Tuhan juga banyak, sebaliknya yang melupakan Sang Pencipta jumlahnya tak sedikit pula.
’’Lantas bagaimana pandangan kalian bertiga tentang wanita, sebab banyak yang beranggapan bahwa wanita termasuk yang melenakan orang,’’ tanya Sang Guru.
’’Wanita memang dapat menjadi racun atau madu dunia. Semua kembali ke pribadi masing-masing, baik si pria maupun wanita. Jika semua berada di peran dan fungsi sesuai kehendak Sang Pencipta, yang muncul suasana bahagia. Namun jika sebaliknya dan lepas kendali, perkara yang ditunai,’’ jawab salah seorang yang diiyakan dua murid lainnya. Dan Sang Guru Cuma tersenyum mendengar jawaban itu.
Cerita tentang dialog antara guru dan ketiga muridnya itu memang hanya rekaan. Namun jika dikaitkan dengan situasi sekarang, apa yang didiskripsikan nampaknya tak berbeda. Ketiga hal, harta, tahta dan wanita yang merupakan anugerah terindah bagi manusia, namun jika tak bisa mengelola sesuai kehendak-Nya, malah menjadi perkara bahkan musibah yang memilukan. Bahkan ’’tersandung’’ salah satu di antaranya saja, bisa menjerumuskan seseorang ke jurang kesengsaraan. Reputasi cemerlang yang diraih lewat perjuangan puluhan tahun, lenyap seketika.
Contoh terbaru seperti dialami Ketua KPK Antasari Azhar yang diduga terlibat pembunuhan terhadap Nasrudin Zulkarnain, yang awalnya dipicu kasus asmara.
Pertanyaan yang kemudian muncul, ada ’’kekuatan’’ apa di balik harta, tahta, dan wanita? Jawaban dari persoalan itu sebenarnya sederhana, tak ada yang istimewa, asal semua bisa dikelola dengan baik. Bahkan orang perlu mencari harta yang sangat banyak, agar dapat digunakan untuk kebaikan banyak orang. Dengan demikian kekayaan bukanlah penggoda yang akan menjerumuskan ke jurang kenistaan, tetapi menjadi sumber kebaikan yang empunya. Dengan harta orang bisa memeroleh pendidikan yang baik, beribadah dengan tenang, bersedekah, menolong keluarga dan sesama manusia yang membutuhkan.
***
Demikian pula dengan tahta atau kekuasaan. Jika dianggap sebagai amanah dari Tuhan, siapa pun yang menikmati anugerah itu pasti akan menggunakan kekuasaan sebagai alat untuk mewujudkan kebaikan. Dengan demikian, harta dan tahta hanyalah dipandang sebagai kendaraan untuk menuju persinggahan terakhir sebagai manusia.
Jika sebaliknya, cara memeroleh dengan menghalalkan segara cara, maka kekuasaan dan kekayaan justru menyesatkan dan mendatangkan perkara. Sementara wanita, yang ’’gempurannya’’ tak kalah hebatnya dibanding harta dan tahta, juga tergantung bagaimana kita menempatkannya. Kalau ditempatkan pada posisi penggoda, ya akan menjadi penggoda. Namun jika kita posisikan sebagai ibu, pendamping, pasangan hidup, teman menyelesaikan persoalan, dan sahabat, tentu tak ada persoalan. Dan jika ada pria yang menganggap wanita racun dunia, sejatinya dia lupa bahwa di jagad ini juga tak sedikit pria yang punya predikat serupa, ’’leleteking jagad’’. Dengan demikian kalau masih ada anggapan bahwa harta, tahta, dan wanita, penyebab hancurnya kehidupan kaum pria, orang tersebut pasti tengah keracunan. Mereka tidak sadar bahwa masing-masing orang diberi hak memilih dalam menjalani hidup.
Sri Mulyadi, wartawan Suara Merdeka di Semarang
Jumat, Mei 15, 2009
Racun Dunia
Diposting oleh
Sri Mulyadi
di
09.00
Label: Tulisan Kolom
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar